
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Kali ini sengaja aku ikut mengantarkan Ara ke sekolah bersama Sus Neni juga. Berangkatnya kami di antar mas Devan meski setelahnya dia langsung pergi ke kantor.
Ara begitu senang juga sangat semangat karena akhirnya bisa masuk sekolah setelah dia libur berhari-hari karena harus menjalani perawatan di rumah sakit. Di perjalanan tadi dia juga terus bernyanyi mengikuti lagi yang sengaja mas Devan putar.
Melihat semangat Ara aku pun juga ikut senang, aku juga ikut bernyanyi-nyanyi di dalam mobil dan kami terus bersuka cita bersama mas Devan juga.
Sungguh sempurna kebahagiaan pagi ini, seandainya setiap pagi seperti ini pasti kebahagiaan benar-benar kamu rasakan dan begitu menyempurnakan hidup kami. Ya, inilah kehidupan yang tajam selalu bahagia dan jalannya tak selalu seperti yang kita inginkan.
Aku memastikan sendiri Ara masuk ke area sekolah, aku sendiri yang mengantarkan sampai pintu gerbang karena benar-benar ingin memastikan kalau dia masuk tanpa ada yang mengganggunya lagi.
"Bunda, Ara sekolah dulu ya. Bunda mau pulang atau tetap nungguin Ara di sini?" tanya Ara.
"Hem, bunda akan tetap di sini sampai Ara pulang. Ara yang pinter ya sekolahnya, kalau ada apa-apa langsung katakan pada Bu guru, oke?"
Aku tersenyum dengan ibu jari yang tertangkap untuk memberikan semangat untuk Ara. Dia harus tetap semangat meski dia sebenarnya masih terlihat tidak baik.
Sebenarnya aku sangat khawatir karena keadaannya yang seperti sekarang ini, tapi dia yang begitu kekeuh dan ingin sekolah membuat aku tak berdaya kecuali menurutinya apa yang dia mau.
"Siap, Bunda. Ara pasti akan pinter dan juga akan bilang kepada Bu guru, apapun."
Ucapannya begitu meyakinkan membuat wajah ini seketika mengangguk dengan begitu mantap.
Sebelum masuk Ara menyalami ku lebih dulu sama seperti yang anak-anak lakukan, dan tentunya juga beberapa kecupan aku berikan untuk membalas apa yang dia lakukan barusan.
"Dah, Bunda!" Ara melambaikan tangan, perlahan mulai masuk dengan mulai melangkah namun setengah badannya masih menoleh ke arahku.
"Dah, Sayang." Aku ikut melambaikan tangan juga hingga Ara tak lagi menoleh ke arahku baru tangan aku turunkan.
Tak langsung pergi, tetapi aku masih berada di tempat sampai Ara benar-benar hilang dari jangkauan mata dan tak terlihat lagi.
'Ya Allah, beri Ara kekuatan dan kesehatan. Jangan sampai dia mengalami hal yang tidak di inginkan ketika berada di sekolah,' batinku.
"Nya, kita duduk di sana?" Sus Neni menghampiri, mengajak ku untuk duduk di tempat yang memang menjadi tempat untuk menunggu ketika anak-anak masih sekolah.
"Hem," Aku mengangguk, seketika juga melangkah mengikuti Sus Neni yang memang sudah terbiasa untuk menunggu Ara di tempat itu.
Banyak orang yang ada di sana, satu persatu mereka datang dan langsung duduk di tempat itu. Ada yang benar-benar orang tua, tapi ada juga yang hanya mengasuh saja.
Mereka semua tampak sopan-sopan dan tak malu untuk saling menyapa, bukan itu saja tapi juga mereka saling menyalami satu sama lain supaya lebih akrab lagi. Mungkin karena di sini tidak hanya sehari dua hari saja tapi lama jadi mereka menjalin keakraban supaya enak jika ngobrol.
Mungkin yang belum tau juga akan mengira kalau aku hanya seorang pengasuh saja karena dandanan_ku juga tidak muluk-muluk, hanya biasa saja. Tapi itu tidak masalah karena aku memang tidak begitu suka dengan baju-baju yang mewah seperti yang di kenakan ibu-ibu yang lain.
"Nya, apa nyonya butuh sesuatu?" Sus Neni menawarkan.
"Tidak, nanti kalau butuh sesuatu biar saya cari sendiri, Sus."
"Baik, Nya." Sus Neni kembali duduk dengan tenang di sebelah ku.
Meski antara aku juga dengan dia memiliki status yang berbeda tapi bukan berarti aku membuat jarak padanya, aku memperlakukan semua para Suster juga asisten sama saja, tak ada yang aku bedakan.
Tak lama gerbang di tutup setelah suara lonceng berbunyi, menandakan bahwa pelajaran akan segera di mulai. Di tempat ku sekarang juga semakin penuh dengan orang-orang yang menunggumu anak-anak mereka.
Memang sangat membosankan menunggu seperti ini, harus memiliki kesabaran yang sangat ekstra dan itu akan aku usahakan.
Aku hanya mau lihat, apakah mas Aditya masih berani datang lagi setelah mendapatkan teguran dari mas Devan kemarin, atau mungkin dia akan tetap keras kepala.
Membayangkan namanya saja sangat membuatku ingin marah, ubun-ubun terasa langsung mendidih bagaimana kalau sampai orangnya juga datang?
Bukannya melihat mobil mas Aditya datang tapi malah melihat gerobak yang datang, melihatnya perut langsung keroncongan dan air liur seketika begitu banyak.
Ya! Aku sangat menginginkannya.
Mulutku berkecamuk, rasanya sudah mau ngiler saja karena terus melihatnya. Tangan juga langsung memegangi perut yang seolah berputar-putar isi di dalamnya karena sangat ingin.
"Apakah kamu menginginkannya, Nak?" gumamku lirih.
Wajahku menunduk melihat perut yang aku elus sendiri. Bukan makanan mahal hanya gerobak dengan bertuliskan seblak juga beberapa gambar di depannya.
"Nya, apakah nyonya menginginkannya?" Ternyata Sus Neni menyadari apa yang aku lihat.
"Hem?" Aku menoleh dan Sus Neni sudah menatap lekat meminta jawaban dariku.
Ya! Aku sangat menginginkannya, tapi aku takut untuk membelinya. Bukan hanya makanan Ara saja yang aku perhatikan, tapi aku sendiri juga sama sejak dulu. Bagaimana mungkin sekarang aku akan beli begitu saja.
Bukannya aku tidak percaya akan makanan itu bersih atau tidak, enak atau tidak tapi aku hanya takut saja.
Tapi bagaimana, aku sangat menginginkannya.
"Sebentar," Aku cepat mengambil ponsel tentunya untuk menghubungi mas Devan juga untuk meminta izin padanya.
Tak lama aku menghubungi mas Devan dan langsung di angkat olehnya.
"Mas, aku... aku mau seblak," kataku dengan lirih karena takut.
"[Seblak, apa itu?]" Suara Mas Devan terlihat terkejut.
"I_itu, makanan seblak." Mulai aku menjelaskan.
"[Nggak kenal.]"
Bingung mau bagaimana menjelaskannya, mas Devan juga tidak mungkin langsung mengerti karena dia juga tidak tau dan yakin belum pernah merasakannya.
"Hem...?"
"[Jangan makan yang aneh-aneh, Nay. Bagaimana kalau tidak sehat, bagaimana kalau bikin sakit perut, bagaimana kalau...]"
"Nggak akan, Mas. Jangan banyak kalau deh, hanya sekali ini saja, boleh ya," Aku begitu memohon.
Mendengar perkataan mas Devan sungguh membuat pusing, tentu dia sangat khawatir tapi jika banyak kalau_nya begitu..., hadeuh.
"[Tidak tidak, kamu tidak boleh makan sebelum mas datang.]"
"Hah! Mas mau kesini!?
"[Tentu, kenapa tidak? Kamu tuh ya, baru saja keluar udah aneh-aneh. Pokoknya tidak boleh makan sebelum mas datang. Titik.]"
Tut tut tut...
Seketika aku lemas karena panggilan telepon di akhiri oleh mas Devan, sepertinya dia akan benar-benar datang lagi ke sini.
"Dasar posesif." Gerutuku dengan sangat kesal.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...