
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Rasa gugup yang tadi sekarang hilang begitu saja setelah ada banyak balon di tangan. Tak ada rasa malu atau takut ketika masuk ke dalam rumah mertua yang tadi sangat aku takutkan meski hanya dalam pikiran saja.
Aku malah terus tersenyum dengan sangat bahagia sementara pak Devan? Pak Devan berjalan di belakang ku. Membuntuti ku dengan sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak mungkin gatal.
Mungkin dia yang malu karena kelakuanku apalagi di tambah dengan para penjaga yang terus melihat tiada henti dan juga mereka yang tersenyum.
"Pak Devan kenapa? Pak Devan malu memiliki istri seperti ku?" tanyaku yang tiba-tiba menoleh ke arah pak Devan karena merasa sangat aneh dengannya.
"Ti_tidak. Siapa juga yang malu kan kamu adalah istri paling cantik," katanya. Cepat dia berjalan menyamakan langkah dengan ku lalu merangkul ku juga tak lupa dia tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum, aku pikir dia malu punya istri seperti ku.
"Assalamu'alaikum!" teriak ku.
Sungguh, aku merasa berada di rumah sendiri sekarang ini. Tak ada takut lagi yang aku rasakan tapi malah sebaliknya. Aku sangat bahagia dan tidak sabar untuk bertemu dengan semua orang-orang yang ada di dalam rumah. Terutama aku tak sabar ingin bertemu dengan Ara.
"Wa'alaikumsalam!" suara jawaban juga sangat keras aku dengar.
Setelah suara teriakan dari jawaban itu tak lama aku dengar langkah kaki yang cepat untuk menghampiri. Terlihat tergesa-gesa dari langkah yang begitu jelas juga yang sangat lirih.
"Bun... da..." suara Ara tercekat perlahan di akhir kata. Matanya terbelalak dengan langkah kaki yang terhenti. Mungkin dia sangat tak percaya dengan apa yang aku bawa saat ini, semua balon aku bawa masuk.
"Bunda, itu balon untuk siapa, apa untuk Ara?" kembali Ara melangkah maju dan menghampiri.
Matanya tak terlepas dari semua balon yang ada di tangan.
Ku tersenyum tapi juga seketika senyum itu pudar kala melihat pak Abraham kuga Bu Susan yang melihat ku begitu tajam.
Tiba-tiba rasa takut ini sangat besar, wajahku seketika berubah dengan mata yang seolah ingin segera berkaca-kaca dan menyimpan air bening yang mulai muncul.
Aku berjalan mundur dan bersembunyi di belakang pak Devan, tepat di belakangnya dan menyandarkan kening di bagian punggung pak Devan.
"Nayla, kamu kenapa," Pak Devan menoleh meski aku yakin tak dapat melihat wajah ku.
"A_aku takut. Cara melihat mereka sangat menakutkan," kataku. Rasanya sangat takut sama seperti seorang anak yang takut kepada seseorang.
"Kenapa harus takut, mereka semua orang baik, Nayla. Lihatlah, mereka tersenyum padamu."
Aku memiringkan wajah, mengintip ke dari sebelah kanan pak Devan dan terlihat jelas mereka berdua tersenyum, tapi tidak dengan Ara yang terlihat begitu bingung, mungkin dia sangat bingung karena kelakuanku yang tidak seperti biasa.
"Sini," Pak Devan menoleh dia menarik ku dan berhasil kembali ke sebelahnya.
Astaghfirullah, hamil anak ini kenapa bisa mengubah ku sampai segininya. Aku begitu mudah takut dan juga marah pada orang tapi juga mudah senang dan juga memaafkan. Sungguh berbeda dengan Ara dulu.
Aku benar-benar seperti anak kecil yang begitu sensi_an, apa ini karena pengaruh hormon?
Pak Abraham dan juga bu Susan tersenyum dia juga kembali melangkah mendekati ku. Memang tadi terlihat sangat aneh tapi tidak dengan sekarang, mungkin dia memaklumi apa yang telah terjadi kepadaku, benar begitu kan?
"Bunda, bunda kenapa jadi penakut seperti ini? Biasanya bunda kan pemberani?" tanya Ara. Pasti dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepadaku sekarang.
"Hehe, tidak apa-apa. Bunda tidak takut kok, hanya malu," kataku.
"Oh, malu. Oh iya, kata nenek dulu ayah juga sangat pemalu loh, bahkan pernah malu-maluin juga."
Semua mata terbelalak karena perkataan bibir mungil Ara. Sementara aku, aku juga sama namun tak lama setelahnya menatap pak Devan tak percaya. Benarkah dulu pak Devan seperti itu?
Kalau memang benar seperti itu berarti anaknya akan nurun ayahnya.
"Mama, Papa, kenapa di ceritain pada Ara?!" Pak Devan terlihat kesal.
"Hahaha, emangnya kenapa Yah! Nggak boleh ya? Tapi sudah terlanjur jadi jangan marah sama nenek ya. Ara kok yang minta di ceritain."
"Hahaha!" tawa menggelegar begitu memenuhi ruang tengah ini. Bukan hanya ki bahkan beberapa para penjaga dan juga pelayan jiga ikut tersenyum.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bukan hanya Ara saja yang mendapatkan perhatian dari semua orang yang ada di rumah pak Abraham tapi aku_pun juga mendapatkan hal yang sama seperti dirinya.
Meski kami orang baru tapi mereka menganggap kami sudah seperti keluarga lama dan kami terus menghabiskan waktu bersama-sama.
Malam ini sesuai keinginan dari bu Susan kami tidak jadi pulang, khusus malam ini kami harus menginap di rumah mewah ini.
Makan malam yang begitu mewah, semua makanan yang tersaji adalah makanan-makanan yang belum pernah akku makan. Terlihat sangat enak tapi kenapa malah membuat ku tak ingin makan? Rasanya susah bosan meski baru melihat saja.
"Nayla, kamu kenapa?" tanya bu Susan yang melihat keanehan padaku yang malah diam dan tidak mengambil apapun.
Melihat semua juga membuat aku bingung apa yang bisa aku makan?
"Apakah kamu tidak suka dengan makanannya?" bu Susan bertanya lagi.
"I_ini..." ingin sekali aku mengatakan kalau aku tidak suka dengan semua makanan ini, tapi aku hanya ingin makan telur ceplok saja di tambah sambel kecap.
"Kalau kamu tidak mau makan ini, katakan. Kmu mau makan apa biar di buatin. Kamu tidak akan bisa tidur nantinya kalau tidak makan."
"A_aku..."
"Kmu mau makan apa, Nayla?" pak Devan juga bertanya dia sangat penasaran apa yang sebenarnya aku inginkan.
"Katakan saja, Nak," pak Abraham juga sama, semua benar-benar memperhatikan ku setelah mereka memastikan bahwa Ara juga makan dengan baik.
"A_aku pengen makan sama telur ceplok dan sambel kecap," kataku dengan sang ragu.
"Hah!" mereka semua terlihat terkejut, mungkin mereka tak habis pikir saja dai sekian banyaknya makanan tapi aku malah ingin makan makanan sederhana itu.
"Hem, baiklah. Bi, tolong buatin apa yang Nayla inginkan," bu Susan menoleh arah pelayan tapi sebelum pelayan itu menjawab aku sudah menghentikannya.
"Tidak tidak! Aku ingin pak Devan yang membuatkannya," kataku cepat.
Uhuk uhuk uhuk...
Seketika pak Devan batuk karena terkejut akan keinginan ku.
"A_aku? Aku bikin telur ceplok?" matanya membulat ke arah ku.
"I_iya. Ke_kenapa, apakah pak Devan tidak mau membuahkan untuk anak pak Devan? Kalau tidak mau jangan salahkan Nayla kalau besok anaknya ileran, hehehe.. " kataku di sambung dengan meringis.
"Ta_tapi, Nay? Aku tidak bisa. Bagaimana kalau sampai gosong?"
"Kalau gosong nanti pak Devan yang makan. Pak Devan tega, pak Devan makan enak seperti ini sementara anak dan istrinya kelaparan?" Kembali sensiku kumat.
"I_iya deh." Akhirnya pak Devan pasrah dia secepatnya beranjak dari tempat namun dengan sangat malas.
"Loh, Nay. Kamu mah kemana?" tanya bu Susan yang melihat aku juga beranjak.
"Hehehe, mau lihat pak Devan masak," kembali aku meringis.
Pak Abraham juga bu Susan terlihat tersenyum, entah apa yang dia pikirkan sekarang ini.
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Bersambung...