NOT Second Lead

NOT Second Lead
Meeting bersama si kembar



Emir dan Emra saling tatap begitu melihat kedatangan Alexander dan Herdin yang memasuki ruangannya.


Selama ini Alexander dan Herdin adalah rekan bisnis yang sudah cukup lama menjadi teman mereka. Bahkan mereka pun mengenal kedua kakak laki laki Alexander, karena sebaya dengan dua sepupunya, Kalandra dan Nidya.


Nidya bahkan menyukai Alexander sejak dua tahun yang lalu.


Perusahaan orang tua mereka sudah menjalin kerja sama yang cukup lama. Bahkan saat mereka masih kuliah. Mereka semua kuliah di luar negeri. Walaupun berbeda negara dengan Alexander.


Tapi dua tahun yang lalu, perusahaan Alexander mengadakan kerja sama dengan perusahaan keluarga mereka. Saat itulah mereka bertemu dan Nidya pun naksir berat dengan laki laki yang lebih muda itu.


Walau pun sudah dikasih tau tentang perbedaan umur dan lebih baik Nidya menyukai salah satu kakak laki laki Alexander saja, tapi sepupunya tetap ngga peduli.


Apalagi dia penasaran dengan Aurora yang selalu menjadi the first bagi semua orang. Termasuk Alexander.


Nidya pernah dikalahkan saat pemilihan sebagai brand utama salah satu produk oleh Aurora. Mungkin rasa sukanya hanya dilandasi kekesalannya semata saja untuk mengalahkan Aurora.


Baru sekarang setelah mengetahui sepupu yang baru saja mereka temukan adalah kekasih Alexander, dia mau mengalah dan mundur.


Sebagai sepupu mereka semua sangat mendukung hubungan keduanya. Apalagi Nidya, mungkin lagi lagi karena rasa kesalnya yang pernah dikalahkan gadis yang dijuluki bidadari tanpa cela itu.


Hanya saja Alexander selalu saja bersama Aurora dari dulu. Karena itu mereka ngga percaya kalo Alexander selama ini setia dengan sepupu yang baru saja ditemukan, Rihana.


Apalagi Alexander dan Rihana sempat mengalani lost contact.


Mereka hanya takut sepupu mereka dimainkan oleh Alexander.


Sekarang mereka pun belum tau apakah Rihana sudah menceritakannya pada Alexander tentang siapa dia yang sebenarnya atau belum.


"Ada apa? Tumben datang," kekeh Emir berusaha santai.


Tadi malam Om Dewan mengabari papanya kalo perusahaan Airlangga Wisesa membatalkan untuk melanjutkan kerja sama dengan perusahaannya tanpa alasan apa pun.


Karena itu Alexander mengajak Herdin untuk menemui para pewaris grup itu.


"Ada yang ingin aku tanyakan," jawab Alexander sambil duduk di sofa dejgan tenang.


Begitu juga Herdin.


Emir dan Emra mengarahkan fokus tatapan mereka pada Alexander.


"Ini draftnya udah oke," ujar Alexander sambil menyerahkan map yang dibawanya.


"Oke."


Emir langsung memeriksanya bersama Emra.


"Kalo boleh tau kenapa Om Cakra ngga melanjutkan kerja sama dan malah melanjutkan dengan perusahaan lain? Kalo memang ada kekurangan, bisa dibicarakan," kata Alexander terus terang.


"Aku kurang tau juga. Karena keputusan ada di tangan papa dan om om ku," jawab Emir lugas.


"Bahkan perusahaan Om Akbar juga mundur. Apa ada penyebab lain?" kejar Alexander makin penasaran karena dari jawaban Emir sepertinya dia tau kenapa keputusan itu bisa turun. Seperti ada yang dirahasiakan.


"Jangan terlalu dipikir bro. Mungkin kapan kapan mereka bisa bekerja sama lagi," balas Emra santai.


Ngga bakalan, batin Emra dalam hati menahan tawa.


"Sekarang perusahaan papa akan hati hati kerja sama dengan perusahaan kalian. Bisa kapan aja diputus tanpa alasan," sarkas Alexamder tergelak. Menyindir.


Herdin yang duduk di sampingnya juga tergelak.


Emir dan Emra hanya melebarlan senyum dengan saling pandang penuh makna.


Belum saatnya Alexanser tau.


Ya, kalo kamu nyakitin Rihana, bubar semua kerja sama perusahaan kita, batin keduanya kompak.


Kemudian keduanya membahas isi map yang dibawa Alexander.


Mereka sangat serius berdiskusi hingga agak kaget mendengar suara dering ponsel alarm.


"Ada kebakaran dimana?" tawa Emir saat menatap geli Alexander yang langsung mematikan alarm di ponselnya.


Alexander hanya tersenyum.


"Biasa, tugas negara memanggilnya," kekeh Herdin yang sudah tau apa yang akan dilakukan Alexander. Dia pun menyimpan laptopnya ke dalam tas.


"Kita makan siang di kafe depan aja. Ada promo menu baru," tawar Emra juga membereskan kertas kertas di atas meja.


"Aku ngga bisa," tolak Alexander.


"Ada janji?" tebak Emir.


"Dia mau ketemu pacarnya," kekeh Herdin memberitau.


"Ooo."


Rihana, kah?


Alexander menatap jamnya, kemudian dia menuliskan pesannya di ponselnya dengan wajah hangat.


Fazira


Cinta, nanti aku jemput, ya. Kita makan siang bareng. Miss U.


Tanpa sadar Alexander menaikkan sedikit sudut bibirnya saat membaca ulang pesannya.


Reaksi Alexander mengundang tanya di hati Emir dan Emra.


Kalo Rihana yang membuat si dingin ini bisa tersenyum, sih, mereka akan tenang. Tapi kalo Aurora?


"Sejak punya pacar, jam makan siangnya ngga bisa diganggu," masih tertawa Herdin menjelaskan karena melihat raut heran kedua kembaran di depannya.


"Aurora?" tebak Emra agak ketar ketir.


"Bukan," bantah Herdin cepat.


"Wah wah, kirain Aurora. Ternyata ada yang lain," senyum Emra lega, kembali berpandangan dengan Emir.


"Bukanlah," kekeh Alexander ikut menyahut.


Baru dia sadar kini kalo kedekatannya dengan Aurora menimbulkan persepsi yang lain bagi orang orang yang sudah pernah melihat mereka.


"Kakak sepupuku bakalan patah hati, nih," canda Emir.


Mereka pun tertawa.


"Aku ngga tertarik dengan yang lebih tua," jawab Alexander ringan membuat gelak tawa makin berderai.


Nasib lo Nid, menyedihkan, batin Emra senang.


Sayangnya dia lupa merekam pernyataan Alexander. Padahal itu pasti hiburan yang paling menyenangkan saat mengejek Nidya. Apalagi kalo Ansel juga tau. Dia pasti akan semakin mengintimidasi Nidya dengan ejekan ejekannya.


"Her, kamu bareng mereka aja," tukas Alexander sambil berdiri.


"Oke."


"Buru buru banget," tegur Emra masih dengan sisa tawanya.


"Aku ngga mau dia menunggu lagi. Soalnya dia sangat istimewa," jawab Alexander dengan senyum cukup lebar di bibirnya.


Dia pun melangkah meninggalkan ketiganya yang sempat bengong mendengar ucapan yang hampir ngga mungkin keluar dari mulut seorang Alexander.


Bagi Emir dan Emra, kali ini Alexander lebih hangat dan romantis.


"Esnya mencair?" Emir menggelengkan kepalanya. Mengingat kakak sepupunya yang selalu memanggilnya es kristal.


"Sangat. Ayo, aku udah lapar," tukas Herdin sambil berdiri diikuti si kembar.


"Anak pewaris mana?" tanya Emra memancing.


"Bukan. Dia teman kita waktu SMA," jelas Herdin ketika keduanya menjejeri langkahnya.


Emir dan Emra sama sama tersenyum simpul.


Yakin sudah, kalo gadis yang dimaksud adalah sepupu mereka. Karena si kembar sudah mendapat informasi kalo mereka bertiga satu SMA di Bandung.


"Sejak SMA? Tapi bukannya Alex selalu bersama Aurora?" pancing Emra penuh selidik. Dibanding kembarannya, dia yang paling kepo.


"Dia menjaga Auroa buat aku. Tapi Aurora udah ngga bisa bergeser hatinya dari Alex," jelas Herdin ringan, seolah ngga ada rasa sakit yang tersisa dalam hatinya.


"Ngga seperti orang yang patah hati," cibir Emra dengan senyum mengejeknya.


Herdin tergelak.


Awalnya dia merasakan juga patah hati. Bahkan berkali kali. Tapi sekarang dia sadar, buat apa memperjuangkan perempuan yang ngga menyukainya sama sekali.


Emir pun tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat reaksi santai Herdin.


Tapi dalam hatinya dia senang, ternyata Alexander terlihat serius dengan Rihana.


Hanya tinggal masalah waktu saja, rahasia siapa Rihana akan terbuka.


Ganjalan tentang Papa Rihana juga masih tetap ada.


Harapan dia dan keluarga setelah mengunjungi panti asuhan Rihana, semoga ada sedikit petunjuk tentang papa Rihana.


Harus cepat terbuka dengan jelas siapa papa Rihana. Emir dan Emra yakin, ngga mungkin orang sembarangan. Karena tantenya sangat kuat menyimpan rahasia ini. Seakan akan jika terbuka, maka akan merusak reputasi laki laki itu.