NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kenyataan yang satu persatu terbuka



Alexander berjalan terburu buru mendekati ruang operasi. Jantungnya berdebar ngga menentu saat melihat keluarga dari opa Airlangga berada di sana. Sangat lengkap.


Awalnya dia agak ragu. Tapi saat melihat Puspa ada di sana membuat dia yakin, kalo ngga salah berada di sana.


Herdin mengikutinya tetap tenang. Dalam hatinya sama seperti Alexander. Menduga duga apakah Rihana memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Om Airlangga.


Opa Airlangga dan Oma Mien serta yang lainnya menatap Alexander penuh minat.Mereka sudah tau dari Rihana tentang laki laki tampan yang nampak ngga tenang ini.


Dalam hati merasa surprise dengan kedatangan Alexander.


Bahkan Nidya pun menatap ngga berkedip pada Alexander yang sempat dia suka.


Ternyata dia datang menjenguk Rihana.


Kalandra melirik àdiknya yang sepertinya biasa saja kali ini melihat Alexander. Ngga seperti biasanya. Menunjukkan kehangatannya.


Emir dan Emra mendekatinya.


"Operasinya belum selesai," ucap Emir memberitau.


"Kenapa harus di operasi?" Jujur, Alexander bingung saat menanyakan tentang Zira di resepsionis. Perawat yang berada di sana mengatakan kalo Rihana masih berada di ruang operasi.


"Kita juga belum tau pastinya. Puspa nemuin Rihana pingsan dengan lemari di sampingnya. Juga banyak helm proyek yang jatuh," jelas Emra.


"Om Dewan juga sedang menyelidikinya," sambung Emir lagi.


Alexander kali ini menatap keduanya penuh selidik.


"Sebenarnya ada hubungan apa kalian dengan Zira, em, maksudku Rihana," ucapnya tenang.


"Sebenarnya itu juga yang mau kami tanyakan. Ada hubungan apa kamu dengan Rihana," tukas Emra balik bertanya, juga dengan sikap ngga kalah tenangnya.


"Persiapan untuk menyambutmu dan keluargamu sudah rampung. Tapi sepertinya kita harus menundanya," sambung Emir dengan tatapan tajamnya.


Dia penasaran. Apa benar Alexander serius.dengan Rihana.


"Kalian keluarga dari almarhumah mamanya Rihana?"


"Benar sekali. Kelihatannya kamu cukup tau, ya, tentang Rihana, sepupu kami," jawab Emra.


Sepupu? Alexander dan Herdin saling tatap.


"Tentu saja Alex tau. Karena kami teman satu SMAnya," kali ini Herdin yang sejak tadi diam mulai bicara, seakan ikut membantu Alexander menghadapi keroyokan dari sepupu(?) sepupu Rihana.


Pernyataan Herdin didengar cukup jelas oleh mereka yang ada di situ.


Alexander kemudian diikuti Herdin menghampiri Opa Airlangga dan Oma Mien.


Opa Airlangga sampai memeluk keduanya. Lebih lama pada Alexander. Oma Mien mengusap air matanya


"Bisa ceritakan gimana Rihana dulu waktu SMA?" tanya Oma Mien terbata, menahan berbagai perasaan dalam dadanya.


Alexander dan Herdin saling pandang dan tersenyum.


"Rihana gadis yang sangat pintar. Dia sangat mandiri," jelas Alexander.


"Apakah dia nampak berbeda dengan temannya yang lain?" tanya Oma Mien getir.


Alexander tentu tau maksud pertanyaan Oma Mien. Pasti Oma mengkhawatirkan keadaan Rihana yang hanya tinggal di panti tapi bisa bersekolah di SMA elit mereka.


Sementara yang lain hanya diam menyimak.


"Rihana masuk lewat jalur beasiswa. Tapi penampilannya ngga jauh beda dengan siswi di sana. Karena panti asuhan Tante Laras bukan panti asuhan biasa. Anak asuhnya hidup dengan sangat layak walaupun tanpa donatur," jelas Alexander lagi. Kali ini senyumnya terkembang.


"Malah ngga butuh donatur.Karena Tante Laras punya usaha konveksi yang cukup besar untuk membiayai anak asuhnya," senyum Herdin juga terbit.


"Dia juga kesayangan guru guru," tambah Alexander lagi


Dalam harunya mereka pun tersenyum lega. Keingjnan terbesar mereka saat ini adalah bertemu Bu Laras yang sudah melindungi Rihana dan mamanya.


"Tapi sekarang kata Rihana, kondisinya agak berat karena tempat usaha konveksi Tante Laras terbakar. Karena itu mereka pindah ke Jogjakarta. Saya sempat kehilangan jejak Zira, emm.... Rihana karenanya," sambung Alexander lagi.


"Alex sudah menawarkan agar pindah ke perusahaannya, tapi ditolak Rihana. Dari dulu dia memang sulit menerima bantuan. Ya, kan. Lex?" ujar Herdin minta pendapatnya.


"Benar. Dia sangat punya prinsip." Tanpa sadar Alexander tertawa kecil. Begitu juga Herdin.


"Opa, Oma, saya serius dengan Rihana. Sangat serius," ucap Alexander setelah tawanya reda.


Opa Airlangga dan Oma Mien saling pandang.


"Orang tuamu gimana?" pancing Opa Airlangga.


Sudah pasti setujulah sekarang, jawab Herdin dalam hati.


"Mereka ngga bisa mengubah pilihan saya," sahut Alexander tenang membuat Nidya jadi iri dan sadar. Laki laki ini tergila gila dengan sepupu yang baru saja keluarganya temukan


'Aurora gimana, Alexander?" tanya Opa Iskandardinata membuat mereka semua berpaling pada suara yang menyapa gendang telinga mereka. Di samping beliau juga ada istrinya.


Opa Airlangga menatap sahabatnya dengan tajam.


"Bakal perang, nih," bisik Emra yang dibalas dengan hembusan nafas panjang Emir.


Sangat paham dengan sifat dua kakek ini. Apalagi ini menyangkut kisah cinta cucu cucu mereka.


Alexander dan Herdin, juga sepupu Rihana yang akin menghampiri Opa dan Oma Iskandardinata dan menyalim tangan beliau penuh hormat.


Sementara Cakra, Akbar dan Wingky mulai waspada. Karena perang dunia ke lima akan segera di mulai.


"Opa, oma, aku hanya menganggap Aurora sebagai adik perempuanku. Tolong jangan salah paham."


"Tapi kamu sempat mengabaikan Rihana saat melihat Aurora terluka, Lex," tukas Opa Iskansardinata menuangkan bensin. Siap menyulut keributan.


Opa, oma serta keluarga Rihana lainnya mendelik ngga suka pada Alexander.


"Perang sudah dimulai," bisik Emra lagi pada Emir.


"Diamlah," tegas Emir mulai kesal mendengar pernyataan yang mengandung api yang baru saja diungkapkan Opa Iskandardinata yang baru saja dia ketahui.


"Itu reflek saja, Opa. Ngga ada yang berinisiatif membawa Aurora ke rumah sakit. Rihana juga saya tinggal bersana mama dan papa," jawabnya diplomatis, tetap tenang. Walau itu adalah catatan dosa.yang selalu dia sesali.


Opa Iskandardinata tertawa membuat Opa Airlangga melakukan inhale dan exhale sebelum akan mengusirnya pergi karena sudah sangat kesal.


"Rihana itu hanya obsesimu, Lex. Sementara kamu sudah jatuh cinta pada Auroraku," tuduhnya yakin.


Alexander menghembuskan nafas kesal.


"Hanya saya sendiri yang tau hati dan cinta saya bersandar, Opa."


Opa Iskandardinata terdiam. Hatinya tercekat mendengar pernyataan Alexander yang terdengar begitu yakin dan itu melukai harga dirinya.


Hening.


Terdengar langkah kaku yang mendekat dengan buru buru.


"Operasinya belum selesai?" Dewan muncul dan pertanyaannya mengalihkan konsentrasi orang orang yang berada dalam kondisi ngga kondusif.


"Belum, Om," jawab Emra yang mulutnya sudah gatal untuk menimbrung dalan konflik yang akan pecah.


Dewan menganggukkan kepala. Sesaat dia nampak ragu. Nafasnya masih memburu karena dia berlarian dari parkiran hingga sampai ke tempat ini.


Ternyata papanya sedang membuat masalah.


Dewan mengatur jalan nafasnya agar bisa lebih tenang isi dalam dadanya yang hampir meledak. Dia sudah ngga sabar untuk mengaku pada semua yang ada disitu.


Dia adalah papa yang kejam. Yang ngga bertanggung jawab. Yang menelantarkan darah dagingnya sendiri. Dan membiarkan mamanya meninggal dalam kesedihan.


Dewan pun menghadap ke arah Opa Airlangga dan Oma Mien Arthipura dengan mata memanas. Saatnya menerima hukuman. Matanya memejam sebetar.


Tubuhnya langsung melosoh dengan hanya bertumpu pada lututnya. Matanya pun memanas


"Dewan! Apa yang kamu lakukan?" sergah Opa Iskadardinata kaget.


Semuanya juga tersentak.


"Hukum saya, om, tante. Sayalah yang sudah meninggalkan anak om dan tante dengan kejam."


Semua yang ada dapat mendengar suara Dewan yang bergetar dengan sangat shock.


Bahkan kedua opa dan oma itu memegang dada mereka, merasa sakit dan ngga percaya akan pernyataan Dewan.