Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Menemukannya



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Kenyataan yang telah aku dapatkan membuat tubuh ini benar-benar tak berdaya. Rasanya tak ada daya untuk bisa melakukan apapun bahkan sekedar untuk membersihkan rumah saja rasanya tak mampu.


Aku hanya terduduk lesu di bangku. Pintu aku tutup rapat meski tidak aku kunci, sementara Ara? Dia sudah sekolah meski hanya di depan rumah saja.


Begitu banyak pekerjaan rumah dan juga cucian yang harus aku bereskan tapi rasa tak berdaya ini telah mengacaukan segalanya.


Sesekali air mata masih menetes saat melihat testpack yang kembali ada di genggaman tangan, rasanya masih tidak percaya kalau aku telah hamil.


Aku harap ini hanyalah sebuah mimpi yang akan hilang ketika aku terbangun dari tidur yang panjang. Tapi benarkah semua ini hanya sebuah mimpi?


Entah kenapa rasanya tak ada lagi jalan, semuanya terasa buntu.


Aku tau, aku sendiri yang telah membuat jalan itu terasa buntu. Seandainya saja aku bisa berdamai dengan takdir makan semua ini tidak akan terjadi. Aku akan mudah melewatinya. Tapi sayang?


Karena kesalahan satu orang laki-laki rasanya aku menghakimi semua laki-laki dan akhirnya berimbas buruk pada diri sendiri. Seandainya rasa trauma itu tidak ada bisa saja aku langsung mendatangi pak Devan dan meminta dia bertanggung jawab, tapi tidak!


Apa ini, sebuah gengsi atau keegoisan?


Sebenarnya semua mudah dan ada jalannya tapi aku sendiri yang membuatnya susah dan menutup jalan itu sendiri. Sekarang siapa yang patut di salahkan? Aku! Aku yang salah.


Memang, banyak yang mengatakan memaafkan itu mudah tapi kenapa tidak dengan ku. Apakah mungkin karena aku tidak bisa ikhlas dan menerima takdir?


Apa karena aku selalu berpikiran sempit dan juga berpikiran negatif tentang takdir Allah, hingga akhirnya aku sendiri yang merasa susah.


Bagaimana untuk bisa ikhlas?


Ya Allah, tunjukkan jalannya untuk aku bisa selalu ikhlas dan selalu bersabar dalam segala hal yang telah Engkau berikan.


Ataukah, sebenarnya karena aku yang kurang bersyukur? Atau bahkan sama sekali tidak pernah bersyukur?


Mungkin karena aku yang selalu melupakan Allah, makanya Dia memberikan semua ini supaya aku bisa selalu ingat dan selalu menyebutkan nama-Nya dia keseharian_ku dan juga di sepanjang doaku.


Doa? Bahkan aku lupa sudah sejak kapan aku berdoa.


Mungkin, karena aku yang begitu jauh pada-Nya sampai-sampai Dia terasa menjauhi ku dan membuat aku terasa hidup sendiri tanpa siapapun.


Inilah keegoisan ku.


Aku ingin sekali mendapatkan apapun yang terbaik sementara aku sendiri lupa untuk bisa menjadi yang baik. Aku selalu sibuk dengan kemarahan dan kekecewaan sehingga aku lupa dengan yang namanya bersyukur dan juga ikhlas.


Pasti karena inilah semua itu terjadi hingga silih berganti seperti ini.


"Astaghfirullah hal adzim," sadarku akan semua dosa yang telah mengalir di sepanjang hidupku.


Apakah istighfar itu masih bisa di terima?


Syukur, sabar dan ikhlas seharusnya berjalan secara beriringan untuk bisa mendapatkan ketentraman dalam kehidupan tapi aku? Satupun tak ada yang aku lakukan jelas saja hidup rasanya begitu kacau. Sehingga ketika ujian datang aku hanya terus mengeluh dan mengeluh.


Menyalahkan takdir dan merasa paling terdzolimi. Bahkan yang selalu hadir di dalam pikiran hanya tentang putus asa dan ingin mengakhiri kehidupan. Pastilah kalau Allah marah karena semua kelakuan ku yang selalu menyimpang jauh dari aturannya.


Tak pernah ingat apalagi mendekat kepada Allah dan aku menginginkan kasih sayangnya, bagaimana mungkin bisa terjadi?


Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan cinta-Nya sementara aku tidak mau mengenal dan dekat dengan-Nya. Sungguh, aku adalah orang yang dzalim.


Astaghfirullah hal adzim...


Berkali-kali istighfar belum tentu akan menghapus semua dosa tapi setidaknya bisa menguranginya.


"Maafkan aku ya Allah, yang telah lupa akan semua nikmat yang telah Engkau berikan. Maaf aku yang selalu lupa bersyukur. Maafkan aku..."


Kini hanya tinggal penyesalan setelah mengingat akan semuanya.


Hati rasanya mulai tenang dan terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ternyata benar, mengingat Allah adalah kunci utama dari semua masalah yang terjadi.


Istighfar yang terus terucap mengiringi tubuh yang kian ambruk di kursi dengan perasaan yang masih begitu kalut. Memang sudah lebih baik tapi tetap saja masih ada.


Mengingat hari-hari yang akan semakin sulit di kedepannya membuat aku begitu rapuh. Seharusnya aku bisa tenang jika sudah benar-benar menyerahkan semua itu kepada Allah, tapi nyatanya? Semua tidak semudah itu.


Perlahan mata mulai terpejam karena begitu lelahnya. Hingga benar-benar mataku tak mampu lagi untuk menahan rasa lelah dan aku tidur dengan pulas.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


POV AUTHOR ....


Dengan bantuan seorang hacker akhirnya Devan bisa dengan mudah menemukan keberadaan Nayla. Keberadaan yang sudah jelas membuat Devan bergegas pergi untuk menghampiri Nayla dan Ara meski sebenarnya pekerjaan menumpuk.


Devan terus tersenyum karena membayangkan bahwa sebentar lagi akan bertemu dengan Nayla. Hatinya begitu berbunga-bunga seperti remaja yang sedang jatuh cinta dan ingin bertemu dengan sang pujaan hati.


"Sebentar lagi aku akan menemukan mu, Nay," gumamnya.


Mobil terus melaju dengan cepat Devan sangat tak sabaran ingin cepat bertemu dengan Nayla.


Wajahnya berbinar dengan bibir terus tersenyum ceria.


Mobilnya berhenti di tepi jalan raya saat sampai di depan sebuah gang kecil. Mobil tak bisa masuk jadi terpaksa berhenti di sana.


"Ya Allah, Nay. Di suruh tinggal di tempat bagus dan luas malah milih di tempat sempit seperti ini. Hem..." Devan hanya geleng-geleng kepala karena tingkah Nayla ini.


Tapi kenapa, keras kepalanya Nayla malah membuat Devan semakin semangat untuk mendekatinya. Seperti ada sebuah tantangan tersendiri yang wajib untuk di luluhkan.


Dengan tangan di ponsel Devan terus melangkahkan kaki. Memang ada rasa risih melihat lingkungan sekitar yang tidak sebersih seperti di rumahnya.


Keadaan jalan yang becek tentu juga sangat mengganggu langkah kakinya, dia harus berusaha terus menghindar supaya lumpurnya tidak mengenai sepatunya yang mahal.


"Ih, menjijikkan sekali," katanya.


Bingung juga Devan pada dirinya sendiri, hanya demi Nayla dia rela menginjakkan kaki di tempat yang kumuh seperti itu.


Semua hanya karena Nayla dan untuk Nayla. Tidak kenal dengan Nayla pastilah Devan tidak akan berperilaku seperti itu.


Matanya terus melihat ponsel di mana dia bisa melihat di mana titik keberadaan Nayla sekarang.


Pantesan saja kemarin dia tidak bisa menemukan Nayla di jalanan kota karena Nayla memilih tinggal di tempat yang terpencil dan kumuh seperti ini. Nayla seakan tau cara menghindar dari Devan karena tau Devan tidak akan mungkin mencari di tempat yang seperti itu.


Tapi, karena Nayla tempat seperti apapun akan dia datangi.


Hingga akhirnya Devan sampai juga di depan rumah Nayla. Sebelah jalan rumah Nayla dan sebelah jalan lagi adalah sekolah TK Harapan tempat Ara sekolah.


Devan terlihat bingung karena titik tempatnya ada di dekat dia berdiri sekarang tapi karena rumah-rumah di sana begitu padat membuat Devan bingung mana rumah Nayla.


Kebingungan Devan terlihat oleh ibu kontrakan yang tengah menunggu Asma anaknya. Dia cepat melangkah dan mendekati Devan karena penasaran.


"Permisi, mas mencari siapa ya bisa saya bantu?" tanyanya.


Devan cepat menoleh dan mendapati ibu kontrakan yang tersenyum menyapa dan menawarkan bantuan.


"Maaf, saya mencari wanita ini apakah ibu pernah melihatnya?" Devan menunjukkan foto Nayla dan juga Ara yang ada di ponselnya.


"Oh, mbak Nayla. Mbak Nayla tinggal di rumah ini. Mas suaminya ya?" terlihat ibu kontrakan senang melihat Devan dan tentu langsung berpikir kalau Devan adalah suaminya.


"I_iya, Bu. Apakah Nayla_nya ada di rumah?" tanyanya.


"Sepertinya ada, Mas. Sepertinya mbak Nayla lagi kurang sehat. Tadi pas nganterin Ara sekolah wajahnya terlihat sangat pucat dan dia menitipkan Ara pada saya," jelasnya.


"A_Ara sekolah?" Devan terlihat terkejut tapi terlihat senang.


"Iya, sekolah di sini," ucapnya dengan tangan menunjukkan ke sekolah TK tersebut.


"Bisa saya menemuinya sekarang?" wajah Devan terlihat begitu bahagia dan tidak sabar untuk bertemu dengan Ara.


Devan langsung berlari setelah ibu kontrakan itu mengangguk.


Air mata Devan menetes ketika melihat Ara yang sedang bernyanyi bersama dengan teman-temannya sembari bertepuk tangan.


"Ara! Ayah datang nih!" teriak ibu kontrakan.


Seketika Ara menoleh, suaranya terhenti dengan tangannya juga berhenti bergerak.


"Ayah!" Ara yang kini sudah mengenakan seragam sama seperti teman-temannya itu langsung berlari menghampiri Devan dan berhamburan ke dalam pelukan Devan yang sudah berlutut.


Kerinduan benar-benar tercurahkan di antara mereka berdua, kedekatan itulah lah yang membuat semua orang akan salah menilai status mereka. Begitu juga para guru Ara dan ibu kontrakan juga seperti itu. Mengira Ara dan Devan benar-benar adalah ayah dan anak.


"Ayah, Ara kangen sama ayah."


Bukan hanya pak Devan saja yang meneteskan air mata bahagianya tapi Ara juga sama dia sudah tersedu di pelukan Devan.


"Ayah juga kangen sama Ara," di peluk semakin erat dan penuh kasih.


"Ayah, ayah akan tinggal lagi kan sama Ara dan bunda," Ara melepaskan diri melihat wajah Devan yang mengangguk.


"Iya, kita akan tinggal bersama-sama lagi," tentu Devan mengatakan itu karena dia memang menginginkan hal itu.


"Ayah, bunda sakit. Dari pagi bunda tidak mau makan Ara lihat bunda juga menangis terus. Mungkin bunda kangen sama ayah makanya menangis." celoteh Ara.


Bukan karena kangen yang di katakan Ara yang membuat Devan terdiam tapi karena Nayla menangis. Menangis karena apa?


"Hem, Ara di sini dulu ya. Lanjutin sekolahnya biar ayah menemui bunda."


Devan semakin penasaran dan tidak sabar untuk bertemu dengan Nayla melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Ara mengangguk dia juga langsung masuk kembali ke sekolah sementara Devan langsung pergi ke rumah Nayla untuk segera melihat keadaannya.


"Nay," panggil Devan ketika ingin masuk tapi tak ada jawaban.


"Nay," panggilnya lagi tapi tetap sama.


Karena tak ada jawaban membuat Devan langsung masuk begitu saja dia sudah sangat khawatir tentu dia takut kalau Nayla akan pingsan lagi seperti dulu lagi.


"Nay," Devan langsung menghampiri Nayla yang ternyata tidur di ruang tengah dan hanya di kursi saja.


Devan duduk di tepian kursi yang di tempati Nayla. Melihat bagaimana wajahnya yang terlihat lemah dan juga pucat. Bahkan masih ada air mata yang ada di sudut matanya.


"Apakah kamu menangis karena aku, Nay? Kalau benar maafkan aku."


Rasanya begitu sakit melihat Nayla yang rapuh seperti ini. Hatinya ikut hancur meski dia sendiri tidak tau karena apa.


Devan beralih berlutut di hadapan Nayla meraih tangannya hingga akhirnya dia menemukan jawaban yang telah membuat Nayla sedih seperti sekarang ini.


Devan menemukan hasil testpack yang ada di tangan Nayla.


Tangan Devan gemetar ketika mengambilnya, antara senang dan juga tidak percaya. Benarkah sebentar lagi dia akan mudah menjadi seorang ayah?


"Aku akan menjadi ayah?" Begitu terharu, bibirnya tersenyum tapi air matanya mengalir.


--------Normal--------


◎◎✧༺♥༻✧◎◎