
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Meski dengan drama dulu sebentar tapi akhirnya aku tetap bisa tidur dengan dengan pak Devan. Ternyata dia juga tidak melakukan apapun semalam hanya terus memeluk saja dari belakang karena aku yang tak ingin berhadapan dengannya.
Lagian bagaimana aku sanggup menyembunyikan rasa malu setelah pak Devan melakukan hal yang paling memalukan untukku, yaitu menggantikan bajuku dengan begitu santainya dan aku di perlakukan seperti anak kecil yang tak bisa berkutik.
Ya! aku tak bisa melawan apa yang dia lakukan karena kalah besar juga kalah tenaga, aku sangat kecil juga sangat lelah jadi akan membuat pak Devan sangat udah melakukannya.
''Morning kiss,'' ucapnya. Tanpa aba-aba dia langsung nyosor begitu saja seperti paruh bebek yang mendapatkan cacing di sawah. Ah! nih laki.
Tak terbayangkan akan punya suami yang anehnya kebangetan seperti pak Devan. Kadang begitu dingin, jutek dan angkuh tapi sekarang dia juga bertambah menjadi sangat menyebalkan.
Aku hanya menghela nafas panjang dan masih berada di hadapannya. Awalnya aku memang memunggungi nya tapi tidak setelah pak Devan sadar aku dah bangun dan langsung membalikkan tubuhku begitu udah seperti membalikan guling.
''Pagi-pagi yang semangat dong, Sayang. Lihatlah, seperti aku ini. Semangat meski belum mendapatkan apa-apa semalam.''
Wajahnya benar-benar berbinar dia terlihat sangat bahagia bahkan dia juga tersenyum.
''Tak apa tak ada malam pertama yang mengesankan karena malam pertamanya sudah aku cicil waktu itu dan langsung membuahkan hasil. Tapi tidak untuk malam keduanya, kamu harus memberikan sesuatu untukku.''
Tangannya terangkat dan langsung menoel hidung yang kembang kempis di hadapannya.
Nih, kata-kata seperti ini yang selalu membuat geleng-geleng kepala. Malam pertamanya sudah di cicil, emangnya panci apa pakai di cicil.
''Eits. Mau kemana?'' tangannya kembali bergerak untuk menahan ku supaya tidak pergi dari hadapannya.
''Aku mau ke kamar mandi, Pak Devan terhormat. Kenapa, mau ikut juga?'' kataku yang pasti sangat terdengar begitu angkuh.
''Boleh. Sekalian saja kita cicil untuk malam kedua di kamar mandi sepertinya akan sangat menyenangkan. Sensasinya pasti juga akan sangat luar biasa. Ayok!''
Begitu semangat kata-katanya bahkan dia juga langsung turun dari ranjang dan mendahului ku.
''Ayo, tadi ngajakin sekarang malah diem saja. Apakah perlu aku bantu?'' pak Devan yang melihat aku tak kunjung bergerak menjadi berhenti dan sekarang malah berjalan menghampiriku.
Sepertinya aku salah ngomong. Pak Devan mana tau kalau ada orang yang bercanda, semua yang aku katakan pasti akan di anggap beneran dan sebagai perintah makanya dia langsung semangat.
Sepertinya aku harus selalu hati-hati kalau bicara dengannya. Sekali saja salah aku sendiri yang akan di rugikan.
''Pak Devan ma apa?'' tanyaku panik ketika melihat tangannya sudah maju untuk menyelip di antara lengan dan tubuhku, sepertinya dia benar-benar menganggap aku seperti anak kecil.
''Mau apalagi? mau gendong istri lah, kan tadi ngajak ke kamar mandi.''
''Ih! Nay hanya bercanda pak!'' geram rasanya berhadapan dengan nya. Ya Allah, kesal-kesal dia juga suamiku sekarang.
''Mana tau kalau beranda, entah bercanda atau tidak apa yang kamu katakan akan aku lakukan jadi kamu tenang saja, oke. Yuk,'' tangannya benar-benar bergerak dan berusaha mengangkatku.
''Aa! geli, pak lepas!'' teriakku.
Tapi pak Devan tetap tidak peduli dan langsung mengangkat ku dengan tubuh kami yang berhadapan, hem... benar-benar di gendong seperti anak kecil aku sekarang.
Tak bisa protes apalagi berontak karena tak akan berpengaruh apapun padanya.
''Nay sayang, kok tidak menjawab sih? mengabaikan pertanyaan suami dosa loh.'' katanya lagi.
''Nay, hadeh... sepertinya harus dengan cara lain nih,'' benar-benar kami berdua sampai di dalam kamar mandi yang sangat bersih dan sangat luas dengan nuansa warna putih.
''Eh, kenapa malah di sini?" sekarang aku benar-benar telah melayangkan protes padanya karena aku malah di dudukan di depan wastafel.
''Mau menghukum istri yang tidak mau menjawab suami. Hukumannya harus yang sangat kejam.''
Aku panik, mataku membulat dengan telapak tangan yang berusaha melindungi harta berharga, menyilang tepat di depan dada sementara bibir ku tutup rapat supaya tak bisa di jangkau.
''Hem, kamu pikir aku tak akan bisa mendapatkannya? kita buktikan siapa yang akan menjadi pemenangnya.''
Pak Devan menyeringai di hadapanku, ah ini sangat menakutkan.
''Pak, jangan macam. Lepas, emm...''
Tapi yang jelas pak Devan tidak akan mendengarnya.
Aku pikir menjalani pernikahan tanpa berdasarkan cinta itu akan sangat mengerikan bagaikan di dalam neraka. Taka ada tawa dan tak ada kata-kata yang saling terucap sebagai obrolan. Akan susah membangun kemistri untuk bisa selalu bisa tersenyum bahagia bersama, tapi ternyata?
Semua yang terjadi bahkan sangat indah di bandingkan dengan pernikahan yang berdasarkan cinta yang sudah langsung bisa membangun kemestri dan bisa terus melakukan apapun dan tersenyum bahagia bersama tanpa adanya rasa canggung.
************
''Alhamdulilah. Kalau menurut begini kan enak,'' ucapnya dengan tangan yang bekerja mengeringkan rambutku dengan handuk.
Aku hanya duduk dian di depan meja rias, membiarkan pak Devan melakukan apapun padaku. Sudah lelah aku berontak dan berteriak karena akhirnya juga aku yang akan kalah darinya.
"Apa kamu tau, Nay? aku sering sekali berkhayal akan berada di posisi ini. Memanjakan istri meski hanya dengan mengeringkan rambutnya saja.''
''Hanya hal seperti ini saja akan membuat aku sangat bahagia, Nay. Hubungan yang sehat itu bukan hanya karena sering menghabiskan waktu bermesraan di atas ranjang saja. Semua hal-hal kecil seperti ini akan membuat hubungan semakin sehat.''
Katanya mampu membuat jantungku berdetak tak karuan. Ternyata dia sangat bisa memuliakan wanita.
''Apakah pak Devan pernah melakukan hal ini pada perempuan lain?'' tanyaku.
''Hahaha, kamu bercanda Nay, bagaimana mungkin aku pernah melakukan ini pada perempuan lain. Tak ada teman perempuan yang ada dalam hidupku selain kamu. Kamu adalah yang pertama dan akan jadi yang terakhir.''
''Benarkah? bagaimana kala ada perempuan yang lebih baik daripada aku?''
''Yang lebih baik mungkin sangat banyak tapi yang sepertimu tidak akan ada, Nay. Karena apa? karena kamu hanya ada satu dan akan menjadi satu untuk selamanya.''
Pak Devan terlihat sangat percaya diri dengan semua yang dia katakan barusan. Semoga saja apa yang dia katakan adalah hal yang benar dan bukan hanya gombalan saja seperti laki-laki pada umumnya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...