Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kedekatan Ara dan Pak Devan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Ara terus terdiam dan juga terus memelukku meski sudah sampai rumah pak Devan. Sebenarnya, aku sudah tidak mau lagi tinggal di rumah pak Devan yang sangat mewah ini tetapi Ara yang terus menginginkannya.


Bukan karena suka dengan rumah mewah dan juga nyaman semua ini melainkan Ara merasa aman dengan keberadaan pak Devan di sekitar kami. Apalagi setelah bertemu dengan mas Aditya tadi di rumah sakit, Ara sama sekali tak mau melihat luar.


Aku menjadi sangat sedih dengan apa yang telah terjadi pada Ara, dia menjadi pendiam dia juga sangat takut hingga dia tak mau melepaskan ku.


"Sayang, bunda ke toilet sebentar ya kamu di sini dulu di temani Sus Neni," kataku.


Tapi Ara menggeleng tak mengizinkan, dia terus memeluk ku dan tak memperbolehkan aku beranjak dari ranjang meski di sini sudah ada suster Neni.


"Non cantik, sekarang sama Sus dulu ya sebentar. Biar bunda ke toilet dulu," suster Neni pun ikut membujuk tapi Ara tetap kekeuh.


"Tidak mau, Ara mau sama bunda," semakin erat Ara memeluk ku dia sama sekali tidak membiarkan aku pergi darinya.


Di saat Ara selesai menjawab pak Devan masuk, dia sudah berganti baju sekarang. Dengan tanpa ragu pak Devan duduk di sisi Ara yang lain dia sudah tersenyum.


"Sayang, sama ayah dulu yuk. Bunda biar bersih-bersih dulu. Ara mau main sama ayah tidak, ayah punya boneka baru loh di kamar ayah," katanya begitu lembut.


Ya Allah, kenapa orang asing yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Ara bisa begitu lembut dan sayang seperti ini. Kenapa bukan mas Aditya ayahnya sendiri yang seperti ini.


Tanpa menjawab Ara langsung melepaskan ku dan beralih kepada pak Devan, dia langsung berjalan dengan lututnya untuk mendekat dan akhirnya langsung memeluk pak Devan.


Begitu nyaman nya kah Ara pada nya?


Aku terpaku melihatnya, ingin rasanya aku menangis jika membandingkan antara pak Devan dan juga mas Aditya. Mereka benar-benar berbanding terbalik begitu jauh.


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan sekarang biar Ara bersamaku," pak Devan berdiri dengan menggendong Ara.


"I_iya," aku gugup menjawab. Lagi-lagi aku hanya di buat kagum dengan pak Devan. Kenapa orang sebaik pak Devan bisa melakukan hal keburukan padaku.


Apakah apa yang terjadi kemarin hanya sebuah mimpi?


Rasanya tidak mudah di percaya jika melihat apa yang dia lakukan sekarang pada Ara. Jiwa kebapakan yang begitu lemah tak penuh kasih dan juga begitu melindungi ternyata memiliki sisi gelap yang begitu menakutkan.


"Kita ke kamar ayah sekarang?" katanya dengan mulai melangkah setelah Ara mengangguk.


Aku masih terus melihatnya ketika mereka keluar dari kamar bahkan suster Neni juga keluar dan mengikuti mereka dari belakang.


Di dalam pelukan Pak Devan Ara selalu merasa nyaman dia juga sangat suka dan selalu betah ketika bersamanya, tetapi kenapa hal itu malah membuatku semakin merasa tidak nyaman.


Aku takut dengan statusku yang tidak sebanding dengannya, bukan hanya karena aku seorang janda beranak satu tetapi juga dengan kasta yang berbeda diantara kami.


Jika saja kami benar-benar memiliki hubungan yang serius pasti akan banyak rintangan yang menghadang. Bukan hanya dari keluarganya saja tapi juga dari semua orang yang tidak menyukaiku yang hanya seorang janda yang pasti sudah mendapatkan cap negatif.


Apalagi kalau sampai Pak Abraham tahu karena identitasku yang dia ketahui sangat berbeda dengan kenyataannya pasti dia akan sangat kecewa bahkan menentang karena berpikir aku adalah pembohong besar.


Karena itulah aku tidak ingin berharap lebih pada hubunganku dengan Pak Devan. Aku berharap apa yang dia lakukan kemarin kepadaku tidak ada salah satu benih darinya yang hidup sehingga aku tidak akan ada ikatan apapun dengannya. Meski tidak sekarang aku ingin tetap bisa pergi dari dia sejauh-jauhnya dan hidup bahagia bersama Ara saja.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Setelah selesai bersih-bersih aku bergegas pergi ke kamar pak Devan untuk melihat apa yang sedang mereka berdua lakukan sekaligus ingin mengajak Ara kembali.


Hari sudah pagi dan pak Devan harus segera pergi ke kantor tidak mungkin aku akan membiarkan Ara terus bersamanya.


Ragu-ragu aku membuka pintu, aku sangat takut aku belum pernah masuk ke dalam kamar pak Devan selama aku tinggal di sini, bagaimana kalau dia marah?


Tok tok tok..


"Ara," aku tetap mengetuk pintu meski sudah terbilang terlambat karena pintu sudah terbuka.


Tak ada jawaban dari Ara ataupun dari Pak Devan.


Aku buka lebar-lebar dan perlahan masuk tanpa kembali menutup pintu.


Mata menatap takjub saat melihat Ara dan pak Devan yang sama-sama tertidur dengan begitu pulas dengan keadaan saling berpelukan dan di tengah-tengah mereka ada boneka barbie kecil.


Kening Ara tepat di bibir pak Devan bahkan antara kening dan juga bibir itu menyatu.


Pemandangan yang sangat indah. Seandainya saja mereka adalah ayah dan anak pastilah kebahagiaan itu benar-benar sangat nyata kami rasakan. Tapi sayang, takdir mengatakan hal lain.


Bagaimana aku membangunkan pak Devan, dia pasti sangat lelah karena semalaman tidak tidur karena mengantar kami ke rumah sakit dan terus menjaga Ara, tapi dia harus pergi ke kantor.


Kepala terus berpikir apa yang harus di lakukan hingga akhirnya setelah beberapa saat aku putuskan untuk tetap membangunkannya. Semoga saja dia tidak marah.


Kaki kembali melangkah dan mendekat, tangan mulai terulur dan menyentuh bahunya perlahan.


"Pa_pak. Pak Devan, sudah pagi. Pak," panggil ku begitu lirih supaya Ara tidak terganggu.


Perlahan Pak Devan membuka mata, ternyata tak susah untuk membangunkannya.


"Jam berapa?" tanyanya.


"Jam enam, Pak." jawabku.


"Sebentar lagi, bangunkan aku jam tujuh. Kalau aku bangun Ara pasti akan bangun juga. Dia baru saja tidur," jawabnya.


Matanya kembali tertutup dan tangannya yang sempat mengucek mata kini kembali memeluk Ara.


"Hem," aku patuh dan membiarkan itu. Tak lagi aku mengganggunya dan bergegas untuk keluar.


"Kalau kamu lelah tidurlah. Nanti biar Suster yang membangunkan_ku. Atau sekalian saja kamu tidur bersama kami."


Aku kembali menoleh setelah mendengar perkataannya yang sembarangan itu dan ternyata dia tersenyum meski matanya tetap tertutup.


Aku tak menjawab tapi hanya menggeleng saja lalu kembali berjalan untuk keluar. Ada-ada saja pak Devan, bagaimana mungkin aku akan tidur bersamanya di satu ranjang yang sama.


"Nay, Nay.."


Kata-kata itu yang aku dengar saat aku menutup pintu namun belum sempurna dan setelah itu tak ada lagi suara yang aku dengar.


Meski tidak tidur semalaman tapi rasa kantuk sama sekali tidak menghampiri ku hingga aku putuskan untuk pergi ke dapur dan membantu yang lain untuk membuat sarapan.


Tau kalau akhirnya akan di tolak untuk membantu tapi tak masalah kan jika di coba lagi.


"Pagi," sapa_ku pada sejumlah pelayan yang ada di dapur. Mereka berjumlah empat orang termasuk suster Neni.


"Pagi, Nya." jawab mereka semua.


Lagi-lagi mereka memanggil ku dengan sebutan nyonya, emangnya aku istrinya tuan mereka apa?


"Hem, bikin sarapan apa pagi ini. Bisa aku bantu?" aku tetap mendekat.


"I_ini..., hem tidak usah, Nya. Lebih baik nyonya istirahat saja. Biar semuanya kami yang kerjakan," suster Neni yang berbicara. Dan ternyata benar, aku di tolak di sini.


"Aku tidak lelah, biarkan aku bantu," aku tetap kekeuh dan langsung mengambil alih pisau dari salah satu pelayan.


Meski begitu banyak pisau di sana tapi aku langsung mengambil alih dari salah satu dari mereka dengan itu pasti akan langsung minggir.


"Tidak usah, Nya. Biar saya saja," katanya dan ingin mempertahankan pisau tersebut.


"Tidak apa-apa, masakan ku tidak akan mengandung racun kok."


Aku tersenyum dan langsung mengerjakan apa yang baru saja pelayan itu kerjakan.


Mereka semua terlihat saling pandang ingin menolak bantuan ku karena takut dengan Tuan mereka tapi aku begitu kekeuh melakukannya dan mereka tidak berani menolak ku.


Lagian aku bukan siapa-siapa di sini, bukan ratu yang pekerjaannya hanya tidur dan makan. Aku di sini hanya numpang dan harus tetap melakukan pekerjaan sebisaku.


"Tapi, Nya," suster Neni mendekat.


"Tidak apa-apa, Sus. Kalau Tuan kalian marah biar aku yang menanggung hukuman nya. Kalau kalian di pecat nanti kalian ikut aku. Kita keluar bersama-sama dari sini," kataku yang sok-sokan.


Padahal aku geli sendiri, sok mau mengajak mereka padahal untuk membayar aku tak punya uang. Lucu sekali.


"Ta_tapi..."


"Sudah, lebih baik bantu aku dan kita selesaikan bersama-sama. Bukankah jika di lakukan bersama-sama akan cepat selesai?"


"I_iya..." akhirnya suster Neni pasrah dan membiarkan aku membantu, begitu juga dengan para pelayan yang sudah diam dan tak berani berkata apapun lagi.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....