
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Tubuhku bergetar namun dengan lemas bagai tak bertulang. Mata membulat terang namun dengan air mata yang perlahan mulai mengucur dengan pelan namun semakin deras.
Tubuh terhuyung dan membentur tembok hingga perlahan mulai merosot tak berdaya dan jatuh terduduk begitu saja di lantai kamar mandi.
Bagaimana ini mungkin?
Sesuatu yang benar-benar tidak aku harapkan kini telah terjadi kepadaku. Garis dua dari testpack memberikan kejelasan yang membuat dadaku terasa sesak seolah terhimpit oleh bebatuan yang begitu besar-besar.
Dadaku sesak dan nafasku mulai tersengal susah untuk oksigen memberikan kesegaran pada paru-paru.
Cobaan apa lagi ini?
"Arghhh!" teriakan tertahan yang begitu menyakitkan keluar dari mulutku setelah mengetahui kalau aku memang benar-benar telah hamil. Aku mengandung anak dari pak Devan yang ingin aku jauhi sejauh-jauhnya.
Belum cukuplah semua ujian yang aku dapatkan ini ya Allah?
Bagaimana mungkin aku bisa berpikir positif akan Allah dan segala takdir yang sudah dia siapkan untukku jika terus saja seperti ini. Lagi-lagi ujian yang begitu berat telah datang kepadaku.
Dengan siapa aku akan mengadu sekarang, dengan siapa aku akan membagi penderitaan yang telah datang. Entah ini sebuah duka atau mungkin sebuah suka yang sebenarnya aku tidak tau.
Jika ini adalah Suka, kenapa dengan cara yang seperti ini kedatangannya. Kenapa tidak datang ketika aku telah benar menjadi milik seorang pria tentu dengan status yang jelas, tapi ini?
Dunia seakan runtuh sekarang. Rasanya sungguh tak sanggup lagi untuk menjalani semua yang telah datang dengan silih berganti. Kapan aku akan dapatkan kebahagiaan yang nyata yang selamanya bukan hanya yang sesaat dan penuh kepalsuan.
Siapa yang harus aku salahkan? Aku, pak Devan atau Allah dan juga takdirnya?
Jelas aku merasa tidak mendapat keadilan dalam sesaat. Kesalahan apa yang telah aku perbuat di masa lalu sampai semua begitu silih berganti seperti ini.
Apakah aku salah dan berdosa jika marah kepada Allah? Apakah aku salah dan berdosa jika berpikiran negatif tentang takdirnya?
Bagaimana mungkin pemikiran positif bisa datang jika semua yang terjadi rasanya begitu menyesakkan seperti ini.
Bagaimana jika aku berpaling dari jalan-Nya, berpaling dari semua keagungan-Nya, bahkan berpaling dari semua kebenaran-Nya.
Semua sungguh tidak adil padaku, semua seolah mempermainkan ku begitu juga dengan takdirku. Awalnya memberikan kebahagiaan yang begitu tinggi tapi setelahnya menjatuhkan hingga sampai ke tempat paling terendah di antara luka-luka yang susah untuk di obati.
"Arghh! Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin!"
Tangisanku pecah seiring rasa hancur yang kembali menggerogoti semangat yang kini hanya tinggal lesu yang tanpa sadar seolah akan menuju ke tempat putus asa.
Benarkah jika aku putus asa dengan hidupku?
Ku terus usap-usap wajah yang terasa sangat gelap dan ingin menerangkannya. Wajah yang terasa sangat lelah dan ingin sekali menguatkannya. Wajah yang terasa penuh duka dan ingin berusaha untuk kembali menghadirkan kebahagiaannya. Tapi, apakah masih bisa?
Tak percaya tapi inilah kenyataannya, kenyataan yang sudah terjadi dan tidak bisa di ubah kembali dengan jalan yang seperti apapun.
"Apa yang harus aku lakukan?" tangisan semakin menjadi namun semakin tak berdaya.
Seandainya Ara_ku tau entah apa yang akan dia lakukan saat melihat ku yang seperti ini, apakah dia akan bersedih atau bahkan dia akan takut.
Untung saja ini masih di pagi buta, jadi Ara belum bangun dari tidurnya. Bahkan keadaan sekitar juga masih sepi.
Rasanya kepalaku ingin pecah merasakan semua ini.
Sekarang, bukan hanya akan di permalukan lagi tapi juga akan di hina besar-besaran jika ada yang tau aku hamil di luar nikah.
Tak ada lagi bukti yang akan menjelaskan status yang akan bisa membelaku karena memang tidak ada status yang tersemat dalam hidupku.
Dulu, saat Ara aku masih punya senjata untuk membuktikan kalau aku hamil karena adanya suami, tapi sekarang? Dengan apa aku akan buktikan kepada semua orang? Apa yang akan aku katakan pada semua orang jika mereka bertanya akan kebenaran dari ayah dari anak dalam kandungan ini?
Benarkah aku harus kembali kepada pak Devan dan mengatakan semuanya? Meminta dia bertanggung jawab akan anak yang telah aku kandung yang merupakan darah dagingnya?
Apakah dia akan percaya, bagaimana kalau tidak?
Begitu banyak pikiran yang datang, begitu banyak ketakutan yang juga menyelimuti dan seolah lebih besar.
Ataukah aku harus menggugurkan bayi yang tidak berdosa ini supaya semua masalah ini berakhir?
Tapi, jika aku melakukannya bukankah aku sama saja seperti seorang pembunuh? Bahkan aku telah membunuh anak sendiri.
Hewan saja tidak akan tega menyakiti apalagi membunuh anaknya, bagaimana mungkin manusia yang di ciptakan begitu sempurna dengan adanya akal dan hati bisa melakukan semua ini. Dimana akal itu berada?
Menjalani kehamilan tanpa kehadiran dari laki-laki yang telah membuat hamil memang tidak akan mudah aku sudah merasakannya bagaimana rasanya ketika hamil Ara dulu.
Susah payah di tanggung sendiri semua keinginan juga harus di wujudkan sendiri.
Bukan hanya memikirkan bagaimana kesehatan dan keselamatannya saja tapi juga harus memikirkan bagaimana kebutuhan juga masa depannya.
"Arghh!" kembali aku berteriak karena begitu frustasi. Aku tekan kepalaku begitu kuat karena rasanya memang sangat pusing memikirkan segalanya. Rasanya semakin menyakitkan.
Tok tok tok....
"Bunda, bunda di kamar mandi ya? Ara pengen pipis," suara Ara yang masih terdengar parau khas bangun tidur mengejutkan ku.
Sontak aku hapus air mata dan cepat beranjak meski rasanya sangat malas.
"Bunda, bunda lagi apa kok tidak jawab, bunda baik-baik saja kan?" imbuhnya lagi dan sekarang lebih keras dari yang sebelumnya.
"Bunda, cepetan! Ara sudah tidak bisa menahannya lagi!" Ara terdengar sudah benar-benar tidak bisa tahan, suaranya juga sudah menahan sesuatu.
"I_iya!" jawabku hanya singkat saja.
Setelah memastikan mata dan pipiku kering aku buka pintu kamar mandi dan Ara langsung masuk tanpa melihat ku.
"Bunda lama banget sih," protesnya meski mata tak melihat.
"Maafin bunda Ya," Aku keluar dari kamar mandi dan membiarkan Ara melakukannya sendiri karena dia memang sudah terbiasa untuk itu.
Aku patut berterima kasih dengan mbok Darmi yang telah mengajarkan Ara untuk selalu bisa mandiri dan bisa dalam hal apapun.
Aku duduk di ruang tengah di kursi kayu yang terdapat busa di atasnya. Mencoba untuk bisa memenangkan diri dan berpikir jalan apa yang harus aku lakukan.
Ingin sekali mengatakannya kepada pak Devan tentang semua ini tapi saat mengingat lagi kata-kata pak Abraham yang penuh dengan kekecewaan rasanya tak akan sampai.
Pak Abraham sepertinya sangat marah belum tentu juga dia akan menerima ku dan mengakui anak yang aku kandung adalah cucunya, anak dari pak Devan.
Tapi jika tidak! Benarkah aku akan sanggup menanggung semua derita lagi seperti dulu? Apakah aku sanggup berjuang sendiri dan menjalani semuanya sendiri?
Berjuang untuk anak ini dan juga berjuang untuk Ara? Bagaimana jika aku tidak sanggup mencukupi semua kebutuhannya.
Aku tau, setiap anak akan membawa rezekinya sendiri semenjak dia ada. Tapi semua juga akan terasa berat untuk di jalani juga tidak akan mudah.
Ya Allah, dilema ini benar-benar membuat aku pusing.
Tunjukkan jalan yang terbaik, yang akan membahagiakan dan tidak akan merugikan siapapun.
Bukan hanya aku saja, tapi semua wanita pasti akan merasakan hal yang sama jika mengalami hal yang seperti aku alami sekarang ini.
Sedih, hancur dan putus asa. Jelas semua akan merasakan ini.
Tapi, aku mencoba untuk bisa tenang, mencoba untuk bisa menerima keadaan dan berdamai dengan takdir yang meski sangat menyakitkan ini. Aku harus bisa kuat.
✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....