Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kedatangan Aditya



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Begitu nikmatnya bisa menikmati makanan yang di Inginkan dengan di temani oleh suami, bahkan bukan hanya sekedar di temani saja melainkan di suapi. Benar-benar nikmat kan?


Bibirku tak henti-hentinya tersenyum, hati juga terus bersorak kegirangan karena mendapatkan perhatian yang sangat istimewa dari mas Devan.


Tak ada rasa malu dalam dirinya menemani ku makan di pinggir jalan. Dengan pakaiannya yang sangat jelas adalah pakaian mahal dan di padukan dengan pakaian ku yang hanya ala kadarnya.


Aku memang tidak begitu menyukai baju-baju yang aneh-aneh, baju biasa saja asalkan bisa enak di kenakan kenapa tidak?


"Alhamdulillah, akhirnya habis juga. Mau nambah lagi?" tawar mas Devan. Tadi seakan tidak memperbolehkan untuk makan tapi sekarang malah menawarkan lagi, apakah dia ngigau?


"Tidak. Aku sudah kenyang," Ku sentuh perutku sendiri yang sudah sangat penuh. Tadi di rumah sudah sarapan, dan sekarang di tambah lagi satu mangkuk seblak, bagaimana mungkin tidak akan penuh.


"Oh, sudah kenyang ya. Baiklah," Mas Devan terlihat begitu puas sekarang, tangannya terangkat dan menghapus sisa-sisa kuah yang ada di bibirku.


"Hem, bayi besarku kalau makan selalu saja cemong. Pasti pada lari kemana-mana," ucapnya. Matanya fokus dengan tangan yang bergerak mengusap bibirku dengan tisu dan setelah itu baru menatap mataku hingga netra kami bertemu.


"Aku bukan bayi, Mas." protes ku.


"Iya, iya. Kamu bukan bayi karena kamu adalah penghasil bayi. Dan bayi itu adalah anakku," Dia malah tersenyum.


Nah kan muka lagi.


Aku menoleh ke kanan dan kiri, depan juga belakang. Syukur, gak ada yang mendengar ocehannya yang tak bermakna itu atau kalau tidak aku akan malu.


"Sudah deh, Mas. Jangan aneh-aneh. Sekarang sudah selesai kan? Sekarang mas boleh kembali ke kantor."


"Kamu mengusir ku? Tega sekali." Mas Devan pura-pura merajuk.


Kalau sudah mulai ngeyel seperti ini nih yang sangat menyebalkan. Akan sangat susah untuk bisa membuatnya pergi kalau sudah seperti ini.


"Emangnya mas tidak akan bekerja?" kataku.


"Ya kerja sih, tapi malas pergi. Pengennya deket-deket terus sama kamu. Kalau aku pergi terus ada yang ganggu kamu bagaimana? Kalau dia mengambil kaku bagaimana?"


Mulai lagi posesifnya.


"Emangnya siapa juga yang berani mengambil perempuan yang banyak makan seperti ku. Selain mas Devan sendiri mana ada yang berani. Mereka tidak akan mampu kasih makan, bisa bangkrut mereka dalam satu bulan saja."


"Aku sanggup untuk memberikanmu makan. Jangankan hanya makan apapun akan aku berikan asal kamu mau ikut dengan ku."


Suara seseorang mengejutkan kami, aku sangat hafal suara itu dan saat aku menoleh ternyata benar dia adalah mas Aditya.


Aku juga mas Devan seketika berdiri dari tempat, mata kami sama-sama saling melotot ke arahnya.


Mas Aditya terlihat begitu yakin apa yang dia katakan barusan. Sesekali dia juga menyeringai karena merasa mampu, sombong sekali dia hingga begitu yakin seperti itu.


"Oh, ternyata kamu yang menantang ku. Tapi, coba saja ambil. Kalau Nayla mau pergi dengan suka rela ya silahkan, bawa saja dia."


Mataku menoleh cepat ke arah mas Devan, enak sekali dia mengatakan hal itu. Dia mau menyerahkan aku begitu saja pada mas Aditya?


"Mas!" pekikku.


"Tidak dong sayang. Mas mengatakan seperti itu kan karena kamu juga tidak mungkin mau ikut dengannya."


"Laki-laki yang penuh kebohongan, penuh drama dalam hidupnya tidak akan pantas untukmu. Jangankan untukmu? Untuk orang lain saja dia tidak pantas."


"Apa kamu bilang? Hidupku penuh drama!?" Terpancing amarah mas Aditya sekarang padahal baru beberapa kata saja yang mas Devan katakan.


Ternyata mas Aditya berani juga datang ke sini, aku pikir dia tidak akan berani setelah mendapat teguran dari mas Devan, ternyata?


"Kenapa kamu kesini?" tanya mas Devan jelas.


"Apa urusan mu? Aku mau datang kemanapun terserah diriku," Mas Aditya pun juga tak mau kalah dalam bicaranya, mereka berdua ini kalau lagi bertemu seperti Tom Jerry saja ya kan?


Meski mas Aditya tidak mengatakan kebenarannya datang ke sini tapi kami berdua sangat tau apa maksud kedatangannya, apalagi kalau tidak untuk menemui Ara.


Tak ada habis-habisnya dan tak ada takut-takutnya mas Aditya terus datang kesini untuk menemui Ara, untung saja ada aku juga mas Devan di sini. Tak akan aku biarkan mas Aditya bisa bertemu dengan Ara.


Bertemu saja sudah mengakibatkan Ara sakit, bagaimana kalau terus-terusan? Atau jangan-jangan apa yang terjadi pada Ara sekarang juga ada sangkut pautnya dengan pertemuan mereka saat itu.


"Apapun tujuanmu datang ke sini, aku tidak akan pernah biarkan. Kamu tidak akan pernah berhasil dalam tujuan mu," ucapan mas Devan sudah terdengar menegaskan.


"Hem, apa aku peduli? Tidak! Aku akan tetap berhasil dalam tujuan ku. Tak akan ada yang bisa menghalangi untuk aku bertemu dengan anakku," ucap mas Aditya menantang.


"Rupanya kamu meremehkan ku, baiklah. Coba saja berusaha tapi aku jamin tidak akan bisa berhasil."


"Mas, bagaimana kalau..."


"Tidak, dia tidak akan bisa berhasil. Lihat saja," aku sangat khawatir saat mas Aditya sudah mulai berjalan mendekati pintu gerbang.


Aku mengernyit, tadi tidak ada para penjaga berseragam hitam di sana tapi kenapa sekarang ada? Sejak kapan mereka datang.


"Mas, mereka?"


"Mereka orang-orang ku." Mas Devan menyeringai dengan tenang, melihat mas Aditya yang ingin masuk dan mulai beradu argumen dengan para penjaga itu.


"Kita lihat saja, dia akan menyerah," ucap mas Devan.


"Sebesar apapun dia berusaha, tanpa seizin dariku dia tidak akan bisa mendekati kamu ataupun Ara. Dia tidak pantas dekat dengan kalian berdua." Mas Devan begitu meyakinkan ku.


"Devan! Kurang ajar kamu ya! Kamu akan menyesal melakukan ini!"


Amarah mas Aditya terlihat begitu besar karena tidak berhasil masuk. Dia sepertinya tau kalau orang-orang itu adalah suruhan mas Devan.


Matanya melotot menyeramkan dengan tangan yang mengepal ke arah kami.


"Hahaha! Kenapa? Nggak berhasil ya?!" Mas Devan malah tertawa dan membuat mas Aditya semakin besar amarahnya.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung.....