
"Maaf Pak, tadi tuan muda Alexander menjemput pegawai baru itu. Rihana. Kelihatannya gadis itu ngga tahan dengan sengatan panas matahari," lapor Pak Zuher begitu melihat Alexander dan Rihana sudah menjauh.
"Alexander?" Ada keterkejutan dalam nada suara itu.
"Iya, Pak. Tuan muda katanya akan membawanya ke rumah sakit."
Hening.
"Pak?" panggil Pak Zuher setelah beberapa.saat kemudian.
"Dia sakit?"
"Agak pucat, Pak. Mungkin kalo tuan muda ngga datang dan segera membawanya pergi, anak itu akan pingsan."
Dada Dewan seakan dihantam palu yang sangat kuat. Sebuah ingatan yang sangat berharga mendadak muncul di dalam kepalanya.
"Ya sudah. Ngga apa apa."
Sambungan telpon pun diputus Dewan masih dengan pikiran yang terpisah dari dalam kepalanya. Melanglang jauh ke masa lalu yang selalu membuatnya menyesal hingga kini.
Dewan terdiam sambil tetap memegang ponselnya di dekat telinganya
Ingatannya melayang saat dulu dia masih kuliah sarjana.
Siang itu panas sangat terik. Dewan dan teman temannya baru saja menyudahi permainan basket mereka. Setelah cukup beristirahat, Dewan bermaksud akan mandi di ruangan khusus anak basket.
Tapi dia jadi setengah berlari saat melihat seorang gadis yang terhuyung dan hampir jatuh ngga jauh di depannya.
"Kamu ngga apa apa?" taya Dewan khawatir.
"Eh.... em.... ngga apa apa, kak. Makasih, kak," ucap gadis itu agak gugup setelah beberapa saat kemudian.
Sepertinya dia ngga menyangka kalo Dewan yang akan menahan tubuhnya yang hampir jatuh karena kedua kakinya yang melemah.
Dewan pun memunggungi sinar matahari hingga gadis itu merasa lebih baik.
"Kamu abis nonton basket?" tanya Dewan membuat gadis itu mengangguk. Kemudian dia menjauhkan tubuhnya dari Dewan. Wajahnya terlihat merona. Dewan terpaku melihatnya.
Cantik sekali, batinnya. Ada yang aneh dalam debaran jantungnya. Terasa lebih kencang.
"Maaf, ya, kak. Terimakasih," ucapnya lembut, kemudian tanpa menunggu jawaban Dewan, gadis itu berbalik pergi tanpa bisa Dewan cegah.
Dewan masih termangu. Saking cepatnya pertemuan pertama mereka, Dewan sampai lupa menanyakan siapa namanya. Dari jurusan apa. Dan angkatan berapa.
Sampai sekarang sangat disesalinya kebodohannya yang amat sangat itu.
Gadis itu suka menghilang jika Dewan ada waktu senggang saat mencarinya. Tapi selalu terlihat jika Dewan terburu buru karena ada sesuatu yang sangat penting dan ngga bisa ditinggal.
Mereka hanya selalu beradu tatap dan senyum.
Hanya malam itu mereka cukup lama berinteraksi dalam pengaruh obat lacnat itu.
Sialnya lagi Dewan ngga bisa menyalahkan teman temannya yang punya rencana gila dalam melakukan hal yang random.
Sayangnya dia dan gadis itu yang jadi korbannya.
Dewan selalu saja mengingat mata yang selalu menyorot lembut dan bibir yang selalu tersenyum tipis tapi sangat manis. Dia cantik dalam kesederhanaannya.
Apalagi malam lacnat itu. Gadis itu berlipat lipat cantiknya hingga Dewan ngga bisa melupakannya hingga kini
Dewan yakin gadis itu bukan orang biasa, karena Dewan pernah melihat mercerdes putih yang mengantarkannya ke kampus.
Dewan ingin mengetahui kabarnya dan kabar anak yang dikandungnya. Anaknya. Apakah laki laki atau perempuan seperti Aurora. Dia ingin bertanggungjawab untuk keduamya. Walau pun sudah sangat terlambat.
Semoga mereka baik baik saja, harapnya dalam hati.
Dewan menekan angka 20 pada keypad telpon ruangannya.
"Ada apa, Pak?" Suara Zarina terdengar menyahut.
'Rihana besok kembali dalam timmu."
Hening. Beberapa menit kemudian terdengar suara senang Zerina.
"Sungguh, Pak? Baik, Pak. Langsung diterima."
Dewan terpaksa melakukannya. Alexander seperti ngga terhentikan. Dia malah merasa malu karena sudah bersikap pengecut terhadap gadis lembut yang sudah mengandung anaknya. Tapi tersia siakan karena kebegoannya.
*
*
*
"Apa yang akan kita katakan padanya?" tanya Oma Mien Arthipura setelah tangisannya terhenti.
Opa Airlangga menatap istrinya lembut.
"Tentu kita akan katakan kalo kita oma dan opanya. Mereka Om dan tantenya. Dan dia memiliki banyak sepupu. Termasuk Puspa," suara Opa Airlangga terdengar gembira. Dia bahagia cucunya sudah ditemukan.
Oma Mien tersenyum dengan mata berlinang.
"Malam ini kita akan menemuinya. Setelah dia pulang kerja," ucap Opa Airlangga lagi.
Senyum Oma Mien pun merekah sangat lebar. Bahkan air matanya mulai bergulir pelan.
"Kita akan bawa dia ke rumah ini. Dia bisa tinggal di kamar Dilara. Dilara pasti akan sangat senang karena anaknya sudah kita temukan," ucap Opa Airlangga dengan senyum senang di bibirnya.
Cucunya sudah kembali.
"Kita harus ke makam Dilara," pahit sekali Oma Mien berucap. Kembali air mata bergulir di pipinya.
Mengingat putrinya yang sudah berpulang kembali membuat dadanya terasa sangat sesak. Ada rindu yang ingin dia tumpahkan. Ingin memeluknya erat lagi seperti dulu. Tapi sudah ngga bisa lagi.
"Tentu. Kita semua akan mengunjungi Dilara," janji Opa Airlangga sambil memeluk erat istrinya.
Air mata Opa Airlangga tumpah cukup banyak. Sementara istrinya menangis lagi dalam dekapannya.
Pencarian mereka sudah berakhir. Mereka hanya akan bertemu gundukan tanah tempat putrinya disemayamkan.
Opa Airlangga akan memberikan segala kemewahan untuk menggantikan keringat susah cucunya selama jauh dari mereka.
*
*
*
Maaf sebelumnya. Saya selalu update cepat. Tapi selalu terkendala review dari NT....