Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Ayah Akan Pulang Kan?



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Sepanjang perjalanan aku hanya diam tak berkata apapun kepada Mika. Untung saja ku tidak di pecat oleh pak Devan kalau saja di pecat mungkin aku benar akan nangis kali ini.


Tak tau harus mencari pekerjaan di mana lagi jika hari ini kehilangan pekerjaan dan tak tau harus bagaimana mencukupi kebutuhan kami. Tapi alhamdulillah, aku tidak kehilangan pekerjaan hanya saja aku ingin marah rasanya karena pak Devan sedikit merendahkan ku dan menganggap aku adalah perempuan yang tidak baik.


Dia berpikir aku memalsukan identitas karena ingin menggoda para atasan bahkan aku ingin marah juga, bahkan aku tadi sempat marah ketika mengatakan bahwa Ara bisa jadi datang karena hubungan gelap dari salah satu atasanku.


Aku ingin marah tapi aku masih sangat membutuhkan pekerjaan. Aku ingin menjelaskan bagaimana kehidupan ku sebenarnya tapi apakah pak Devan akan percaya? aku rasa tidak!


Laki-laki seperti dia hanya bisa merendahkan orang lain, menilai orang lain tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Semoga saja besok-besok pak Devan tidak akan membuat masalah.


"Nay, kamu kenapa sih, dari tadi diam terus. Apakah kamu sakit?" akhirnya Mika membuka suara mungkin dia gak tahan melihat aku yang terus diam seperti sekarang ini.


Aku masih diam juga karena masih sangat kesal dengan pak Devan, bisa-bisanya dia yang seorang atasan merendahkan bawahannya seperti itu. Aku memang sadar aku bukan orang yang sempurna dan jelas juga masih banyak dosa tapi tidak mungkin aku akan melakukan hal itu.


Aku masih tau batasan dan aku juga tidak mau menjadi wanita murahan hanya karena ingin mencukupi kebutuhan.


"Tidak aku hanya merasa sangat lelah saja. Cepatlah sedikit Mik, aku sangat merindukan Ara," kataku.


Seperti biasa aku hanya nebeng Mika saat pulang. Rumah kamu tidak dekat tapi rumah Mika melewati rumahku jadi biar sekalian kan, sama hitung-hitung irit uang ongkos.


"Katakan dulu kenapa, bagaimana aku bisa cepat kalau kamu hanya diam tak mengatakan apapun seperti ini tapi wajahnya nggak enak banget gitu. Cepat gih katakan," Mika selalu saja mendesak dia memang seperti itu orangnya.


Dia benar-benar sudah seperti saudara sudah seperti kakak untuk ku yang akan selalu mengomel dan akan selalu mengomentari hal-hal kecil sekaligus. Tapi aku sangat bahagia bisa memiliki dia sebagai sahabat rasa saudara.


"Mik, aku sekarang kok jadi malas kerja ya. Pak Devan benar-benar keterlaluan," perkataan ku begitu lesu tal semangat, iyalah siapa yang akan semangat kerja jika atasannya tidak cocok seperti Pak Devan.


"Kenapa, apakah karena pak Devan?" ucapan Mika benar-benar tepat, aku memang malas gara-gara dia. Kalau saja masih pak Abraham yang menjadi atasanku mungkin aku akan selalu semangat tapi ini?


Aku tidak menjawab aku masih terlalu malas untuk bicara tapi meski dengan seperti itu Mika sudah paham dengan apa yang terjadi.


"Sudahlah Nay, jangan kamu pikirkan terlalu dalam hanya karena atasan seperti itu. Kamu harus mengingat Ara, Dia sangat membutuhkan semuanya dan dia sebentar lagi juga akan masuk sekolah kan?" Mika mulai menasehati ku.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Mika tetapi yang namanya mood kadang akan berubah jika di sekitar kita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.


"Abaikan saja Pak Devan Jika dia membuat ulah, atau berbicara yang tidak sesuai dengan kenyataan yang kamu alami. Memang semua orang tidak akan bisa mengerti dan memahami apa yang terjadi kepada kita karena mereka hanya peduli pada diri sendiri. Jadi, kamu juga harus seperti itu abaikan semua orang yang tidak menganggap mu atau merendahkan mu demi dirimu sendiri demi Ara."


Ucapan Mika memang benar aku hanya butuh peduli dengan diriku sendiri dan juga bidadari kecilku yang begitu sangat membutuhkanku membutuhkan perjuanganku untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah untuk memenuhi kebutuhan kami dan yang jelas untuk kebutuhan Ara yang sebentar lagi akan sekolah.


"Kamu bener, terima kasih Mik," kembali hatiku merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Mika.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Seketika aku berlari masuk ke dalam rumah ketika mendengar suara Ara menangis. Aku selalu khawatir dan takut jika Ara menangis. Entah kenapa dia menangis kali ini.


Bukan hanya aku yang berlari tetapi Mika juga ikut berlari mengejarku karena dia juga sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi kepada Ara.


Aku langsung menghampiri Ara yang kini tengah dipeluk oleh Mbok Darmi di dalam kamarnya dan terus berusaha untuk ditenangkan, tetapi Ara semakin keras menangis aku yakin ada sesuatu yang membuat dia menjadi seperti itu.


Ara bukanlah anak yang cengeng dia selalu ceria ketika di hadapanku tetapi entah ketika aku pergi bekerja semoga saja tidak.


"Sayang, kamu kenapa menangis?" aku langsung beralih mengambil posisi Mbok Darmi memeluknya, berharap dengan cara itu Ara akan diam dan juga akan menceritakan semua yang dia alami selama aku pergi.


Setelah kedatanganku tiba-tiba saja Ara langsung diam dari tangis meski dia masih sesenggukan. t


Tangannya juga langsung mengusap air matanya, dia tersenyum seolah menyembunyikan duka yang dia rasakan.


Aku jadi sangat penasaran sebenarnya apa yang terjadi dan yang ingin dia sembunyikan dariku." Ara sayang, sekarang cerita sama Bunda apa yang terjadi pada mu dan kenapa kamu menangis?" tanyaku begitu lembut, aku takut akan semakin melukai hatinya.


"Tidak apa-apa kok Bunda, tadi Ara hanya mimpi buruk saja." katanya dengan bibir mungilnya.


Benarkah itu yang terjadi kepadanya? Apakah aku harus percaya atau tidak?


"Emangnya Ara mimpi apa?" aku masih sangat penasaran dan berharap Ara akan menceritakan semuanya meskipun itu hanya mimpi.


"Bunda, Ara bener-bener punya ayah kan Bunda?" suaranya begitu bertalu-talu, menahan rasa penasaran penuh tanda tanya dan juga matanya mengisyaratkan dia begitu memohon tentang kejujuran.


"Hey, bukankah Bunda sudah katakan kalau Ara memiliki ayah. a


Ayahnya Ara kan sedang bekerja kalau uang ayah sudah banyak pasti ayah akan pulang. Sebentar lagi Ara kan juga harus sekolah jadi ayah harus bekerja lebih keras lagi supaya bisa menyekolahkan Ara."


Rasanya begitu sakit karena harus kembali berbohong, memberikan harapan palsu yang tidak akan pernah menjadi nyata. Mimpi hanyalah tinggal mimpi yang tidak akan pernah bisa digapai meski masih begitu mengharapkan.


"Ayah beneran akan pulang kan Bunda?" suaranya semakin mengiris hatiku. Ingin sekali air mata ini jatuh tetapi aku berusaha menahan karena tidak ingin membuat Ara sedih.


'Ya Tuhan, ampunilah aku yang selalu saja memberi harapan kosong kepada anakku. Berikanlah dia kesempurnaan dalam hidup ini meski tidak bisa dia dapat dari ayahnya. Biarkanlah aku yang menjadi ibu sekaligus Ayah untukmu. Kuatkan aku,' hatiku begitu sedih dengan harapan yang semoga bisa terkabul.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...