
"Hei, kamu ngga apa apa?" kaget Daniel bertanya melihat seorang perempuan yang hampir jatuh di lorong kampus.
"Ehm..... makasih," ucapnya sambil menutupi hidungnya dengan sapu tangannya saat Daniel menahan pundaknya.
"Kamu ngga apa apa?" Daniel bisa melihat noda merah di sapu tangan itu. Darah.
"Ya, ngga apa apa," ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya di tembok lorong dengan mata terpejam.
Tapi sedetik kemudian matanya terbuka lebar, pusing dan lemasnya hilang berganti dengan rasa terkejutnya karena tubuhnya terangkat dan kini menyandar dalam gendongan laki laki yang menyapanya tadi.
Daniel si players kampus.
"Ap... apa yang kamu lakukan? Jangan begini, aku ngga apa apa. Cepat turunkan aku," ucapnya gelagapan dan wajahnya merona.
Bibir Daniel berkedut jahil.
"Baru kali ini ada yang minta diturunkan dari gendonganku," kedip Daniel nakal membuat wajah gadis itu semakin merah karena terbias dari kulitnya yang terlalu bening.
Gadis itu terpaku dan keduanya bersitatap beberapa detik.
Kemudian Daniel melangkahkan kakinya dengan cepat seakan dia ngga membawa beban berat sama sekali.
"Ka.... kamu mau bawa aku kemana?" tanya gadis itu semakin gugup. Tangannya pun terpaksa melingkar di leher laki laki itu.
Wajah mereka sangat dekat. Baik Daniel maupun gadis itu bisa menghidu parfum masing masing.
"Ke klinik kampus. Memangnya kemana lagi?" Daniel balik bertanya dengan satu alisnya yang terangkat ke atas.
Gadis itu semakin salah tingkah karena ditatap sangat intensif.
"Mau ke hotel saja? Aku miskin, ngga punya apartemen," canda Daniel menyahut.
Bibir gadis itu terbuka kemudian tertutup mendengar kata kata merendahnya.
Miskin apanya? Mobilnya spott ganti ganti terus, batin gadis itu membantah.
"Klinik aja," jawabnya cepat dengan pipi masih merona.
Enak aja mau bawa dia ke hotel, dengusnya dalam hati.
Daniel tertawa mendengar jawaban gadis itu.
'Aku Daniel. Nama kamu siapa?"
"Nadine."
Aku udah tau nama kamu, batin gadis yang bernama Nadine.
"Ternyata kamu kurus sekali dan ringan," ucap Daniel sambil menatap tajam ke dalam bola mata yang bening itu.
Gadis itu ngga seperti kebanyakan gadis yang sangat bahagia berada di dekatnya. Malah gadis ini seperti ngga nyaman.
Daniel jadi geregetan. Baru kali ini dia repot repot menggendong seorang perempuan yang tampak lemah.
'Turunkan aku. Banyak yang lihat," pinta Nadine malu dengan suara yang peralahan, karena di kiri kanannya sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang memperhatikan keduanya. Bahkan banyak yang bersuit suit.
"Pacar baru, bro?" tanya salah satu temannya yang mereka lewati.
Daniel ngga menjawab. Dia hanya tersenyum saja.
Wajah Nadine makin menempel di dada Daniel. Dia malu. Jantungnya pun berdebar cepat. Laki laki ini pasti bisa merasakannya.
"Daniel, dia siapa?" tanya salah seorang gadis yang menghampiri mereka dan menjejeri langkah panjang Daniel. Dia berusaha melihat wajah gadis itu. Penasaran dengan perlakuan manis Daniel.
"Jangan ikuti aku," kata Daniel hingga mampu menghentikan langkah gadis itu.
"Sudah, jangan malu lagi. Dia.udah ngga ngikutin kita," senyum Daniel.
Nadine ngga menjawab. Dia tengadah sebentar. Ternyata Daniel sedang menatapnya.dan tersenyum.
Daniel menunggui Nadine yang sedang beristirahat di klinik kampus. Temannya yang hampir lulus di fakultas kedokteran mengatakan kala Nadine kelelahan, juga karena matahari cukup terik.
"Mimisannya ngga bahaya?" tanya Daniel sambil melirik gadis yang entah pura pura atau memang kelelahan itu sudah memejamkan mata.
"Dokter Randy ngga ada, sih. Kalo nurut aku biasa aja mimisan karena terlalu capek atau karena ngga kuat dengan panas matahari," jawab Tom santai.
"Begitu, ya."
"Kalo mau yakin, minta dia check aja di lab," lanjut Tom sambil menatap Daniel jahil
"Mangsa lo?" bisiknya menahan tawa.
Daniel ngga menjawab, tapi melebarkan senyumnya.
Mereka pun terus mengobrol hingga berjam jam lamanya. Bahkan agar ngga jenuh, keduanya mabar game yang cukup viral.
Hingga dua jam kemudian, Nadine mendekat. Tadi dia sempat tertidur.
"Emm.... Terima kasih. Aku pulang duluan, ya," pamitnya pada Daniel dan Tom yang sedang seru serunya berkutat dengan gamenya.
"Aku antar," tahan Daniel melihat gadis itu sudah melangkah pergi.
"Ngga usah--."
"Ngga apa. Dia khawatir sama kamu," senyum jahil Tom tersungging di bibirnya saat memotong ucapan Nadine.
"Oke. Di check aja darahnya kalo lo khawatir," ledek Tom sebelum keduanya keluar dari klinik.
"Oke."
"Mau check lab? Aku antar?" tawar Daniel ketika mereka sedang berjalan ke arah parkiran.
"Aku ngga apa apa, kok. Abis tiduran sudah mendingan," senyum Nadine
Sekarang baru Daniel menyesal, kenapa ngga melakukan apa yang disarankan Tom
*
*
*
Mereka berdua kian akrab. Tepatnya Daniel yang rutin mencari cari kesempatan bertemu dengan Nadine di kampus.
Mereka beda jurusan, tapi jangan panggil Daniel kalo dia ngga tau jurusan yang diambil gadis itu apa, semester berapa dan hari ini kuliah jam berapa.
Laki laki itu pun sudah tau dimana rumah Nadine, karena pernah mengantarnya pulang beberapa kali. Mewah juga, seperti rumah mereka.
Dua bulan berlalu hingga Daniel bermaksud menjadikan gadis itu kekasih tetapnya. Dan satu satunya. Daniel sudah berikar akan tobat dari mempermainkan hati perempuan.
Ini termasuk waktu penjajakan terlama darinya. Biasanya sehari dua hari kenal perempuan cantik, langsung ditembaknya jadi pacar. Seminggu kemudian dia tinggalkan.
Tapi Nadine beda. Ada sesuatu dari dasar hatinya yang mendorongnya untuk selalu ada di samping gadis itu.
Akhirnya hari itu tiba juga. Daniel dengan manis mengajak Nadine ke taman kota. Ini sesi paling romantis yang dia lakukan saat menembak hati 4seorang perempuan.
Biasanya dia melakukannya di kafe tanpa persiapan apa apa. Bahkan juga sering saat berdua dengan mangsanya di motor atau di dalam mobilnya.
Daniel sudah meminta pengawalnya melakukan segala persiapan. Mulai perijinan dengan pihak pengelola taman kota, hingga mendesain area penembakan cintanya dengan indah dan mewah. juga mensterilkannya dari para pengunjung lain
Biar makin romantis, Daniel mengajak Nadine pergi dengan motornya setelah gadis itu pulang kuliah.
Sesampainya di area yang sudah dipersiapkan dengan matang, Daniel langsung menembaknya.
Awalnya gadis itu terpaku, ngga bisa menjawab. Tapi untunglah sebelum kaki Daniel capek karena menekuk terlalu lama, seperti layaknya pangeran pangeran disney mengajak nikah, Nadine mengangguk. Gadis itu menerima cintanya.
Mereka pun berdansa dengan musik biola yang dimainkan oleh anak jalanan yang viral dengan kepiawaiannya.
Walau agak sungkan, tapi karena area sudah disterilkan belasan meter oleh para pengawal Daniel, Nadine mau juga melakukannya. Berdansa dengan tawa yang selalu berderai dari bibirnya. Begitu juga Daniel. Hari itu adalah hari paling bahagia untuknya.
Dia pun sudah berjanji akan mengenalkannya pada mami dan papinya. Kalo perlu Nadine akan dibawanya ke Inggris. Hanya Daniel yang menolak kuliah di Inggris. Karena itu dia tinggal sendiri saja di rumahnya. Opa dan Oma mengunjunginya tiap satu minggu sekali.
Saat pulang mengantar Nadine, hujan turun dengan deras. Awalnya Daniel ingin menepi karena melihat wajah pucat dan tubuh menggigil Nadine. Padahal belum lama terpapar hujan.
Tapi Nadine menolak. Kalimat Nadine yang berulang ulang selalu diingatnya.
'Aku ingin lebih lama bersamamu, Daniel."
Pelukannya makin mengerat di pinggang Daniel. Daniel mengabulkannya.
Begitu sampai di gerbang rumah Nadine, mereka sempat berciuman lama di bawah guyuran hujan.
Ciuman itu berhenti saat pembantu Nadine datang membawakan payung untuk nona mudanya yang sudah basah kuyup.
Daniel pulang diiringi senyum manis Nadine.
Hati Daniel melayang. Dia sangat bahagia. Perasaan ini belum pernah dia rasakan saat bersama gadis mana pun.
Nadine sudah mencuri semua yang berharga di hatinya.
Tapi besoknya rumah Nadine sepi saat Daniel akan menjemputnya kuliah.
Dan yang mengagetkan kata satpam, kalo keluarga nona Nadien tadi malam sudah pindah ke luar negeri. Tapi dia ngga tau pindah kemana.
Dan yang membuat Daniel shock, Nadine akan dinikahhkan dengan putra rekan bisnis tuan besarnya.
Daniel seperti mimpi. Baru saja kemarin Nadine menerima cintanya. Tapi sekarang gadis itu menghilang entah kemana.
Apa dia benaran sudah menikah? Trus dia menganggap Daniel selama ini sebagai apa?
Karena ngga percaya, Daniel menunggu di seberang pagar rumah Daniel selama berhari hari. Tapi rumah itu tetap sepi.
Daniel patah hati. Dia kehilangan semangat hidupnya. Bahkan pernah beberapa hari dia ngga pulang dan hanya berada di dalam mobilnya saja. Menunggu Nadine.
Para pengawal datang membawakan pakaian ganti dan makanan. Memastikan tuan mudanya baik baik saja.
Sampai mami dan papinya mau pulang dan akan memaksanya ke Inggris, karena mendapat kabar dari pengawalnya akan keadaannya yang menyedihkan.
Saat malam itu ketika Daniel bermaksud akan pulang, dia pun mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak pembatas jalan.
Untung para pengawal yang selalu membuntutinya, bergerak cepat membawanya ke rumah sakit.
Begitu mami dan papinya pulang, Daniel langsung dibawa ke Inggris untuk pengobatan fisik dan mentalnya.
Butuh waktu berbulan bulan buat Daniel kembali menjadi players seperti dulu lagi. Walau ingatan Nadine tetap tersimpan rapi di dalam hatinya.
Antara marah dan benci, rindu dan cinta, membuatnya nggak mau tertipu lagi dengan perasaan sentimentil yang sudah menghancurkannya sampai ke titik nol.