Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Panggil Om, Ayah



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Meski sudah diperingatkan untuk berhenti dan memberikan kesempatan Pak Devan itu bicara dengan Ara tetapi aku tetap tidak diam aku juga mengejar mereka.


Aku melihat Ara terus berlari menjauh dari tempat tadi dan bergegas menuju ke tempat di mana Dia melihat Mas Aditya kemarin. Dan aku juga melihat Pak Devan terus berlari mengejar Ara tiada henti.


Hingga akhirnya Ara berhenti di tempat yang kemarin. Sesekali tangannya terangkat dan mengusap air matanya sendiri, sementara wajahnya terus menoleh ke setiap penjuru dan aku yakin dia sangat berharap bisa melihat Mas Aditya.


Pak Devan juga berhenti dia langsung mendekati Ara dan juga berjongkok di hadapannya. Sementara aku, Aku hanya berdiam melihat mereka dari kejauhan di balik pohon dengan luka yang terus keluar melalui air mata.


"Om, kemarin Ayah di sini kan. Sekarang Ayah pasti datang lagi kan Om?"


Aku melihat Pak Devan juga merasa bingung untuk menjelaskan semua kepada Ara apalagi dia tidak tahu masalah yang sebenarnya yang terjadi kepada kami.


Tangan Pak Devan menyentuh kedua bahu Ara kemudian terangkat semakin ke atas dan menghapus air matanya. Aku melihat Ara masih sesenggukan dan air mata itu masih terus saja keluar.


"Puas kan kamu Mas, kamu yang membuat Ara hadir di dunia ini Dan kamu juga yang mematahkan kebahagiaannya. Di mana hati nurani mu Mas," Gumam_ku.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan kamu bisa bertemu dengan Ara dan aku tidak akan membiarkan kamu ada di kehidupannya."


Lamunan ku dikejutkan dengan Ara yang kembali berbicara kepada Pak Devan dan kembali menyalahkan ku.


"Om, Ayah tidak pulang pasti karena Bunda kan Om. Bunda pasti nakal kan sama ayah, sampai-sampai Ayah meninggalkan Ara dan tidak pernah pulang. Bahkan Ara sama sekali belum pernah melihat ayah."


"Ara hanya pengen ketemu ayah, Ara tidak mau lagi sama bunda, bunda nakal bunda tidak mau mencari ayah."


"Gara-gara tidak ada Ayah bersama Ara, Ara selalu diejek sama temen-temen mereka juga tidak mau berteman dengan Ara lagi. Ara pengen sama ayah, Om."


Semakin sakit hati ini mendengar bahwa anakku sendiri, yang aku kandung selama sembilan bulan, aku rawat sendiri dengan kedua tangan ini kini dia membenciku. Duka yang mana yang lebih besar dari ini.


"Stts... Ara tidak boleh seperti itu, Bunda itu sangat sayang sama Ara bunda juga terus mencari ayah, tapi kan Ayah lagi bekerja jadi ayah tidak bisa pulang saat ini."


"Ara juga tidak boleh bicara seperti itu tentang bunda, kalau Ara berbicara seperti itu bunda pasti sangat sedih kalau sampai mendengar, Ara tidak mau Bunda sedih kan?"


"Bunda itu sangat sayang sekali sama Ara buktinya Bunda selalu ada kan buat Ara, Ara tidak pernah kekurangan apapun kan, dan semua itu terjadi karena berkat Bunda kan?"


Ara mengangguk, terlihat dia mulai mengerti apa yang dikatakan oleh Pak Devan tangisnya juga perlahan menghilang darinya.


"Sekarang begini saja, anggap saja Om ini adalah Ayah Ara dan Ara bisa bebas meminta apapun dan juga memanggil Om dengan panggilan ayah. Yang terpenting Ara tidak boleh menangis lagi."


"Kalau ada temen-temen yang mengejek Ara, Ara langsung saja hubungin om, om pasti akan langsung datang dan menjewer teman Ara itu, oke."


Mata Ara terlihat begitu fokus melihat Pak Devan bahkan netranya seolah berputar-putar memandangi wajah Pak Devan yang begitu terlihat tulus. Benarkah dia tulus atau hanya ada sesuatu yang dia rencanakan untukku?


Kali ini hatiku Pasti akan sangat susah untuk menerima siapapun bahkan tidak akan mudah memahami mana orang yang tulus dan hanya orang yang memiliki akal bulus.


Aku tidak ingin percaya kepada siapapun lagi apalagi itu seorang laki-laki yang pasti semuanya akan sama saja mereka hanya bisanya menyakiti hati perempuan, pura-pura mencintai dan setelahnya hanya ditinggalkan.


Hatiku akan tertutup untuk siapapun karena aku hanya ingin bahagia berdua saja dengan Ara.


"Om benar kan akan bantuin Ara kalau ada yang mengejek dan mau nyakitin Ara?"


Pak Devan mengangguk cepat dia kembali mengusap air mata Ara dan kini benar-benar kering tak ada sisa sama sekali.


"Iya, om janji. Asalkan Ara mau kembali kepada Bunda dan minta maaf kepada Bunda. Setelah itu kita jalan-jalan bertiga. Oh iya! nanti Om sama Bunda mau pergi ke pesta Ara mau ikut?"


"Pesta! Pesta apa om, pesta yang banyak kuenya ya? Ara mau ikut."


Wajahnya sudah kembali berbinar seperti semula Ara terlihat sangat bahagia mendengar kata pesta yang diucapkan oleh Pak Devan.


Aku memang sangat senang jika Ara juga senang tetapi bukan berarti dia harus ikut juga ke pesta reuni SMA Pak Devan.


"Om, sekarang kita temuin Bunda yuk Om. Ara pengen minta maaf sama Bunda dan Ara juga mau mengatakan kalau nanti Ara ikut juga ke pesta."


Pak Devan mengganggu cepat, seperti seorang ayah Pak Devan langsung mengangkat tubuh Ara dia menggendongnya di depan dan itu membuat Ara begitu bahagia.


"Oke, sekarang kita datang ke bunda. Lari..." Pak Devan berlari dan itu membuat Ara tertawa dengan kedua tangan merentang seperti kedua sayap dan mengepak-ngepakan ke udara.


"Yee... Terbang!!" Teriak Ara.


Sekilas bibirku terangkat sekilas aku tersenyum melihat kebahagiaan orang yang tidak pernah dia dapat dari sosok seorang ayah dan kini dia dapatkan dari Pak Devan.


Siapa dia sebenarnya, seorang laki-laki angkuh yang baru beberapa hari aku kenal dan kini rasanya menjelma sebagai malaikat untuk membahagiakan Ara.


"Om, Ara boleh panggil Om dengan panggilan ayah kan?"


Senyumku pudar mendengar celotehan Ara yang ingin memanggil Pak Devan dengan panggilan ayah. Kenapa Ara begitu cepat bisa akrab dengan seorang laki-laki asing yang hanya baru dua kali ini dia temui.


"Boleh dong, kan Om sudah katakan Ara boleh panggil Ayah."


"Yee! Ara punya ayah!" Ara semakin girang.


"Oh iya Ara tidak punya gaun bagus untuk ke acara pesta semua baju Ara sudah jelek karena Bunda jarang sekali beliin Ara baju, bagaimana dong Om, ups... Ayah."


"Tenang, kita nanti belanja. Ara bebas minta apapun dari ayah," Kata pak Devan.


"Beneran, Yah! Tapi nanti kalau bunda tidak boleh bagaimana. Bunda selalu bilang kalau Ara tidak boleh menerima apapun dari orang asing." Katanya.


Gadis kecil itu begitu polos, dia selalu mengatakan kebenaran.


"Sekarang kan om bukan orang asing. Om adalah ayah Ara. Iya kan?"


"Oh iya. Nanti om bantuin Ara bujuk bunda ya," Katanya.


Aku mendekat dan obrolan mereka seketika berhenti.


"Ara, turun."


"Tidak mau, Ara masih pengen di gendong Ayah om." Katanya, wajahnya kembali terlihat sedih.


"Dia bukan ayah Ara, jadi turun ya sekarang." Aku berusaha memperlembut ucapan ku tapi Ara tetap tidak mau, dia menggeleng bahkan ingin menangis lagi.


"Sudah lah, Nay. Biarkan seperti ini dulu. Aku tidak apa-apa kok."


"Tapi, Pak..."


"Ish, cantik kok mau mewek tidak boleh ya. Sekarang kita beli es krim saja, mau?"


"Mau mau!" Jawab Ara begitu antusias.


Pak Devan langsung melenggang begitu saja dengan membawa Ara di gendongannya.


"Pak Devan..." Teriak ku yang tetap di abaikan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung.....