
BRAK!
"Apa apaan ini," seru Xavi sambil menghantamkan kepalan tangannya di meja kerjanya hingga bergetar. Kertas kertas yang ada di sana juga pada berpindah posisi dan ada yang jatuh ke lantai. Demikian benda benda lain, seperti laptop, pigura, sejumlah map dan pernik kecil lainnya.
Tapi Xavi ngga mempedulikannya. Yang ada hanyalah kemarahan dalam hatinya yang sangat membara. Wajahnya mengelam dan matanya menyorot tajam.pada layar tabletnya.
"KURANG AJAR!" maki Xavi lagi. Hampir saja dia melempar tabletnya ke dinding ruangannya.
Berita yang dibacanya sungguh viral dan menyesakkan dadanya.
Sejak melaporkan Aurora, mamanya terkena serangan jantung. Ngga nyangka kalo calon mantu idamannya adalah pelaku yang sudah membunuh putranya.
Papanya sekarang sedang menunggui mamanya yang belum sadar di ICU. Semua kerjaan perusahaan dia yang handel. Dulu saat masih ada Aiden, walaupun bengal, tapi anak itu cukup cekatan jika diminta membantunya.
Adik kembarnya yang malang.
Kembali dada Xavi seperti diremas dengan sangat kuat.
Siapa dalangnya?
Aurora?
Dia melakukannya saat dari dalam penjara?
Hati Xavi menolak untuk percaya. Tapi mengingat kekejian yang dilakukan Aurora, dia merasa sangat yakin. Memang gadis sialan itulah pelakunya.
Berita yang sangat memojokkan adiknya sungguh mengganggunya. Xavi ngga terima. Aurora dibela para komentator di semua akun sosial media yang dia ikuti.
Tindakan sepertu itu dibenarkan! Dimana letak moral mereka? umpat Xavi dalam hati.
Teman teman di grup bisnisnya memberikannya dukungan untuk menguatkan hatinya. Sedikit melegakan karena mereka ngga terjebak dengan sikap playing victim fans Aurora.
Pasti papanya sudah mengetahuinya.
Xavi menghela nafas kasar. Memaki tanpa henti dalam hatinya.
Terdengar suara ketukan.
"Masuk," serunya masih dilanda kemarahan.
Asistennya Roki segera masuk dan berjalan cepat ke arah remot TV dan langsung menyetelmya.
"Aku ngga lagi mau nonton TV," dengus Xavi kesal dengan kelakuan absurd asistennya. Jika dia bukan anak sahabat papanya, mungkin sudah dipecatnya sejak dulu.
"Pasti ngga nyesal. Alexander Monoarfa sedang melakukan konferensi pers," kata Roki setelah menemukan wajah Alexander yang sedang bersiap melakukan wawancara.
Ternyata sekertaris Alexander sudah memberitahukan ke semua sosial media kalo pagi ini akan ada konferensi pers dari Alexander.
Xavi ternganga melihatnya. Ngga disangkanya Alexander akan menanggapinya. Walau ngga sepenuhnya sia sia, tapi berita ini akan semakin berkembang dan akan menjadi konsumsi publik yang sangat lezat.
Teringat lagi akan berita yang dibaca, selain memojokkan Aiden dengan perkataan yang sangat pedas, juga menyebut kalo Rihana adalah pelakor yang tega merebut kekasih adiknya sendiri.
Dia pun menggeser kursinya agar nyaman menonton tanpa kata. Sementara Roki berdiri di sampingnya dengan tatap mata terfokus pada layar TV.
*
*
*
Alexander sudah duduk dengan tenang. Tatapannya tajam ke arah para pencari berita itu. Kaca matanya sudah dilepasnya. Herdin yang berada di sampingnya juga tampak tenang, sama sepertinya.
Alih alih ingin menghujat, para pencari berita itu malah terkesima melihat ketampanan dan kewibawaan Alexander dan temannya. Sangat jarang keduanya mau berdekatan dengan mereka. Apalagi melakukan sesi wawancara. Pasti masalah ini sudah sangat menyentuh harga diri mereka.
"Ehem, bisa kita mulai?" tanya Inggrid memecah keheningan.
Sontak para pencari berita itu tersadar.
Suara gaungan akibat ucapan mereka yang sahut menyahut membuat suasana jadi gaduh.
"Kalian bisa memulainya satu persatu dengan cara mengacungkan tangan," tegas Inggrid membuat para pewarta itu terdiam dan mulai mengacungkan tangan.
Setelah memilih yang pertama, Inggrid pun memberikan mix padanya.
"Katakan nama dan dari media apa," tegas Inggrid dengan nada penuh tekanan.
Pewarta laki laki itu agak tercekat. Tau resiko yang akan dia terima. Tapi dia memberanikan diri setelah melihat semangat teman temannya yang tadinya begitu membara jadi tampak kecut.
"Terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan. Nama saya Rino, dari Media Nasional Waktu," katanya memberi jeda ucapannya.
Ngga semua teman temannya yang diijinkan masuk. Hanya yang membawa kartu identitas resmi saja. Selebihnya diusir oleh para bodyguard perusahaan.
Mereka yang masuk awalnya merasa beruntung. Tapi kini mengalami deg degan yang luar biasa. Karena yang mereka hadapi adalah empat keluarga konglo yang pastinya punya kekuasaan atas hidup mereka.
Tapi demi meluruskan berita yang beredar, Rino dan teman temannya tetap memberanikan diri. Setidaknya dia akan menuliskan apa apa yang dia dengar dari sesi ini, langsung dari sumbernya yang sangat langka untuk momen biasa.
Karena berita ini mereka akan mendapat bonus besar. Bukan para pewarta menyukai nasib sial orang yang menimpanya. Tapi bagaimana lagi, orang orang di luar sana sangat menikmati berita murah seperti ini. Dan itulah sumber penghasilan mereka.
Tapi Rino ngga merasa terlalu berdosa karena selama ini medianya selalu memberitakannya dengan akurat, langsung dari sumber terpecaya. Tidak pernah membuat asumsi tanpa fakta yang ngga jelas dari apa yang sudah terjadi, tanpa pertanggungjawaban sumbernya.
"Silakan," ucap Herdin setelah melihat staf staf Alexander selesai menulis.
"Terimakasih," kembali Rino, laki laki matang berusia tiga puluhan menjeda.
"Melihat berita yang beredar, kami minta klarifikasinya atas hubungan tuan muda Alexander Monoarfa, pemilik Merapi Steel dengan cucu dari tuan Airlangga, pemilik Rekayasa Mines," kata Rino kemudian menghembuskan nafas lega setelah mengatakan apa yang jadi inti berita pagi ini.
Alexander menatap Rino tajam. Walau lebih muda, tapi aura Alexander lebih terpancar. Mungkin karena kekayaannya, atau bisa aja karena kekuasaan dan kepopulerannya. Dia pun terkenal datar dan dingin.
Tanpa Rino sadari, keringat membasahi kemejanya di ruamgan ber ac ini.
Keadaan sangat hening, menunggu jawaban dari Alexander.
Jika ngga mengingat kekasihnya yang pasti saat ini sedang gundah, Alexander ngga akan melayani wawancara yang hanya sedikit saja memberi efek positif bagi mereka.
Dia lebih setuju dengan usul yang diberikan Opa Iskan untuk membredel semua media yang lebih heboh mengungkapkan aib dari pada prestasi.
Tadi pun Alexander membuat kesepakatan dengan Opa Iskan agar mengurungkan tindakannya dalam beberapa hari ini. Jika setelah wawancara, masih ada media yang mengungkapkan berita berdasarkan asumsi mereka sendiri, maka saat itulah Opa Iskan bisa melaksanakan tindakannya.
Setelah membuat semua pewarta terintimidasi dengan auranya, barulah Alexander membuka mulutnya.
"Saya dengan kekasih saya, adalah teman saat SMA. Kami saling jatuh cinta, tepatnya saya duluan, karena dia begitu cantik, pintar dan baik hati." Alexander menghentikan ucapannya, mata kembali menatap dengan tajam para pewarta yang tampak ngga bisa membuka mulut mereka dan menunggu dengan sabar kelanjutan omongannya.
Mereka seakan akan terhipnotis saat mendengar pengakuan laki laki sukses yang digilai banyak perempuan, ternyata sudah jatuh cinta pada seorang gadis yang pastinya sangat luar biasa.
"Setelah lulus SMA kami berpisah, tapi saya selalu memonitornya tanpa setaunya. Tapi saat menjelang saya lulus kuliah, dia, maksud saya Rihana dan keluarganya pindah ke kota lain. Tapi akhirnya kami dipertemukan lagi."
Kembali hening. Satu pun dari mereka ngga ada yang berucap sepatah kata pun.
"Tentang Aurora, dia adalah anak sahabat papa saya dan kuliah serta kerja di negara yang sama dengan saya. Saya hanya bersikap sebagai kakak yang melindungi adik perempuannya selama dia di sana. Aurora juga tau kalo saya selalu menganggapnya sebagai adik. Ngga pernah sekalipun saya mengatakan mencintainya sebagai kekasih. Karena di hati saya hanya ada Rihana Fazira yang ngga terduga adalah kakak Aurora. Jadi jangan sembarangan menuliskan berita sampah yang ngga bermutu lagi," jelas Alexander panjang lebar dan di akhiri dengan kecaman.
Suasana kembali hening, tapi ngga ada satu tangan pun yang terangkat walaupun ingin. Suasana intimidasi begitu terasa di ruangan ini. Lagi pula menurut mereka Alexander lebih suka menjelaskannya sendiri. Karena itu mereka menunggu dengan sabar sambil terus merekamnya, walaupun dari pihak. Alexander akan mengirimkan soft copy rekaman ini pada mereka nantinya.
"Tentang Aurora yang saat ini berada di kantor polisi, biarkan penegak hukum yang bekerja menanganinya. Kita cukup mengawasi. Dan kami tegaskan, persoalan Aurora dan mendiang Aiden, murni masalah pribadi mereka. Saya minta hentikan untuk selalu menghujat orang yang sudah meninggal setelah ini," sambung Alexander dingin.
'Ada yang lain? Kalo sudah selesai, sesi ini akan kami tutup," kata Inggrid ketika suasana masih terasa senyap dan sepi setelah Alexander mengakhiri ucapannya.
Satu tangan tampak bergetar teracung ke atas.
Inggrid pun memberikan mix padanya dan ngga lupa kalimat ancamannya.
Walau bergetar, laki laki muda ini tetap memberanikan diri untuk melanjutkan aksinya.
Setelah memberitahukan nama dan dari media mana dia berasal, dia terdiam. Menunggu para staf itu mencatatnya.
"Silakan," ucap Herdin datar.
"Sebelumnya saya meminta maaf jika pertanyaan ini akan sangat menyinggung. Benarkah rumor kalo kekasih anda, amak yang terlahir di luar per per pernikahan?" Bahkan dia sangat tergagap mengucapkan pertanyaannya saat melihat kemarahan yang terpancar jelas dari wajah Alexander Monoarfa.
"Silakan tuan muda," ucap Inggrid yang juga mendelikkan mata atas keberanian laki laki muda ini menyuarakan pertanyaan yang paling fatal
"Anda terlalu berani mengajukan pertanyaan yang membuat sakit hati dan menimbulkan kesedihan banyak orang!"
Pewarta itu tercekat. Juga pewarta yang lainnya. Mereka seperti ngga bisa bernafas menanti ucapan Alexander selanjutnya.
"Kalian semua ngga perlu tau tentang seluruh hidup keluarga orang lain. Seperti kami yang juga ngga berminat untuk tau bagaimana keluarga anda anda semua," geram Alexander menahan marah membuat suasana sangat mencekam.
"Jika masih ada berita tentang status kekasih saya di luar sebagai calon istri saya, kita akan bertemu di pengadilan," cecar Alexander tajam membuat nyali para awak media tambah ciut.dan semakin meleleh.
Harusnya mereka bersyukur karena Alexander juga memberikan jawaban yang lebih dari apa yang mereka ekspetasikan.
Serentak mereka saling pandang dan mengangguk paham. Tentu saja mereka ngga ingin berlanjut ke pengadilan. Bagaimana pun Mereka masih ingin mencari nafkah dengan tenang.
●
●
After the heartbreak, extra part 2 sudah update♡