
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
"Bunda, kita mau kemana sekarang, tidak ke rumah sakit lagi kan?" Pertanyaan Ara membuat langkah terhenti. Aku menunduk memandangi si kecil yang aku gandeng tangannya.
Ara mendongak, dia terdiam menatap fokus setelah bertanya. Menunggu jawaban dariku yang tertegun dalam sesaat.
Aku berjongkok di hadapannya, dan Ara terus menatapku tanpa berkedip.
"Bunda, Ara tidak mau ke rumah sakit lagi?" katanya lagi. Dia begitu berharap untuk tidak di bawa ke sana.
Sebenarnya aku juga tidak mau, tapi ini harus dilakukan. Ara harus terus mendapatkan pemeriksaan meski dia terlihat sehat.
Pemeriksaan rutin harus terus di lakukan untuk memastikan keadaan Ara akan selalu baik-baik saja.
"Sayang, kita memang akan ke rumah sakit, tapi hanya sebentar kok. Tidak lama hanya Ara di periksa dokter sebentar lalu kita pulang."
Pelan aku memberikan pengertian padanya. Dia harus bisa mengerti karena ini tidak boleh di lewatkan.
"Tapi kenapa, Bunda. Ara kan sudah sehat. Ara tidak pusing lagi kok." Katanya. Dia sungguh terlihat tak semangat untuk pergi ke rumah sakit.
"Meski Ara sehat Ara harus tetap di periksa. Ara juga mau lihat adeknya Ara kan?" Aku jadikan adiknya sebagai alasan. Tapi sebenarnya bukan hanya alasan karena ini juga waktunya memeriksakan kehamilan.
"Ara beneran bisa lihat adiknya Ara?" Ara berubah berbinar sekarang. Wajahnya terlihat sangat cerah dan sangat bahagia.
Aku mengangguk, "tentu. Ara bisa melihat adiknya Ara. Kita tunggu ayah sebentar lagi ya, setelah itu kita berangkat. Oke."
Ara mengangguk antusias sekarang. Akhirnya, aku bisa membuat Ara semangat dan mau di ajak ke rumah sakit untuk di periksa. Semoga dengan keberadaan adiknya akan menjadi kekuatan untuknya dan menjadikan semangat untuk dia cepat sembuh. Amin.
"Eh, sudah pada siap ya."
Aku yang baru saja ingin berdiri langsung menoleh, ternyata mas Devan sudah pulang. Dia menepati janjinya untuk pulang dan mengantarkan kami ke rumah sakit.
"Ayah!" Ara begitu antusias, dia berlari menghampiri mas Devan. Dia begitu bahagia bisa melihat ayah sambungnya yang pulang dari kantor.
Dengan cepat mas Devan mengangkat Ara, menggendongnya dan berjalan kearah ku yang juga berjalan kearahnya.
"Princess ayah cantik banget ya, hem.., jadi gemes deh," Aku tersenyum melihat mas Devan mencubit pipi Ara dengan gemas, membuat si kecil itu mengerucut dalam sesaat.
Sepertinya dia ingin protes, tapi entahlah.
"Ayah, nanti pipi Ara habis!" serunya.
Kami berdua tertawa, bagaimana mungkin bisa habis kalau hanya di cubit saja kan. Wajahnya terlihat sangat lucu karena kami berdua yang tertawa.
"Tidak mungkin akan habis, Sayang." jawab Mas Devan. Dia malah semakin gemas karenanya.
"Kita berangkat sekarang?" katanya lagi.
"Ayo berangkat, Yah. Ara sudah tidak sabar pengen lihat adik kecil." Kembali dia begitu antusias.
"Baiklah," Mas Devan mulai berjalan aku pun mengikutinya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
"Arghh!" Teriak Aditya begitu keras. Usahanya telah gagal untuk mendapatkan Ara dan sekarang dia malah terjerat kasus dengan keluarga Pratama karena ingin mengambil alih kekayaannya.
Memang belum di hukum tapi sudah di pastikan kalau dia tidak akan bisa bebas. Dia benar frustasi sekarang, apa yang akan dia lakukan.
Apa yang sudah dia dapatkan sekarang sudah kembali diambil alih oleh pemiliknya yang asli. Dia tidak mendapat apapun sekarang, bahkan sepersen dari harta Pratama pun tidak.
Semua kerja kerasnya hilang dan tak dapat dia miliki. Dia kehilangan segalanya. Bukan hanya kehilangan Ara, hartanya dan juga kehilangan Jihan, tapi sekarang dia kehilangan kehormatan yang selama ini dia perjuangkan.
Tak ada lagi orang yang percaya apalagi menghormati, dia benar-benar telah mendapat apa yang dia buat, menuai apa yang dia tanam.
Meski hukuman belum di jatuhkan tapi dia sudah ada di penjara, dia sudah berada di balik jeruji besi dan tak bisa keluar lagi. Miris. Itulah yang dia alami sekarang.
Dia tidak punya apapun lagi, tak ada tempat tinggal tak ada harta sedikitpun. Bisa di pastikan, jika dia keluar dari sana tentu hanya akan jadi gelandangan karena tak punya apapun lagi.
Bugh! Bugh!
Berkali-kali dia menjadikan tembok sebagai pelampiasan akan kegagalannya. Matanya melotot penuh dendam pada orang-orang yang telah membuat dia menjadi seperti ini sekarang.
"Hey, bisa diam tidak!" Seru seorang narapidana yang ada di tempat yang sama.
Dia terlihat sangat kesal karena apa yang di lakukan oleh Aditya sangat mengganggu istirahatnya.
Aditya tidak peduli, dia seolah tidak mendengar ucapan dari orang itu yang memperingatkannya.
"Argh!" teriaknya lagi.
Bugh!
Kembali Aditya melakukan hal yang sama, bahkan dia juga membuat kekacauan di sana. Dia begitu berisik dan mengundang amarah dari semua yang ada.
"Diam!" Sentaknya. Tapi Aditya tetap tidak peduli.
Beberapa orang mendekat karena begitu kesal akibat ulah Aditya, wajah mereka yang memang sudah seram kini terlihat semakin menyeramkan.
Bugh!
Satu pukulan mendarat pada perut Aditya dengan sangat tiba-tiba. Itulah cara mereka untuk bisa menghentikan kegilaan Aditya yang tak bisa dengan cara baik-baik.
"Diam dan jangan buat keonaran. Atau kalau tidak kami bisa melakukan hal yang lebih dari ini."
Ancamannya terdengar sangat menakutkan, membuat Aditya merinding di saat dia sudah tersungkur di lantai akibat pukulan yang sangat keras.
Aditya hanya bisa meringis menahan sakit, meringkuk menahan rasa menyesal karena semua yang terjadi padanya. Benarkah dia menyesal?
POV AUTHOR END...
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....