
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Ingin rasa hati marah bahkan juga ingin rasanya memberikan tamparan berkali-kali lipat kepada Mas Aditya sekarang, di hadapan semua orang dan juga mempermalukannya bahkan di depan istri sahnya sekarang. Tetapi, jika aku melakukan itu apa bedanya aku dengannya.
Mungkin aku akan puas setelah melakukannya. Tetapi rasa sakit hatiku juga tidak akan pernah habis tidak akan pernah sembuh hanya karena telah berhasil membuat dia malu di hadapan semua orang teman-teman lamanya.
Semakin kuat aku memegang lengan Pak Devan aku yakin pak Devan juga merasakan sakit tetapi dia menahannya dan membiarkan apapun yang aku lakukan.
Aku melihat Mas Aditya tersenyum tetapi dengan kaku sementara istrinya yang telah hamil itu dia begitu manis dengan merangkul Mas Aditya dengan manja.
Siapa dia? Apakah dia memang lebih baik dariku, dan lebih sempurna dan lebih segala-galanya dibandingkan diriku. Mungkin memang iya karena buktinya Mas Aditya lebih memilih dia daripada kembali kepadaku dan Ara.
"Mas, dia siapa aku belum pernah melihat dia datang di acara reuni ini. Apakah dia juga teman Mas?" wanita itu menoleh ke arah Mas Aditya meminta jawaban dari pertanyaannya setelah melihat Pak Devan juga diriku.
"I_iya. Dia juga salah satu temanku, bahkan dia adalah sahabatku."
Secepat kilat wajahku menoleh ke arah Pak Devan namun dia terlihat santai dan biasa-biasa saja meski aku yakin dia menyadari akan diriku yang begitu terkejut mendengar kenyataan bahwa Mas Aditya juga Pak Devan adalah sahabat.
Apakah itu artinya Pak Devan sengaja mengajakku dan juga Ara ke sini supaya bisa bertemu dengan Mas Aditya?
"Perkenalkan, saya adalah Devan sahabat dari suamimu Aditya. Benar, aku baru bisa datang hari ini jelas saja kamu baru melihatku karena aku begitu sibuk dengan pekerjaan juga sibuk dengan keluargaku. Iya kan sayang?"
Semakin tidak mengerti apa tujuan dari Pak Devan. Keluarga? Sayang? Apakah aku yang dianggap sayang oleh Pak Devan tadi, tapi untuk apa?
Apakah untuk memancingku atau memancing Mas Aditya, supaya kami mengatakan apa sesungguhnya hubungan kami sebelum ini.
Aku melihat mata Mas Aditya membulat tak percaya, mungkin? Aku yakin Mas Aditya berpikir kalau aku dan Pak Devan benar-benar memiliki hubungan bahkan mungkin dia percaya kalau Kami adalah keluarga yang sempurna dan bahagia.
Aku melirik ke tangan mas Aditya yang bergelantung di setelah tubuhnya, semua jari-jarinya sudah mengepal menjadi satu dan begitu aku yakin pasti ada kemarahan di hatinya hingga sampai dia melakukan itu bahkan matanya juga bertambah merah sekarang.
Kalau dengan melihatku seperti ini dia merasa sakit hati, baiklah! akan aku lakukan yang lebih lagi. Aku ingin lihat seberapa dia akan merasa sakit hati ketika aku bersama dengan laki-laki lain bahkan itu sahabatnya sendiri.
"Iya, kamu kan begitu sibuk dengan pekerjaan juga dengan aku dan anakmu jadi mana mungkin kamu akan sempat datang ke tempat seperti ini. Kamu kan laki-laki terhebat yang penuh tanggung jawab pada keluarga tidak pada kebanyakan laki-laki yang pura-pura pergi namun ternyata dia mencari perempuan lain."
"Mas adalah suami dan ayah terbaik untukku dan anakku."
Aku keluarkan senyum itu semanis mungkin sembari Aku menoleh ke arah Pak Devan dan memperlihatkan senyumku kepadanya.
Aku kembali menoleh ke arah Mas Aditya dan istrinya. Mas Aditya semakin terbawa dalam amarah yang kian membuncah sementara istrinya, dia masih terus tersenyum dengan bangga karena dia berpikir suaminya adalah seorang laki-laki yang setia yang tidak akan mungkin pernah meninggalkannya.
Rasanya ingin marah mendengar semua perkataan Pak Devan barusan tetapi juga ingin tertawa terpingkal kalau ternyata yang dia katakan semua adalah kebohongan. Percaya diri sekali dia dengan mengakui aku adalah istrinya sementara Ara adalah anaknya.
Akting Pak Devan ternyata bagus juga nggak bisa diragukan lagi dia benar-benar seperti seorang aktor ternama. Tetapi, tetap saja aku tidak merasa bangga.
Lagi lagi pak Devan mengambil kesempatan dengan merangkul pinggangku semakin erat bahkan kami benar-benar saling menempel satu sama lain.
"Kalau begitu saya pulang dulu ya Aditya anak dan istriku sudah kelelahan kasihan mereka. Dan menurutku lebih baik menghabiskan waktu yang panjang dengan istri di rumah daripada dengan orang-orang di keramaian seperti ini. Memang asik sih tapi aku lebih memilih bersama istriku saja dengan melakukan pesta bersama."
"Selamat menikmati pesta, Aditya. Selamat malam."
Pak Devan merangkul ku semakin erat dan menuntunku untuk terus berjalan di sebelahnya. Heran juga dengan Pak Devan ini tangannya begitu kuat menggendong Ara dan satunya merangkul ku.
Aku menoleh ke belakang dan melihat bagaimana sikap masa Aditya, dan ternyata dia dan istrinya masih berdiri di tempat tanpa melihat ke arah kami. Seandainya masa Aditya melihat kami maka aku yakin dia akan bisa mengenali Ara. Tapi aku bersyukur dia tidak melihatnya.
Setelah memastikan Mas Aditya sudah tak lagi bisa melihat aku melepaskan diri dari Pak Devan, tentu aku tidak mau berlama-lama dalam posisi seperti ini. Bisa jadi nanti pak Devan ke gr-an, bisa saja dia akan berpikir kalau aku begitu menyukai apa yang dia lakukan kepadaku.
"Kenapa bukannya kamu begitu senang aku merangkul mu?"
Tuh kan apa yang aku pikirkan ternyata benar dia akan mengambil kesempatan dalam setiap kemungkinan yang ada. Sepertinya setelah ini aku harus jaga jarak dengannya, Aku tidak mau semakin dekat dengannya dan dia akan berperilaku kurang ajar kepadaku.
"Maaf, Bapak salah kalau berpikir aku senang diperlakukan seperti ini. Tetapi sebaliknya, Aku membenci laki-laki yang selalu sok manis tapi nyatanya hatinya tidak sebaik itu. Semua laki-laki sama saja, semuanya munafik."
Kata-kata aku menegaskan biarkan saja Pak Devan akan berpikir seperti apapun tentangku tetapi pada kenyataannya memang benar kan?
"Sini, aku bisa menggendong Ara sendiri. Aku masih kuat dan aku tak butuh laki-laki yang seperti kalian."
Aku mengambil alih Ara dari tangan Pak Devan meski memang sudah lebih berat tetapi aku masih kuat sekedar menggendong anakku sendiri.
"Biarlah, Nay. Nanti dia bangun, kasihan. Ara pasti sangat lelah," Katanya.
Aku tidak peduli apa yang dia katakan dan aku tetap kekeh mengambil Ara dari tangan Pak Devan dan setelah berhasil aku melangkah lebih dulu menuju mobil bahkan kini aku memutuskan untuk duduk di belakang.
"Hemm... Dasar perempuan," umpatan Pak Devan yang samar-samar aku dengar tetapi aku abaikan.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....