
"Kamu masih bisa berjalan? Atau kugendong saja?" tanya Aiden kasian melihat Aurora yang agak tertatih melangkah.
Aurora melirik sinis pada wajah yang tampak cengegesan di dekatnya.
Rasanya perih sekali, batinnya mengeluh.
Aurora ingin menangis tiap dia melangkahkan kakinya. Padahal dia sudah melakukannya sepelan mungkin. Dan langkah kakinya pun sangat pendek pendek jaraknya.
Aurora yakin pasti organ intimnya sekarang lecet parah. Tubuhnya juga rasanya remuk, tulang tulangnya serasa hancur. Percintaan mereka sangat mengerikan.
Kembali dia mengumpati Aiden yang terus melakukannya walaupun dia sudah ngga sadarkan diri.
Laki laki ini terlalu maniak, batinnya ngeri.
Aiden menunggu sampai Aurora berada di luar kamar, dia hanya memperhatikan dengan senyum smirknya melihat hasil dari perbuatannya.
Sedikit menyesali karena telah bermain kasar pada si cantik yang ternyata sangat lembut ini. kemudian tanpa kata dia mengangkat tubuh itu dengan sangat enteng dalam gendongan ala bridalnya.
Aurora sempat menjerit kaget ketika tubuhnya mendadak diangkat. Kini dua pasang mata saling beradu pandang. Bahkan kini kedua tangan Aurora menggelung leher kokoh Aiden.
Dada Aurora berdesir. Ngga disangkanya laki laki player pemaksa ini memiliki sisi lembut juga.
Ada perasaan aneh menyelusup dalam dirinya Aiden terlihat lebih menawan dengan aura maskulin yang berbeda dari biasanya. Aurora terlalu sering melihatnya dengan aura brengseknya.
"Ehem."
Keduanya tersentak dan langsung mengalihkan tatap pada suara batuk yang menyapa.
DEG
Jantung Aurora rasanya copot saat melihat Alexander dan Herdin berdiri tenang di hadapannya.
"Kak Alex," ucapnya dengan suara tercekat. Pupil matanya membesar karena ngga percaya dengan apa yang dilihatnya. Wajahnya pun pucat pasi.
Sudah jelas hanya pikiran buruk dan negatif yang ada di dalam kepala kedua laki laki ini tentangnya dan Aiden.
Apalagi sekarang pun belum jam enam pagi. Tubuh Aurora gemetar dalam gendongan Aiden.
Aiden menatap menantang pada kedua laki laki di depannya. Dia sama ngga takut ke gap mereka. Malahan dia merasa sangat senang karena ngga harus menyembunyikan lagi hubungan intim mereka.
Apa apa ini. Mereka menunggunya sepanjang malam? decihnya sinis dalam hati. Aiden mengingat tadi malam sepertinya dia berpapasan dengan salah satu dari laki laki itu.
Melihat ekspresi ketakutan di wajah Aurora dan juga nama yang disebut gadis itu dengan suara bergetarnya, Aiden baru tau kalo salah satu laki laki itu adalah pujaan hatinya.
Tanpa sadar Aiden menyeringai. Puas. Dengan ke gap begini, Aurora ngga akan bisa kembali lagi pada laki laki itu. Apalagi kalo sampai gadis ini hamil, Aurora makin ngga bisa lepas dari jeratannya.
"Aiden Tanaka Permana," kata Aiden tenang dan sangat percaya mengenalkan dirinya sambil mengulurkan tanganya.
Hampir saja Aurora menjerit karena satu tangan Aiden yang memegang tubuhnya malah dilepaskan begitu saja. Tentu saja Aurora makin mengeratkan pelukannya di leher Aiden sambil mengumpat dalam hati.
"Alexander Monoarfa." Mata Alexander melirik pada Aurora yang semakin menempel pada Aiden. Dia semakin yakin kalo hubungan keduanya sangat serius.
Aiden Tanaka Permana?
Rasanya Alexander pernah mendengar nama itu.
"Herdin Alwi Shihab." Herdin pun ikut membalas uluran tangan laki laki itu dengan tatapan elangnya.
Sudah bisa dipastikan kalo keduanya sudah melakukan hubungan terlarang. Karena rok Aurora yang tersingkap menapilkan cukup banyak bekas bekas merah membiru di paha bening gadis kecintaannya itu.
Walaupun Herdin sudah berusaha melepaskan diri dari perasaannya pada Aurora, tetap saja ada rasa hampa dalam hatinya melihat fakta di depannya.
"Oke, aku dan kekasihku terburu buru. Senang berjumpa dengan kalian," kata Aiden benar benar keluar dari lubuk hatinya. Bahkan tangannya yang tadi terulur kini secara nakal dan halus menyingkap rok gadis itu lebih ke atas. Memperlihatkan sedikit organ intimnya yang nampak bengkak dan memerah. Ternyata Aurora ngga mengenakan underwearnya. Mungkin karena sangat perih jika harus bergesekan dengan kain halus itu.
Saat ini Aurora ingin terjun ke samudera atlantik dan ngga ingin muncul lagi.
Dia pun ingin menghajar Aiden yang sembarangan mengakui kalo dia adalah kekasihnya di depan Alexander dan Herdin.
"Silakan," jawab Alexander yang sedikit terkejut dengan penampakan yang dipertontonkan sesaat oleh Aiden.
Herdin hanya terdiam dan membiarkan keduanya pergi. Auora pun ngga mengucapkan sepatah kata pun. Hanya menampilkan wajah pucat pasinya. Seakan akan seluruh darahnya menguap dan ngga bersisa sedikitpun di tubuhnya.
Alexander menepuk pelan bahu sahabatnyanya yang terlihat shock, sambil terus memandang punggung Aiden yang menjauh
Dia tau apa yang dirasakan Herdin. Dan Alexander juga ikut memandang punggung tempat Aurora bersandar tanpa mengucapkan sepatah kata.
Kemudian dia melirik jam di pergelangan tangannya. Hampir satu jam dia bersama Herdin, menunggu pintu kamar Aurora terbuka.
Tapi ngga sia sia. Matanya sendiri yang memergokinya Aurora yang keluar bersama kekasihnya dalam kamar hotel yang sama.
Alexander teringat kalo laki laki tadi mengaku sebagai kekasih Aurora.
Aurora sudah ngga ada alasan lagi mempertahankan dirinya. Dia sudah jelas punya kekasih, dan Alexander bahkan ada Herdin di sampingnya sudah memergokinya.
"Kita pulang," kata Alexander setelah beberapa lamanya mereka masih terdiam. Bahkan Aiden dan Aurora sudah ngga terlihat lagi.
"Menurutmu siapa yang bisa ku jadikan kekasih?" tanya Herdin dengan senyum miringnya.
"Santai saja. Ngga usah terburu buru," kekeh Alexander ringan.
Herdin juga menimpali dengan suara tawanya.
*
*
*
"Apa yang sudah kamu katakan," geram Aurora saat Aiden menurunkan tubuhnya ke kursi di samping pengemudi.
Aiden menyeringai
"Bukannya itu lebih baik. Kamu sudah ketangkap basah olehnya, sayang," kata Aiden sambil mengusap paha dalam Aurora.
Aurora menggigit bibirnya agar ngga mengeluarkan des@/h@n. Aiden sangat piawai menaklukkan tubuhnya.
Bahkan kini laki laki itu ikut masuk ke dalam mobil dan menindih tubuhnya setelah membuat posisi kursi Aurora sangat rendah.
Aurora hanya bisa melenguh dan mendes@/h berulang ulang mendapatkan perlakuan panas Aiden
"Aiden.... Ki kita ha harus ke rumah sakit," katanya terbata dengan rasa pusing yang nikmat.
Aiden tersadar. Dia melepaskan hisapannya dari puncak dada Aurora.
"Oke, honey." Dengan hati hati merapikan baju Aurora yang sudah dibuatnya terbuka pada bagian atasnya.
Aiden pun menutup pintu mobil. Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan mulai menghidupkan mesin mobil.
"Biarkan seperti ini," cegah Aiden ketika Aurora ingin menegakkan kembali sandaran kursinya.
Sebelum Aurora bisa membantah, sebelah tangan Aiden sudah bergerilya di tubuh Autora. Dengan sebelah tangan yang lainnya lagi mengemudikan stir mobilnya, meninggalkan parkiran hotel.
Aurora sudah benar benar takluk dengan permainan panas Aiden.