Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Cinta yang besar



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Sampai rumah sakit Ara sudah tidak kuat membuka matanya, matanya terus terpejam dan sama sekali tidak terbuka meskipun aku atau Mas Devan terus memanggil dan berusaha untuk membangunkannya.


Semakin panik, khawatir juga sangat takut. Meski sudah di tangani oleh dokter tapi rasa takut semakin besar setelah kami tidak boleh masuk ketika Ara di bawa ke dalam untuk di periksa.


Air mata tak bisa di tahan lagi, terus meluncur deras di dalam dekapan Mas Devan yang terus menemani. Dia yang seharusnya pergi ke kantor menjadi tertahan sekarang di rumah sakit untuk menemani ku, menemani untuk menunggu Ara yang entah seperti apa keadaannya.


Kami tidak tau bagaimana sebenarnya, kami bukan petugas medis yang tau segalanya.


Di dalam sedu Mas Devan terus menenangkan, mengelus punggung dengan terus memeluk ku yang sangat takut. Kenapa harus seperti ini?


Baru saja tadi kami tersenyum, tertawa bersama-sama dan sekarang semua itu hilang begitu saja.


"Mas, Nay takut," kataku. Semakin aku sembunyikan wajah di dekapannya, memeluk erat dan tak ingin melepaskan. Ini sangat nyaman dan membuat aku merasa tidak sendiri.


"Ssttt..., jangan takut, ada Mas di sini. Ara pasti akan baik-baik saja," Mas Devan terus menghibur ku.


"Kita tunggu di sana," Mas Devan langsung menuntun, membawaku untuk menuju ke bangku dan kami duduk di sana untuk menunggu dokter keluar dan menjelaskan semua keadaan Ara.


Semangat pagi kami terasa hilang, jelas saja akan hilang. Ara seperti kekuatan, kehidupan ku, jika Ara kenapa-napa jelas tubuh kehilangan semangatnya.


Tak lama setelah kami duduk, dokter keluar dan aku buru-buru beranjak dan menghampirinya. Mas Devan pun juga langsung mengikuti dengan sedikit menahan ku untuk tidak buru-buru, pastilah dia sangat khawatir dengan keadaan ku yang juga sedang hamil.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" Tak sabar untuk bisa mengetahui keadaan Ara sekarang. Aku sangat ingin tau dan berharap bahwa Ara akan baik-baik saja.


"Bu, keadaan anak anda semakin memburuk, seharusnya dia tetap berada di rumah sakit untuk terus mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Di rumah memang anda dan keluarga pasti akan menjaganya, tapi dia juga membutuhkan obat-obat yang harus terus di berikan."


"Baik, Dok. Kami terima saran apapun yang anda berikan. Yang terpenting anak kami bisa secepatnya sembuh."


Aku menoleh ke arah Mas Devan, dia terlihat begitu yakin mengatakan hal itu. Tapi, aku takut, Mas Devan pasti akan sangat kelelahan.


Dia harus menjaga kami, dia juga harus mengurus perusahaan dan semuanya. Bagaimana mungkin?


Tapi aku juga sangat takut kalau tidak menurut pada saran dokter, keadaan Ara akan semakin memburuk dan aku takut akan terjadi sesuatu suatu saat nanti.


"Mas, Mas yakin?" tanyaku memastikan. Biar bagaimanapun aku juga harus memperhatikan kesehatan Mas Devan.


"Mas yakin, semua ini juga untuk Ara kan? Ara harus cepat sembuh kan?"


Apa yang bisa aku katakan untuk semua perlakuan Mas Devan pada kami. Apa yang bisa aku lakukan untuk bisa membalas semua kepedulian dan kasih sayangnya pada kami. Aku belum bisa dan mungkin tidak akan bisa membalasnya.


Aku mencintai laki-laki lain dengan begitu besar namun aku tidak mendapatkan balasan cinta itu darinya, kepada Allah tidak tidur dan Dia memberikan cinta yang lebih besar untukmu dari laki-laki, dan itu aku dapatkan dari Mas Devan.


Dengan apa aku bisa membalas semua ini, apakah membalasnya dengan cinta saja sudah cukup?


Aku tidak memiliki harta yang melimpah, sudah tidak memiliki benda yang mewah yang bisa aku berikan kepadanya, lalu dengan apa aku bisa membalas?


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Lagi-lagi aku harus menangis karena melihat Ara yang sedang sakit dan terbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa alat bantu yang menempel di beberapa bagian tubuhnya.


Inilah kesedihan seorang ibu yang sebenarnya, ketika melihat anak yang sangat dicintainya terbaring tidak berdaya, terus diam dengan wajah pucat apalagi dengan tidak sadarkan diri. Hati ibu mana yang tidak akan merasa teriris saat melihat semua ini.


Aku berjalan masuk tidak hanya sendiri saja karena ada Mas Devan yang selalu saja menemaniku hingga siang, bahkan dia sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan kami untuk pergi ke kantor. Mas Devan lebih memilih menyerahkan semua pekerjaannya kepada Mas Andri asistennya itu dan juga Mika.


Untung saja Mas Devan memiliki orang yang dapat dipercaya penuh untuk mengurus semua pekerjaannya, kalau tidak minta apa yang akan terjadi pada pekerjaannya atau pada aku dan juga Ara.


"Nay, kamu harus kuat. Kalau kamu sedih seperti ini bagaimana kamu akan bisa menghibur Ara untuk bisa tetap tersenyum. Aku tau ini sangat berat, tapi Ara tidak ingin melihat kamu yang seperti ini," ucap Mas Devan.


Memang benar apa yang dia katakan. Ara tidak membutuhkan tangis kesedihan ku, tapi dia membutuhkan senyum kekuatan ku yang bisa membuat dia bisa kuat dalam menjalani semua ini.


Ini sangat susah, tapi harus tetap di lakukan.


Aku hapus air mataku dengan kasar. Melihat caraku seperti ini Mas Devan langsung menangkap tanganku dan menghentikannya. Mas Devan mengambil alih menggunakan dengan tangannya itupun juga dengan sangat lembut.


"Mas, bagaimana dengan pekerjaan kamu?" aku juga mengkhawatirkan keadaan perusahaannya. Kalau Mas Devan berada di sini untuk menemani bagaimana pekerjaannya akan bisa selesai.


Tangannya masih terus bergerak mengeringkan air mata ku, matanya sendiri terus melihat pergerakan tangannya dan melihat wajahku yang masih harus di keringkan.


"Kita fokus dengan kesembuhan Ara ya. Aku juga sudah meminta papa untuk sesekali datang ke perusahaan untuk menggantikan ku untuk sementara. Jadi kamu tidak perlu khawatir," ucapnya lagi.


Semakin tenang aku setelah mendengar penuturannya, tapi tetap saja aku merasa tidak enak hati.


Seandainya saja Mas Devan tidak mengenalku dan juga tidak menikahiku maka dia tidak akan menjalani hidup yang seperti ini. Bukankah ini semua adalah kesalahan ku?


"Mas, apakah Mas menyesal?" tanyaku. Mas Devan mengernyit, mungkin dia sangat bingung dengan kata menyesal yang aku lontarkan barusan.


"Untuk?" dan Mas Devan benar-benar menanyakan apa yang mungkin membuat dia menyesal.


"Karena menikah dengan ku, kalau tidak menikah dengan ku tentu Mas tidak akan seperti ini. Mas tidak akan lelah, tidak akan kehilangan banyak waktu hanya untuk menemanku, Mas juga tidak akan kehilangan banyak uang untuk kebutuhan kami juga sekarang kebutuhan Ara yang jelas tidak sedikit. Apakah Mas tidak menyesal karena ini?"


Mas Devan terlihat bingung untuk menjawab, netra hitamnya terus mengamati seluruh wajahku seolah menyapu bersih di semua titik incinya.


Tangannya terangkat, mengapit wajahnya dan membawanya menghadap kearahnya. Tatapannya begitu besar akan ketulusan, tak ada penyesalan sedikitpun yang dapat aki lihat.


"Dalam cinta tidak akan ada kata menyesal, Nay. Aku bukan hanya memilihmu saja sebagai istriku karena kamu telah mengandung anakku, tapi..., tapi aku juga mencintaimu."


"Aku mencintaimu lebih dari semua yang aku miliki, jangankan hanya harta benda, nyawa pun akan aku berikan atas nama cinta," katanya yang terlihat begitu sungguh-sungguh.


"Apakah kamu tidak percaya? Kalau begitu dengan apa aku harus buktikan?"


"Mungkin kemarin-kemarin aku belum bisa mencintai mu, tapi sekarang? Aku benar-benar sangat mencintai mu, Nay. Sangat," Mas Devan begitu menekankan.


"Bukan hanya kamu, dan anak dalam kandungan_mu. Tapi juga Ara, kalian semua adalah hidupku."


Tak mampu untuk berkata-kata lagi aku, mendengar semua penuturannya membuat aku merasa begitu bahagia karena mendapatkan cinta yang begitu besar.


Cintanya bukan hanya di ucapannya saja, tapi dia lebih dulu buktikan dengan perbuatannya. Apalagi yang harus aku ragukan.


"Aku mencintaimu, Nay," ucapnya lagi.


Aku tak lagi kuat menahan gejolak besar yang ada di dalam hati. Tangis ku kembali pecah karena ungkapan hati Mas Devan untukku.


"Aku mencintaimu, Mas. Aku sangat-sangat mencintaimu," ku ucapkan hal yang sama. Aku juga sangat mencintainya sekarang.


Bukan karena hartanya yang membuat aku jatuh cinta, tapi semua tentangnya, perhatian dan juga kasih sayang yang tulus membuat cinta itu juga hadir di dalam hatiku.


Tubuhku berhambur kedalam pelukannya, aku peluk dengan begitu erat hingga aku juga mendapat balasan yang sama, pelukan yang lebih erat darinya.


"Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu," Kembali aku ulang-ulang kata-kata itu, seolah ingin membuat Mas Devan benar-benar percaya. Aku sangat yakin dia juga percaya, iyakan?


"Aku juga mencintaimu, Nay. Kalian adalah hidupku, dan akan seperti itu untuk selamanya." Mas Devan lebih meyakinkan ku.


"Bunda, Ayah," panggil Ara.


Aku cepat melepaskan pelukanku dari Mas Devan, beralih melihat kearahnya dan ternyata Ara sudah bangun.


"Sayang," Aku cepat menghampirinya, begitu juga dengan Mas Devan.


"Kalian lagi ngapain?" tanyanya, mungkin Ara bingung melihat ku juga Mas Devan yang tengah berpelukan dengan menangis haru.


"Hem, tidak, kami tidak lagi ngapa-ngapain," jawab Mas Devan.


"Kami kan sedang nungguin Ara di sini," imbuh Mas Devan lagi, aku hanya mengangguk membenarkan perkataannya.


Bukan hanya Mas Devan saja yang harus berusaha meyakinkan Ara, tapi aku juga. Kami harus bisa melakukannya bersama-sama, benar begitu kan?


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....