NOT Second Lead

NOT Second Lead
Dijodohkan



Dewan dan Hendy menatap Aiden dengan tatapan tajam. Sedangkan Aiden mengusap usap pipinya yang memerah karena tamparan papanya.


"Jelaskan pada papa, kenapa kamu mau aja nurutin keinginan Aurora."


Aiden menatap papa dan Om Dewan sekilas sebelum kembali mengusap usap pipinya yang terasa cukup nyeri


"Aku menyukai Aurora."


Apa? kaget Hendy dalam hati. Susah untuknya percaya akan jawaban putranya yang terdengar ringan tanpa beban.


"Tapi bukannya kamu tau Aurora menyukai Alexander?"


Dasar anak bodoh, umpat Hendy kesal dalam hati.


Dewan hanya diam sambil mencari kebenaran dalam pengakuan Aiden.


Sangat sulit masuk di akalnya Aurora bisa meminta Aiden berbuat sejahat itu. Dia tau beberapa hari ini anaknya selalu murung karena kedekatan Aelxander dengan Rihana.


Tetap saja hatinya menyangkal. Aurora sangay baik dan lembut. Kegiatah sosialnya sangat aktif. Bahkan orang orang menjulukinya bidadari. Saat ini Dewan hanya bisa menduga Aiden berbohong.


Tapi entahlah. Mata Aiden ngga menyiratkan kalo dia sengaja berkelit dan menjelekkan nama Aurora putrinya. Dia terlihat berkata apa adanya.


"Kamu menyukai Aurora?" tanya Dewan setelah sekian lama hanya diam mendengarkan debat papa dan anak ini.


"Iya, Om. Putri om sangat cantik," senyumnya.


Dan panas, tawanya dalam hati.


"Kalo kamu mau, om akan jodohkan kamu dengan Aurora," kata Dewan dengan senyum penuh arti.


"Tapi anakmu, kan, sukanya sana Alexander," tampik Hendy agak kurang sreg. Cinta harus datang dalam dua arah, kan. Lagian dia ngga percaya seratus persen dengan putranya.


"Karena dari dulu yang dia kenal cuma Alexander. Dia ngga pernah dekat dengan laki laki lain," kilah Dewan sambil melirik Aiden yang menaikkan sedikit sudut bibirnya.


Aiden tentu saja setuju, larena dialah laki laki pertama yang menyentuh Aurora. Alexander sepertinya ngga pernah ngapa ngapain gadis itu.


"Aku mau, Om," ucap Aiden cepat.


"Bener kamu mau?" tanya Hendy menatap anaknya penuh selidik.


Beliau tau siapa aslinya Aiden. Dia bukan laki laki setia. Hendy hanya takut kalo Aiden nantinya akan mempermainkan Aurora.


"Ya mau lah, Pa. Aurora tuh cantik banget," puji Aiden penuh semangat.


"Kamu yakin bisa menaklukkan Aurora?" decih papanya meremehkan.


Wajar kalo Aurora jatuh cinta pada Alexander. Dia perfect.


"Yakin."


Sekarang aja udah takluk, batin Aiden mentertawakan papanya.


Dia punya foto dan video panas gadis itu yang bisa dia gunakan untuk mengancamnya.


Lagian Aurora pasti ngga akan punya muka buat bertemu Alexander dan temannya itu, yang sudah memergoki mereka di hotel.


Dewan tersenyum senang.


Satu masalah lagi sudah selesai, batinnya lega.


"Kamu setuju, kan, Hen?" tanya Dewan meminta lagi pendapat sahabatnya.


Hendy menatap Dewan dan putranya bergantian. Kemudian dia menghembuskan nafas cepat.


"Baiklah," katanya menyerah.


"Tapi ingat, Aiden. Kamu jangan pernah mempermainkan Aurora," sambung lagi dengan nada mengancam.


"Janji, Pa," sahut Aiden senang sambil mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas berbentuk hurif V. Dia sudah candu dengan tubuh gadis itu.


Dewan hanya tersenyum tipis, dalam hati mengucapkan terima kasih pada Hendy.


"Mamanya Aiden setuju, ngga, ya?" tanya Dewan lagi.


Kali ini keduanya tertawa kompak.


"Pasti setujulah. Aurora itu mantu yang paling dia idam idam, kan," seru Hendy dalam kekehnya.


Aiden ngga menampiknya. Mamanya selalu saja memintanya berkenalan dengan Aurora.


Karenanya dia bagai mendapatkan durian runtuh begitu menemukan Aurora lagi mabok sendirian di club.


Dewan ikut tertawa mendengarnya. Hatinya tenang karena Aurora juga bisa mendapat kasih sayang dari Mama Aiden.


Tapi kegundahan melandanya. Teringat Rihana putrinya, yang pastinya susah untuk dekat dengan Mama Alexander yang sudah telanjur menyayangi Auora.


"Bagaimana sekarang keadaan putrimu?" tanya Hendy dengan perasaan bersalah setelah tawanya dan putranya reda.


Aiden pun menatap Dewan canggung.


Kalo dia tau Rihana adalah putri Om Dewan, pasti dia akan langsung menolak permintaan sang bidadari.


Aiden hanya mengira kalo Rihana hanyalah pegawai biasa saja. Dan ngga akan menyebabkan urusan bakal seribet ini.


Dewan tersenyum sekilas.


"Sudah mendingan."


"Syukurlah. Aku juga minta maaf untuk kelakuan anak bodoh ini."


"Ya."


"Bagaimana ceritanya putrimu bisa mengenal Alexander? Oh iya, siapa namanya?"


Dewan menghela nafas untuk meredakan sesak.


"Namanya Rihana. Mereka teman SMA. Ternyata anakku cucu Om Airlangga."


"Maksud kamu, gadis itu, mamanya, anaknya Om Airlangga," kaget Hendy bukan alang kepalang.


Parah ini urusannya, batinnya kecut.


"Ya."


Hendy mengambil nafas berulang ulang dan menghembuskannya dengan cepat.


Belum lagi kesalahannya di masa lalu. Anaknya pun membuat kesalahan pada putrinya.


Hendy merasa dosanya sudah dobel.


Hendy kini bolak balik menatap Dewan dan Aiden dengan perasaan ngga menentu.


"Tenanglah. Kamu juga melakukannya dengan ngga sengaja."


"Om, aku akan minta maaf pada putri Om, Rihana," tegas Aiden gentle. Karena gadis itu putri Om Dewan, Aiden merasa dia sudah keterlaluan.


"Mungkih aku juga harus mengaku. Biarlah Cakra, Akbar dan Wingky memukulku. Biar perasaanku lebih tenang, walaupun tetap saja ngga akan tenang," jawab Hendy menyambung ucapan putranya.


Dewan ngga menyahut. Dia pun ngga akan pernah tenang walaupun Rihana sudah memaafkannya.


*


*


*


"Kamu ngga kerja?" tanya Rihana setelah menelan suapan puding dari Alexander.


"Aku cuti," jawab Alexander cuek.


"Ngga boleh gitu," protes Rihana gemas.


"Aku bosnya, jadi bebas," kata Alexander sambil memberikan suapannya lagi, hingga Rihana hanya bisa mendelikkan matanya kesal.


"Cepatlah sembuh. Aku akan minta pada Opa Airlangga agar kamu jari aspriku."


Kembali Rihana mendelikkan matanya.


Aspri melulu, batinnya kesal.


Alexander tersenyum lebar melihatnya.


Dia tau pasti akan susah, karena setelah sembuh Rihana akan bekerja di peeusahaan Opa Airlangga.


"Gimana kalo jadi istri?" goda Alexander membuat Rihana tersedak dan batuk.


Uhuk uhuk.


"Minum dulu," kata Alexander sambil mengulurlkan segelas air mineral yang langsung diterima Rihana. Gadis itu segera meneguknya.


"Aku serius, Zira" kata Alexander setelah batuk Rihana reda.


"Iya, dia memang serius."


"Tumben tumbennya."


Terdengar dua buah suara berbeda yang ikut menimbrung obrolan mereka.


Alexander menatap kesal pada dua orang laki laki tampan yang kini sudah berdiri ngga jauh dari tempatnya dan Zira berada. Kakak laki lakinya.


Rihana menatap bingung kenapa dua laki laki ini tampak menyapanya dan Alexander dengan santai. Tapi wajah Alexander malah masam.


"Hai, kenalkan aku Daniel. Ini kakak tertua kami, Fathan," kata Daniel sambil mendekat bersama Fathan yang hanya mengembangkan senyumnya.


"Kita kakaknya Alex," ucap Fathan membuat Rihana mengerti. Dia pun tersenyum.


"Rihana," kata Rihana mengenalkan dirinya. Ada kelegaan dalam hatinya melihat keakraban kedua Kakak Alexander.


"Kamu cantik sekali, pantasan Alexander tetap setia," puji Daniel serius.


Rihana tersipu mendemgarnya.


Fathan menyetujui. Wajah gadis ini masih terlihat pucat. Tapi inner beauty yang terpancar membuatnya tampak mempesona.


"Aku siap.dilangkahi," kata Fathan penuh makna.