
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Sesekali Mika menoleh ke arahku lalu kembali fokus ke arah jalan raya. Dia terus berbicara dan bertanya tentang ke mana aku pergi kemarin, padahal sudah aku katakan kalau aku pergi meeting kepada Pak Devan, jelas dia tidak akan percaya kepadaku karena aku juga telah membohonginya.
Tidak mungkin mengatakan kalau aku pergi bersama Pak Devan dan juga Ara, menghabiskan waktu bersama di taman, berbelanja bahkan juga pergi ke acara pesta reuni SMA Pak Devan bisa-bisa Mika akan melongo.
Bukan hanya itu saja tetapi aku yakin akan mendapatkan ceramah yang panjang kali lebar dari Mika. Tentu dia juga akan berpikiran macam-macam tentang aku juga Pak Devan.
"Nay, aku tidak percaya ya kalau kamu hanya pergi meeting bersama Pak Devan pasti kamu pergi ke suatu tempat karena kamu perginya juga dengan Ara. Cepat cerita kemana kamu pergi kemarin bersama Pak Devan, atau jangan-jangan kalian udah mulai ada hubungan di belakangku ya?" tebak Mika dengan asal.
"Apa sih, Mik. Jangan sembarangan bicara deh nanti bisa jadi gosip di kantor padahal itu tidak benar. Aku dengan Pak Devan sama sekali tidak ada hubungan apapun selain hubungan pekerjaan saja," jawabku berusaha meyakinkan Mika yang sepertinya tidak akan mudah.
"Lalu kenapa kamu bisa pergi hampir seharian bersama Pak Devan bahkan kamu juga pulang sampai larut malam. Kamu dan Pak Devan tidak aneh-aneh kan, Nay?"
Semakin melantur arah pembicaraan dari Mika ini. Mana mungkin aku akan aneh-aneh dengan Pak Devan karena aku juga sangat ilfil padanya.
"Sudah deh ya! mendingan kamu fokus menyetir saat ini dan cepat melajukan mobilnya biar kita cepat sampai di kantor kalau sampai telat aku bisa terkena masalah lagi sama Pak Devan."
"Oh iya, kamu kemarin kan terlambat apa kamu dihukum. Atau jangan-jangan kalian pergi bersama itu karena Pak Devan juga sembari memberikan hukuman kepadamu?" kali ini tebakan Mika sangatlah benar.
"Mau diam atau aku turun di sini saja?" tak mau Nayla menceritakan semua kepada Mika karena buntutnya pasti akan sangat panjang.
"Iya-iya, gitu saja kok marah nanti cepet tua loh," bergegas Mika melajukan mobilnya dengan cepat sepertinya dia takut kalau aku akan melakukan apa yang aku katakan barusan dan turun di sana meninggalkan Mika.
Untung saja tupperware yang aku bawa ada di dalam tas dan Mika tidak melihat kalau sampai dia melihat akan semakin runyam lagi urusannya.
Alhamdulillah untuk kali ini aku tidak terlambat dan tepat waktu. Tetapi nyatanya aku masih kalah cepat dengan Pak Devan yang sudah berangkat lebih dulu bahkan dia sudah menunggu di ruang kerjaku.
"Masak bawahan kalah cepat dengan bos," ucapnya.
Aku terpaku di depan pintu dengan melihat Pak Devan yang ada di dalam dan menyandarkan dirinya di meja kerjaku dengan kaki yang saling tumpang juga kedua tangan yang berada di dalam sakunya, sok keren banget deh.
"Meskipun seperti itu setidaknya saya tidak terlambat, iya kan Pak?"
Tetap saja aku berani menjawab ucapan dari Pak Devan karena aku memang tidak bersalah kenapa harus takut?
Aku melihat ke arah wajah Pak Devan terlihat sangat aneh, matanya merah dan terdapat kantung mata di sekitarnya. Apa itu artinya Pak Devan semalaman tidak bisa tidur?
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apakah aku terlihat begitu buruk di matamu?"
Kenapa pagi ini dia begitu sensi? padahal aku juga tidak mengatakan apapun dan memberikan komentar, emangnya aku salah ya kalau hanya sekedar melihat saja?
"Cepat kerja!" titahnya.
Aku melangkah ke arah Pak Devan tetapi bukan untuk mendekati dia melainkan untuk duduk Di tempat kerjaku dan langsung mengerjakan tugas seperti biasanya.
Dug...
Pak Devan menoleh saat mendengar suara keras di meja. Itu adalah bunyi dari tupperware yang ada di dalam tas karena aku sedikit kuat menaruh tasnya di meja.
Aku bingung, benarkah aku harus memberikan sarapan yang aku bawa ini untuk pak Devan? kalau tidak berarti aku telah mengingkari janji kepada Ara, tetapi jika aku berikan Pak Devan pasti akan besar kepala.
"Bu_bukan apa apa kok Pak, hanya suara dari buku saja yang ada di dalam tas," aku mengelak karena masih bingung untuk mengatakan dan memberikannya.
"Aku tidak percaya itu bukanlah buku pasti ada sesuatu yang kamu bawa, coba aku lihat!" tak mudah untuk pak Devan percaya karena memang itulah wataknya.
Pak Devan ingin menyambar tas yang ada di meja namun sudah sudah lebih dulu aku yang menyambar dan langsung aku peluk.
"Beneran, ini tidak ada apa-apa." aku tetap bersikeras mempertahankan tas di dekapanku tak akan aku biarkan pak Devan mengambilnya.
"Kamu bohong, sini!" pak Devan malah berjalan mendekat, memutar hingga berdiri di sebelah ku.
"Jangan-jangan kamu bawa barang haram lagi. Sini lihat!" suara pak Devan begitu melengking.
Semakin erat aku memegangi tas ku namun pak Devan tetap memaksa dan menariknya. Hingga akhirnya terlepas juga tas ku dan langsung di buka.
Mataku melotot ingin marah karena dia begitu sesuka hatinya melakukan itu semua, aku juga kesal karena dia berpikir aku membawa barang-barang halal.
Semua yang ada di dalam tas di keluarkan hingga akhirnya tupperware yang berisi nasi goreng itu juga keluar.
"Hanya ini saja kamu sembunyiin? apa ini ada racunnya?" selidik pak Devan.
Aura wajahnya terlihat menyebalkan ingin banget aku tampol.
"Ini nggak ada racunnya kan?" katanya semakin menyelidik.
"Ada, racun sianida! bapak mau?"
"Kebetulan aku lapar nih, tak apa lah ada racunnya yang penting mati dalam keadaan kenyang."
Dengan begitu santainya pak Devan mengambil kursi yang tadi sempat aku duduki dan dia gunakan untuk duduk sendiri.
"Aku pinjam dulu kursinya, kalau kamu capek berdiri duduk sini juga boleh," katanya. Tangannya menepuk-nepuk pahanya sendiri itu artinya meminta aku duduk di pangkuannya.
"Hem, sepertinya enak. Waww... telur hati... Cie cie cie... mau di kasih siapa, Nay?" pak Devan meringis manis ke arah ku.
"Itu dari Ara untuk bapak," kataku dengan cuek.
"Hem, Ara baik sekali. Ara atau Ara..." matanya mengerling nakal ke arah ku.
Menyesal kenapa aku katakan itu barusan dia jelas tidak akan percaya pada apa yang aku katakan.
"Hem, enak ternyata... Ara pinter sekali masak mau dong di bikinin sarapan tiap hari."
Semakin ngelunjak nih orang, sekali saja aku terpaksa melakukannya apa lagi tiap hari?
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....