Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Ingin selalu bersama



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Hanya rasa canggung yang terus menjadi teman untukku ketika ada di kamar pak Devan sekarang. Begitu dia khawatir padaku sampai-sampai dia membawa pekerjaannya ke kamar hanya demi terus menemaniku.


Mata sesekali melihatnya dan terlihat pak Devan terus fokus pada beberapa berkas yang ada di hadapan juga ada laptop berwarna silver yang terus menyala dan juga tangannya yang terus menari-nari di atasnya.


Laki-laki itu, laki-laki itulah yang membuat aku tenang, membuat aku merasa sangat nyaman dan juga membuatku beberapa kali tersenyum meski dengan tingkahnya yang menyebalkan.


Tapi sekarang? Senyumku yang belum kembali hadir terus dia tunggu dan dia jaga demi aku tetap merasa nyaman dan hilang ketakutan bahkan trauma yang ada.


Apakah aku begitu sadis atau kejam jika tidak bisa menerimanya?


Apakah aku harus percaya dengannya? Percaya dengan laki-laki yang belum lama aku kenal.


Apakah lama dan tidaknya saling kenal bisa menjadi jaminan untuk bisa bertahan?


Kalau hanya hubungan yang kenal lama baru bisa langgeng kenapa itu tidak terjadi padaku dan juga mas Aditya, kurang lama apalagi padahal aku sudah mengenal selama tiga tahun. Dan ternyata dalam tiga tahun belum bisa menjanjikan sebuah hubungan untuk bertahan.


Tapi, apakah dengan pak Devan yang baru beberapa hari saja akan bisa membuat aku dan dia bisa bertahan lama dalam hubungan?


Rasa trauma jelas ada, seorang perempuan pasti akan merasa hal yang sama setelah sekali saja pernah mengalami yang namanya perceraian.


Seorang perempuan akan lebih berhati-hati dan kadang-kadang akan sangat susah untuk bisa percaya lagi, ya contohnya aku.


Tapi, benarkah pak Devan seperti itu? Aku rasa tidak! Kalau dia seperti itu sekali dia berhasil menyentuhku maka dia akan pergi meninggalkan ku. Tapi ini? Dia malah mencari_ku ketika aku pergi darinya.


"Emm," tenggorokan yang rasanya sangat kering membuat aku bergerak untuk mengambil minum yang ada di atas nakas. Tidak jauh hanya ada di sebelah ranjang saja tapi tetap membutuhkan untuk duduk.


"Nay, apa yang kamu lakukan!?" Berkas yang ada di tangan langsung di letakan dan pak Devan langsung berlari untuk menghampiri, dia juga langsung duduk di tepi ranjang yang ada di sebelah ku.


Tangannya mencegahku yang ingin duduk dan mengambil gelas. Sepertinya aku tak akan dapat izin darinya untuk bergerak apalagi setelah mendengar penjelasan dari dokter Wilona yang mengharuskan aku terus istirahat karena kandunganku saat ini yang benar-benar sangat lemah.


"Kamu mau apa, katakan saja padaku," ucapnya.


"Sa_saya... saya hanya mau ambil minum saja, Pak."


"Apapun yang ingin kamu mau lakukan katakan padaku. Apa yang ingin kamu makan atau minum minta padaku juga. Ingat kata Wilona tadi, Nay."


Tangan pak Devan langsung meraih gelas yang ada di nakas menggeser duduknya dan mendekat.


Perlahan tangannya membantu ku untuk duduk dan juga membantuku untuk minum. Aku benar-benar seperti seorang ratu di sini bukan hanya para pelayan saja yang melayani ku tapi pak Devan juga iya.


"Te_terima kasih," ucapku gugup.


Sungguh, rasanya sangat canggung dari tadi. Rasanya ingin bicara panjang lebar untuk mengatakan apapun tapi ternyata satu katapun tak ada yang keluar dari bibir ku.


Mataku menatap tak berkedip ke wajah pak Devan ketika tangannya terangkat dan mengeringkan bibirku yang basah dari sisa-sisa air minum.


"Istirahatlah supaya keadaan mu akan kembali membaik," ucapnya.


Wajah dan juga mata terus terpaku ke arah wajahnya.


Andai saja pak Devan_lah yang dari dulu ada bersama ku dan menjadi laki-laki satu-satunya di hati pastilah aku sangat bahagia. Tapi inilah takdir ku yang harus lebih dulu mengenal laki-laki seperti mas Aditya dan sekarang beralih mengenal pak Devan dan bisa bersamanya.


Jika mas Aditya tidak melakukan semuanya kepadaku hal yang buruk pastilah aku tak akan bekerja di perusahaan Gudia dan tidak akan mengenal pak Devan.


"Ta_tapi punggung ku sakit jika tidur terus," jelas aku akan merasakan punggung sakit karena dari tadi juga tiduran terus sama sekali tak di izinkan bergerak apalagi beranjak dari kasur oleh pak Devan. Dia begitu perhatian, tapi rasanya ya cukup melelahkan.


Bukan itu saja, tapi sengaja pak Devan tidak mengajak Ara masuk ke kamar ini supaya aku bisa tidur dan istirahat lebih nyenyak katanya. Ahh, sungguh membosankan.


"Terus mau apa?" helaan nafas panjang keluar dari pak Devan, apakah dia akan mengizinkan aku untuk beranjak dan sekedar jalan-jalan saja sekarang? Semoga.


"Aku pengen keluar, da_dari sini aku sangat bosan," semoga saja dapat izin.


"Tapi, Nay... Hem.. Iya deh. Tapi harus aku temani takut saja nanti kamu lari-lari atau lompat-lompat," terdengar pasrah sekarang ucapannya.


"Emangnya aku anak kecil apa," mulai sensi nih sama pak Devan. Semoga saja omongannya tidak semakin sembarangan lagi. Lama-lama meledak kepalaku.


"Bentar, aku ambilkan kursi roda," pak Devan cepat beranjak.


Sementara mataku terbelalak tentunya, "kursi roda?" beberapa barisan terdapat di kening karena mengernyit. Hadeuh.


Tak dapat jawaban dari pak Devan tapi dia sudah berjalan dan keluar dari kamar. Tak berapa lama dia kembali masuk dan benar mendorong kursi roda berwarna hitam.


Kini aku yang menghela nafas panjang. Kenapa harus pakai kursi roda? Padahal aku berjalan saja bisa loh sebenarnya tapi pak Devan? Ini sangat berlebihan kan.


"Sebentar, biar aku bantu kamu," buru-buru pak Devan menghentikan kursinya dan beralih mendekati ku.


"Eh, bapak mau apa! Jangan macam-macam ya!" jelas aku curiga karena pak Devan sudah mendekat dan menggesekkan kedua telapak tangan naik turun seperti orang kedinginan.


Mataku kembali terbelalak suara juga sangat keras, aku mudah sekali curigaan dengan pak Devan ini. Dia suka sekali melakukan hal-hal yang sangat menyebalkan.


"Hem, Kira-kira apa yang akan aku lakukan?" Pak Devan malah balik tanya, mana aku tau kan?


"Eh!" pekik ku karena pak Devan yang tiba-tiba mengangkat ku.


"Kamu pikir apa yang bisa aku lakukan, aku hanya ingin mengangkat mu dan membantumu duduk di sini," perlahan pak Devan menurunkan aku lagi tapi sudah ganti tempat yaitu di kursi roda.


Rasa malu seketika muncul, bagaimana tidak! aku sudah berpikir macam-macam padanya tadi.


Wajah yang sudah memerah dan juga menunduk hanya membuatnya tersenyum dengan tangan yang sudah langsung mendorong kursi roda dengan perlahan dan membawa keluar kamar.


"Kita bisa keluar, tapi hanya sebentar saja. Aku tidak mau kamu kelelahan," ucapnya.


"Hem..., pak. Kalau nanti saya tidur dengan Ara bisa kan?" aku tidak mau saja tidur di dalam kamar pak Devan, rasanya sangat tidak pantas.


"Hem...? Tidak boleh. Kamu harus tetap tidur di kamarku mulai sekarang dan selamanya. Mana mungkin aku akan membiarkan ibu dari anak-anak ku tidur di tempat yang tidak nyaman. Apalagi aku tidak bisa menemani, tidak!" ucapnya.


Aku sangat tau ini akan terjadi. Pak Devan tidak akan mungkin mau menerima permintaan ku yang sangat kecil ini.


"Ta_tapi, Pak. Ki_kita kan...?"


"Tidak usah khawatir, besok kita menikah."


"Hah!" mataku terbelalak tapi tak berani melihat ke arahnya, "me_menikah?"


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...