NOT Second Lead

NOT Second Lead
Analisa



Xavi yang banyak menemukan kejanggalan akan kematian Aiden bermaksud pergi ke kantor polisi untuk melihat lagi rekaman cctv yang sudah berada di tangan Polisi.


Tapi dia cukup terkejut melihat dua orang yang pernah dilihatnya di pemakaman Aiden, ternyata juga berada di kantor polisi.


"Hai, Aku Alexander kalo kamu lupa," sapa Alexander dengan senyum ramahnya.


"Aku Herdin," sambung Herdin mengenalkan dirinya. Karena mereka memang belum berkenalan pada saat itu.


"Xavi," balas Xavi ngga kalah ramahnya.


"Ada yang baru kalian temukan?" tanya Xavi ingin tau.


Herdin menggelengkan kepalanya.


"Kami hanya melihat ulang rekaman cctv. Pelaku dan mobilnya," jelas Herdin.


Kembali mereka melihat rekaman cctv tersebut dengan perasaan ngilu saat pelaku memukulkan kunci inggris ke arah kepala Aiden berkali kali.


"Aku rasa pelakunya perempuan," tebak Alexander yakin. Walaupun dia memakai jaket kebesaran, kaca mata dan topi, tapi Alexander merasa yakin saja kalo sosok itu perempuan.


Herdin dan Xavi kembali menajamkan mata mereka. Memang ngga terlihat jelas wajahnya.


"Aku rasa ada percikan darah di jaket dan celana panjangnya," tambah Herdin. Melihat pukulan sekeras itu dipastikan darah Aiden pasti muncrat dan mengenai jaket atau celana panjang gadis itu.


"Dia menghancurkan ponsel Aiden sampai tukang servis ngga bisa memperbaikinya. Kartu memorinya juga ngga berfungsi. Apa ada sesuatu yang berharga di dalam ponselnya?" sambung Hendi lagi membuat ketiganya saling pandang.


Jantung Xavi mendadak berdebar keras


"Aiden seperti sedang menelpon seseorang dengan keras sebelum dipukul," ucap Xavi yang sejak tadi hanya terdiam.


Alexander dan Herdin pun penasaran tentang siapa yang ditelpon Aiden dengan kesal.


"Kita bisa mengurutkan rekaman cctv perjalanan mobil ini mau pergi ke arah mana. Tapi sayangnya dia melewati jalan pintas ini yang ngga ada rekaman cctvnya. Polisi sedang menyusuri cctv setelah keluar dari jalan pintas ini. Mungkin butuh beberapa hari," jelas Alexander.


Kemudian ketiga berjalan ke luar dari kantor polisi, karena belum ada perkembangan terbaru.


"Kalian mengenal Aurora, calon istri Aiden?" tanya Xavi saat ketiganya sudah sampai di parkiran mobil.


"Tentu," jawab Alexander setelah saling pandang dengan Herdin.


"Alexander menolak dijodohkan dengan Aurora," sambung Herdin yang diangguki Alexander.


Xavi tersenyum.


"Kata papaku, kamu lebih milih kakak Aurora. Maaf kalo aku terlihat ingin tau."


"Tidak apa. Kakak Aurora teman SMA kami. Dan aku sudah menyukainya sejak saat itu," sahut Alexander ringan. Rasanya lebih menyenangkan berkomunikasi dengan Xavi dari pada kembarannya yang sudah almarhum.


"Ooo." Xavi terdiam. Dalam pikirannya terjadi pertengkaran, apakah dia akan memberitaukan hal yang meresahkan pikirannya.


"Aku sempat melihat seorang perempuan menangis di makam Aiden. Tapj bukan Aurora. Apa kalian tau kalo Aiden punya kekasih selain Aurora?"


Alexander dan Herdin kompak menggelengkan kepala.


"Gadis itu menaiki mobil dengan logo perusahaan Om Dewan," tambah Xavi lagi. Hatinya begitu penasaran tentang kematian Aiden yang penuh teka teki.


"Mungkin kekasihku atau sepupunya tau. Mereka bekerja di perusahaan Om Dewan dulu," jelas Alexander.


"Dulu?" Kening Xavi mengernyit dan dia teringat apa yang sudah papanya katakan.


"Zira kekasihku, ditemukan terluka parah di salah satu ruangan di perusahaan Om Dewan. Sekarang Zira dan sepupunya Puspa sudah resign dan bekerja di perusahaan Opa Airlangga," jelas Alexander.


"Sudah tau siapa yang melakukannya?" Dada Xavi berdebar menunggu jawaban.


"Aku belum bertanya pada Om Dewan. Sepertinya belum," ucap Alexander. Dia pun lupa bertanya tentang hal itu pada Om Dewan setelah banyaknya hal hal besar yang terjadi.


"Baiklah. Kita berjumpa lagi setelah polisi mendapatkan petunjuk lagi," kata Xavi menahan beban di dada sambil membuka pintu mobilnya. Dia ingin berterus terang tapi dia juga belum bisa mempercayai kedua orang di depannya yang baru saja dia kenal.


"Oke," balas Herdin.


"Sebaiknya kekasihmu harus berhati hati dengan Aurora," ucap Xavi ketika melihat Alexander yang akan membuka pintu mobil.


Alexander yang berdiri tepat di samping Xavi mengurungkan niatnya, dan dia pun berbalik menatap Xavi dengan sangat serius. Sementara Herdin sudah berada di dalam mobil dan sibuk menerima panggilan telpon.


"Kamu tau sesuatu?"


"Entahlah. Tapi aku agak curiga dengan Aurora."


Alexander tersenyum seakan menyangkal pernyataan Xavi


Aurora membunuh Aiden? Ngga masuk akal, bantahnya dalam hati.


"Kamu mungkin ngga percaya. Tapi papaku mengatakan kalo Aurora menyuruh Aiden untuk melukai kekasih kamu."


DEG


Alexander terpaku. Telinganya seakan berdenging.


"Kamu serius? Papa kamu tau dari mana?" sentak Alexander penuh tekanan.


Om Dewan ngga mengatakan apa apa. Atau Om Dewan sengaja merahasiakannya? batin Alexander marah karena Rihana hampir saja meninggal. Apalagi mengingat sikap Aurora yang terlihat biasa saja saat berada di rumah sakit membuat hat Alexander geram.


Dia psikopat?


"Aku lupa bertanya. Dan perlu kamu tau, di laptop Aiden banyak sekali foto foto Aurora tanpa busana. Juga video mereka yang sedang bercinta." Xavi akhirnya memutuskan menceritakan semua yang dia tau. Dia ingin kasus kematian Aiden cepat terungkap.


Alexander bergeming. Kakinya seolah dipaku mendengarnya. Teringat lagi akan ucapan Aurora kalo Aiden memaksanya.


Kepalanya digelengkan berulang kali menyangkal keras kalo Aurora bisa saja yang membunuh Aiden.


Tapi mengingat dia telah mencelakakan Zira melalui Aiden, Alexander jadi oleng. Pikiran positifnya tentang Auora ambyar.


Bisa saja Aurora masih mengincar Zira. Zira dalam bahaya.


Kedua tangan Alexander mengepal. Dia ngga akan membiarkan Zira sampai terluka lagi.


"Aku sudah memberikanmu banyak informasi. Kuharap kamu juga begitu," kata Xavi kemudian menepuk bahu Alexander sebelum menggas mobilnya pergi meninggalkan Alexander yang masih diam terpaku.


"Ada apa?" tanya Herdin yang melihat wajah Alexander yang mengeras.


"Kita harus bertemu Om Dewan," katanya sambil memakai seat beltnya.


"Kenapa tiba tiba begini?" Herdin menatapnya heran.


Alexander menghembuskan nafas kesal sambil menatap ke arah luar jendela mobilnya yang sudah dia turunkan.


"Kata Xavi, papanya memberitau kalo Aiden yang mencelakakan Zira atas suruhan Aurora."


Mulut Herdin sampai terngaga. Shock dan ngga percaya kalo Aurora sudah berbuat sejauh itu. Ternyata hubungannya dengan Aiden sebagai partner yang saling menguntungkan. Aiden mendapatkan tubuhnya sedangkan Aurora mendapatkan keinginannya.


"Menurut kamu, apa mungkin Aurora yang membunuh Aiden?" tanya Alexander masih tanpa melihat ke arah Herdin. Pikirannya masih ngga nyaman. Dia pun belum menghidupkan mesin mobilnya.


Alexander jadi tambah khawatir tentang keselamatan Zira. Jantungnya berdebar keras. Masih ngga percaya kalo Aurora seburuk itu.


"Mungkin," jawab Herdin setelah berpikir cukup lama. Bisa saja Aurora menganggap Aiden terlalu memerasnya dan dia ketakutan.


"Rihana mungkin dalam bahaya," ungkap Herdin hati hati mengingat Aurora pernah mau mencelakakan Rihana.


"Mungkin sekarang Aurora sedang berusaha atau sudah menghilangkan barang bukti," kata Alexander sambil menatap Herdin dengan perasaan semakin ngga nyaman.


"Kamu curiga pada Aurora?"


Agak ragu Alexander menganggukkan kepalanya.


"Oke, kita bisa menyelidiki Aurora," tegas Herdin yang diangguki Alexander.