NOT Second Lead

NOT Second Lead
Menyangkal (Emra dan Kiara)



"Oke, nona. Giliranmu sudah selesai," ucap Emra sambil melepaskan rangkulannya setelah meredakan kemarahannya.


Wajahnya kembali nampak menyebalkan di mata Kiara.


Dengan santai, dia pun menghampiri para perempuan yang ternyata masih tetap antri menunggunya.


Emir tertawa melihatnya.


Ditolak lo? batinnya geli. Dia kemudian meneguk es kuwutnya.


Segarnya, batinnya sambil mengawasi Kiara yang sedang dihampiri oleh kedua temannya.


Kiara segera berbalik bermaksud pergi setelah melihat kemana tujuan Emra.


Apa aku kuat punya suami seperti itu? batinnya menatap tajam pada Emra yang sekarang dipeluk dan memeluk seorang perempuan yang ternyata sudah ngga sabar untuk berdansa.


Kiara merasa menyesal karena membiarkan hatinya tertarik pada playboy ini. Walaupun awalnya dia merasa penuh tantangan bisa menaklukkan Emra dan membuat tinggi suhu adrenalinnya, tapi rasanya laki laki itu terlalu brengsek.


Mungkin waktu itu Emra sekadar penasaran saja dengannya.


Harusnya setelah dia mengatakan kalo tetap akan menikah dengan Kalandra, laki laki itu marah dan bereaksi keras memaksanya untuk tetap memilihnya.


Kenyataannya, Emra bukannya marah melainkan malahan bersikap biasa saja dan meninggalkannya tanpa beban. Sekarang dia sudah jatuh dalam pelukan perempuan lain yang lebih gampang dia dapatkan.


Tanpa sadar Kiara menghela nafas kasar. Ternyata asmaranya ngga semanis di cerita novel novel. Ngga ada laki laki tangguh yang memperjuangkan kecintaannya seperti yang selalu dia baca dan dia favoritkan.


Yang ada hanyalah laki laki penakut yang ngga berani melawan sepupunya. Cuma PHP aja.


Apa laki laki seperti itu layak dia jadikan sandaran?


Kiara benar benar mangkel. Dia terlalu berekspetasi tinggi tentang player itu.


Bodoh amat kalo nanti dia tau apa yang sebenarnya terjadi. Kiara sudah mencoretnya dan menandainya sebagai laki laki yang ngga pantas buatnya.


"Kia, kira harus bicara."


Kiara yang akan berbalik dan sedang penuh dengan alam pikirannya sendiri sampai ngga tau kalo kedua temannya sudah berada di depannya.


"Oke," ucapnya merasa aneh melihat ketegangan yang menyelimuti keduanya.


Ada apa? Mereka ngga mau memberikannya aparteman, padahal dia sudah memenangkan taruhannya?


"Kita ke sana," kata Shiza menggiring kedua temannya menjauh dari lantai dansa. Dia ngga mau mereka jadi pusat perhatian karena emosi Mela yang sudah mencapai ubun ubunnya.


Emra yang sedang berdansa menatap tajam kepergian gadis itu bersama kedua temannya. Hatinya masih dongkol karena Kiara lebih memilih Kalandra dari padanya.


Apa gadis itu ngga lihat kalo dirinya sangat dipuja banyak perempuan? Padahal seingatnya kedua temannya pun sudah berdansa dengannya tadi.


Kenapa dia ngga merasa tersanjung sama sekali setelah tadi diratukan olehnya?


Harga diri Emra terluka karenanya.


Baru kali ini ada perempuan yang sudah dia berikan sinyal ketertarikan tapi tetap ngga peduli.


Padahal kalo dia mau jadi istrinya, Emra ngga akan takut menghadapi Kalandra dan opanya. Tadi pun dia sudah terang terangan mendekatinya. Pasti bentar lagi berita kemesraan mereka akan terdengar oleh keluarganya.


Emra menghembuskan nafas kasarnya untuk mengurangi sesak dalam dadanya.


Di lain tempat, Mela menatap marah pada Kiara. Kini mereka sudah berada di tempat yang agak jauh dari keramaian pesta.


"Jelaskan, Kia," sentak Mela sudah ngga sabar.


"Apa yang harus dijelaskan?" tanya Kiara bingung dengan reaksi Mela. Tadi dia kelihatan happy happy saja. Kenapa sekarang malah kelihatan sangat marah padanya.


Kiara pun balik menatap Shiza yang berusaha tetap tenang.


"Kamu sudah kenal, kan, sama Emra?" todong Mela marah.


"Sabar, Mel," kata Shiza yang melihat Mela ngga bisa mengendalikan emosinya.


"Iya kenal," jawab Kiara jujur, apa adanya. Dia tau pasti agak mencurigakan melihat kelakuan Emra tadi padanya.


Shiza yang mencoba berprasangka baik jadi terkejut. Jawaban Kiara ngga dia sangka sangka.


Apa benar tuduhan Mela kalo Kia sudah pernah tidur dengan Emra?


"Tuh, kamu dengar sendiri, kan, Za," seru Mela sengit. Dia merasa dibohongi. Dikhianati. Kenapa Kia ngga berterus terang sejak awal.


"Baru baru juga aku mengenal Emra. Itupun karena aku menjalin kerja sama dengan sepupu Emra, Kalandra," jelas Kiara berusaha mengerti dengan cepat kenapa Mela nampak sangat marah.


Dia cemburu?


Situasinya ngga memungkinkan untuk Kiara menjelaskan semuanya.


Apalagi melihat kemarahan Mela yang.siap umtuk meledak, sedikit membangkitkan emosinya. Seakan akan dia sudah menikungnya.


Kenapa dia marah? Bukannya dia sudah menolak laki laki player itu?


Dia juga yang mengajaknya dan Shiza dalam taruhan konyol ini, gerutu Kiara dalam hati ngga anis pikir dengan sikap Mela.


"Kamu dengarkan, Mel. Kamu jangan asal marah aja dengan Kia," bela Shiza sambil menatap sinis temannya itu yang asal nuduh saja.


Bukti ngga, malah sudah emosi tingkat tinggi, dengusnya dalam hati.


Kia itu beda dengan kamu, decih Shiza lagi dalam hatinya.


Kemarahan Mela mulai mengendur mendengarnya.


"Sorry, sorry. Aku terlalu emosi," ucap Mela setelah beberapa saat kemudian. Tapi nafasnya masih belum teratur karena tadinya dadanya siap meledak. Mencecar Kiara dengan banyak pertanyaan.


"Emang kamu pikir udah ngapain?" sinis Kiara bertanya. Yakin dia kalo Mela menduga dia dan Emra sudah tidur bareng. Makanya tadi kemarahan Mela seperti pak tua yang kebakaran jenggotnya.


Shiza juga balas menatap Mela sinis.


Mela terdiam.


"Aku pikir.....," dia ngga bisa melanjutkan ucapannya. Ada sedikit rasa bersalah walau rasa cemburu masih membakar hatinya.


"Apa benar kamu ngga ada hubungan apa apa dengan Emra? Tapi kenapa dia seperti tertarik padamu?" tanyanya tetap dengan rasa curiga yang besar.


"Mana aku tau. Kamu tanya aja sendiri," ketus Kiara menjawab. Malas dia melanjutkan obrolan yang ngga penting ini. Lebih baik pulang. Pesta ini sudah sangat membosankan untuknya.


Shiza meraih tangannya ketika akan melangkah pergi.


"Sebentar, Kia. Kita berdua kalah. Besok kamu akan mendapatkan apartemennya," pungkas Shiza kemudian menatap penuh ultimatum pada Mela.


"Kamu dengarkan, Mel," lanjut Shiza penuh tekanan.


"Batalkan aja, Za," tolak Kiara udah ngga berminat lagi.


"Taruhan tetap taruhan," tandas Shiza lagi. Dia ngga akan mengalah kali ini. Kiara berhak mendapatkan hadiahnya.


"Ngga per--."


"Kalo itu tenang saja. Besok kamu akan dapatkan apartemennya. Kamu bisa pilih apartemen apa saja yang kamu suka. Aku pasti akan membayarnya," sahut Mela setelah bisa berpikir jerniih.


Tadi dia terlalu terbawa emosi dan larut dalam prasangka buruknya.


"Oke," jawab Kiara setelah mendapat anggukan Shiza.


Rasanya masih tetap ada ganjalan akibat kemarahan ngga jelas Mela.


"Sorry, aku salah. Aku benar benar minta maaf. Aku seperti orang bodoh yang marah marah tanpa alasan jelas," sesal Mela.


Kiara dan Shiza hanya diam saja. Sesaat keduanya saling pandang.


"Aku menyesal sudah menolak tawaran tidur denganmya saat melihat dia menghampirimu," sambung Mela lagi. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sebentar.


Terlihat frustasi.


"Apalagi sepertinya Emra tertarik padamu," lanjutnya sambil menatap lekat Kiara.


"Apa kamu bakal marah kalo memang Emra naksir Kiara?" tanya Shiza to the point.Dia tau sifat manipulatif Mela.


"Orang seperti itu hanya memiliki ketertarikan sesaat saja. Lihat aja, sekarang dia sedang bersama para pemujanya," ujar Kiara tenang. Dalam hati memaki kebodohanya sempat ingin menaklukkan laki laki itu.


"Iya, sih. Tapi Kia, kamu ngga suka, kan, dengan Emra? Rasanya ngga enak bersaing dengan teman sendiri," katanya sambil melihat ke arah Emra.


Shiza hampir ketawa mendengarnya.


Kenapa? Kamu takut? ejek Shiza dalam hati.


"Aku ngga akan buang buang waktu untuk laki laki seperti itu," punkas Kiara tenang. Dia sudah putuskan untuk melupakan Emra. Apalagi mengingat tuduhan Emra tentang kehamilannya.


Laki laki itu, ngga hanya tingkahnya saja yang kurang ajar. Mulutnyq juga, batin Kiara geram.


"Benar, ya, Kia? Aku tenang dengarnya," tukas Mela dengan senyum lega. Hatinya senang sekali karena Kiara yang punya potensi besar tapi malah memilih mengundurkan diri.


Shza menghela nafas berkali kali. Dia menyangsikan ucapan Kiara. Karena saat berdansa tadi keduanya seperti pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta.