NOT Second Lead

NOT Second Lead
Sidang Emir



Emir baru bisa menghadap papanya setelah mengantar Kamila pulang. Ternyata sudah ada Om Cakra dan Om Akbar juga di ruangan papanya, membuat hatinya bertanya tanya, kesalahan apa yang sudah dia lakukan sampai kecus om nya juga ikur menyidangkannya.


Mereka sepertinya sudah ngga sabar menunggu kedatangannya.


Emir menatap ketiga orang tua itu dengan tatapan heran, bingung dan ngga ngerti. Kenapa dia begitu dinantikan.


"Ada yang mau papa bicarakan, Duduklah," ujar Wingky sambil mengajaknya duduk di dekatnya.


Emir menurut dengan rasa penasarannya yang semakin besar.


Tapi kedua omnya malah tersenyum tipis melihat sikap tegang papanya.


"Kamu kenal dimana Om Dipanegara? Tadi beliau datang menemui opa," ujar Wingky membuka percakapan.


Kening Emir mengerut. Dia bahkan ngga mengenal nama itu. Kenapa dia disangkut pautkan?


"Aku ngga ngerti maksud papa. Aku ngga kenal dengan nama itu," Emir menjawab cepat. Tatapannya beralih pada kedua omnya.


Tapi wajah kedua omnya malah cukup menyebalkan di matanya.


"Benar kamu ngga kenal?"


"Benar, Pa. Sebenarnya ini ada apa?" Emir sangat membutuhkan jawaban sesegera mungkin.


"Kalo cucunya?" Kali ini Om Akbar bertanya sambil melemparkan senyum.


"Cucunya?" bingung Emir mengulang kalimat Omnya.


Cucu siapa lagi?


"Cucu perempuan atau laki laki, Pa?"


Apa maksud mereka Kamila?


Rasanya ngga mungkin, bantahnya dalam hati.


Tapi bagaimana kalo memang Opa Kamila tadi datang ke sini menemui opanya.


Tanpa sadar bibir Emir berkedut


"Sudah ingat?" Wingky sampai menggelengkan kepalanya melihat wajah sumringah putranya.


Padahal ini Emir. Bukan Emra!


Fix, putranya saat ini sedang jatuh cinta.


"Maksud Papa dan Om, cucunya namanya Kamila?" Emir balik bertanya untuk memastikan dugaannya.


Mereka bertiga saling pandang. Mereka lupa menanyakan nama cucu Om.Dipamegara pada waktu itu.


Emir mengangguk. Ternyata dugaannya benar, opanya Kamila


"Kamu kenal dimana dengan cucunya?" tanya Wingky ingin tau.


"Dia.dokter di rumah sakit."


"Oooh," gumam Akbar.


"Kamu sakit sampai bisa ketemu dokter itu," senyum Wingky lega, ternyata gadis itu dokter dan namanya Kamila.


Om Dipanegara lupa mengatakan kerjaan cucunya saat mereka bertemu.


"Kami bertemu saat dia sedang menolong korban kecelakaan tunggal, Pa. Aku membantu membawa pasien itu ke rumah sakit dengan mobilku," cerita Emir lagi membuat ketiganya ber oooh kagum.


"Dia minta petanggungjawaban kamu," cetus Om Cakra dengan senyum misteriusnya.


"Aku ngga ngapa ngapain cucunya, kok, Om," bantah Emir sambil nyengir.


"Kamu bisa lihat video ini. Hampir saja Opamu kena serangan jantung," omel Wingky sambil memberikan ponselnya yang memuat adegan kissing itu.


Emir terkekeh melihatnya. Sesuai harapannya, ternyata kakek itu sudah melihat aksinya.


"Kenapa kamu berani sekali. Apa kamu ngga takut di dor," kekeh Om Akbar sambil menggelengkan kepalanya.


Emir tambah tergelak. Dia hanya iseng saja waktu itu.


"Opa Dipanegara minta kamu segera menikahi cucunya," jelas Wingky setelah tawa mereka reda.


"Kapan?" tanya Emir antusias.


"Setelah nikahnya Fathan dengan Nidya," jawab Om Cakra.


Emir terkejut.


"Tapi bukannya Kalandra, Emra dan Ansel juga ingin cepat menikah?" Emir menatap Omnya ngga enak hati.


'Mereka akan Om nikahkan bareng," kekeh Akbar lagi.


Emir, Cakra dan Wingky pun tambah berderai derai suara tawa mereka saat mendengar kata kata Om Akbar.


Memang akan sangat melelahkan jika menyelenggarakan tiga pernikahan secara terpisah dalam waktu yang berdekatan.


Akbar yakin anak anak itu akan menurut. Dia pun sudah membahasnya dengan kakaknya-Cakra dan juga keluarga Kiara. Keduanya sudah setuju.


Tinggal membahasnya dengan keluarga Adriana dan Nayara.