
"Cieee....." goda Puspa saat mendengar kalimat panjang lebar Alexander yang menyatakan kalo dirinya jatuh cinta duluan pada Rihana
Rihana tersipu. Pipinya langsung merona saat mendengar Alexander mengatakannya secara live.
Ada yang terbang keluar dari.dalam perutnya. Bukan hanya satu, tapi sangat banyak dan senyumnya pun bertahan dengan manis hingga saat ini.
Rihana sudah ngga bisa lagi menyembunyikan raut tersipunya di depan Puspa yang juga ikut tersenyum senang. Tadi pun Puspa melihat Herdin ada di samping Alexander. Entah kenapa dia merasa rindu dengan laki laki itu.
Pengakuan Alexander membuatnya iri pada Rihana. Kapan ya, Herdin akan mengatakan kata kata yang pastinya akan membuat jantungnya berdetak kencang. Puspa ngga ingin muluk muluk sampai live segala. Cukup di saat mereka sedang berdua saja. Asal Herdin mengatakannnya, Puspa akan merasa sangat bahagia.
Rihana kembali melihat raut lembut Alexander yang kini sudah berubah tegas dan dingin kembali.
Iiih, kenapa dia paling bisa mengubah ekspresinya hingga berubah seratus delapan puluh derajat dengan mudahnya, omel Rihana gemas dalam hati.
Alex, terimakasih, batinnya haru. Laki laki mantan teman SMAnya sudah mengatakan yang memang sudah seharusnya publik tau.
Tentang asal usulnya, memang ngga perlu semua orang tau. Karena hanya akan membuka luka hati yang sudah mengering.
Seperti apa yang dikatakan Alexander, dirinya pun tak tertarik untuk mengetahui asal usul hidup orang lain.
Mungkin nanti saat bertemu dengan laki laki yang sempat dia ragukan akan menjadi kekasihnya itu, dia akan memberikan pelukan tanda terimakasihnya. Sedikit kissing mungkin.
Memikirkannya membuat jantung Rihana berdegup sangat kencang.
Sementara itu di ruang Opa Airlangga semuanya bertepuk tangan dan tertawa senang mendengar jawaban berkelas Alexander.
Ngga disangka Alexander bisa berperan dengan sangat baik dalam situasi yang sulit ini dalan menghadapi para pewarta itu.
Harusnya yang mereka angkat dan hebohkan berita penanggulangan kemiskinan atau berita korupsi kelas kakap yang hanya dianggap kasus biasa. Tapi malah pewarta itu terjebak oleh kasus receh ngga berguna seperti ini.
Oma Mien sampai menghapus air matanya yang mengalir pelan. Dalam hati bersyukur karena Alexamder ngga membahas tentang orang tua Rihana. Beliau semakin yakin menyerahkan kebahagiaan cucunya pada Alexander.
Nidya menepi dengan perasaan terguncang. Dia sudah berusaha move on. Tapi mendengar pernyataan Alexander yang lebih dulu jatuh cinta pada Rihana membuat hatinya seakan dihempaskan di tempat yang sangat jauh. Terasa sakit dan kecewa yang menjadi satu.
"Masih belum move on, heh," lembut suara Ansel menyapanya. Adik sepupu tengilnya pun memeluknya tanpa dia bisa menolak. Dia sangat butuh sandaran untuk saat ini.
"Lama lama pasti lo bakal bisa lupa," bujuk Ansel yang hanya diangguki Nidya.
Dia memang harus berusaha lebih keras lagi, kan?
Di ruangannya Dewan tersenyum getir. Hatinya beribu kali mengucapkan terimakasih karena Alexander tidak membuka aibnya.
Tapi hatinya pun tercubit mendengar pernyataan Alexander yang sangat mencintai Rihana, walau jarak membentang di antara keduanya. Walaupun sempat putus kontak. Tapi Alexander tetap kokoh bertahan.
Dia merasa malu, harusnya dia tetap melajang, menolak keputuasan orang tuanya menikahkannya dengan Irena. Bahkan pernah menidurinya dalam keadaan mabok alkohol. Hanya malam itu, tapi bisa membuat Aurora hadir di tengah mereka.
Apa yang sudah dia lakukan?
Dia sudah membuat Irena dan Aurora menderita. Tapi yang paling dalam penderitaannya pastilah Dilara dan putrinya Rihana. Sampai gadis kecintaannya itu meninggal akibat menanggung sedih karena merasa sudah dikhianati.
Keluarganya sekarang kacau balau karena dia ngga seteguh Alexander mempertahankan perempuan yang dia cintai.
Afif-Papa Alexander meenepuk pelan pundaknya membuat Dewan menoleh.
"Bukan," kata Afif sambil menggelengkan kepalanya.
"Siapa?" Hati Dewan berdetak ngga enak.
Afif menatapnya sebentar sebelum membuang pandangannya ke tempat lain. Lidahnya kaku untuk berucap.
"Aurora?" Suara Dewan bergetar saat bertanya. Sangat ragu.
Afif mengangguk tanpa melihat ke arahnya. Dia tau, pasti saat ini wajah sahabatnya sudah pucat pasi. Aurora sangat diluar dugaan. Mungkin jika perempuan sudah patah hati, sikapnya akan berubah secara drastis.
Gadis itu terlalu mencintai Alexander. Dia ngga terima dengan penolakan Alexamder. Apalagi Rihana juga mengambil tempat di hati papa, opa dan omanya.
Sifat baiknya hilang, terkubur dengan perasaan sakit hati dan ingin menyakiti Rihana.
Afif menghela nafas dengan berbagai analisa yang memenuhi kepalanya.
"Aurora butuh psikiater. Dia sakit, Dewan. Jiwanya butuh disembuhkan," ucap Afif yang kini menatap Dewan yang masih bergeming dengan tatapan kosongnya.
"Aku merasa, akulah yang sudah membuatnya jadi seperti itu," ucap Dewan pahit. Dia merasa gagal sudah menjadi papa yang baik untuk putrinya Aurora. Sekarang Aurora sudah menjadi sosok yang sama sekali ngga dikenalinya.
Air mata menggenang di matanya.
"Kita semua punya kesalahan di masa lalu. Tapi untuk hal ini, aku, Sofia dan Hendilah penyebab kehancuran ini," jujur Afif dengan perasaan bersalah yang mengacaukan seluruh isi dadanya.
Kasian Hendy yang sampai kehilangan putranya. Bahkan kini istrinya berada di ICU dan belum sadar.
Dewan pun sudah menerima karmanya dengan skandal yang dilakukan Aurora. Bahkan dia pun sudah hancur dengan telah meninggalnya Dilara.
Hanya dia yang belum mendapat karma dari perbuatannya. Hati dan pikiran Afif ngga tenang. Dia dikejar rasa takut. Takut kehilangan orang orang yang dia cintai.
Dewan kembali mengusap air matanya. Dia ngga bisa menyalahkan ketiganya. Semua sudah terjadi. Hal yang ngga mereka sangka sangka. Mereka menuai panen dari hasil pembibitan mereka. Panen yang menyesakkan dada.
Di ruangannya Xavi menghembuskan nafas lega. Kemarahannya mencair mendengar kalimat kalimat yang diucapkan Alexander.
Ternyata dia laki laki setia, batinnya menanggapi pernyataan pernyataan Alexander tentang cintanya yang begitu lugas seakan mengalir begitu saja tanpa dia harus memikirkannya lebih dulu.
Juga pembelaannya terhadap Aiden. Xavi sangat berterimakasih karenanya.
"Dia memang sangat mengagumkan. Klien klien saja selalu kalah berdebat dengannya. Apalagi para pencari berita gosip murahan ini, bukan lawan berarti buatnya," komentar Roki yang disetujui Xavi dalam hati.
Pantasan Alexander sangat disegani di kalangan pebisnis, walaupun dia masih muda. Dia sangat mumpuni dan berkualitas.Ngga salah gosip yang dia dengar tentang kepopuleran Alexander selama dia di luar negeri.
"Kamu sudah yakin dengan tuntutannya?" tanya Roki menatapnya serius. Setelah kepergian Aiden, keceriaan dan tawa yang selalu menghiasi wajahnya kini hilang. Yang ada hanya duka dan kemarahan. Apa lagi mama Xavi sekarang belum sadar di ruang ICU.
Mengingat Aiden juga membuat dada Rokk sesak. Selama imi dia selalu membantu Aiden, baik di pekerjaan mau pun saat harus menggantikan tugasnya, karena si player itu akan kencan dengan kekasih kekasihnya. Tanpa sadar Roki menghela nafas berat. Kehilangan Aiden sangat berpengaruh besar bagi mereka.
"Apa lagi yang membuatku kurang yakin? Seumur hidup mendekam di dalam penjara pun ngga akan mampu membuat gadis iblis itu bisa mengembalikan Aiden," geram Xavi dengan emosi yang mulai naik lagi.
Setiap membicarakan Aurora, hanya kebencian saja yang dia punya. Dia sakit hati dan dendam.
Roki ngga menyahut. Ngga mau menambah panas hati Xavi. Semua perkataan Xavi benar, hukuman seumur hidup pun ngga akan membuat dia, Xavi dan juga keluarganya bahagia. Jiwa mereka sudah dibawa pergi separuhnya oleh Aiden.