NOT Second Lead

NOT Second Lead
Tamat



"Selina Resign?" Kamila terkejut juga mendengarnya. Walau sudah ngga begitu respect, tapi Kamila tetap merasa kehilangan juga.


"Iya. Kita juga kaget," sambung Ifa si pemberi kabar.


"Kenapa? Bukannya dia ngga ada masalah?"


Ifa dan Nur saling pandang.


"Dia mungkiin malu sama.kamu," ucap Ifa pelan.


"Malu?"


Apa dia sudah tau siapa Emir? duga Kamila membatin


"Mungkin," sambung Ifa lagi merasa ngga enak sudah keceplosan.


Nadim sudah cerita pada Selina siapa Emir sebenarnya. Laki laki itu sudah minta maaf pada Nino karena ngga bisa menyimpan rahasia.


Tapi menurut Ifa malah bagus, agar Selina ngga terus mengganggu hubungan Kamila dan kekasihnya Emir yang disangka Selina orang miskin. Padahal sangat kaya raya.


"Kita pergi dulu, ya," pamit Nur sambil menyeret temannya pergi. Sebelum mulut rekannya terlalu banyak bicara lagi.


Ifa pun menurut. Dia juga takut keceplosan hal hal yang akan menambah bumbu dalam rumor saat ini yang sedang berkembang.


Resignnya Selina saja sudah menjadi topik hangat di kalangan para tenaga medis di rumah sakit.


Jangan menambah rumor baru lagi.


Kamila masih bersandar di pintu ruangannya. Dia masih cukup terkejut.


Ngga menyangka Selina akan menyerah secepat ini.


Tapi sudahlah. Mungkin Selina sudah memikirkannya matang matang.


*


*


*


Opa Airlangga ngga menyangka sahabatnya Opa Iskandardinata akan menikahkan cucunya Daiva dengan Xavi, seminggu setelah pernikahan Fathan.


Padahal Emir juga akan direncanakan menikah di waktu itu juga.


"Emir mau nikah sama siapa?" Opa Iskan malah kaget dengan kenyataan yang dia dengar.


Seingatnya Emir belum punya calon istri.


Opa Airlangga terkekeh. Wajar dengan reaksi sahabatnya. Dia pun masih ngga percaya kalo Emir sudah punya kekasih dan juga akan segera menikah.


Opa Iskan masih menatap sahabatnya yang masih terkekeh dengan sabar.


Setelah adanya cicitnya dari Aurora, dirinya menjadi lebih sabar dan pengertian.


Mengingat cicitnya yang menggemaskan, selalu membuat hatinya mengembang bahagia.


Ditambah dengan Xavi yang sudah berani melamar Daiva. Kebahagiaan untuk keluarganya terasa berlipat lipat datangnya.


"Kamu masih ingat dengan Dipanegara?"


"Dipanegara?" Opa Iskan sampai mengulang nama itu sambil mencoba mengingat.


"Purnawirawan itu?"


"Ya."


'Terus apa hubungannya dengan Emir?" Opa Iskan makin penasaran.


Opa Airlangga bangkit dari kursi kerja kebesaranya, menyandarkan bokongnya di ujung meja kerjanya.


Setelah menarik nafas berkali kali, Opa Airlangga pun mengatakannya. Dia yakin sahabatnya pun akan sama terkejutnya dengannya.


"Cucunya akan menikah dengan Emir."


"Haaa? Kamu serius?"


Opa Airlangga pun terkekeh.


"Aku pun sama terkejutnya dengan dirimu."


Teringat lagi saat menegangkan ketika Dipanegara datang ke ruangannya. Tawanya masih bersisa di bibirnya.


"Kok, bisa Emir kenal dengan cucu opa opa yang ngga suka dibantah ltu. Ohya, apa cucunya Polwan?"


"Bukan," geleng Opa Airlangga dengan penuh senyum.


"Cucunya dokter. Emir ngga sengaja juga kenalan dengannya."


Walau belum ketemu secara langsung dengan dokter yang sudah membuat cucunya tertarik, tapi Opa Airlangga yakin, gadis itu sangat cantik. Video yang dilihatnya sedikit banyak sudah menggaambarkannya.


Lagi pula awal pertemuan mereka sangat berkesan di hatinya, karena akan menolong orang terluka yang ngga dikenal.


Dari situ saja Airlangga sudah yakin kalo cucu kesayangan Dipanegara itu sangat baik dan penyayang.


Wajar cucunya Emir tergila gila dengannya. Sangat jelas terlihat di video rekaman CCTV yang berdurasi beberapa detik itu.


Opa Iskan manggut manggut. Dia masih terkejut dengan apa yang disampaikan sahabatnya.


"Apa cucu cucu kita dinikahkan bareng saja sesudah pernikahan Nidya?" Opa Airlangga bertanya ragu.


"Siapa saja yang akan menikah?"


"Selain Emir, juga Kalandra, Emra dan Ansel. Mereka semua ngotot mau cepat cepat menikah," tawa Opa Airlangga berderai derai


Opa Iskandardinata pun ikut tergelak bersama.


"Kalo begitu bareng aja dengan pernikahan Fathan dan Nidya," puus Opa Iskan cepat Biar semua cepat selesai. Dan mereka tinggal menunggu cicit saja.


Niat baik wajib disegerakan, bukan


Opa Airlangga tertegun sesaat sebelum kembali tambah tergelak.


"Aku setuju."


*


*


*


"Kita akan nikah bareng?" Ansel tertawa sampai perutnya terasa sakit.


Ada ada saja.


"Kita aja, kan? Kamu, aku dan Kalandra," tukas Emra.


"Ada Emir dan Xavi juga. Dua orang kurang ajar itu menyalib kita." Kalandra menatap kedua sepupunya agak kesal.


"Lima pangantin?" sela Ansel dalam gelaknya.


Emra hanya nyengir. Ngga nyangka progres kembarannya secepat itu.


"Biar sekalian rame," timpal Emra.


"Seru juga," sambung Ansel.


Kalandra hanya menghela nafas. Ngga nyangka mereka akan punya tanggal pernikahan yang sama.


Tapi baiknya memang begini. Jangab ditunda lagi. Kalandra sudah ngga sabar menunggu momen malam pertama mereka yang sudah lama dia idamkan. Adriana bisa takluk sepenuhnya dengannya.


*


*


*


"Kita akan menikah minggu depan?" Kamila langsung gugup.


Terlalu cepat.


"Malah barengan dengan sepupu aku yang udah ngebet nikah."


Pupil mata Kamila agak membesar. Ngga bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Ada empat pengantin lainnya yang bareng kita nanti," jelas Emir yang lagi lagi membuat Kamila tertegun karena merasa shock dan aneh untuk mencerna apa yang sedang dibicarakan Emir.


"Malah bagus, kan. Suasana khidmat hanya saat akad. Setelah itu akan santai," senyum Emir melihat wajah Kamila yang masih terkejut.


"Malam pertama kita akan lebih cepat." Emir mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.


Wajah Kamila merona. Lagi lagi Emir merayunya di ketinggian.


Sang pilot helikopter menipiskan bibirnya. Sepertinya nona yang bersama tuan mudanya sangat spesial. Baru kali ini dia melihat tuan mudanya yang kaku dan irit bicara, bisa juga menggoda seorang gadis.


Tapi memang gadis yang kerap menjadi penumpang helinya itu sangat cantik dan anggun. Pantas sekali bersanding dengan tuan mudanya.


"Boleh kah?" tanya Emir sambil memegang dagu gadis yang membuatnya ingin segera menikah itu.


"Hemm...." Wajah Kamila tambah merona dan hatinya bergetar hebat.


Saat dia mengangguk, Emir pun mencium bibir merahnya dengan lembut dan sangat lama.


*


*


*


"Kalian akan nikah bareng," kekeh Alexander. Herdin juga ikut mentertawakan nasib Xavi.


Xavi hanya bisa menghela nafas kesal.


Terpaksa dia menuruti permintaan Opa Iskan yang sudah cs banget dengan Opa Airlangga.


"Aku malah senang seandainya dulu bisa nikah bareng. Kalo capek dan pengen malam pertama duluan, kan, ngga akan kelihatan." Alexander melirik Xavi usil.


"Betul. Bisa gantian dan ngga akan ketahuan sama tamu tamu yang lain," tawa Herdin tergelak.


Xavi terdiam dan membenarkan juga kata kata temannya yang nantinya bakal jadi sepupu iparnya.


Gila, mereka semua akan menjadi saudara ipar karena ikatan pernikahan ini, batin Xavi sambil menggelengkan kepalanya.


*


*


*


"Kenapa kamu tampak kesal?" tanya Fathan saat mengunjungi calon istrinya di ruangannya.


Nidya agak terkejut karena ngga menyangka calon suaminya akan datang. Padahal katanya mau meeting.


"Sudah selesai meeting?"


Wajah Nidya langsung blushing ketika Fathan mengecup bibirnya sekilas.


Laki laki ini semakin berani saja.


Kenapa sekarang dia semakin agresif.


Dimana kaku dan dinginnya yang dulu.


Walau jantungnya terus berdebar kencang, tapi hatinya terus mengomel.


"Sudah. Hemm.... wangi banget," puji Fathan dengan tatapan lembutnya.


Nidya jadi semakin salah tingkah. Jantungnya pun sudah tancap gas.


Apalagi kini Fathan sudah duduk di depannya. Di atas mejanya dan menghadapnya. Jarak mereka semakin dekat.


"Katakan, kenapa kamu tanpak kesal?" Fathan terus menatap wajah kesal calon istrinya yang selalu angkuh ini.


"Hem..., katanya kita akan nikahnya barengan. Apa kamu ngga malu?"


"Oooh....." kekeh Fathan. Dia sudah diberi tau mama dan papanya kalo pernikahan mereka berdua akan diramekan dengan empat pengantin yang lain.


"Malah bagus, kan. Suasana akan sangat santai. Kita juga bisa gantian beristirahat."


"Tapi....."


"Aku sudah sepakat dengan Kalandra. Setelah akad, kita bisa gantian istirahat di kamar. Berdua saja," senyun jahil terkembang di bibir Fathan.


Nidya langsung mencubit keras lengan Fathan sampai laki laki itu meringis.


Sekarang pun kakaknya sudah tertular virus Fathan. Padahal dua laki laki ini dulunya paling dingin yang dia kenal. Tapi sekarang mereka berdua yang paling semangat untuk menikah.


*


*


*


Pernikahan akbar pun berlangsung sangat megah dan mewah Lima keluarga yang kekayaannya ngga akan habis tujuh turunan menyelenggarakannya dengan sangat meriah. Bahkan semua perusahaan mereka diliburkan satu hari


Saat akad, semuanya berlangsung khidmat dan penuh haru.


Tapi setelahnya dilanjutkan dengan acara resepsi yang begitu heboh dan penuh canda tawa.


Bahkan pengantin dan keluarganya pun ikut bernyanyi di panggung yang sudah mereka siapkan untuk para penyanyi lokal dan luar negeri.


Opa Dipanegara yang kaku pun ternyata punya suara bas yang merdu dan tegas saat melantunkan lagu dengan tema mars perjuangan, yang semakin menghentak dan menambah semangat para tamu di acara resepsi.


Rata rata para tamu tamu juga ikut bernyanyi dan bergoyang sambil menikmati hidangan khas nusantara yang dipadukan juga dengan menu dari Eropa


Opa Airlangga dan Oma Mien, juga Opa Iskan dan Oma Mora juga ikut unjuk suara. Melantunkan lagu nostalgia pada jamannya dulu.


Ansel dan Emra yang gokil berganti gantian menyanyikan lagu yang sedang viral. Bahkan lagu ngetop yang dinyanyikan pembalap motogp Vinales juga ikut dinyanyikan.


Daniel tertawa melihat kehebohan teman temannya yang sekarang sudah menjadi sepupu iparnya.


"Ngga ikut nyanyi, bro?" Hazka sudah berdiri di sampingnya dengan kruknya.


"Nanti saja. Tunggu mereka lelah."


Keduanya sama tergelak.


"Kirain ikut bergabung," ejek Daniel dalam tawanya. Dia sudah mendengar isu kalo laki laki ini akan dijodohkan dengan adik Ansel.


"Aku nemanin kamu dulu, jadi jomblo," gelak Hazka yang tanpa sadar bersitatap dengan mata galak Kirania.


Dengan nakal dia pun mengedipkan sebelah matanya.


Makin tergelak karena melihat gadis itu memalingkan wajah dengan kesal.


Daniel pun saat ini tanpa sadar saling tatap dengan Nadira.


Dia sudah tau kejadian yang sebenarnya.


Mama papanya sudah bercerita, saat tau Daniel kecelakaan, mereka mendatangi rumah keluarga Nadine.


Mama dan papa Daniel sudah tau kalo Nadine koma dan akhirnya meninggal dunia.


Mereka ngga bisa mengatakan pada Daniel karena takut Daniel akan kehilangan kewarasannya.


Mereka ingin Daniel melupakannya. Hanya tidak disangka Daniel ketemu Nadhira, kembaran Nadine setelah sekian lama.


Daniel berusaha ikhlas. Melepaskan cinta sejatinya yang selalu ada di hatinya.


Dia pun membalas senyum Nadhira yang masih menatapnya.


♡♡TAMAT♡♡





Terima kasih ya para Readers dan authors yang selalu mengikuti cerita receh ini.


Mungkin nanti akan ada season 2. Tapi nanti ya.... Lg dipikirkan model ceritanya♡♡


Sehat sehat selalu♡♡♡♡


Kalo berkenan bisa mampir di cerita receh yang lain.


Sekarang Lagi on going my ex crush.....


♡♡♡♡