NOT Second Lead

NOT Second Lead
Pasangan lainnya



"Kaget?" senyum smirk tersungging di bibir Xavi.


Daiva hanya mendecih dan melengos.


Xavi melebarkan seringai smirknya.


Hatinya berdesir. Dia suka melihat Daiva begitu. Entahlah, rasanya aneh saja karena apa pun reaksi yang Daiva munculkan membuatnya sangat menarik di mata Xavi.


"Kok, bisa kamu pake baju ini juga?" tanya Daiva setelah keduanya terdiam cukup lama.


"Oma Mien yang kasih."


"Kapan?" Daiva ngga bisa menutupi keheranannya karena tingkah Xavi yang penuh kejutan.


Kemarin seperti menyesalkan keadaan mereka. Tapi sekarang malah mengenakan pakain couple ini seakan tanpa beban dan lupa dengan apa yang sudah dia katakan membuat Daiva sudah ngga ingin berharap padanya.


Orang tuanya udah ngga marah? batin Daiva memberanikan diri menduga duga.


Tapi rasanya ngga mungkin. Karena mereka ngga datang saat pesta.


Kasus Aurora yang cukup booming membuat mereka sebagai anggota keluarganya terkena imbasnya.


"Bisa kita berdansa?" ajak Xavi ketika musik romantis mengalun lembut. Beberapa pasangan sudah turun ke tengah ruangan. Alexander dan Rihana juga sudah saling mengetatkan pelukan, dan menarikan kaki sesuai irama.


Daiva menutup mulutnya yang menganga. Kalimat yang sulit dia percaya keluar dari mulut Xavi.


Laki laki ini sukar ditebak, batin Daiva ngga abis pikir.


"Kamu becanda?"


"Engga, aku serius," bantah Xavi sambil menggelengkan kepalanya.


Tanpa menunggu penolakan Daiva, Xavi segera menarik tangannya dan berbaur dengan yang lainnya.


Sejumlah tatapan tertuju pada mereka membuat Daiva merasa canggung.


"Lihat aku saja," tegas Xavi lembut.


Daiva mengangkat wajahnya yang merona ketika Xavi melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya.


"Taruh tanganmu di leherku," titah Xavi.


"buat nyekek kamu?" canda Daiva menyembunyikan kegugupannya.


Xavi tergelak.


"Boleh kalo kamu tega."


Daiva mengembangkan senyum manisnya membuat Xavi terpersona sesaat


Dia sangat cantik, batin Xavi memuji.


"Kamu cantik," ucapnya tanpa bisa mengontrol apa yang ada di pikirannya


"Ap apa?" gugup Daiva. Wajahnya terasa memanas. Pandangan Xavi padanya terasa memuja.


Jangan beri aku harapan kosong, batin Daiva menahan sekuatnya perasaan melambungnya.


Daiva tau, andai jatuh nanti akan terasa sangat sakit.


Xavi tersenyum samar. Dia dapat merasakan degup jantung Daiva.


"Kok, belum?" canda Xavi untuk menenangkan perasaan gadis itu.


"Apanya?" tanya Daiva bingung.


"Nyekek aku," kekeh Xavi membuat Daiva memanyunkan bibirnya.


"Oke. Jangan menyesal," ancam Daiva sambil membuat gerakan mencekik leher Xavi dengan kedua tangannya.


Xavi tergelak. Apalagi setelahnya tangan itu mengalung di lehernya.


Daiva pun terkikik kecil.


Tuhan, biarkan kami merasakan kebahagiaan ini sebentar saja, do'a Daiva dalam hati.


Seakan tau apa yang dipikirkan Daiva, Xavi semakin mengeratkan pelukannya.


Rihana yang ngga sengaja melihatnya mengalihkan tatapan penuh tanyanya pada Alexander.


"Sepertinya mereka saling suka," simpul Alexander yang juga sempat melihat kemesraan keduanya.


"Kak Daiva orangnya baik. Dari awal aku masuk kerja, Kak Daiva sudah baik banget sama aku," tutur Rihana. Ingatannya tentang perkenalan awalnya dengan Daiva masih terekam jelas di kepalanya.


"Ya, Daiva memang baik," ucap Alexander setuju.


'Aku takut keluarga Om Hendy ngga setuju," lirih Rihana mengutarakan kekhawatirannya.


Alexander ngga menjawab. Dia pun mengkhawatirkan hal yang sama.


"Waktu yang bisa mengobati luka," ujar Alexander setelah sekian lama terdiam.


"Semoga," harap Rihana akan kebahagiaan kakak sepupunya.


Kak Daiva itu malaikat tanpa sayap, batinnya lagi.


'Waktu perpisahan duu kenapa kamu ngga mau berdansa denganku?" ungkit Alexander mengingat kembali momen momen manis mereka dulu.


'Kamu ngga ngajak," bantah Rihana mendadak kesal. Alexander kala itu berdansa sebentar dengan Margareta, perempuan paling cantik di SMAnya.


Rihana merasa sangat terbakar hatinya. Ngga tau gimana kabar gadis itu sekarang. Dulu Margareta memang naksir berat pada Alexander. Satu penghuni sekolah mendukungnya. Karena itu Rihana memilih menyimpan perasaannya terhadap Alexander dalam diamnya.


Lagian siapalah dia. Dirinya hanyalah anak panti yang nasibnya sangat beruntung. Dan itu sangat Rihana syukuri dan hargai.


Roda dunia memang selalu berputar, ngga akan selamanya di bawah terus. Saat ini dia sudah resmi menikah dengan Alexander, laki laki.yang diidamkannya sejak dulu. Padahal dulu berharap saja ngga berani.


Alexander menanggapinya dengan kekehan pelannya.


"Maaf, ku kira akan ditolak," jujur Alexander.


Rihana terdiam.


Melihat ekspresi Rihana membuat tawa Alexander reda.


"Ngga akan ditolak, ya?" sesal Alexander membuat Rihana terkikik.


"Mungkin.'


Alexander gemas banget melihat tingkah istrinya.


Alexander pun menyatukan dahi mereka, lagi lagi membuat Rihana terperangah.


"Aku ngga sabar menunggu acara ini selesai," kata Alexander dengan tatapan mesumnya.


Wajah Rihana semakin panas karenanya. Juga ada rasa takut menghinggapi dirinya.


"Tenanglah. Aku akan melakukannya dengan lembut," goda Alexander dengan tatapan nakalnya.


"Sepertinya aku akan sangat mengantuk," elak Rihana.


"Aku ngga akan mengganggu tidurmu, darling," goda Alexander penuh maksud terselubung.


Rihana semakin ngga nyaman dengan topik ini. Jantungnya semakin berdetak kencang.


"Kamu ingin pumya anak berapa?"


"Haa....?" Rihana makin terkejut dengan pola pikir cepat Alexander.


'Aku kepengen empat " sambungnya lagi sambil menatap lekat manik jernih di dekatnya.


Tanpa sadar Rihana menggelengkan kepalanya.


Apa laki laki ini ingin memaksanya? Apa.dia ngga tau, proses melahirkan itu sangat menyakitkan. Bahkan ada yang mengatakan seolah telah mematahkan tiga ratus tulang.


Ngga mungkin dia akan kuat melalui empat kali proses melahirkan, protesnya membatin.


"Aku akan mendampingimu jika kamu melahirkan nanti. Tenanglah," bujuknya namun kali ini Alexander ngga dapat lagi menahan tawanya melihat wajah pucat pasi Rihana.


"Kamu semakin cantik kalo takut gini," gelak Alexander lagi membuat Rihana memanyunkan bibirnya lagi dan menatapnya kesal.


Alex, kenapa kamu ngeselin banget, sih, sewot Rihana dalam hati.


Alexander makin tergelak.


Sementara itu Ansel menepati janjinya menjemput Nayara fi rumahnya.


Oma dan Opa gadis itu menyambutnya hangat.


Keduanya sangat serasi dengan pakaian couple begini.


Oma dan Opa Nayara akan berangkat belakangan sehingga mempersilakan Ansel dan Nayara untuk pergi duluan.


"Menurutmu apa setelah ini, kita bisa menyusul?" canda Ansel cuek. Dia gengsi menunjukkan keinginan hatinya yang ingin segera menikahi Nayara.


"Pacar pacar kamu gimana nasibnya nanti, tuan muda," sindirnya.


Ansel tergelak mendengarnya. Padahal kalo Nayara teliti memperhatikanya, sudah ngga ada lagi model atau artis yang datang mencarinya lagi di beberapa bulan terakhir ini.


"Bukannya bangga punya suami dengan banyak penggemar,' kekeh Ansel membuat Nayara meliriknya sebal.


Nayara ingat, malam itu saat dia bersama opa dan omanya berkunjung ke hotel tempat diadakannya pesta penyambutan kedatangan Ansel.


Ide mengerikan langsung tercetus begitu saja di kepala opa oma mereka ketika melihat kehadirannya.


Malam itu juga, tanpa persetujuan dirinya dan Ansel, Opa Airlangga langsung mengumumkan pertunangan mereka.


Tentu Nayara shock. Tapi ngga bagi Ansel Laki laki itu seperti mendapatkan mainan baru. Mungkin dia dendam karena Nayara hanya mencoretnya dengan membuat garis garis miring di kertas cek yang dia berikan sebelum keluar dari ruangan Ansel


Harapan Nayara, itu kali terakhir dia berurusan dengan Ansel. Tapi gagal total.


Suasana perusahaan langsung heboh saat tau berita itu. Awalnya banyak yang iri, tapi lama lama jadi kasian padanya


Karena selama mereka bertunangan, Ansel selalu menerima tamu tamu perempuan cantik dan seksi. Bahkan kadang Ansel, Nayara dan gadis2 seksi itu pergi bersama sama. Seolah olah Nayara asisten mereka.


Nayara ngga mau ambil pusing. Dia ngga mempedulikan kelakuan Ansel. Itu juga yang membuat banyak pegawai yang awalnya iri dan kesal jadi menaruh simpati dan empati padanya. Malahan mereka sudah mengikhlaskan Ansel, bos tampan itu menjadi milik Nayara saja. Karena siapa yang sanggup ntar punya suami yang masih suka ditempeli perempuan cantik dan seksi.


*


*


*


"Melamun?" senggol Fathan pada Nidya yang tatapannya mengarah lurus pada Alexander-adiknya yang sedang mengobrol sambil tertawa tawa dengan Rihana.


"Eh...," agak terkejut respon Nidya. Wajahnya merona malu karena kepergok Fathan.


"Masih belum bisa melupakan?" tanya Fathan tanpa bermaksud menjudge.


Dia juga menatap ke arah pasangan pengantin yang tampak sangat bahagia itu.


"Alex kelihatan sekali sangat mencintai Rihana," ucap Nidya mengalihkan topik sensitif.


"Ya."


Baru kali ini Fathan melihat betapa ngototnya Alexander mempertahankan kehadiran seorang perempuan.


Bahkan Nidya dan Aurora yang sangat cantik ngga bisa menggoyahkan kesetiaannya.


"Mereka saling menyukai sejak SMA dan akhirnya bisa menikah. Jarang banget bisa kejadian gitu. Biasanya kisah cinta SMA hanya untuk dikenang saja," lanjut Fathan lagi.


Dalam hati Nidya mengakui kebenaran ucapan Fathan.


"Rihana, gadis itu luar biasa bisa menaklukkan Alex tanpa melakukan apa apa," ucap Nidya lirih. Dia ingat segala usaha pendekatannya untuk Alex yang selalu berbuah sia sia.


Fathan meraih tangan Nidya, menggenggamnya erat.


"Kamu pasti akan menemukan laki laki yang tepat."


Keduanya saling bertatapan.


"Eh, maaf," tukas Fathan sambil melepaskan tangan Nidya yang secara spontan tadi di raihnya.


Nidya pun langsung grogi dan salah tingkah. Perasaannya jadi aneh ketika Fathan menggenggam tangannya tiba tiba. Karena setaunya Fathan sangat minim aksi dan dingin.


"Emm... A aku ke sana dulu, ya, mau nemuin papi," pamit Fathan jadi grogi.


"Ya."


Kembali keduanya saling bertatapan sebelum Nidya mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ada yang berbeda di jantungnya.


Fathan tersenyum tipis sebelum berbalik pergi.


Nidya kembali menoleh pada Fathan yang sudah pergi memunggunginya. Dia terus saja menatap kepergian laki laki yang juga sangat tampan itu dengan perasaan aneh ngga menentu.


Aku kenapa?