
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Ada perasaan sangat sedih tetapi juga ada perasaan sangat bahagia setelah mendengar ikrar suci pernikahan telah selesai pak Devan ucapkan.
Aku begitu bahagia karena sekarang Ara memiliki figur seorang ayah yang begitu sangat sayang kepadanya dan tentu akan selalu membahagiakannya.
Tetapi aku juga sedih karena di hari yang paling bahagia ini aku tidak bisa melihat Mika menemaniku seperti biasanya di setiap kebahagiaan yang terjadi kepadaku.
Bahkan biasanya ulang tahun yang biasanya aku melupakan Mika yang selalu memberi kejutan dan selalu membuat aku bahagia karena dia selalu ada untukku, tetapi sekarang?
Sebenarnya Pak Devan sangat keterlaluan, kenapa hanya mengundang satu teman saja tidak diperbolehkan, bahkan semua yang datang di acara pernikahan ini semua dari pihaknya dan tidak ada satupun dari pihak_ku yang lain selain Ara.
Tetapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa karena aku juga tidak ada kuasa untuk ini. Bahkan untuk wali saja yang mewakili adalah salah satu keluarga dari Pak Devan. Jelas, karena aku juga sebatang kara dan tidak memiliki siapapun yang bisa mewakili untuk menjadi wali.
Sempat tadi jantungku seolah bermasalah sebelum Pak Devan mengucapkan ikrar suci pernikahan. Jantung kadang berdetak begitu kuat dan sangat kencang tapi kadang juga seolah melambat bahkan seolah ingin berhenti. Sungguh aneh rasanya ini sangat berbeda dari sebelumnya. Ah! Kenapa harus mengingat yang sudah-sudah.
Aku masih terdiam menunggu seseorang yang akan datang, dan akan menjemput_ku untuk pergi ke tempat dilaksanakannya acara.
Sehingga tidak lama aku menunggu pintu terbuka dan aku lihat Bu Susan dan juga Ara yang datang dengan bergandengan tangan tentu juga dengan tersenyum.
Subhanallah...
Aku begitu terpaku melihat Ara yang begitu cantik dengan gaun berwarna putih di bawah lutut dan begitu mekar juga hanya memiliki lengan pendek saja. Ditambah dengan tatanan rambut yang sangat indah ditambah beberapa aksesoris yang berwarna silver.
"Bunda!" Ara melepaskan tangan dari Bu Susan dan langsung berlari setelah melihatku yang tersenyum begitu bahagia melihat dia yang juga sangat bahagia.
Kedua tanganku merentang menyambut Ara yang berlari berhambur memelukku. Sementara Bu Susan, dia melangkah dengan perlahan namun pasti juga terlihat sangat cantik meski usianya sudah lanjut.
Bu Susan juga memakai pakaian serba putih juga dengan rambut yang disanggul kecil di belakang ditambah dengan tunduk pentul satu yang berwarna silver. Riasannya sangat natural dan tidak berlebihan membuat beliau terlihat semakin cantik.
"Selamat ya, Nay." Bu Susan berhenti di hadapanku dengan memandang penuh rona binar.
Aku melepaskan pelukan dari Ara dan tersenyum kepada Bu Susan yang kini menyentuh bahuku.
"Te_terima kasih, Tante," jawabku.
"Kok tante sih. Mulai sekarang harus panggil mama," katanya menegaskan.
"I_iya, Ma." tetap gugup itu masih begitu besar menguasai dan membuat Ibu Susan tersenyum.
"Kita ke sana sekarang?" tanyanya.
Aku mengangguk dan langsung berdiri. Bu Susan merangkul lengan ku sementara Ara menggandeng tangan ku yang satunya.
Ruangan yang indah dan terlihat seperti istana benar-benar aku lihat dan kini berada di depan mata. Semua mata tertuju kepadaku, para tamu undangan, para pelayan dan penjaga semua menghadap ke arahku tidak terkecuali dengan Pak Devan yang ada di depan sana.
Dia berdiri dengan didampingi oleh Pak Abraham menyambut kedatanganku yang berjalan begitu pelan dengan perasaan yang kembali sangat gugup seperti tadi.
Aku terus menunduk meski tadi sempat melihat ke arah Pak Devan yang terus menetap ku tanpa berkedip. Benarkah aku sangat membuat Pak Devan melihatku seperti itu?
Pertemuan yang sangat mendebarkan meski sudah terbiasa bertemu bahkan sudah beberapa kali tidur di satu ranjang yang sama dan tentu pernah melakukan hubungan yang seharusnya baru dilakukan setelah ini. Tapi ini benar-benar sangat mendebarkan.
Kaki berhenti melangkah setelah sampai di hadapan Pak Devan, dan saat itu semua memandangiku dan juga Pak Devan yang saling berhadapan. Ara juga Bu Susan melepaskan_ku dan membiarkan aku berdiri sendiri tanpa bantuan dari mereka.
Tanganku gemetar untuk berangkat sekedar untuk menyalami tangan Pak Devan yang perlahan juga terangkat. Bukan hanya tanganku saja yang terlihat gemetar tetapi tangan Pak Depan juga sama.
Tanganku rasanya langsung berubah dingin ketika ujung jari telunjuk berhasil menyentuh tangan Pak Devan. Bahkan rasa dingin itu seakan menjalar ke seluruh tubuhmu melalui darah dan membuatku seolah membeku.
Namun perlahan tangan kami berdua benar-benar bisa bersatu karena bukan aku saja yang menginginkan pertemuan tangan kami tetapi juga Pak Devan hingga tangan kami saling menyambut.
Perlahan tangan yang sudah menyatu itu terangkat aku yang menginginkan untuk mengecup punggung tangan dari pria yang sekarang sudah menjadi suamiku, sementara Pak Devan juga mendukung hingga tangan kami terangkat terasa begitu mudah meski sama-sama saling gemetar.
Hingga puncak rasa dingin itu sampai ke sekujur tubuhku setelah punggung tangan pak Devan menyentuh bibirku.
Matanya tertutup dengan posisi dimana tangan kami menyatu, tangannya masih menempel di bibirku dengan aku yang sedikit membungkuk.
Tidak lama dalam posisi ini aku rasakan sesuatu yang hangat menyentuh kening ku, rasanya cukup untuk menggetarkan hati dan juga memperkuat detak jantung. Pak Devan mencium keningku?
Beberapa detik posisi ini semakin lama membuat aku semakin lemas. Kalau tidak segera di akhiri pasti aku akan pingsan setelah beberapa saat lagi.
Aku melepaskan tangannya dan saat itu juga pak Devan melepaskan kecupannya. Dia tersenyum saat mataku melirik ke arahnya dan aku balas dengan senyum yang sama.
Ya Allah. Ternyata, pernikahan yang tanpa berdasarkan cinta tapi mampu menghadirkan rasa asing yang belum pernah ada. Semoga ini adalah pernikahan terakhir ku dan rumah tangga ku yang sekarang ini akan di penuhi dengan kebahagiaan.
Sekarang, aku harus berjuang untuk rumah tangga ini. Berjuang untuk menjadi istri paling baik untuk pak Devan dan juga berjuang untuk menjadi ibu paling baik untuk Ara dan juga anak-anak kami kelak.
Ya Allah, mudahkan lah aku menjalani tugas ini sekarang. Dan juga, jauhkan kami dari masalah kecil apalagi besar yang akan menggoyahkan hubungan kami.
Juga, tumbuhkan cinta di hatiku dan juga pak Devan supaya kami bisa lebih mudah untuk menjalani perjalanan rumah tangga yang baru di mulai ini.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....