Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Keberuntungan



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Kebanyakan laki-laki setelah menikahi seorang perempuan yang sudah memiliki anak dia akan lebih peduli dengan perempuan tersebut daripada anak sambungnya. Tapi tidak dengan mas Devan, dia lebih memperhatikan anak sambungnya.


Semua itu terbukti dengan mas Devan yang lebih memilih menemani Ara daripada aku ketika kami berdua sama-sama tertidur. Mas Devan juga tidur di samping Ara bahkan menjadikan satu tangannya menjadi bantal untuk Ara.


Aku tersenyum ketika bangun dan melihat pemandangan ini. Rasanya sangat bahagia namun penuh haru Ara benar-benar mendapatkan kasih sayang dari ayah sambungnya yang melebihi ayah kandungnya sendiri.


Perlahan aku duduk, menurunkan kaki dan berdiri. Kaki seketika berjalan melihat lebih dekat posisi mereka berdua yang terlihat begitu nyaman dalam tidurnya.


Sungguh, ini adalah pemandangan yang paling indah ketika bangun tidur. Melihat keduanya sama-sama terlelap dengan saling berpelukan.


Langkahku terhenti tepat di sebelah mas Devan, melihat bagaimana kedekatan mereka yang benar-benar sangat dekat.


Darah mereka memang tidak ada hubungan, tak ada darah mas Devan yang mengalir di tubuh Ara tapi kedekatan mereka tepat di hati mereka. Ya! Hati mereka benar-benar sangat dekat.


Aku mendekat mengamati keduanya semakin lekat jiga gak henti-hentinya tersenyum dan juga penuh syukur.


'Terima kasih Ya Allah telah Engkau berikan ayah terbaik untuk Ara. Dan Engkau sempurnakan hidup kami. Berikanlah kesembuhan untuk Ara supaya kebahagiaan kami benar-benar nyata dan akan kekal,' batin ku yang penuh harap.


Ku sentuh pipi keduanya dengan bergantian, terasa sangat lembut dan juga warnanya hampir sama.


Bukan itu saja, setelah aku sentuh pipi mereka aki tambah dengan mencium pipinya. Tak ada niat untuk mengganggu Ara ataupun mas Devan tapi ternyata apa yang telah aku lakukan berhasil membuat mas Devan terganggu.


Tepat ketika bibirku menyentuh pipinya dan ketika itu juga matanya terbuka. Dalam beberapa saat netra kami bertemu hingga membuat jantung ku benar-benar berdetak cepat saat itu.


Benarkah cinta itu sekarang benar-benar sudah ada di dalam hatiku? Kalau tidak, sampai kapan hati ini akan selalu keras dan susah untuk menerima hati yang lain.


Perlahan aku lepaskan bibirku, ku jauhkan dari pipinya namun mas Devan belum rela begitu saja hingga tangannya bergerak dan menarik daguku.


Mataku terpaku melihat matanya yang tak berkedip menatap ku, rasanya tak bisa menolak ketika daguku terus di tarik hingga berhasil jatuh tepat di bibirnya.


Tidak lama sentuhan lembut itu hanya bertahan beberapa detik saja namun rasanya luar biasa dan bertahan cukup lama bahkan setelah mas Devan melepaskan daguku dan tersenyum.


"Maaf," katanya.


Maaf?


"Untuk apa?" jelas aku sangat bingung karena perkataannya. Maaf untuk apa? Iya kan?


Mas Devan tidak melakukan kesalahan tapi kenapa dia malah meminta maaf padaku. Seandainya ada kesalahan pun pastilah aku juga sudah tau.


Apakah mas Devan melakukan kesalahan ketika keluar kemarin?


"Maaf karena aku menemani Ara dan mengabaikan mu, apakah kamu marah?" tanyanya.


Bukannya marah tapi aku malah menjadi terharu karena ini. Mas Devan begitu perhatian pada Ara bagaimana mungkin aku akan cemburu dengan apa yang dia lakukan.


Sebaliknya, aku semakin bahagia karena kasih sayang mas Devan yang semakin besar untuk Ara. Di banding dengan diriku sendiri aku lebih senang jika mas Devan lebih sayang pada Ara. Ara tak pernah merasakan kebahagiaan ini dan aku sangat berterima kasih karena mas Devan telah mewujudkannya.


"Terima kasih ya Mas. Mas begitu menyayangi Ara," Aku masih tertahan, masih membungkuk di hadapan mas Devan.


"Itu sudah kewajiban ku. Aku akan selalu menyayangi kalian berdua, selamanya," ucapnya begitu menyakinkan.


Aku tersenyum, dan hanya senyum itulah yang bisa aku berikan untuk membalas semua kebaikan mas Devan. Aku tak punya apapun yang bisa aku beri sebagai imbalan.


Cup...


Kembali tangannya menarik kepala ku dan kini memberikan kecupan di kening. Begitu lama dan juga sungguh terasa kasih sayang yang tersalurkan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


"Ayah, lihatlah. Leni juga sedang sakit katanya perutnya sakit," katanya dengan tangan seketika menidurkan boneka barbie nya di hadapannya.


"Oh Leni membutuhkan dokter kalau begini," mas Devan terlihat meladeni Ara bermain dia juga memegangi boneka lain dan juga mengambil alat-alat kedokteran mainan yang ada di hadapannya juga.


"Bentar, Leni biar di periksa dulu ya."


Ara mengangguk patuh menunggu dan memperhatikan mas Devan yang menggerakkan mainannya.


"Bunda, bunda ikut main juga dong." pintanya.


"Hem," Aku nurut laku mendekat mengambil satu mainan yang ada di hadapannya meski belum menggerakkan namun Ara sudah terlihat sangat bahagia.


Tok tok tok....


Kami bertiga sama-sama menoleh ketika mendengar suara pintu di ketuk, perlahan pintu terbuka dan terlihat Mika yang datang.


"Hallo cantik.." sapanya dengan senyum bahagia.


"Tante Mika!" Ara juga terlihat sangat senang dengan kedatangan Mika.


Mika berlari menghampiri Ara dan juga tak lupa memberikan pelukan padanya.


Sementara aku mengernyit melihat laki-laki yang datang dengan Mika, belum pernah aku melihatnya apalagi bertemu dengan laki-laki ini.


'Dia siapa?' batin ku.


Melihat aku yang terus melihatnya laki-laki itu tersenyum juga menunduk hormat. Emangnya dia siapa sampai melakukan itu padaku?


Mas Devan yang melihat ku terus melihat dia hanya tersenyum dan menyentuh ku hingga berhasil mengejutkan.


"Kenapa?" tanyanya dengan begitu santai.


"Ti_tidak, a_aku...?" aku bingung saja antara mau bertanya atau apa.


"Dia adalah Andri. Asisten mas di kantor dan Mika, Mika sekarang menggantikan kami di kantor menjadi sekertaris mas, bagaimana?"


Sangat terkejut dengan perkataan mas Devan barusan. Aku tidak terkejut dengan laki-laki itu yang menjadi asistennya tapi Mika yang menjadi sekertaris mas Devan itulah yang mengejutkan ku.


Bukannya aku tidak suka, tapi hanya penasaran saja sejak kapan mas Devan mengangkat Mika menjadi sekertaris nya.


"Perkenalkan, Nyonya. Saya adalah Andri," katanya dengan sopan dan juga begitu formal.


"Sa_saya Nayla, istri mas Devan," jawab ku dengan gugup.


Tak biasa berhadapan dengan orang-orang baru seperti ini membuat ku merasa gugup hingga kata-kata yang keluar juga tergagap.


Andri tersenyum begitu ramah, kedua tangannya masih setia berada di depan tubuhnya, benar-benar sangat sopan Andri ini.


Tak lama mereka datang mas Devan mengajak Andri untuk keluar, entah untuk apa tapi sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan. Sementara aku, aku tetap berada di kamar ini menemani Ara bersama Mika.


"Kamu yang sabar ya, Nay. Ara pasti akan baik-baik saja dia pasti akan sembuh,'' ucap Mika dengan penuh keyakinan.


"Hem, terima kasih," ku peluk Mika dengan sangat erat, dialah yang selalu ada untuk kami sebelum kehadiran mas Devan.


"Terima kasih," sekali lagi aku ucapkan dan Mika mengangguk perlahan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung.....