
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
POV AUTHOR.....
Dari pagi Devan terus mencari dan juga terus menghubungi Nayla tapi sampai malam sama sekali tidak dia temukan.
Chat tidak di balas apalagi telfon? Sama sekali tidak di angkat. Devan begitu frustasi, dia bingung kenapa Nayla tiba-tiba pergi dari rumahnya tanpa pamit dan tidak mengatakan apapun padanya. Hanya kata penjaga rumah saja yang katanya sudah izin padanya tapi ternyata?
Berkali-kali Devan juga melihat CCTV, dengan jelas dia melihat bagaimana Nayla membujuk Ara dan juga bagaimana dia keluar dari rumah sampai dia keluar dari pintu gerbang dan berbohong pada penjaga.
Dan yang paling Devan pikirkan adalah, ketika Nayla mengetahui kalau dia berbicara dengan pak Abraham di dalam ruang kerjanya. Tidak dia sangka kalau Nayla akan mendengar semua yang papanya katakan namun dia tidak mendengar dengan lengkap hingga akhirnya dia salah paham.
"Kenapa rasanya sakit seperti ini ketika dia pergi? Kenapa aku benar-benar merasa kehilangan? Benarkah aku sudah mulai jatuh cinta atau ini semua karena aku yang hanya ingin bertanggung jawab saja karena perbuatan ku tanpa berdasarkan cinta?"
Devan berargumen sendiri dengan semua yang telah terjadi pada hatinya. Dia belum percaya kalau dia nyaman dan cinta dengan Nayla tapi dia hanya merasa sedih bahkan sakit ketika Nayla pergi dari rumahnya, dari dirinya.
"Kamu di mana, Nay. Aku mohon balas chat ku!"
Di kamarnya yang luas Devan begitu frustasi dengan keadaan yang begitu amburadul. Semua terlihat acak-acakan terutama rambutnya dan juga bajunya yang terlihat kusut karena dia belum sempat bersih-bersih dari tadi pagi.
Berkali-kali Devan melihat ponselnya namun pesannya sama sekali belum di baca oleh Nayla. Lagi dan lagi Devan mengirim pesan berharap Nayla akan membuka ponsel dan membacanya, Devan juga kembali menghubungi tapi tetap saja tak ada jawaban.
"Kemana lagi aku harus mencari kalian, sebenarnya kalian di mana? Arghh!"
Kembali Devan mengacak rambutnya dengan kasar. Sudah seharian dia terus mencari Nayla dengan memutari kota tapi tak ada tanda-tanda akan keberadaan Nayla. Sungguh melelahkan bukan?
Brukk...
Devan menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk miliknya, menghempaskan dengan kasar karena merasa sangat bingung.
Kedua tangan terlentang hingga hampir mencapai dari ujung ke ujung ranjangnya tetap masih dengan memegangi ponsel.
"Tak pernah aku tertarik pada seorang wanita, entah seperti apapun mereka. Tapi setelah aku merasa mulai tertarik pada wanita kenapa wanita itu malah menjauh dan pergi diriku. Arghh!" kembali Devan di buat frustasi dengan keadaan ini.
Kembali dia mengangkat ponsel untuk melihatnya. Sontak Devan kembali duduk karena semua chat_nya sudah berubah menjadi centang biru, itu artinya Nayla sedang membacanya.
Dengan cepat Devan menghubungi Nayla karena dia percaya Nayla akan mengangkatnya, dia juga masih melihat kalau Nayla masih on.
Tut.. Tut.. Tut...
Tapi tetap saja Nayla tidak menjawab panggilannya.
"Angkat, Nay. Aku mohon angkat," Devan beralih berdiri dengan satu tangan berkacak pinggang.
Tatapannya terus berputar seolah mengelilingi kamarnya sendiri dia sangat berharap Nayla akan mengangkatnya.
"Kenapa kamu tidak mengangkatnya, Nay. Ayo angkat angkat," gumamnya terus menerus.
Namun keinginannya tidak pernah terjadi dan dia semakin frustasi di buatnya. Seakan di gantung begitu saja harapannya. Sakit.
'[Nay, aku mohon. Angkat panggilan ku,]'
Panggilannya tidak di angkat Devan berinisiatif mengirim pesan pada Nayla. Pesan itu langsung centang biru itu artinya Nayla langsung membacanya.
Kembali Devan menghubungi Nayla tapi tetap saja Nayla tidak mengangkatnya.
Hingga akhirnya Devan menunggu karena melihat tanda bahwa Nayla sedang mengetik sesuatu. Jelas akan Devan tunggu entah seberapa lama dan panjangnya.
Ting...
Devan begitu buru-buru untuk membaca pesan dari Nayla, dia sangat tidak sabar apa yang Nayla tulis dia harap Nayla minta maaf dan akan kembali, atau mungkin akan memberitahu dimana keberadaannya sekarang.
'[Jangan hubungi saya lagi, dan lupakan semua yang sudah terjadi. Anggap saja kita tidak pernah bertemu seperti sebelumnya.]'
"Tidak tidak, kamu tidak bisa lakukan ini padaku, Nay. Kamu tidak bisa melakukannya."
"Tidak akan semudah itu, Nay. Kamu tidak akan bisa lepas dariku. Dimana pun kamu berada sekarang aku akan tetap bisa menemukan mu," gumam Devan dengan tekat yang sangat bulat.
Tentu dia akan mencari keberadaan Nayla meski sampai di ujung dunia sekaligus. Tidak akan pernah dia melepaskannya.
"Kau yang membuat ku hampir gila, Nay. Dan kamu harus bertanggung jawab, kamu tidak bisa pergi begitu saja dariku," imbuhnya lagi yang tidak akan pernah rela Nayla pergi.
Kembali Devan mengetik dan juga cepat mengirimnya tapi terlihat nomor Nayla sudah tak lagi online. Bahkan pesan terakhir dari Devan hanya tinggal centang satu saja.
''Sejuah apapun kamu berusaha lari dariku aku akan tetap mendapatkan_mu, Nayla.'' gumam Devan yang sepertinya tetap akan memperjuangkan Nayla.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Hingga pagi hari Devan sama sekali tak bisa tidur dia terus terjaga dengan pikiran tentang Nayla dan juga Nayla.
Mata Devan jelas memerah karena dia yang tak bisa tidur hanya karena Nayla saja. Bukan hanya matanya saja yang terlihat merah tapi juga kantung mata yang juga menghitam. Keadaan Devan benar-benar sangat buruk sekarang.
Dengan lesu Devan kembali melihat ponselnya berharap pesan yang terakhir akan mendapatkan balasan atau paling tidak di baca oleh Nayla tapi ternyata tidak sama sekali. Tak ada jawaban bahkan tidak di baca sama sekali.
''Oke, Nay. Kamu pikir kamu bisa main-main denganku? tidak akan pernah bisa. Kau boleh menentukan permainan tapi akulah yang akan menjadi pemenangnya.''
Devan sangat yakin bahwa dia akan bisa menemukan Nayla di manapun dia berada sekarang ini.
Dengan langkah yang lesu tapi dia paksakan untuk semangat Devan paksa untuk bisa sampai ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Sejuta niat dan jalan telah tertata rapi di dalam kepala Devan. Semua sudah dia rencanakan untuk bisa menemukan Nayla yang entah di mana dia sekarang.
.............
Semua telah Devan lakukan rutinitas pagi tetap berjalan seperti biasanya. Dia butuh tenaga untuk bisa mencari keberadaan Nayla jadi dia harus tetap mengisi perutnya.
Tapi niatnya untuk pagi ini harus terhalang dia yang harus pergi ke kantor karena ada meeting yang tidak bisa dia tinggalkan.
Devan memang harus menemukan Nayla tapi dia tidak boleh mengabaikan kemajuan perusahaannya yang sudah di berikan padanya oleh sang ayah.
Bergegas Devan pergi ke kantor dengan mobilnya.
Ketika kepergian Devan semua pelayan dan para suster hanya diam. Bukan hanya Devan saja yang merasa kehilangan tapi semua yang menjadi penghuni di rumah itu juga merasa sangat sedih.
Keberadaan Ara dan juga Nayla memberikan warna baru untuk rumah tersebut. Jadi ketika mereka pergi kekosongan kembali mereka rasakan, padahal mereka sudah berharap lebih untuk hubungan Devan dan juga Nayla.
''Semoga tuan Devan bisa membawa kembali Nyonya Nayla dan juga Non Ara.'' harap suster Neni.
''Iya. Semoga saja itu benar. Semoga tuan Devan benar-bear bisa membawa mereka berdua kembali ke rumah ini.'' jawab salah satu pelayan yang juga ada di sana.
Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah berdoa untuk kebaikan tuan mereka. Mereka tak bisa melakukan hal yang lebih dari itu.
Sementara Devan, dia benar-benar sangat menyadari sekarang bahwa kepergian Ara dan juga Nayla membuat dia kehilangan, sekarang dia percaya bahwa cinta itu benar adanya dan sekarang dia tengah mengalami apa yang namanya cinta itu.
Dengan tekat yang besar Devan keluar dari rumahnya, dia akan ke kantornya dan setelah itu dia akan mencari keberadaan Nayla. Dia sangat yakin akan menemukannya.
''Semua ini gara-gara kamu, Aditya. Kamu pikir kamu menang karena berhasil membuat Nayla pergi dari rumahku? tidak, Dit. Kamu belum menang, kamu masih kalah karena kamu juga belum bisa mendapatkan Nayla dan Ara lagi. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah aku biarkan kamu mendapatkannya.''
Mata Devan begitu tajam ke arah jalan raya tapi kekesalan dan juga kemarahannya dia tujukan pada Aditya yang dia anggap adalah sumber dari masalah dan juga sumber dari kepergian Nayla dari rumahnya.
Mungkin setelah ini persahabatan mereka hanya akan tinggal nama hanya karena seorang wanita saja, hanya karena wanita yang sama dan sama-sama mereka inginkan.
Tetapi Devan tidak peduli lagi dengan persahabatan itu lagian dia merasa tak pantas lagi bersahabat dengan Aditya yang ternyata tidak sebaik yang pernah dia pikirkan sebelumnya. Bahkan sekarang Devan merasa sangat menyesal karena pernah punya sahabat seperti Aditya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...