
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV AUTHOR....
Setelah pertemuan Aditya dengan Nayla ketika acara reuni sekolah SMA mulai hari itu pikiran Aditya selalu terganggu.
Terkadang dia tiba-tiba kesal sendiri ketika mengingat akan kedekatan Nayla dengan Devan, apalagi mereka yang mengaku sebagai sepasang suami-istri yang begitu bahagia. Bukan itu saja tapi akan keberadaan anak mereka yang juga sudah besar.
Apakah itu artinya Nayla langsung menikah ketikan dia pergi? Apakah Nayla benar-benar langsung mendapatkan pengganti setelah satu tahun dia pergi?
Bukan hanya pikirannya saja yang kacau tapi pekerjaannya lebih lagi. Semuanya berantakan dan selalu saja bermasalah. Bahkan bukan itu saja, tetapi hubungan doa juga Jihan yang juga kadang-kadang terjadi konflik.
Tentu masalahnya hanya sepele, hanya karena Aditya selalu melamun namun dengan penuh kesal bahkan amarah hingga doa sama sekali tidak mendengar ketika Jihan menyapa atau mengatakan apapun.
Seperti saat ini, Jihan hanya ingin meminta Aditya menemani ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya tapi Aditya tak mendengar dan melamun. Padahal sudah berhari-hari pertemuannya dengan Nayla tapi nyatanya sampai sekarang dia terganggu.
"Mas, mas bisa anterin Jihan periksa kehamilan kan?"
Jihan menghampiri Aditya yang sudah rapi dengan kemeja kuga jasnya namun dia masih berdiri mematung bahkan melamun di depan kaca besar di kamar mereka berdua.
Tangannya tak bergerak dan memegangi kancing jas yang ingin dia pakai tapi itu tak terjadi karena Aditya malah melamun saja.
"Mas, Mes kenapa sih! Akhir-akhir ini selalu saja mengabaikan Jihan. Apa mas ada masalah? Kalau ada cerita dan kita selesaikan bersama-sama. Jangan sampai masalahnya berlarut-larut seperti ini!"
Jihan begitu menegaskan tapi Aditya masih saja bergeming di tempat. Sepertinya Aditya benar-benar mengabaikan kedatangan Jihan demi memikirkan perempuan yang sudah menjadi masa lalunya.
"Mas! Mas!" Jihan semakin kesal. Dia begitu jengah dengan Aditya yang lagi-lagi seperti ini dan dia tidak tau apa penyebabnya.
Apakah semua itu terjadi karena Jihan? Atau mungkin ada masalah lain?
'A_apa mas Aditya seperti ini karena aku. Apakah dia sudah tau apa yang pernah aku lakukan dengan temannya di belakang dia?' batin Jihan.
Itulah yang menjadi ketakutan Jihan. Meskipun Aditya tidak bertanya dan juga tidak mengatakan apapun tapi Jihan sangat merasa karena dia telah berbuat kesalahan di belakang Aditya. Apakah mungkin karena itu?
"Mas!" sekali lagi Jihan bersuara memanggil dan sekarang dia juga sembari menggoyangkan tubuh Aditya dan berhasil menyadarkan.
"Kenapa sih!" bukannya meminta maaf tapi Aditya malah terlihat sensi dan mulai kesal. Bahkan Aditya juga membalik untuk meninggalkan Jihan.
"Mas yang kenapa, aku bicara dengan baik-baik dan Januari mengajak mas untuk nemenin Jihan untuk periksa tapi kenapa mas malah nyolot seperti ini!"
Jihan sudah langsung terpancing dengan apa yang di katakan oleh Aditya barusan.
"Siapa yang nyolot, bukan aku yang nyolot ya! Aku kan sudah katakan semalam aku tak bisa menemani mu karena ada meeting! Kenapa kamu tidak mengerti sih?! Pekerjaan ku begitu banyak karena terus menerus mengikuti semua keinginan mu!"
"Kemarin ini, sekarang ini dan besok apa lagi! Apa kamu tidak membiarkan aku untuk melakukan apa yang aku ingin. Kamu terus saja memaksa ku, aku hanya seperti boneka untuk mu!"
"Aku juga punya hati dan perasaan! Aku manusia yang bisa merasa lelah, bukan baru!"
"Mas! Sebenarnya apa sih yang terjadi kepada mas! Dari kemarin mas selalu saja seperti ini, selalu saja marah-marah dengan Jihan. Apa salah Jihan, hah!"
Jihan begitu frustasi menghadapi Aditya yang berubah begitu banyak sekarang. Dia yang ingin hubungan mereka kembali harmonis lagi seperti dulu yang penuh dengan kasih sayang dan terus romantis di setiap pekerjaan.
Tapi sekarang?
Apa yang terjadi kepada Aditya, kenapa dia terasa begitu jauh sekarang. Tubuhnya ada bersamanya tapi hati dan pikirannya berasa di tempat lain. Bahkan mungkin bersama orang lain.
"Mas!" Teriak Jihan yang melihat Aditya berlalu pergi begitu saja.
Jihan yang tidak terima dia langsung mengejar Aditya, dia hanya ingin mendengar penjelasan kalau dia memang ada salah.
"Mas!" kembali Jihan berteriak dan juga mengejar langkah Aditya yang begitu cepat.
Dengan keadaan yang tengah hamil besar Jihan harus berjalan cepat untuk mengejar Aditya bahkan dia harus turun tangga.
"Mas, bilang pada Jihan apa masalah mas, Mas!" Jihan terus bersuara dan juga terus melangkah turun dengan tergesa-gesa.
Pada Akhirnya...
"Maassss...!" Langkah yang begitu cepat namun tak dapat menjaga keseimbangan dengan baik membuat Jihan tergelincir dan dia jatuh hingga terguling dari tengah-tengah tangga hingga sampai ke bawah, lantai dasar.
Dug...
"M_mas..." Jihan meringis kesakitan saat dia sudah sampai di lantai dasar.
Dengan rasa sakit yang begitu luar biasa Jihan terus merasakan sakit, dia juga terus memanggil Aditya hingga akhirnya suaranya sampai pada Aditya.
Aditya menoleh, dia begitu terkejut karena melihat keadaan Jihan yang sudah kesakitan di lantai.
"Jihan!" Aditya berlari, dia begitu panik.
"M_mas, sa_sakit..."
"Sayang, kamu pasti baik-baik saja. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Mas, sakit," Rasa sakit semakin terasa di bagian perut Jihan.
Dia menangis karena rasa sakit tapi juga karena rasa takut yang besar. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada anaknya.
"Mas, aww..." Jihan merintih.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....