
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
"Pak, pak!" Panggil penjaga ketika Devan hendak masuk ke dalam perusahaannya. Sontak saja Devan berhenti dan kembali membalik untuk melihat siapa yang telah memanggilnya, dan ternyata adalah penjaga keamanan.
Devan melepaskan kaca matanya setelah melihat penjaga itu sudah berhenti tepat di depannya. Devan mengernyit karena sangat bingung kenapa pagi-pagi penjaga itu berani menghentikannya.
"Ada apa ya Pak?" Tanya Devan yang sangat penasaran kepada penjaga yang tidak seperti biasanya berani menghentikan langkahnya.
Dengan ragu penjaga tersebut tetap memberikan surat pengunduran diri yang dia terima langsung dari Nayla.
"Ini pak saya menerima surat ini dari Ibu Nayla tadi pagi. Katanya ini adalah surat pengunduran diri."
Mata Devan seketika membulat begitu tajam meski tangan bergerak menerima surat yang diberikan oleh penjaga itu yang katanya dari Nayla.
"Apa, Nayla mengundurkan diri!"
Penjaga juga Devan terlihat terkejut mendengar pekikan dari seseorang dan ketika Devan melihat ternyata orang tersebut adalah Mika.
Jelas Mika akan sangat terkejut tentang kabar pengunduran diri dari Nayla yang sama sekali tidak dia ketahui sebelumnya. Biasanya Nayla akan selalu menceritakan semua masalah kepadanya tapi kenapa sekarang tidak sama sekali bahkan dia mengambil keputusan tanpa meminta pendapat pada Mika terlebih dahulu.
Begitu cepat dan terlihat mantap Mika melangkah untuk mendekati Devan dan juga pak penjaga.
Mata Mika begitu tajam melotot ke arah keduanya dan paling tajam tentu mengarah kepada Devan sang bosnya.
"Jadi Nayla mengundurkan diri?" Mika semakin menegaskan.
Devan masih diam namun sudah membuka surat pengunduran diri dari Nayla sementara penjaga hanya diam menunduk.
"Pak, sekarang di mana Nayla berada dia masih bersama bapak kan?" tanya Mika tanpa berpikir.
Karena pertanyaan Mika yang begitu berani membuat Devan langsung menarik tangannya untuk pergi dari sana karena di sana ada penjaga.
"Pak, lepas!" jelas Mika berontak karena Devan yang menariknya dengan kasar. Namun teriakan dari Mika sama sekali tidak di dengar.
Setelah sampai di tempat lain yang lebih aman dan hanya mereka berdua Devan langsung melepaskan lagi dengan kasar, dia sangat marah karena Mika yang bicara begitu asal.
"Kamu bisa jaga bicara mu tidak!" begitu marah Devan sekarang. Tak ada yang tau kalau Nayla ada bersamanya jika Mika bicara seperti itu pastilah semua orang akan tau.
"Sekali lagi kamu berkoar-koar tentang Nayla di hadapan semua orang akan aku buat mulutmu diam selamanya," ancam Devan dengan amarah yang sangat besar.
"Pak, dimana Nayla sekarang? Sejak dia bapak bawa pergi dia tidak pernah pulang lagi. Dia baik-baik saja kan?"
Bukan hanya karena penasaran saja kemana perginya Nayla tapi Mika juga sangat merindukan sahabatnya itu juga Ara.
Bukannya menjawab tapi Devan malah mengacak rambutnya dengan kasar, dia juga terlihat semakin frustasi karena Mika bertanya tentang Nayla yang sekarang Devan juga tidak tau keberadaannya.
"Pak, Nayla dan Ara di mana?!" tetap Mika mendesak Devan untuk mengatakan keberadaan Nayla tapi Devan masih enggan untuk bicara.
"Pak, dimana Nayla!" lagi Mika bertanya.
"Diam! Aku juga sedang pusing memikirkan keberadaannya. Kemarin dia kabur dari rumah, aku cari-cari tidak ketemu bahkan aku sudah berkali-kali ke rumahnya tapi di sana juga tidak ada, puas sekarang, puas!"
Ucapan Devan tentu membuat Mika langsung terbelalak.
"Apa maksud bapak!" mata Mika semakin tajam, jelas dia sangat marah dan menyalahkan Devan karena kepergian Nayla.
Sekarang harus kemana mencari keberadaan Nayla bahkan sebelum pergi ke kantor Mika juga datang ke rumah Nayla tapi dia tidak ada di tempat.
"Arghh!" tanpa mengatakan apapun lagi Devan langsung melenggang pergi meninggalkan Mika yang sangat bingung. Antara bingung dan juga marah bercampur menjadi satu.
"Astaga, aku harus mencari kamu kemana, Nay," bukannya masuk ke perusahaan Gudia tapi Mika malah kembali keluar dia ingin mencari keberadaan Nayla yang entah di mana.
Sementara Devan, dia tetap masuk ke perusahaan Gudia tapi jelas dia semakin pusing sekarang. Masalah akan semakin besar dan runyam dengan Mika yang sudah tau akan kepergian Nayla dari rumah Devan.
Setelah sampai di ruangannya Devan mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang, dia harus secepatnya menemukan Nayla kalau dia tidak ingin pusing lama-lama. Bisa-bisa dia jadi gila karena memikirkan Nayla.
"Datang ke perusahaan sekarang. Kamu harus membantuku untuk menemukan seseorang."
Ponsel kembali di matikan setelah mengatakan apa yang menjadi keinginannya pada orang yang di mintai tolong. Entah siapa yang dia hubungi tadi tapi yang jelas di yakini dia bisa membantu Devan untuk menemukan Nayla dan Ara.
"Kamu tidak akan bisa lari lagi dariku, Nay. Kamu harus aku dapatkan. Mau atau tidak kamu harus kembali kepadaku."
Terdapat keegoisan untuk bisa kembali mendapatkan Nayla tapi itulah Devan sebenarnya. Dia harus bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan dan apa yang menjadi tujuannya tidak bisa lepas dari tangannya.
--------Normal---------
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Terlihat dia begitu bahagia setelah melihatku, dia langsung berhamburan untuk memelukku yang juga menyambutnya.
"Bunda, bunda sudah selesai urusannya?" tanyanya yang sudah berada di dekapan ku yang sudah berlutut di hadapannya.
"Alhamdulillah, urusan bunda semuanya sudah selesai. Mulai sekarang Bunda hanya akan terus bersama Ara," kataku meyakinkan.
"Ye!" begitu bahagia Ara karena mendengar penjelasan dariku. Wajahnya begitu ceria penuh binar.
"Ayo bunda, Ara kenalin pada teman baru Ara," Ara melepaskan pelukan dan beralih memegangi jari telunjuk ku dan menariknya.
Dengan langkah yang menyamakan langkah kaki Ara aku mengikuti dia mengajakku, ternyata kami berhenti di tempat Ara bermain tadi yang terdapat beberapa teman Ara.
"Bunda, kenalin ini Dinda dan ini Asma. Mereka adalah teman baru Ara," begitu senang Ara ketika memperkenalkan kedua temannya padaku.
Kedua temannya itu juga langsung menyalami dengan begitu hormat, mereka tersenyum juga dengan menyebut nama masing-masing.
Setelah aku lihat-lihat ternyata Asma ini anak dari pemilik kontrakan. Aku yakin, bukan hanya di sekolah saja mereka bisa berteman tapi bisa ketika pulang sekolah mengingat rumah yang berdekatan.
"Terima kasih ya sudah mau menjadi teman Ara," kataku.
"Iya, Tante." keduanya menjawab hampir bersamaan dan setelah itu mengajak Ara bermain lagi dengan mereka.
Sejenak aku duduk di sana untuk menunggu Ara sebentar dan ibu kontrakan menghampiriku.
Entah dari mana kemarin aku bisa mengenal beliau dan bisa tinggal di tempatnya, kejadian kemarin rasanya begitu cepat.
"Boleh saya ikut duduk?"
Aku tersenyum padanya dan beliau langsung duduk di sebelah ku. Terlihat dia melihat ku sejenak dan menatap dengan begitu berbeda penuh dengan penasaran.
Kami berdua sama-sama melihat kearah Ara dan anaknya yang tengah bermain melihat dengan sesekali tersenyum.
"Papanya tidak ikut juga, Mbak?"
Aku terkesiap ketika mendengar pertanyaan dari ibu kontrakan tersebut. Bagaimana aku menjawabnya?
"Atau jangan-jangan mbak sedang menghindarinya?" imbuhnya lagi. Mungkin pertanyaan yang kedua karena melihat ku yang begitu terkejut akan pertanyaannya.
"Dalam rumah tangga memang selalu seperti itu, bukan hanya mbak saja yang mendapatkan cobaan bahkan saya juga sama. Tapi mungkin masalah kita yang berbeda," ucapnya.
Kenapa malah jadi mode curhat begini?
"Apa ibu tau? Ayahnya Asma dulu pernah meninggalkanku dan Asma. Tetapi dia kembali dan minta maaf, alhamdulillah sekarang kami bisa hidup bahagia setelah kejadian itu," katanya.
Mungkin begitu mudah untuk ibu kontrakan ini memaafkan suaminya tapi tidak denganku. Aku tidak akan mungkin pernah bisa memaafkan mas Aditya yang jelas-jelas mengkhianati ku dan menikah dengan wanita lain yang lebih segalanya dariku.
Memang, dalam rumah tangga banyak cobaan dan setiap rumah tangga berbeda-beda ujiannya. Tapi, bukankah sekarang aku tak ada lagi rumah tangga? Aku tak punya suami tapi aku datang karena ingin menjauhi dua laki-laki sekaligus. Ayah kandung Ara dan laki-laki yang begitu ingin menjadi ayahnya Ara.
"Masalah itu bukan untuk di jauhi, Mbak. Sejauh apapun kita pergi kalau masalah itu belum selesai selamanya akan selalu menghantui kita. Jadi, jika memang sudah tidak bisa di jalani lagi selesaikan dulu dengan penjelasan yang jelas dan setelah itu baru kita pergi."
Sok tau nih ibu kontrakan, dia pikir aku bermasalah dengan suami dan kabur dari rumah tapi sebenarnya aku bukan kabur dari suami, tapi dari pak Devan.
"Kasihan anak, Mbak. Setiap anak bisa saja bahagia jika sedang bermain dengan teman-temannya tapi ketika dia sendiri? Dia pasti akan sangat merindukan ayahnya. Hidupnya juga tidak akan sempurna."
Yah! Aku sadar, hidup Ara memang tidak pernah sempurna semenjak dia lahir. Sejak saat itu dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah dan sekarang? Dia baru saja ingin mendapatkan figur itu dari laki-laki lain yang begitu sayang padanya tapi kenyataannya? Hidup tidak semulus itu.
Seandainya bisa, aku juga ingin bisa hidupku dan Ara bisa sempurna. Memiliki keluarga yang utuh dan ada sosok laki-laki yang akan menjadi imam juga pelindung kami. Tapi, itu tidak akan mudah setelah pengkhianatan dari mas Aditya.
Sejak saat itu hatiku terasa sangat tertutup untuk siapapun dan selalu kekeuh untuk menutupnya.
"Pesan saya, perjuangkan apa yang bisa membuat kita bahagia di masa depan, dan buang jauh-jauh masalah di masa lampau dan semua yang berkaitan dengannya. Berdamailah dengan waktu, Mbak. Jangan terus menutup hati hanya karena masalah di masa lalu." katanya.
"Hem," aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku tak mampu untuk berkata-kata padanya.
Lagian entah apa yang harus aku katakan, aku juga sangat bingung. Semua menjadi salah paham bahkan ibu kontrakan pun juga salah paham karena kedatangan ku sekarang.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung.......