
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Meski tak mendapatkan izin namun aku tak bisa berdiam diri begitu saja. Sudah biasanya bergerak melakukan semua pekerjaan dan sekarang di minta untuk diam saja, mana mungkin bisa?
Perlahan kaki melangkah menuju ke dapur, hari ini adalah hari pertama di mana aku akan menjalankan kewajiban sebagai seorang istri dan menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Sesekali menengok ke arah belakang memastikan bahwa tidak ada Pak Devan di belakangku, seperti biasa yang selalu mengikuti ke mana aku pergi dan saat ini aku berharap Pak Devan tidak akan bangun sebelum aku menyelesaikan tugas di dapur.
Setelah memastikan tidak ada Pak Devan di belakang kaki melangkah semakin cepat menuju dapur yang sama sekali tidak ada pintunya tersebut.
Rasanya sangat lega akhirnya aku akan bisa menjalankan kewajiban ini dengan baik meski nanti jika ketahuan pasti akan mendapatkan omelan dari Pak Devan. Tidak apa-apalah kita pikirkan nanti saja apa yang belum terjadi dan sekarang aku akan jalan yang seharusnya dilakukan sekarang.
Sesampainya di dapur ternyata sudah ada beberapa pelayan yang sudah mulai melakukan pekerjaan mereka. Kedatanganku tentu memantik rasa penasaran dari mereka, bahkan juga menumbuhkan pertanyaan yang langsung terlontar dari salah satu diantara mereka.
"Nyonya, membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan tersebut Seraya menoleh ke arahku yang berjalan semakin mendekati mereka.
Aku tersenyum juga menggeleng karena memang tidak membutuhkan apapun yang mungkin mereka pikirkan, karena kedatanganku ke dapur hanya untuk membantu mereka saja atau mungkin malah sebaliknya mengambil alih yang mereka kerjakan dan mereka yang membantuku.
Mereka semua Saling pandang, dan terlihat sangat gelisah karena mungkin mereka tahu maksud dari kedatanganku ke sini. Pastilah mereka sangat takut jika aku melakukan sesuatu yang dilarang oleh Pak Devan dan jika aku tetap memaksa pastilah mereka yang akan mendapat amarah dari Pak Devan.
"Aku hanya mau membuat sarapan saja," kataku menjawab.
Kembali mereka saling pandang dan terlihat semakin tajam sangat yakin bahwa mereka sangat takut jika apa yang mereka pikirkan akan pernah terjadi.
"Tidak usah takut, kalau nanti suami saya marah biar saya yang menghadapi, kalian tenang saja," aku tetap tersenyum ramah kepada mereka.
"Biar saya yang melakukan ini, kalian boleh tetap di sini untuk membantu atau kalian bisa melakukan pekerjaan yang lain," kataku lagi.
"Ta_tapi, Nyonya. Nanti tuan...?" ucapan itu tidak berlangsung lagi karena aku sudah maju dan sudah berada di depan semua peralatan yang ada.
"Tidak usah pikirkan Tuan. Saya yakin dia tidak akan bisa marah nantinya. Sekarang bantu saya," mulai tangan ini mengayun menggerakkan pisau untuk memotong berbagai sayuran yang ada di depanku.
Dengan ragu mereka ikut melakukan apa yang aku lakukan, aku lihat semua wajahnya terlihat sangat takut tapi aku yakinkan lagi kalau semua akan baik-baik saja.
"Lakukan saja apa yang saya minta. Jangan pikirkan tuan kalian, belum tentu kan dia akan marah?"
"I_iya, Nyonya," suaranya terdengar sangat gugup namun tangan terus bergerak melakukan apa yang aku suruhkan.
Memasak kegemaran dan juga aktivitas yang biasa dilakukan oleh seorang perempuan apalagi seorang istri. Istri tidak akan mungkin lepas dari pergaulan dengan semua barang-barang yang ada di dapur pastilah satu persatu akan menjadi teman kesehariannya.
Memang ada beberapa wanita yang tidak suka berada di dapur tapi kebanyakan yang menyukainya dan salah satunya adalah diriku sendiri yang begitu sangat menyukai kegiatan di dapur ini.
Mengolah semua masakan yang akan disajikan pada suami dan juga anaknya, itu juga menjadi salah satu cara supaya suami dan anaknya akan selalu betah berada di rumah dan akan lebih senang ketika bisa makan bersama-sama di rumah dengan menikmati hidangan yang dibuat oleh istri atau Ibu mereka.
Satu bersatu makanan aku masak dan setiap ada yang sudah matang maka salah satu pelayan yang akan membawa ke meja makan, dan seperti itu seterusnya sampai makanan sampai selesai di masak.
Namun hanya tinggal satu saja yang belum usai, hanya sayur bening yang yang sangat di sukai oleh Ara.
"Aw!" pekik ku setelah ada yang memeluk ku tiba-tiba dari belakang. Padahal baru saja ingin mencicipi dan menjadi urung karena sangat terkejut.
"Istriku ini ternyata keras kepala juga ya, sudah di bilang jangan ngapa-ngapain sekarang malah masak. Aku menikahi mu bukan untuk akku jadikan tukang masak, Nay sayang."
Aku pikir dia akan marah dan akan bersuara dengan kasar kalau tidak akan lantang tapi ternyata tidak, dia bahkan berbicara dengan sangat lembut dengan tangan yang terus memeluk perut dan menumpang dagunya di atas bahuku.
"Bukan begitu, Mas. Hanya saja aku hanya ingin bisa seperti istri-istri pada umumnya yang selalu menjalankan tugas-tugas kecil."
"Kalau aku hanya diam saja tanpa melakukan apapun nanti bisa saja aku jadi bosan, iya kalau aku yang bosan kalau mas yang bosan berasa di rumah siapa yang rugi."
Jelas, setelah mengalami kegagalan dan di tinggalkan tentu aku tidak mau hal itu terulang kembali. Aku akan berusaha memperjuangkan mas Devan supaya selalu betah di rumah.
"Mana mungkin aku akan bosan. Bahkan kamu tidak melakukan apapun aku tetap akan betah di rumah."
"Pokoknya mulai sekarang aku yang akan menyiapkan makan untuk kita, aku ingin bisa memanjakan lidah suamiku dan juga anakku," kataku dengan malu.
"Cie, udah berani ngakuin suami nih," satu tangannya terangkat dan menowel dagu ku dengan sangat pelan.
Kata-kata yang sangat sepele namun tetap mampu menambah rasa malu ku sekarang ini, aku yakin wajah ku sudah sangat merah sekarang.
"Apa sih," kataku sok sewot dan berusaha menghindar dari tangan mas Devan.
Bukannya menghentikan tangannya tapi malah semakin ngadi-adi dan melakukannya untuk menggoda ku.
"Mas!" teriakku meski tidak begitu keras karena suaranya muncul di tengah-tengah hati yang sedang malu.
"Iya Nay sayang, istriku," kembali tangannya bergerak.
"Ih," aku menoleh dan aku sentil di bagian hidungnya.
Mas Devan malah terlihat girang dann tertawa. Aku pikir dia akan marah.
"Ini namanya kdrt, Nay," mas Devan terkekeh mengatakannya.
Masak iya hanya memberikan satu sentilan saja bisa di sebut sebuah kdrt? mana bisa?
"Masak," aku keluarkan lagak angkuh ku bukan itu saja tapi aku juga mengeluarkan wajah songong dan ingin membuat mas Devan kesal tapi sepertinya tidak bakal berhasil.
"Ih, menggemaskan," tangannya malah terangkat dan mencubit hidung ku.
"Mas!" pekik ku.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....