
Alexander tersenyum saat membuka pintu ruangan Rihana. Dia sudah ngga sabar menemuinya. Jika saja ngga ada jadwal meeting yang sangat penting, setelah konferensi pers yang menyebalkan itu, Alexander akan langsung menemui calon istrinya.
Dirinya sudah ngga sabar untuk mengetahui tanggapan Zira atas semua pernyataannya. Terutaam tentang pernyataan cintanya. Hati Alexander bergemuruh karenanya.
Rihana mengangkat wajahnya saat mendengar suara pintu terbuka. Wajahnya merona saat melihat Alexander berdiri kokoh di depannya.
Terngiang kembali ucapan Alexander kalo laki laki itu jatuh cinta duluan padanya. Juga tentang kesetiaannya.
Debar debar aneh mengisi rongga dadanya.
"Temeni aku makan siang, bu Bos," canda Alexander sambil melagkah masuk. Hatinya gemas melihat wajah memerah malu malu di depannya.
"I iya," ucap Rihana gugup sambil menutup laptopnya
Alexander dengan santai duduk di kursi di depan meja kerja Rihana. Laki laki makin tersenyum melihat kegugupan Rihana. Bahkan Rihana hampir menjatuhkan ponselnya.
Rihana berusaha menenangkan debaran kencang di dadanya. Tapi saat sulit karena Alexander terus saja mengawasinya.
Akhirmya dia pun bangkit dari kursinya dan tambah deg dengan karena Alexander merangkulnya sambil berjalan pergi meninggalkan ruangannya.
"Alex," tukas Rihana ingin menjauhkan dirinya.
"Ngga apa. Kan, aku udah buat pengumuman live," senyum Alexander membuat Rihana ikut tersenyum dengan wajah tersipunya.
"Mau makan berdua," goda Kalandra yang berpapasan. Dia pun bersama Nidya baru keluar dari ruangannya.
Alexander hanya tersenyum juga Rihana. Hanya Rihana tampak sungkan karena melihat Nidya. Dia tau sepupunya pernah dan masih menyukai Alexander sampai sekarang.
Dalam hati mengeluh karena tanpa sengaja sudah menyakiti hati Nidya, yang sudah sangat baik dengannya.
"Kita duluan," pamit Alexander makin mengeratkan rangkulannya ketika merasa Zira akan menjauh.
Rihana menganggukkan kepala sebelum pergi mengikui langkah Alexander.
"Lupakan dia. Baru kali ini aku melihat Alexander romantis dengan perempuan," ucap Kalandra setelah pasangan itu menjauhi mereka.
Nidya hanya mengangguk dengan mata berkabut. Memang sangat jelas terlihat patah hatinya yang belum sembuh.
Saat berada di dalam ****lift****, mereka hanya berdua saja.
"Kenapa?" tanya Alexander yang heran melihat wajah Rihana tampak muram.
"Aku ngga enak sama Kak Nidya," ucapnya setelah menghela nafas panjang.
Baru Alexander mengerti. Dia sudah lupa kalo Nidya pernah menyukainya. Tapi sudah lama dia tolak. Alexander mengira Nidya sudah ngga tertarik lagi dengannya.Yang disesalinya kenapa Nidya sepupu Rihana. Pasti Rihana cukup terusik dan ngga merasa nyaman.
"Aku hanya suka kamu. Cinta sama kamu" sahut Alexander tegas.
Sekarang jalan mereka untuk bersama semakin mudah. Ngga lama lagi dia dan Zira akan segera menikah. Alexander sudah ngga sabar untuk menghalalkan Zira.
Setelah banyaknya kesempatan mereka yang terbuang. Alex ngga akan menyia nyiakannya lagi.
Rihana menatap Alexander dengan jantung semakin berdebar dan dia yakin saat ini ada bintang kejora di matanya.
"Jangan pikirkan orang lain Pikirkan aku saja ya," lembut Alexander berucap.
Rihana mengangguk
Ya, sedikit egois ngga apa, kan. Dia juga sangat mencintai Alexander. Alexander juga menyukainya, batin Rihana mencoba membenarkan tindakannya, walaupun tetap saja Rihana merasa ngga enak hati dengan Nidya. Perasaan ngga nyaman karen sudah menyakiti anak kakak almarhum mamanya.
Alexander menatap Rihana intens. Begitu juga Rihana seperti terpaku demgan netra membalas tatapan Alexander.
Keduanya pun saling mendekatkan wajah, tapi langsung menjauh kikuk ketika terdengar bunyi dentingan lift dan pintu lift pun terbuka. Rupanya mereka sudah tiba di lantai yang mereka tuju.
Serentak tertawa kecil mengingat aksi bodoh mereka yang gagal sambil melangkah ke luar dari lift.
Kehadiran keduanya yang tampak ceria, menarik perhatian para pegawai yang menatap kagum dan iri. Khususnya yang perempuan.
Padahal ada bidadari di sampingnya, tapi cintanya ngga bergeser. Tetapstuck dengan cinta pertamanya. Apalagi mereka yang hanya pegawai biasa. Kecantikan juga pas pasan. Apalagi kekayaan. Sangat jauh sekali jaraknya dan ngga bisa dibandingkan. Jaman cinderella sudah berakhir. Monolog mereka dalam hati.
Alexander dan Rihana pun kini sudah melaju di dalam mobil sport terbaru Alexander.
"Kamu suka dengan apa yang kukatakan saat live tadi?" tanya Alexander denga fokus ke depannya. Tapi hatinya diliputi kecemasan akan respin Zira.
"Suka," jawab Rihana jujur membuat Alexander mengerem mobilnya tiba tiba. Untung saja mobil di belakangnya bisa menghindar.
Dan makian pun keluar saat mobil itu melewati mobil mereka. Alexamder mgga peduli.
Hatinya melonjak senang.
"Alex," seru Rihana masih panik.
"Sorry. Aku bahagia mendengarnya," senyum Alexander melebar saat melirik wajah pucat Rihana akibat insiden kecil tadi. Mobil pun melaju lagi membelah jalan raya.
Rasa bahagia yang aneh, batin Rihana kesal. Dadanya yang terguncang mendadak tadi masih terasa sakit. Tadi Alexander cukup kencang melajukan mobilnya saat pengereman mendadak dilakukan.
"Maaf, sakit, ya?" tanya Alexander baru tersadar dengan melihat sedikit ringisan Rihana.
"Sedikit," ucap Rihana jadi melunak melihat kekhawtiran di wajah Alexander.
"Syukurlah," jawab Alexander lega.
"Aku beneran loh duluan jatuh cinta ke kamu," rayu Alexander sambil melirik Rihana yang tersipu. Gemas melihat reaksi Rihana.
Rihana memalingkan wajahnya ke.arah lain untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya. Tapi sayangnya, Alexander sudah melihatnya dan ingin terus menggodanya.
"Tapi dulu kamu suka aneh kalo kita lagi tatap tatapan, pasti menghindar duluan. Kamu gugup, ya?" goda Alexander lagi. Jujur, saat menggoda Zira saat ini pun jantungmya berdebaran ngga menentu, memenuhi rongga pernafasannya. Dia juga gugup, hanya dia lebih bisa menyembunyikannya dari Zira.
"Ngaco," sangkal Rihana kesal menutupi desiran desiran aneh di rongga dadanya. Tapi hatinya mengakui kebenaran kata kata Alexander.
Alexander tergelak. Hatinya selalu bahagia tiap mengingat kenangan mereka dulu.
Seingat Alexander, di kelas mereka dulu juga banyak yang menyukai Rihana. Tapi gadis itu agak menutup diri. Dia juga agak pendiam. Mungkin karena tinggal di panti asuhan. Tapi panti asuhan Rihana juga elit karena ngga menerima sumbangan. Bahkan mereka bisa menghidupi diri mereka berkat usaha konveksi yang.dikelola Bu Saras.
Yang Alexander suka karena Rihana tampak tulus. Dia selalu tersenyum, seakan akan di wajahnya yang tergambar adalah kebahagiaan semata.
Alexander selalu memperhatikannya. Matanya akan sulit berpaling jika dia sudah mengetahui keberadaan Rihana.
"Dari dulu aku ingin menjadikan kamu kekasih. Tapi aku akan pergi. Aku takut memberi kamu beban karena menungguku. Aku pikir aku kuat jika membebaskan kamu dan setelah lulus baru merealisasikan niatku menghalalkanmu. Tap ternyata aku salah. Apalagi saat kamu tiba tiba pindah. Aku seperti gila mencarimu. Sayangnya aku ngga ngira kamu pindah ke jogja," ungkap Alexander panjang lebar. Bahkan kini dia sudah menepikan mobil sport
nya di sebuah restoran ayam bakar yang sudah sangat terkenal.
Sementara Rihana masih terpaku mendengarmya. Tapi deheman laki laki itu menyadarkan Rihana
Ini yang disukai Rihana dari Alexander. Alexander suka membawanya ke tempat makanan yang umum, bukan restoran kelas atas yang butuh banyak aturan
Lagi lagi Alexander merangkul bahu Rihana saat mereka memasuki restoran yang mengusung konsep pedesaan.
"Setelah ini kita akan melihat hotel yang sudah dipesan keliarga kita," kata Alexander setelah pelayan kafe memcatat pesanan mereka dan sudah menjauh.
"Ya," sahut Rihana dengan debaran yang tambah ngga menentunya. Mengingat sebentar lagi mereka akan menikah. Dia dan Alexander.
"Setelahnya kita akan melihat rumah kita," sambung Alexander dengan wajah penuh senyum melihat kegugupan Zira.
Dia suka melihat wajah itu yang kehilangan rasa tenangnya.
Alexander pun mengambil tangan Rihana, menggenggamnya dan mengecupnya lembut. Nafas Rihana seakan berhenti saking gugupnya.
"I love you," tukas Alexander lagi sepenuh hati.
Kembali jantung Rihana mau berlompatan saat mendengar kata kata yang diucapkan Alexander dengan sangat lembut.