Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Bagaimana caranya?



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Tidak hanya membuat Jihan kesal saja juga sangat marah. Aditya juga berniat untuk mengambil alih hak asuh Ara dari Kayla juga Devan.


Dia datang ke tempat pengacara yang sangat handal dalam menghadapi masalahnya, dia benar-benar ingin melakukan apa yang dia inginkan.


Dia sangat ingin mendapatkan Ara, dia ingin memilikinya. Tidak masalah kalau dia tidak mendapat Nayla tapi dia harus bisa mendapatkan Ara.


Tapi bukan itu yang Aditya pikirkan, dia tetap mengharapkan Nayla. Jika hanya dengan merebut Ara dari Nayla sekarang dia bisa membuat Nayla ikut juga dan dia bisa kembali dapatkan maka itulah yang akan dia lakukan.


"Bagaimana, bapak bisa membantu saya untuk merebut hak asuh anak saya kan?" tanya Aditya. Siapa sangat berharap lebih pada pengacara itu.


"Saya akan pelajari lebih dulu masalah anda ini, Pak. Rapi saya janji akan melakukan hal yang terbaik," jawab pengacara tersebut.


Pengacara yang hampir sama dengan Aditya. Memiliki cara yang curang untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi kehendaknya. Pengacara yang egois dan gak mau kalah, dia harus selalu menang dalam setiap masalah yang dia tangani.


"Saya tidak mau berlama-lama, kalau anda tidak bisa lebih baik katakan saja sekarang. Saya bisa mencari orang lain yang lebih hebat dari Anda. Saya yakin bisa memenangkan sidang ini," ucap Aditya.


Ternyata Aditya tidak puas dengan jawaban yang di berikan oleh pengacara itu. Aditya hanya mau mendengar kata 'iya' dari pengacara itu dan bukan kata-kata lain.


"Anda benar-benar tidak sabaran, Pak. Tapi saya suka itu."


Pengacara itu tersenyum, merasa klop dengan Aditya yang juga begitu tegas.


"Baik, saya terima kasus ini. Dan saya akan pastikan anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan. Anda akan mendapatkan anak anda secepatnya."


Petani itu setuju rupanya, dia menerima tawaran Aditya dan akan mengurus perebutan hak asuh Ara dari Nayla.


Aditya menyeringai, dia sangat senang meski tidak mengatakan apapun. Dia akan berhasil mendapatkan semua yang dia ingin. Dia mendapatkan semua harta Pratama dan sebentar lagi dia akan mendapatkan hak asuh Ara.


Kebahagiaan apa yang lebih dari yang dia dapat sekarang ini?


'Jika kamu tidak bisa aku dapatkan tak masalah, Nay. Yang terpenting aku bisa mendapatkan Ara. Dia anakku! Tapi aku sangat yakin, kamu juga akan datang padaku setelah aku mendapatkan hak asuh Ara,' batin Aditya yang begitu percaya diri.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Begitu fokus Devan dengan pekerjaannya, dia benar-benar tidak tolah-toleh karena dia ingin fokus dan ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaan ya supaya dia bisa secepatnya kembali ke rumah sakit.


Namun, setelah beberapa saat dia terus fokus, fokusnya di ganggu dengan kedatangan Andri.


"Tuan," sapa Andri. Andri langsung menghampirinya, ada satu amplop putih besar yang dia bawa dan akan dia serahkan pada Devan.


"Bagaimana pekerjaan mu," ucap Devan. Dia seketika menoleh ke arah Andri y sudah langsung duduk dengan perlahan di depan Devan.


"Semua sesuai yang tuan minta. Saya sudah berhasil mendapatkan bukti-bukti kejahatan pak Aditya. Dan ya! Pak Aditya sudah berhasil mengambil alih semua harta dari pak Pratama."


Ternyata Andri tidak bisa di remehkan, dia terlihat seperti laki-laki culun tapi ternyata pekerjaannya selalu saja memuaskan Devan. Dia benar-benar bisa di andalkan dalam hal apapun.


"Pintar juga Aditya, dia bekerja lebih cepat dari yang kita perkirakan."


"Terus apa yang kamu bawa?" tanya Devan. Sangat penasaran dengan amplop yang di bawa Andri dan masih ada di tangannya.


Cepat Devan membuka amplop itu, dia memang mendengarkan apa yang Andri katakan tapi dia akan lebih mendapatkan jawaban dari isi amplop itu.


Matanya langsung melotot, satu tangannya mengepal dengan amarah yang mulai hadir.


"Ternyata Aditya ingin bermain-main denganku. Kita buktikan saja siapa yang bakal menang," ucap Devan.


Devan terlihat sangat geram setelah membaca isi dari amplop tersebut. Pastilah niat Aditya yang ingin mengambil hak asuh Ara sudah sampai di tangan Devan sekarang.


"Keterlaluan. Kamu sungguh keterlaluan, Dit. Tapi tak masalah, kamu juga berhak memperjuangkan hak asuh Ara karena dia adalah anakmu. Tapi aku juga akan berjuang untuk mempertahankannya."


"Melihat kelakuan mu yang seperti penjahat seperti ini apakah kamu pikir aku akan diam saja? Tidak!"


Andri terus diam, mendengar semua yang Devan katakan. Dia tau apa yang di dapatkan oleh bosnya sekarang ini yang tak lain adalah perebutan hak asuh Ara.


"Andri, saya ingin kamu menghubungi Bagas. Minta dia membantuku menangani masalah ini."


"Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan."


Jika Aditya memiliki pengacara yang handal Devan pun juga punya yang lebih lagi. Diam-diam Devan juga memiliki banyak teman di berbagai bidang, dia bisa meminta mereka untuk membantunya.


Meski merasa terancam tapi Devan percaya diri akan menang, tidak mungkin Aditya yang akan menang mengingat semua yang sudah dia lakukan. Bukan itu saja, Devan memiliki semua bukti.


Bukan hanya akan kehilangan kesempatan untuk bisa bertemu dengan Ara saja, tapi Aditya pastilah akan di jebloskan ke dalam penjara karena semua kejahatannya.


Devan melakukannya bukan karena pak Pratama dan keluarga, tapi Devan jelas melakukan semua ini untuk dirinya, untuk keluarga kecilnya.


"Dan ya! Untuk saat ini, jangan sampai Nayla tau. Biar saya yang akan memberitahu dia. Dia sedang sangat terpukul karena keadaan Ara, saya tidak mau dia semakin sedih karena ini," ucap Devan.


"Baik, Tuan. Saya akan lakukan apa yang Anda ingin. Kalau begitu saya pergi," pamit Andri. Andri begitu bergegas, dua harus melakukan apa yang Devan minta.


Devan tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya mengangguk saja dan itu sudah cukup menurutnya.


Tangan Devan langsung menggenggam erat lembar yang dia dapat kan dari Aditya. Surat pemberitahuan akan niat Aditya yang akan mengambil Ara.


"Kita lihat saja, Dit. Siapa yang akan menang. Aku atau kamu? Hem..." Devan menyeringai.


Devan pastilah akan menerima permainan yang Aditya buat. Dia juga sangat yakin akan menang.


Devan tidak pernah kalah, dan dia sangat yakin bahwa dia juga akan menang untuk kali ini. Nayla juga sangat jelas tidak akan memberikan Ara pada Aditya dan itu adalah salah satu yang membuat Devan semakin yakin.


"Bagaimana aku akan memberitahu Nayla tentang hal ini?" gumam Devan. Dia sangat bingung akan mulai darimana untuk memberitahu Nayla soal masalah ini. Seperti apapun caranya tapi Devan harus tetap memberitahu kan?


---------Normal-----


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...