
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV AUTHOR....
Begitu frustasi Devan saat ini setelah kepergian Nayla. Kepergiannya dengan hati yang penuh luka dan pasti juga sangat kecewa dan itu semua karena ulah Devan. Dia tidak bisa mengendalikan amarahnya hingga akhirnya kini telah menyakiti seorang wanita yang benar-benar bersih.
Amarahnya telah membuat dia menodai kesucian seorang Nayla yang ditinggalkan oleh suaminya hanya karena sebuah harta dan jabatan. Nayla yang belum sembuh karena luka dan sekarang Devan menambah luka itu semakin dalam.
Dia pikir dia akan puas setelah mendapatkan apa yang muncul di dalam amarahnya. Tapi ternyata salah, bukannya dia puas sekarang kini dia merasa bahwa dirinya sama seperti laki-laki yang tidak moral. Sama seperti laki-laki yang meninggalkan Nayla.
Penyesalan memang akan selalu datang setelah semuanya terjadi dan itulah yang dirasakan oleh Devan sekarang. Dia sangat menyesal karena telah melukai perasaan Nayla bahkan telah menodainya.
"Arghhh!" Teriak Devan begitu frustasi dengan semua yang telah terjadi dan yang apa dia lakukan.
Sekarang apa yang harus dia lakukan dengan keadaan yang seperti ini dia merasa sangat bingung dan seperti tidak memiliki jalan keluar sama sekali. Tapi yang jelas Devan harus menebus kesalahan, benar begitu kan?
Devan kembali menoleh ke arah ranjang yang digunakan untuk menodai Nayla. Tangisnya, jeritan juga permohonan yang sama sekali tidak dia dengar dan kini seolah terus berputar-putar dalam ingatan dan suara jeritan itu seperti memenuhi telinganya.
"Maafkan aku, Nay. Maafkan aku," begitu menyesali semua yang sudah terjadi tetapi dengan dia bisa hanya terus berdiam diri di dalam ruangan itu dalam penyesalan. Devan harus berusaha untuk menebus semua kesalahan.
"Kali ini aku telah membuat kamu menderita maka aku juga yang harus membuat kamu bahagia, Nay. Duka mu harus berakhir."
Devan sama sekali tidak marah memikirkan Bagaimana perasaan dia sebenarnya tetapi yang jelas Devan harus melakukan sesuatu. Laki-laki yang baik adalah dia yang mau bertanggung jawab atas semua kesalahan yang telah Dia berbuat, tidak peduli apapun yang terpenting adalah menebus segalanya dan itulah yang selalu dikatakan oleh Abraham ayahnya.
"Maaf, Pa. Devan telah mengecewakan papa," Tertunduk dalam penyesalan ketika mengingat semua nasehat yang selalu di berikan kepada papanya.
Hampir dua tahun Nayla bekerja dengan papanya dan selalu bisa di andalkan dan selalu di bicarakan ketika di rumah.
Pak Abraham begitu mengagumi sosok seperti Nayla yang begitu pekerja keras dan semua meningkatnya perusahaan Gudia juga ada campur tangan dari Nayla.
Tapi, hanya dalam hitungan hari saja Devan telah menghancurkan segalanya. Apakah setelah ini Nayla akan mau bekerja dengan dirinya lagi?
"Tidak tidak, aku harus minta maaf pada Nayla. Dia harus tetap bekerja di sini kalau tidak papa pasti akan sangat kecewa padaku," Devan bergegas.
Devan berlari ke kamar mandi dan segera membersihkan diri. Dia harus bisa membuat Nayla tetap berada di perusahaan itu bagaimana pun caranya. Bagaimanapun Devan juga harus mendapatkan maaf.
Begitu buru-buru Devan melakukan apapun setelah selesai membersihkan tubuhnya dan berganti dengan pakaian yang baru dia bergegas mengejar Nayla dia harus minta maaf padanya dan memperbaiki segalanya.
"Pak, sebentar lagi ada meeting. Bapak mau kemana?" Tanya seorang staf kepada Devan yang terlihat buru-buru keluar dari perusahaan tersebut.
Tetapi ucapan dari orang tersebut tidak dihiraukan sama sekali oleh Devan dia terus melangkah maju dengan cepat dan segera menghampiri mobilnya yang terbaru di depan perusahaannya.
"Pak Devan kenapa?" gumam staf tersebut.
----------Normal--------
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Sesekali ingin aku gores seluruh tubuh ini untuk menghilangkan jejak dari tangan pak Devan. Rasanya, sentuhan tangannya masih terus menggerayangi tiada henti membuat aku semakin merasa sesak.
Ku gosok berkali-kali bahkan kuku-kuku juga bekerja dan mencakar hingga membuat luka di beberapa tempat.
Sakit, rasa sakit yang ada di hatiku takkan hilang karena rasa sakit di bagian luka karena kuku-kuku meski terkena air. Bahkan air yang mengalir di lantai ikut merah karena darah yang di hasilkan.
Aku jijik dengan diriku sendiri, aku benci dengan tubuhku yang sudah kotor ini. Seandainya aku tak takut akan Tuhan pastilah aku sudah mengambil pisau dan aku gores semua ke sekujur tubuh biar semua bekas tangannya menghilang. Tak peduli aku akan di sebut orang gila atau mungkin akibat terbesarnya adalah kematian.
Tapi, aku tak bisa melakukan itu. Bunuh diri adalah hal yang paling di benci oleh Tuhan. Apalagi aku masih punya Ara yang benar-benar membutuhkan ku.
"Aku telah kotor, aku kotor..." Tangis kembali pecah dengan tangan yang bergerak semakin lincah menggosok hingga mencakar-cakar tubuhku sendiri.
Semakin cepat dan bertambah cepat ketika bayangan itu kembali datang. Rasanya aku hampir gila dengan semua masalah ini.
"Arghhh!" Teriakan ku begitu menggema keras di kamar mandi berukuran dua kali dua meter ini.
Tangan kembali beralih menggosok-gosok rambut yang aku rasa juga sangat kotor.
Semua telah tersentuh dan tak ada yang di lewatkan bagaimana mungkin aku bisa merasa salah satu titik masih bersih. Semuanya kotor dan rasanya juga tak kunjung bersih meski aku suka begitu lama bahkan hampir dua jam di sini.
Mungkin aku memang bodoh karena menyiksa diri sendiri dengan cara seperti ini, tapi mau bagaimana lagi?
Aku yakin, semua perempuan akan melakukan hal yang sama ketika mengalami apa yang aku alami seperti saat ini. Bahkan tak sedikit yang sampai mengakhiri hidupnya.
Lelahku semakin menggebu menyerang sekujur tubuh ku. Bahkan kini rasa pusing juga perlahan datang menghampiri kepalaku yang sudah basah. Mungkin karena aku juga sesekali membenturkan pada dinding.
Tak sudi ada yang mendengar tapi aku rasa tak akan ada yang dengar karena jarak rumah ke rumah tidak terlalu dekat dan juga di jam-jam segini semua orang pergi bekerja dan anak-anak pergi ke sekolah.
Rumah juga begitu sepi, karena Ara di ajak ke rumah mbok Darmi tadi pagi. Memang biasa seperti itu sih kalau semua pekerjaan sudah selesai mbok Darmi akan lebih sering mengajak Ara pulang ke rumahnya. Jadi tak ada yang tau apa yang aku lakukan saat ini.
Semakin lama kepala ku bertambah pusing aku tak mengerti karena apa. Mungkin, bisa jadi karena tekanan batin yang aku alami hingga membuat kepala pusing dan sekujur tubuh juga memberikan efek yang negatif.
Suara seakan habis, mata juga perlahan mulai terpejam hingga akhirnya....
Brukk...
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....