NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kalandra dan Adriana



Harusnya hari ini Kalandra sudah mengambil cuti. Besok adik sepupunya akan menikah. Tapi ada klien yang memaksanya bertemu sebelum jam makan siang. Saat dia sedang menyesap kopinya, Adriana, sekretarisnya masuk dengan membawa kotak p3k.


Seringai tipis terbit di sudut bibirnya.


Dia ingat rupanya....


"Tuan muda, perban anda belum diganti?" tanya Adriana pelan.


Tanpa menjawab Kalandra membuka jasnya. Adriana pun segera mengambilnya dan mengantungkannya agar ngga kusut.


Tapi dia agak tergeragap ketika Kalandar membuka kancing kancing kemejanya.


"Jangan berpikiran ngeres. Aku hanya ingin mempermudah tugas kamu mengobatinya," tukas Kalandra ketika melihat rona merah di wajah gadis itu. Gadis itu bahkan kini sampai menundukkan kepalanya sangat dalam untuk menghindari tatap tajam bosnya.


"Gantung yang benar. Jangan sampai ada lipatannya," tukas Kalandra sambil memberikan kemejanya pada Adriana. Tadi Kalandra cukup berhati hati membuka kemejanya di bagian lengan yang terluka.


"Ya, tuan muda," sahut Adriana patuh.


Dada Adriana sesak akan harum parfum bosnya yang tercium jelas di hidungnya.


Jantungnya pun seperti mau melompat karena dia bisa melihat tubuh kekar atletis bos galaknya yang tampan itu. Hanya ditutupi selembar kaos dalam yang ngepas banget di tubuhnya. Membuatnya tambah seksi dan sukar memalingkan tatapannya.


Selama dua tahun bekerja, baru kali ini dia melihat bosnya hampir naked di tubuh bagian atasnya.


Setelah menggantung kemeja branded itu, Adriana menahan nafas saat mendekati tuan mudanya.


"Sa saya akan mengganti perban anda," ucapnyq gugup. Keadaan Kalandra saat ini menghancurkan ketenangan yang selalu dia bangun saat berada di dekat bosnya.


Kalandra yang sudah melihat tabletnya sampai harus meliriknya karena ngga biasanya Adriana yang tenang dan serius menjadi gugup seperti ini


Apa dia baru kali ini melihat laki laki dewasa yang hanya mengenakan kaos dalam? decih Kalandra dalam hati.


Padahal kemarin sekertarisnya dengan cekatan dan tanpa canggung mengobatinya.


Tanpa bicara Kalandra mengulurkan lemgannya yang


masih terlilit perban Adriana kemarin.


Adriana menarik nafas dalam dalam untuk memghilangkan kegugupannya.


Dalam hati mendesah, kenapa bosnya ngga memanggil perawat saja untuk menggantikan perbannya. Kenapa harus merepotkannya.


Kenapa dia juga harus gugup. Toh, kemarin dia juga sudah melakukan hal yang sama, umpatnya dalam hati.


Apa karena mereka hanya berdua saja di ruangan tertutup ini?


Kemarin mereka berada di ruangan bebas dengan banyak orang yang berada di sekitarnya.


Kalandra hampir mentertawakannya saat melihat tangan gadis itu agak bergetar.


"Apa kamu mau melakukannya di kamar?" tawar Kalandra ngga acuh.


"Tid tidak tuan muda," tolak Adriana menahan kesal.


Apa apaan dia? batin Adriana merutuk kesal.


Dia melirik wajah datar Kalandra dengan kesal.


Bisa bisanya berkata seperti tadi tanpa ekspresi, rutuknya lagi dalam hati.


Padahal Adriana ngga tau aja kalo saat ini Kalandra sedang menahan kuat kuat keinginan tertawanya melihat ekspresi kesal Adriana.


Ngga lama kemudian kegiatan pengobatan itu pun berakhir.


"Ambilkan kemejaku," titahnya sambil memperhatikan balutan perban yang rapi itu.


Dia harusnya menjadi dokter, bukan sekertaris, decih Kalandra membatin.


"Ini tuan muda."


Tanpa melihat wajah sekertarisnya yang merona, Kalandra langsung memakai kemejanya. Dia agak berhati hati di lengan yang terbalut perban itu.


Sudut matanya melirik Adriana yang membantunya merapikan lengan kemejanya di bagian itu.


Kemudian Adriana pun membantunya memakaikannya jasnya


Dasar klien menyebalkan, sungut Kalandra dalam hati.


Baru kali ini Adriana memakaikan dasi pada bosnya! Gimana dia ngga gugup setengah mati. Jarak mereka begiti dekat. Adriana yakin Bosnya bisa mendengar suara detak jantungnya yang sangat keras.


Adriana sampai ngga berani menatap wajah Kalandra. Dia sangat yakin saat ini bosnya sedang menatapnya tajam. Seolah mengintimidasinya.


Untunglah kegiatan itu ngga berlangsung lama.


"Bawakan tasku. Kita ketemu klien," titah Kalandra lagi sambil mematut dirinya di cermin.


Sempurna. Dia suka melihat penampilannya saat ini.


"Siap, tuan muda."


Adriana pun mengikuti langkah Kalandra yang berada di depannya.


Setelah hampir dua jam, meeting Kalandar pun selesai.


Tapi mobil mereka ngga pulang ke perusahaan. Kalandra malahan mengajak sekertarisnya memasuki sebuah mall yang sudah terkenal dengan barang barang branded dan mahalnya.


"Kenapa kita ke sini tuan muda?" tanya Adriana bingung ketika mereka memasuki toko yang menjual tas dan sepatu branded.


"Pilihkan tas dan sepatu paling mahal. Aku ingin menghadiahkannya pada seseorang," tukas Kalandra sambil mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia. Dia pun melonggarkan dasinya untuk dapat membuka lebar ruang pernafasannya.


Adriana terdiam, dia sedang berpikir.


"Tuan muda. Orang yang akan diberikan tas dan sepatu ini seperti apa. Nomer berapa ukuran sepatunya?"


"Orangnya persis seperti dirimu," ucap Kalandra sambil menatap dalam manik mata di depannya.


Adriana merasakan dadanya seperti diterjang ombak besar.


"Jadi... sama seperti ukuran kaki saya?" ulang Adriana berusaha meyakinkan dirinya lagi.


"Ya."


'Warnanya tuan muda?"


'Seperti yang kamu suka. Ambil saja yang paling mahal. Pokoknya kamu jangan sampai mempermalukan aku," katanya dengan nada penuh ancaman.


Adriana terhenyak.


"Siap tuan muda," katanya langsung melipir ke arah tas tas branded yang modelnya sangat memikat mata.


Seandainya ini untukku, batinnya berucap sedikit kesal


Menyebalkan sekali dia harus memilih yang paling dia suka dan yang paling mahal, tapi bukan untuknya.


Kembali Adriana menarik nafas dalam dalam.


Apalagi saat mencoba sepatu. Hatinya menjerit jerit.


Dasar bos tega.


Sesekali kek, ngajak pegawainya belanja barang barang branded tapi untuk mereka sendiri. Bukan untuk orang lain atau pun kliennya.


Kalandra melirik dengan serimgai tipisnya.


Setelah cukup lama.belanja tas dan sepatu, mereka pun berjalan meninggalkan toko tersebut. Dan malangnya lagi Adriana yang harus membawa hadiah hadiah buat klien bosnya.


Adriana menatap garang pada punggung tegap yang berjalan di depannya.


Dasar bos ngga punya perikemanusiaan. Bawain, kek, omelnya tiada henti di dalam hati.


Ngga ada pengawal yang ikut mendampingi Kalandra. Padahal biasanya ada. Adriana sangat butuh bantuan mereka saat ini. Tadi Kalandra menambah lagi dua buah tas dan sepasang sepatu dalam tas belanjaannya. Tentu saja bawaannya menjadi tambah berat.


Kini bosnya memasuki lagi toko pakaian branded. Kembali dia duduk dan menyuruh Adriana memilih gaun gaun untuk hadiah kliennya.


"Maaf tuan. Apakah ukuran tubuhnya sama seperti saya?" Maksud Adriana bertanya begitu adalah memastikan kalo klien yang akan.dihadiahi bosnya memiliki tubuh langsing seperti dirinya. Kalo semua patokannya adalah dirinya, gimana kalo nanti tubuh kliennya jadi sedikit membesar. Pasti sayag sekali gaun gaun mahalnya menjadi barang barang yang ngga berharga.


Tapi Adriana menjadi gugup dan gelisah saat bosnya memperhatikan tubuhnya dengan teliti.


"Orang yang akan menerimanya, memiliki tinggi dan bentuk tubuh yang sama denganmu."