Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Mendaftar Sekolah



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Tidak pernah terpikir kalau ayah sambung akan benar-benar melakukan tugas sebagaimana ayah kandung. Memberikan kasih sayang, memanjakan, memberikan apa yang dia mau, menemani dia bermain bahkan sekarang mas Devan menemaniku untuk mendaftarkan Ara untuk sekolah.


Bahkan bukan aku yang lebih dulu membicarakan dan juga meminta, tapi jauh sebelum Ara mengatakan keinginannya kemarin mas Devan memang sudah merencanakan untuk menyekolahkan Ara, bahkan bukan tanggung-tanggung lagi tapi Ara akan masuk ke sekolah ternama.


Sekolah berkelas atas yang hanya bisa di masuki oleh orang-orang terpilih saja, bahkan jika ada siswa biasa yang masuk tentu itu sudah terpilih dan dengan beberapa pertimbangan.


Sebenarnya tidak harus juga sekolah di sekolah yang seperti ini karena di manapun Ada akan sekolah pasti dia akan sangat senang dan juga bisa mendapatkan ilmu juga teman yang banyak.


Begitu antusias dan begitu bahagianya Ara melihat gedung mewah yang ada di hadapannya. Bukan hanya anak TK saja yang ada di sana, tetapi juga ada SD bahkan juga SMP berada di satu lingkungan yang sama. Benar-benar sekolah yang luar biasa.


"Ayah, Ara akan benar-benar masuk ke sekolah ini?" wajahnya mendongak melihat mas Devan yang seketika mengangguk memandanginya, bahkan dia juga tersenyum.


"Iya, Ara akan sekolah di sini. Bagaimana, suka?"


Ara mengangguk cepat tanpa mengatakan apapun, mungkin dia menganggap dengan mengangguk saj sudah mewakili jawabannya.


"Mas, apa ini tidak berlebihan? Ara masih TK loh?" jelas aku merasa sangat berlebihan.


"Tidak, Nay. Pendidikan yang terbaik menurut ku juga harus di awali di tempat yang terbaik juga. Dan Ara sangat pantas sekolah di sini."


"Di sini Ara akan benar-benar di bimbing dan sangat di perhatikan, Nay. Aku yakin Ara akan jadi orang hebat suatu saat nanti dan kita hanya akan tersenyum dengan bangga saat keberhasilan dia dapatkan."


Memang ya, cara berpikir orang yang sudah kaya sejak lahir dan juga dengan orang yang biasa-biasa saja seperti ku pasti akan sangat berbeda. Menurutku di sekolah di manapun kalau memang anaknya cerdas juga akan berhasil di kemudian hari, tapi kalau pak Devan?


Mungkin karena sudah terbiasa dengan kemewahan dan juga serba kecukupan jadi seperti ini. Tapi meski seperti itu tidak lantas membuat mas Devan sombong atau pelit, bahkan dia sangat baik juga dermawan. Papa Abraham sangat pintar dalam mendidiknya.


Aku lihat sekali lagi gedung yang begitu mewah dan sangat besar di hadapan kami ini. Semua terlihat sangat menjanjikan, dan sangat di yakinkan kalau fasilitas juga sangat lengkap.


Mungkin benar, di sini Ara akan di bimbing dalam bidang yang sesuai dengan akal kecerdasannya yang aku sendiri juga belum tau ada di bidang apa, tapi para guru-guru di sini pasti akan lebih paham.


"Kita masuk sekarang?"


Pertanyaannya yang cepat berhasil mengejutkan ku, membuyarkan lamunan yang belum selesai.


"Hem," aku pasrah, menyerahkan semua kepada mas Devan. Dia sangat sayang pada Ara dan sekarang dia adalah ayahnya tidak mungkin dia memiliki niat buruk, iya kan?


Tidak ada yang patut di ragukan lagi ketulusan mas Devan untuk ku juga Ara, semuanya sudah terbukti jadi apalagi yang aku takutkan.


Kalau aku hanya terus takut dan memiliki pikiran negatif suatu saat pasti akan menimbulkan masalah, iya kan?


"Aku sangat menyayangi Ara tidak mungkin aku akan melakukan hal yang buruk kepadanya. Yakinlah, semua pasti akan baik-baik saja."


Mendengar kata-kata itu aku mengangguk juga tersenyum kecil tetapi bukan berarti aku masih meragukannya, aku sangat percaya kepadanya bahkan melebihi diriku sendiri.


Kaki kami perlahan masuk ke area sekolah yang begitu sangat luas dan sangat besar. Terlihat memang sangat sepi karena semua anak-anak tengah berada di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran dan kami bisa lebih leluasa untuk bisa masuk dan mencari kantor sekolah.


Kami melangkah dengan pasti meskipun sesekali akan menoleh untuk melihat apa saja yang ada di lingkungan sekolah ini, dan ternyata semuanya benar-benar sangat lengkap aku yakin semua ada di dalam sekolah ini.


Begitu takjub melihat pemandangan dan juga pembangunan yang terlihat sangat indah juga sangat kokoh. Gedung bernuansa coklat muda itu sangat bersih dan terlihat sangat nyaman, pastilah benar yang ada di dalam sini adalah murid-murid tertentu.


Kedatangan kami seketika disambut dengan ramah oleh Kepala Sekolah yang langsung berdiri dan menyalami kami juga meminta kami untuk duduk di dua kursi yang ada di depannya yang hanya tersekat oleh meja di tengah-tengah.


"Begini Pak, maksud kedatangan kami ingin mendaftarkan anak kami ke sekolah ini."


Tanpa basa-basi Mas Devan langsung mengatakan apa yang menjadi tujuan dari kedatangan kami, dan tentunya itu juga langsung disambut baik oleh Kepala Sekolah.


Beliau tersenyum ramah bahkan suaranya juga terdengar sangat ramah dan penuh dengan sopan santun. Ternyata dari guru pun sopan santunnya tidak bisa diragukan lagi, semua terlihat istimewa jelas saja Mas Devan memilih sekolah ini untuk menjadi tempat Ara bersekolah.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Begitu bahagia Ara ketika berada di dalam mobil, tidak henti-hentinya dia terus melihat seragam yang akan dipakai besok ketika dia bersekolah. Aku pikir besok ketika masuk Ara masih memakai baju biasa karena belum mendapat seragam tapi ternyata semua sudah dipersiapkan di sana hingga sekarang bisa langsung mendapatkannya.


Empat macam seragam yang sekarang ada di dekatnya bahkan dua dari keempat itu berada di pangkuannya terus saja dibolak-balik dari dia masuk mobil sampai sekarang. Tidak bosan-bosan dia terus tersenyum, memuji seragam itu yang aku sendiri juga suka melihat warna dan juga modelnya. Semua terlihat sangat cerah dan model khas dari sekolah istimewa.


"Bunda, ini sangat bagus kan?" tangannya terangkat dan menunjukkan satu yang berwarna biru. Begitu antusias Ara dan menunjukkannya.


"Iya, itu sangat bagus. Ara suka?" tanyaku kembali.


Ara mengangguk dengan sangat cepat dan setelah itu tak lagi dia mengatakan apapun. Dia hanya diam namun terus sibuk dengan ke empat seragamnya. Benar-benar sangat menggemaskan.


Mas Devan melirik sebentar ke Ara dan kemudian ke arah ku. Dia tersenyum, mungkin dia sangat bahagia melihat kebahagiaan si kecil yang duduk sendiri di belakang.


Memang biasanya ada Sus Neni yang akan selalu ada tapi tidak untuk sekarang, mas Devan mengatakan kalau dia akan mengantarkan kami sendiri dan hanya akan pergi bertiga saja, tidak ada siapapun.


"Hem, Ara mau es krim?" Mas Devan menawari Ara tapi dia menolehnya ke arahku bukankah itu sangat aneh?


"Mau mau!" jelas, kalau Ara tak perlu di tanya lagi langsung di kasih juga oke.


Aku mengernyit namun mas Devan hanya tersenyum saja dan juga mengangguk sebagai jawaban untuk Ara.


"Kenapa?" tanyaku penasaran. Di lihat seperti ini jelas membuat aku menjadi salah tingkah karena berpikir ada sesuatu yang ada di wajahku.


"Tidak apa-apa, mungkin kamu mau es krim juga?"


"Hem, mau... tapi boong."


"Hem, dah mulai pinter sekarang. Bertambah satu lagi."


"Satu lagi?" jelas aku sangat bingung karena tidak mengerti satu lagi itu apa.


"Ya pokoknya satu lagi."


"Nggak jelas," sinis ku dengan secepat kilat memalingkan wajah ke arah lain dan melihat bangunan-bangunan yang tertata rapi di pinggir jalan.


❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Bersambung....