
Aurora menatap kesal pada pasangan yang berada ngga jauh di depannya. Kalo gadis itu sepupu Rihana, berarti masih saudaraan juga dengan dirinya.
Aurora sangat ngga sudi menerimanya. Apalagi kini Kak Herdin berpaling pada gadis itu. Sangat terlihat jelas.
Semua miliknya sudah terampas. Kak Alex, sekarang Kak Herdin. Dia ngga punya apa apa lagi sekarang. Bahkan kebebasan pun dia sudah ngga punya lagi. Sepertinya polisi sudah mengincarnya.
Irena melihat wajah putrinya yang keruh. Beliau pun merasa kurang nyaman dengan keadaan sekarang. Apalagi suaminya pun seakan mengacuhkan mereka. Terlalu memberi perhatian yang berlebihan pada putri yang baru dia temukan. Sedangkan putri yang bersamanya selama ini sedang mengalami masalah besar, sama sekali ngga dia hiraukan. Hati Irena sangat sakit.
Selama ini Dewan mengacuhkannya saja sudah membuat luka di hatinya sangat berdarah, apalagi sekarang. Melihat sorot mata layu Aurora membuat hatinya sangat hancur.
Teganya suaminya!
Aurora menatap ngga minat pada makanan yang dibawa pelayan resto. Bahkan baunya membuatnya mual. Dia sampai menutup mulutnya yang akan mengeluarkan suara muntahan. Dia menahannya sampai wajahnya terlihat pucat.
Haah! Mual?
Aurora merinding tiba tiba. Tanpa sadar Aurora menggelengkan kepalanya.
Aku hamil?
NGGAK!
NGGAAAK.......!
"Kamu kenapa Aurora?" Mamanya -Irena menatapnya bingung.
"Kamu sakit?" tanya mamanya panik melihat Aurora yang tiba tiba berdiri.
Aurora ngga menjawab. Di langsung berlari ke wastafel yang ada di dekat toilet.
Irena menyusulnya dengan panik. Apalagi dia melihat Aurora muntah.
"Kamu sakit, nak?" tanya mamanya sambil memberikan tisu dan memijat pundak Aurora yang terasa dingin.
Aurora terdiam. Kalo.memang dia hamil, dia pasti akan hancur. Apalagi kalo yang dikandungnya anak Aiden, laki laki yang sudah dia habisi. Ayah anaknya.
Pikirannya semrawut. Tangannya terus memutar kran, membiarkan air kran mengalir, membersihkan muntahannya yang hanya berupa cairan. Karena seharian ini belum ada makanan yang masuk dalam perutnya.
*
*
*
"Alex, apa kamu ngga ada kerjaan?" tanya Rihana pusing melihat Alexander yang masih mengekorinya sampai ke ruangannya setelah mereka makan siang.
"Ada."
"Ya sudah, kamu balik ke perusahaan kamu," usir Rihana sambil berdiri di depan pintu ruangannya.
"Nanti Herdin akan mengantar laptop ke sini," senyum Alexander sambil mencondongkan tubuhnya semakin mendekat, membuat darah Rihana tersirap dan tubuhnya menjadi kaku
Wajah Alexander begitu dekat.
CEKLEK
"Ayo, masuk," bisik Alexander dengan kedipan nakal sebelah matamya.
Semburat merah terhampar jelas di pipi Rihana.
Ternyata Alexander membuka pintu ruangannya yang handlenya berada di belakang posisi tubuh Rihana yang sedang berdiri.
Dengan jantung yang berdebar sangat kencang, Rihana memasuki ruangannya tanpa bisa berucap sepatah kata pun.
Alexander mengembangkan senyum gemasnya melihat reaksi kaget dan malu malu Rihana.
Dia pun sebenarnya sedang menahan hasratnya untuk mengecup pipi gadis itu ketika tadi wajah mereka sangat dekat.
Alexander berusaha bersikap biasa saja dan tenang saat berjalan di belakang Rihana. Padahal dia kembali mati matian menahan hasratnya untuk menyergap gadis itu dan membaringkannya di sofa.
Alexander pun merasa dirinya sudah gila karena merasa sangat nyandu dengan Ziranya. Dia akan minta orang tua mereka mempercepat pernikahan mereka.
Dengan gerak kaku, Rihana menuju meja kerjanya. Dia melirik Alexander yang malah mengedipkan lagi sebelah matanya dengan wajah tampannya.
Hampir saja setumpuk map di dekatnya jatuh karena tersenggol oleh tangannya Reflek dia menahannya dengan wajah panas yang semakin merona dengan matang.
Rihana mengumpat habis habisan dalam hati. Dia merasa kesal dengan kedipan mata Alexander dan mengutuknya agar ngga bisa lagi berkedip untuk selamanya.
Alexander tersenyum lebar, dia tertawa tanpa suara dan berjalan mendekati Rihana, membantunya menarik berkas berkas yang hampir jatuh itu agak ke tengah.
"Kamu kenapa?" tanya Alexander dengan tatapan menggodanya. Dia senang melihat Zira gugup. Hatinya mengembang karenanya.
"Mata kamu itu yang kenapa. Sana berobat ke dokter. Nanti kalo ngga bisa ngedip lagi, baru tau rasa," sarkas Rihana, tapi tetap saja mengkhawatirkan efek kutuknya tadi.
Alexander akhirnya tertawa. Dia sudah ngga bisa menahan suara tawanya lagj. Benar benar tergelak melihat wajah galak Rihana.
Rihana akui, Alexander semakin tampan dalam mode gini. Dia datar dan kaku saja banyak yang tergila gila padanya. Apalagi jika para perempuan itu melihat Alexander tertawa begini. Pasti mereka akan semakin mengubernya tanpa lelah.
"Kelihatannya kita mengganggu."
Satu suara laki laki yang cukup dikenal membuat mereka menoleh.
Herdin datang seperti yang dikatakan Alexander. Dia sedang bersama Puspa.
Rihana menatap binar di mata Puspa.
Dia ketinggalan sesuatu?
"Datang juga," sambut Alexander dengan sisa kekehannya. Dalam hari merasa senang melihat ada Puspa di samping Herdin. Berharap laki laki itu segera move on dari Aurora.
Melihat tatapan menebak Rihana, Puspa dengan malu malu melepaskan gandengan Herdin.
Herdin tersenyum mengerti. Dia pun baru sadar sudah menggandeng Puspa sejak keluar dari lift. Setelah pernyataan refleknya yang direspon dengan anggukan Puspa.
Kalo kita sering jalan bareng gimana? Kamu mau?
Herdin mengumpat dalam hati karena harusnya dia berkata, gimana kalo kita jadian?
Dasar bodoh, makinya lagi dalam hati.
Tapi mungkin kalo dia menembak Puspa saat itu akan terlalu cepat. Bisa saja sepupu Rihana akan menolaknya kalau dia melakukannya.
Gadis baik baik seperti Puspa pasti akan menganggap pernyataan sukanya hanya main main. Mereka baru kali ini jalan berdua.
Herdin membiarkan Puspa meninggalkannya, sementara Alexander mendekat ke arahnya
"Sukses?" tanya Alexander saat meraih tas laptopnya yang diangsurkan Herdin.
"Belum."
"Kok, belum?" Alexander menatap kesal, padahal dia sudah yakin kalo Herdin sudah berhasil mengenyahkan sosok Aurora.
Herdin terdiam, bingung menjawabnya.
"Sampai kapan kamu mau move on," cela Alexander kesal. Dirinya ngga suka melihat sahabatnya semakin terpuruk dengan perasaan yang ngga mungkin dibalas. Herdin sangat berhak mendapatkan kebahagiaannya.
"Aku udah move on, kali," bantah Herdin ngga terima. Tapi suaranya sama lirihnya dengan suara Alexander.
"Can't believe," sarkas Alexander. Ngga mungkin dia bisa percaya. Ketertarikan Herdin pada Aurora sudah bertahun tahun lamanya. Pasti masih banyak sisa yang ngga gampang dia singkirkan dari dalam hatinya.
Herdin menghela nafas panjang. Wajar Alexander sulit percaya. Di antara mereka ngga ada rahasia. Terbiasa dekat dan saling menceritakan apa yang mereka pikirkan.
Sementara itu Rihana pun ngga sabar untuk tau apa yang sudah terjadi di antara sepupunya dengan Herdin. Kalo mereka jadian, Puspa akan mendukungnya seribu persen.
"Kamu pacaran?" bisik Rihana ngga sabar.
"Ngga tau," jawab Puspa membuat kening Rihana mengernyit dan menatapnya bingung.
Dia juga bingung memprediksi maksud ucapan Herdin.
Maksudnya bakal sering ngajak keluar? Tapi sebagai apa? Apa hanya karena sepupu Rihana dan bukan pacar? batinnya galau.
"Gimana, sih, kok, ngga tau," cerca Rihana penasaran juga menjaga suaranya tetap pelan.
"Kan, kita baru aja jalan bareng, Ri," bisik Pupsa jengah, seolah memberi isyarat agar Rihana ngga bertanya lagi.
Rihana mengangguk mengerti.
Iya, sih, batinnya.
Malah ngga terlihat serius kalo Herdin langsung menembak sepupunya, pikirnya lagi dalam
hati.
Tapi Rihana yakin kalo sepupunya naksir Herdin. Tapi kalo Herdin, Rihana ngga tau. Mungkin nanti akan dia tanyakan pada Alexander, niat Rihana dalam hati.
"Kita pergi, Puspa. Jangan menganggu mereka," panggil Herdin yang sudah ingin menghindar dari cela celaan Alexander yang sudah terpancar di matanya dan siap dia ledakkan.
Alexander berdecih melihat Herdin yang akan menghindar. Tapi dia akan memberikan waktu pada sahabat bodohnya itu agar bisa membuka matanya lebih lebar untuk menatap bisa Puspa.
"Oke," sahut Puspa yang juga punya pikiran yang sama dengan Herdin. Dia belum siap mendapat interogasi lanjutan dari Rihana.
Setelah keduanya pergi, Alexander mentap Zira yang masih menatap punggung keduanya yang hampir mencapai pintu.
"Mereka.cocok, kan?" ucap Alexander memberikan pendapatnya.
"Iya."
"Seperti kita."
Reflek Rihana menatap Alexander yang sedang menatapnya dengan dalam dan lembut
Jantungnya kembali berdebar ngga menentu.