
Adriana heran melihat sikap bosnya yang tambah dingin dan ketus padanya. Padahal kemarin kemarin hangat walau tetap ngga acuh.
Apa lagi mengingat banyaknya pemberian mewah yang sudah diberikan padanya.
Mama dan papanya sampai curiga karena di kamarnya penuh dengan paper bag dengan brand ternama dan mahal.
"Kamu ngga korupsi, kan?" canda papanya tapi dengan tatapan penuh selidik.
Adriana tergelak.
"Engga, Pa. Ada ada aja, deh, papa," kilahnya jujur. Tapi ganjalan di hatinya tetap ada. Dia masih bingung kenapa Pak Kalandra memberikannya banyak hadiah mahal padanya.
"Apa kamu menghabiskan seluruh tabungan untuk membelinya?" mamanya menatap serius.
Reflek Adriana menggeleng.
"Tapi rasanya tetap ngga mungkin bisa. Biarpun kamu punya uang lemburan," sambungnya lagi dengan nada khawatir. Takut kalo Adriana sudah melakukan kesalahan. Padahal posisinya sudah sangat bagus di perusahaan bergengsi itu. Beliau takut putri bungsunya akan dipecat atau diperkarakan di polisi karena sudah menggelapkan uang perusahaan yang sangat besar.
Merasa kedua orang tuanya menatapnya seolah dia tertuduh yang sudah melakukan kejahatan keuangan teramat besar, Adriana menghela nafas panjang terlebih dahulu.
"Ini semua pemberian Pak Kalandra, Ma, Pa."
Kedua orang tuanya saling pandang. Kemudian mengalihkan padanya dengan tatap ngga percaya.
"Kok bisa?" tanya Papanya sambil melipat kedua tangannya di atas dadanya. Sikapnya sudah mode serius ala ala orang tua yang curiga kalo putrinya ada hubungan ngga benar dengan bosnya.
Posisi anaknya sangat rentan. Menjadi sekretaris dari perusahaan yang dimiliki konglomerat. Bosnya masih mudah dan belum menikah. Bukannya beliau ngga tau dari istrinya kalo para tetangga selalu menggosipkan tentang putrinya.
Tapi selama ini Adriana tampak baik baik saja. Ngga pernah membeli barang sebanyak ini yang harga harganya saja membuat gajinya sebagai papanya untuk sebulan ngga akan cukup.
Awalnya papanya ngga setuju, memilih mengajaknya bekerja di perusahaannya saja. Perusahaan negara.
"Kamu ada hubungan dengan Pak Kalandra?" menyebut nama salah satu pewaris itu saja sudah membuat hatinya bergetar.
Mereka juga kaya, tapi sangat jauh berbeda dibandingkan keluarga konglo itu. Mereka bagaikan debu.
Rasanya ngga mungkin putrinya yang walaupun cantik bisa seberuntung itu. Pasti bibit, bebet dan bobot menjadi acuan utama keluarga itu jika mencari jodoh untuk salah satu pewaris mereka.
Kembali Adriana menghela nafas. Dia sudah yakin, bakalan diinterogasi habis habisan jika mama dan papanya melihat banyaknya paper bag di kamarnya.
"Pak Kalandra berterima kasih karena Adri membantunya waktu kena musibah."
Apa lagi yang harus dia katakan. Lagian Pak Kalandra juga ngga mengatakan apa apa saat tiba tiba saja memberikannya hadiah sebanyak ini.
Ngga mungkin, kan, dia berandai andai kalo Pak Kalandra menyukainya?
"Musibah apa?" tanya mamanya penuh minat. Bahkan sampai duduk di sampingnya.
Papanya juga menatap serius.
Adriana menceritakan dengan singkat peristiwa penyerangan yang dilakukan terhadap keluarga Pak Kalandra.
"Musuh musuh mereka mengerikan," tukas mama Adrina shock. Beliau sampai menutup bibirnya yang terbuka.
"Sudah ketahuan siapa pelakunya?" tanya papa Adriana juga kepo.
Adriana menggelengkan kepalanya.
"Rahasia, kan, ya, Pa, Ma," pinta Adriana. Soalnya kalo kesebar bisa jadi isu besar yang pasti akan viral.
"Ya," serentak mama dan papanya berjanji.
Mamanya pasti akan merahasiakannya karena putrinya sudah berada dalam zona nyamannya. jangan sampai tercerabut.
Teman teman kumpulannya selalu membanggakan putrinya yang memiliki nasib beruntung. Bisa bekerja di perusahaan milik konglomerat terkenal dengan posiisi yang bagus pula.
"Kenapa bengong. Letakkan berkasnya di situ."
Kalimat datar Kalandra membuyarkan lamunannnya.
Ngga tau sudah berapa lama dia bengong begitu.
Memalukan, batinnya memaki kebodohanya.
"Eh, emm... i iya, Pak."
Adriana secepatnya menaruh berkas berkas itu di atas meja dan berbalik pergi.
Kalandra melirik sebentar punggung gadis itu yang menjauh.
Kamu sudah punya kekasih? Menyebalkan, umpatnya dalam hati. Kemudian menghela nafas kasar.
"Adriana," panggil Kalandara ketika gadis itu akan membuka pintu.
"Ya pak?" sahut Adriana bingung melihat wajah dingin bosnya. Tangannya masih memegang handle pintu.
"Kalo mau nikah, kamu harus ajuin waktu ngga boleh kurang dari tiga bulan," ucapnya tanpa mau melihat Adriana.
Gadis itu sempat bengong.
"Menikah? Saya belum punya rencana, kok, Pak," jawab Adriana setelah kekagetannya hilang.
Kembali Kalandra mendongakkan kepalanya. Menatap sinis.
"Jangan malu malu. Aku pasti akan memberikan kamu cuti satu minggu buat nikah."
Bosnya ini apa apaan, sih. Kepalanya ngga kebentur, kan? batin Adriana semakin bingung, juga jadi kesal.
Padahal waktu di pesta pernikahan sepupunya, walaupun terkesan cuek, tapi si bos cukup.perhatian dengan mengirimkan supir untuk menjemputnya.
Apa dia salah paham mengira bosnya menyukainya?
Mungkin hadiah hadiah itu hanya sekadar ucapan terima kasih saja?
"Saya benar benar belum punya pacar," ulang Adriana lagi.
Ada sedikit riakan di dalam mata Kalandra.
Dia pun bangkit dan mendekat.
Adriana berdiri mematung sambil menahan nafas karena Kalandra berdiri dalam jarak yang sangat dekat. Bahkan hembusan panas nafas bosnya terasa di pipinya.
Kalandra menatapnya tajam. Ingin bertanya siapa laki laki yang sudah memeluknya tapi gengsi.
Kalandra menimpakan tangannya di atas tangan Adriana yang sedang memegang handle pintu dan menggerakkannya sehingga pintu terbuka.
Tanpa kata Kalandra berjalan keluar meninggalkan Adriana yang masing bergeming dengan langkah cepat.
Adriana memegang dadanya yang terasa sakit akibat getaraan hebat di dadanya.
Aku kenapa?
Sepasang matanya terus menatap kepergian bosnya yang sepertinya sedang menuju ke ruangan sepupunya.
Dengan perlahan Adriana berjalan keluar dan menutup pintu ruangan bosnya. Pikirannya masih melayang jauh.
Dia kenapa? batinnya penasaran.
"Hai, cantik," sapa Emra membuat kepalanya menoleh. Kemudian menarik sedikit sudut bibirnya.
"Bosmu ada di dalam?" tanyanya sambil menaruh kedua tangannya dinsaku celananya.
"Tadi ke ruangan Pak Emir, Pak."
"Ooo... Oke," ucap Emra sambil berbalik. Tapu baru selangkah dia berbalik lagi menatap Adriana.
"Yang rambut cepak itu siapa?"
Rambut cepak? Adriana yang masih lemot menatap sepupu Bosnya dengan tatapan ngga ngerti.
"Kirain kamu suka yang gondrong," kekeh Emra ngga nyadar kalo lawan bicaranya lagi tulalit.
"Kapan undangannya?" tanyanya lagi.
Undangan?
Dua sepupu ini kenapa aneh hari ini?
Adriana jadi kesal.
Kenapa mereka sok tau tentang dirinya.
"Jadi masih dirahasia in, ya. Ya ngga apa, sih, hak kamu," kekeh Emra sambil berbalik pergi tanpa menunggu jawaban Emra.
Sebentar, sebentar. Adriana berusaha berpikir keras
Cepak? Rambutnya?
Astaga?
Hampir saja Adriana memukul kepalanya.
Ternyata bos bosnya melihat saat dia dijemput adik bungsu mamanya yang sedang cuti.
Adriana tanpa sadar tersenyum.
Rupanya mereka salah sangka, batinnya geli dan lega setelah teka teki ini berakhir di kepalanya yang hampir pecah mencari jawabannya.
*
*
*
Sore ini kembali saat Adriana sedang menunggu Omnya yang berjanji akan menjemputnya, bosnya yang bertingkah nyebelin seharian ini lewat dengan cueknya.
"Adri," panggilan yang dia tunggu tunggu itu membuat kekesalannya menyurut. Senyumnya terkembang lebar.
Adriana melirik lagi bosnya yang tetap cuek ngga mempedulikannya.
"Sorry telat" ucap laki laki gagah berambut cepak itu sambil mengusap rambutnya.
"Iya, telat banget," sahut Adriana pura pura ngambek sambil bergayut manja di lengan omnya.
Sekali lagi dia melirik Kalandra yang sekarang sedang membuka pintu.
Tapi dia jadi melengak kaget melihat tatapan tajam itu yang sangat mematikan mengarah pada dirinya.
Jantungnya mau meledak saking takutnya.
Tanpa sadar dia merapat di lengan omnya.
"Kenapa?" tanya omnya heran karena merasa kalo sikap ponakannya agak beda.
"Ngga pa pa. Aku udah lapar banget," ucap Adriana sambil menuntun lengan omnya dan parahnya mereka harus melewati mobil Kalandra yang kini, laki laki itu sudah berada di dalamnya.
Berat langkah kaki Adriana. Dia ingin berhenti dan mengenalkan omnya pada bosnya yang kelihatan sangat jutek itu.
Tapi Adriana takut dicuekin dan mendapat tatapan meremehkan bosnya.
Ini, kan, bukan ranahnya untuk mengenal keluarganya.
Lagi pula siapa dirinya?
Adriana merasa sangat kecil dibandingkan bosnya.
Adriana pun melupakan keinginan anehnya dan menguatkan hati berjalan melewati nobil Kalandra.
Dia ngga berani menatap ke arah kaca depan mobil itu. Walau tau ngga bisa menembusnya, tapi Adriana dapat merasakan tatapan super tajam dari bosnya di balik stirnya.
Tapi mungkin hanya perasaannya saja, kilahnya dalam hati.
Sementara itu Kalandra memukul stirnya keras ketika melihat Adriana di rangkul laki laki cepak itu.
Mau rasanya ditabrak saja dua orang yang sudah membuat hatinya panas mendidih.
Tapi otak pintarnya menghalangi. Kalandra hanya melewati keduanya saja dengan perlahan tapi tatapanya tetap terkunci penuh pada sekretarisnya yang kenapa sekarang baru terlihat menarik di matanya.
*
*
*
"Kamu akan mengikuti keinginan Opa?" tanya Emra kaget.
Emir juga menatapnya heran. Biasanya mereka selalu menolak jika opanya mulai mengatur jadwal makan malam dengan seorang gadis. Kecuali si tengil itu.
"Pilihan Opa biasanya berkualitas," tawa Ansel santai.
Kembali ketiganya mengganggu sepupunya.
Sangat aneh sepupunya kali ini menerima keinginan opanya. Apa yang terjadi padanya.
Si kembar ngga bisa menduga apa yang ada dalam pikiran Kalandra. Padahal mereka bertiga selalu kompak menolak keinginan opa Airlangga. Tapi malam tadi berbeda. Kalandra menerimanya. Dia mau menemui perempuan yang akan dikenalkan padanya.
"Kamu sudah ngga bisa nyari perempuan lagi sampai mau dijodohkan sama opa," decih Emra ngga mempedulikan ejekan Ansel.
Kalandra pura pura ngga mendengar. Sebentar lagi dia akan menemui gadis pilihan opamya.
"Ketemu dulu. Kalo ngga cocok ya udah," ucap Opa Airlangga santai.
Kalandra malam itu yang masih marah karena mengingat kemesraan Adriana langsung mengiyakan saja.
"Kapan?"
Opanya menatapnya kaget dengan jawaban Kalandra yang ngga pernah disangkanya.
Seingatnya hanya satu cucunya yang patuh dengan titahnya. Tiga lainnya pengecualian.