
Puspa pun akhirnya berangkat bersama Rihana dengan diantar supir omanya ke perusahan tempat mereka bekerja.
Tentunya setelah melewati deal deal panjang dengan oma dan opanya tentang kapan dia akan masuk ke perusahaan keluarga
Puspa bisa tersenyum puas karena hasutan dari Ansel dan Kirania ngga ampuh.
Mungkin karena pertimbangan jasa besarnya yang sudah menemukan titik awal cucu yang sudah dicari selama belasan tahun.
Sehingga oma opa memberikan tenggang waktu sebulan padanya untuk mengabdi pada perusahaab kompetitor.
Dalam hati Puspa ingin bersorak, karena bentar lagi tas yang diidam idamkannya akan segera dia miliki.
Kedua kaka kembarnya dna sepupunya yakin pada ada yg dirahasiakannya. Karena bertiga dengan Ansel dan Kirania selalu ada saja hal hal yang mereka rahasiakan. Mungkin karena jarak umur yang dekat mereka bertiga sangat akrab. Ditambah lagi tunangan Ansel adalah teman Kirania.
Begitu mobil memasuki basemen, Rihana menangkap bayangan Alexander yang.ada di sana.Seperti menunggunya.
"Cieee.... ditungguin ama pacar," ledek Puspa membuat wajah Rihana merona.
Kamu kenapa ke sini, sih, Lex. Nanti aku bakal kena masalah lagi, batinnya kesal. Tapi jujur, hatinya sangat senang atas kedatangan Alexander untuk menemuinya.
Apalagi yang akan dilakukan 'papanya' kalo tau Alexander masih berusaha terus untuk menemuinya.
Mungkin kejadian semalam, pasti sudah diketahui beliau dengan sangat detil.
Agak ragu saat Rihana akan keluar dari mobil.
Terlalu banyak yang dia pikirkan.
"Sudah sana cepat. Pangeran dingin sudah menunggu," tawa Puspa lagi meledeknya.
Rihana mau ngga mau keluar juga dari mobil dengan jantung yang masih berdebar kencang.
Selalu begitu jika menghadapi Alexander.
Alexander tersenyum menyambutnya.
Alexander menggandeng tangan Rihana agar kembali masuk ke dalam mobinya.
Lebih aman jika mereka berbicara di dalam mobil.
"Aku kangen," kata Alexander lembut.
DEG
Rihana berusaha menyembunyikan kegugupannya saat beradu pandang dengan mata Alexander yang menyorot lembut.
"Temanmu sering menjemput dan mengantar pulang? Bisa katakan agar aku aja yang melakukannya?" ucap Alexander beruntun. Terdengar nadanya agak kesal.
Rihana tersenyum mendengar rajukan Alexander.
Ada yang ingin Rihana sampaikan dan ceritakan pada Alexander. Tentang keluarga dari mamanya yang sudah dia temukan.
Dia ngga tau, hal ini apakah akan berpengaruh baik atau engga untuk hubungan keduanya di masa depan.
Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakannya, batin Rihana bimbang. Rihana butuh waktu.
"Kamu masih ke lapangan nanti?" tanya Alexander menyadarkan Rihana dari lamunannya.
"Eh, enggak. Aku udah balik ke divisi lama aku," jelas Rihana dengan senyum ceria di wajahnya.
"Oooh begitu. Padahal niat aku ke sini buat nemenin kamu kalo mau survey ke lapangan," kekeh Alexander. Rihana pun terkekeh. Hati Alexander lega mendengarnya. Ngga disangka secepat ini Rihana dikembalikan ke posisi lamanya. Dia sangat bersyukur walau awalnya telanjur kesal dengan sikap Om Dewan yang menurutnya egois dan kekanakan.
"Ntar kamu dipecat loh kalo sering bolos," canda Rihana dalam tawanya.
"Siapa yang berani mecat bos" kilah Alexander dengan nada sombong. Sebelah tangannya menjawil pipi Rihana gemas.
Melihat Rihana tertawa membuat Alexander merasa bahagia juga. Apa perasaannya saja, tapi pagi ini Rihana terlihat seperti sudah sangat lepas, seolah beban yang menghimpitnya sudah ngga ada.
"Ayo, kuantar sampai ke ruangan kamu," tukas Alexander sambil membuka pintu mobilnya.
"Ngga usah. Aku sendiri saja," tolak Rihana mulai panik karena laki laki keras kepala itu sudah keluar dari mobilnya dan menatapnya dengan polos.
Seakan ngga mau dibantah.
Memintanya untuk selalu menurut.
Apa nanti kalo udah menikah dia bakal disetir oleh Alexander? duganya dalam hati dengan kesal.
"Kamu mau dipecat?"
Rihana menggelengkan kepalanya frustasi melihat sikap Alexander yang susah dihentikan.
"Alex, aku sendiri aja," kata Rihana sambil mendekat ke arah laki laki itu yang seolah sedang menunggunya.
"Udah, jangan cerewet," pungkasnya sambil menarik tangan Rihana yang menatapnya dengan protes
Beberapa karyawan yang baru datang semakin yakin kalo Alexander memang memiliki hubungan spesial dengan karyawan baru itu. Mereka sudah pernah melihat kedekatan ini lebih dari sekali.
Walau rikuh tapi Rihana berusaha tetap tenang. Mereka pun memasuki lift bersama karyawan yang lain.
Yang tentunya senang karena bisa memandang Alexander dalam jarak yang sangat dekat, di dalam ruanga persegi panjang. Dan yang ngga terbatas serta tanpa jarak. Alexander juga terlihat ramah. Ngga sedingin seperti yang biasa terlihat.
Setelah pintu lift terbuka, Alexander terus saja menggandengnya.
Laki laki ini niat banget biar aku dipecat, batin Rihana ngga tenang.
Memang itulah tujuan Alexander. Setelah dipecat, akan mudah membujuk Zira-nya untuk bekerja sebagai asprinya.
Ketika pintu lift terbuka, jantung Rihana seakan berhenti berdetak.
Do'anya ngga terkabul.
Papanya, Dewan Iskandardinata sedang berdiri di depannya bersama Aurora.
Beberapa karyawan lainnya menahan nafas karena pernah mendengar selentingan isu kedekatan antara Alexander dan putri bos mereka, si bidadari Aurora.
Apalagi kini tatapan tajam keduanya dihunjamkan pada Rihana.
Alexander tetap tanang. Dia tambah mengeratkan genggamannya. Alexander dapat merasakan suhu tubuh Rihana menjadi lebih dingin.
"Om," sapanya saat melewati Alexander.
Rihana yang awalnya jiper tiba tiba terbayang mamanya dl saat menangis karena papanya sudah punya istri dan anak yang lain. Kemarahan dan kekesalannya bangkit. Demi keluarga barunya, papanya tega membuang mereka.
Dia pun menegakkan lagi bahunya dan menampilkan sikap menantang. Apalagi gadis yang bernama Aurora, yang merupakan adik tirinya itu menatapnya dengan aura pernusuhan yang kental. Berusaha mengintimidasinya.
Dia bisa kapan saja resign dengan tenang, karena opa dan omanya sudah mengajaknya bergabung dalam perusahaan keluarga
Hanya saja Rihana masih menunggu kapan Puspa mau resign. Karena sepupunya berkeras mau bertahan sampai satu bulan terakhir ini.
Mungkin kalo dia dipecat, Puspa akan terpaksa berhenti juga.
Om Dewan berusaha tersenyum bijak dengan menahan perasaannya yang terasa aneh.
Tatapan gadis itu kembali menusuk jantungnya.
Dewan jadi teringat pertemuan pertama mereka. Tapi tatapan ini lebih tajam dari sebelumnya.
Kenapa dia merasa menjadi tertuduh di bawah tatapan gadis ini?
Siapa gadis ini sebenarnya?
Harusnya dia benci gadis ini demi putrimya. Tapi ada penolakan keras dari sudut hatinya yang terdalam. Seakan dia ngga boleh melakukannya.
"Kamu sudah sehat?" tanya Dewan lembut.
Ap apa?
Bukan hanya Rihana yang terkejut mendapat pertanyaan penuh perhatian itu. Alexander dan Aurora bahkan ikut memalingkan tatapan heran mereka pada Dewan.
"Katanya kamu sakit sampai dibawa Alex ke rumah sakit?" ulang Dewan lembut.
Hati Rihana langsung pecah. Matanya memanas. Perhatian ini sangat menyentuh sudut hati terdalamnya. Tatapannya pun ngga setajam tadi pada papanya.
"Sa saya baik baik aja, Pak," sahutnya gugup.
Dewan tersenyum mendengarnya. Ada yang aneh dalam hatinya. Suara itu mengingatkannya pada gadis yang ngga sengaja dia diabaikan.
Jantungnya berdebar aneh.
"Saya ngga tau kamu mgga kuat panas. Maaf, ya. Saya hanya berpikir kamu sangat berpotensi," ucap Dewan tulus.
"Ya, pak. Ngga apa apa." Kembali Rihana rasanya ingin menangis.
"Alex, jangan lupa nanti siang meeting," katanya sambil berlalu pergi, melewati Rihana dan Alexander.
"Siap, Om."
Dewan tersenyum tanpa menjawab sambil melangkah pergi.
Aurora mengikuti langkah papanya dengan dilanda keheranan. Dia pikir papanya akan memberi gadis itu peringatan pertama karena sudah meninggalkan lokasi lapangan sebelum jam kerja berakhir.
Tapi nyata? Aurora merasa ada yang aneh dalam sikap papanya kali ini.
Sementara itu Rihana menyusut air matanya yang akan turun. Perasaannya campur aduk. Antara haru, marah, benci, dan rindu.
"Kamu ketakutan sampai nangis?" tanya Alexander sambil merengkuh bahu Rihana.
"Nggak," sanggah Rihana.
"Trus kenapa?"
Ya kenapa? Rihana juga bingung untuk menjawabnya.
"Padahal aku kira kamu langsung dipecat. Aku sudah senang tadi melihat Om Dewan memergoki kita," kekehnya ringan.
"Kamu jahat banget," desis Rihana ketus.
"Kan, kamu bisa langsung kerja sama aku," jawabnya tanpa dosa. Masih terkekeh.
Rihana menjauhkan pelukannya dari Alexander. Gara gara Alexander, kesedihannya jadi berkurang.
Terima kasih, batinnya.
Tapi Rihana bingung, kalo pun papanya nantinya memecatnya, dia akan bekerja di perusahaan keluarga mamanya.
Gimana cara menjelaskannya pada Alexander ya?