
Alexander seolah ngga terganggu dengan tatapan resah Rihana yang meliriknya dengan makna agar dia segera pergj. Mengusir tanpa kata. Bahkan dengan santainya Alexander melakukan meeting online dengan koleganya dari ruangan Rihana
"Dimana ini bro?" tanya Adit, salah satu relasi yang ikut meeting online karena merasa asing dengan ruangan yang ditampilkan Alexander.
"Ruangan calon istri," jawab Alexander sambil melirik Rihana yang kembali menatapnya protes. Alexander menautkan kedua alisnya, bingung dengan protes yang terpancar dari matanya.
Bukannya ini saatnya go public? batinnya memberitau secara telepati
"Wo ho ho.... Jadi juga nikah dengan Aurora," sambar Rendi ngakak.
Nyerah juga lo. Cewe secantik itu mana bisa ditolak, batinnya.
"Bukanlah. Sembanrgan aja," bantah Alexander sambil memiringkan sedikit layar laptopnya ke arah Rihana yang ngga sadar dengan perbuatannya. Gadis itu sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Cantik, kan," senyum Alex terkembang begitu saja sambil mengalihkan kembali laptopnya ke arahnya.
"Cepat amat. Gue belum lihat dengan benar," protes Adit penasaran. Karena tadi ngga fokus melihatnyanya,juga durasinya cukup cepat.
"Salah lo," ejek Alexamder. Hatinya lega sudah memberitahu pada mereka yang selalu mengira kalo dia akan menikah dengan Aurora.
Rendi dan Herdin tertawa melihat tatapan kecewa Adit.
"Nanti gue kirim undangannya," sambung Alexander lagi. Nadanya terdengar sangat bahagia.
"Ngga nyangka, lo duluan yang nikah," kekeh Adit. Dia sudah bertunangan, tapi masih enam bulan lagi pernikahannya di gelar.
"Kita merapat nanti," sambung Rendi balas tergelak
Alexander dan Herdin pun tergelak.
Diam diam Rihana memperhatikan gerak gerik Alexander yang tampak tertawa bahagia dan sesekali berbicara dengan kalimat kalimat yang sulit ditangkap indera pendengaran Rihana.
*Dia sedang bicara apa, sih. Katanya kerja tapi malah tertawa tawa. Apa dia sering mengumbar tawany*a biar terlihat tampan, batin Rihana kesal.
"Ayo kita pulamg. Udah sore."
"Eh," kaget Rihana yang ngga nyangka Alexamder sudah berada di depannya. Tadi dia sibuk dengan berbagai isi pikirannya sendiri sampai mengurangi fokusnya pada Alexander.
Alexander mengambil berkas yang berada di tangan Rihana, membereskannya tanpa menunggu gadis itu bereaksi. Bahkan dia mencondongkan tubuhnya mendekati sehingga wajah mereka berdekatan. Lagi lagi membuat darah Rihana seakan menghilang dan detak jantungnya berhenti. Reflek Rihana pun menahan nafasnya saking gugupnya.
Wajah itu sangat dekat dan tersenyum tipis melihat gadis itu yang nampak bengong. Alexander pun menyimpan dokumen yang sudah dikerjakan calon istrinya. Kemudian menshutdownnya dan menutup layar laptop itu
Rihana menghembuskan nafasnya saat Alexannder mulai menjauhinya. Dadanya terasa sesak. Kalo Alexander tiap hari berada di dekatnya dia bisa menderita penyakit gagal nafas atau henti jantung yang berbahaya itu.
Laki laki itu tanpa malu menyangkutkan tas kecil Rihana di bahunya setelah memasukkan ponselnya ke dalamnya.
Rihana tersenyum dibuatnya. Alexander yang tampan dan perlente terlihat menggemaskan dengan keberadaan tasnya. Sisi maskulinnya sedikit tercemar.
"Aku aja yang bawa tasnya," senyum Rihana sambil mencoba meraih tasnya. Tapi Alexander malah menggenggam tangannya.
Kembali jantung Rihana seolah berhenti berdetak. Senyumnya surut. Genggaman tangan Alexander mengalirkan hawa hangat ke dalam pembuluh darahnya.
"Masih mau tetap di sini?" canda Alexander.
"Kamu aneh bawa tasku," kilah Rihana menutupi perasaan tersipunya.
"Aku tampan ya," narsisnya membuat Rihana mengerucutkan bibirnya. Tapi dalam hatinya dia sedikit membenarkan. Alexander terlihat tampan dalam sisi yang berbeda.
Dia terlihat seperti laki laki lembut dan penyayang.
Aaarrgghh... Rihana bisa hanyut dan sulit lari dari pesona Alexander kalo tiap hari menghadapinya.
Dulu saja dia susah payah menghindari pesona Alexander sewaktu mereka masih SMA. Apalagi sekarang, bahkan keluarga sudah sepakat akan menikahkan mereka dalam waktu cepat.
"Ayo, kita pulang," ucap Alexander sambil membawa Rihana melangkah pergi. Rihana hanya diam sambil menyembunyikan senyum senangnya yang terbit tiba tiba.
Hatinya berbunga bunga mendapat perlakuan Alexander yang sampai sekarang masih membuatnya ngga percaya akan kedekatan mereka.
Beberapa staf kantot menatap keduanya kagum dan penuh iri. Baru kali ini mereka melihat laki laki sekelas tuan muda Alexander membawakan tas kekasihnya. Nona mudanya sangat beruntung.
"Kalian mau pulang?" cegat Emra yang baru saja keluar dari ruangannya, seakan mencegat pasangan sejoli ini.
"Iya," sahut Alexander saat melihat Rihana akan membuka mulutnya.
Alexander ngga akan membiarkan Rihana mengatakan akan pulang dengan Puspa.
Rihana melirik Alexander kesal karena laki laki itu selalu tau apa yang dia pikirkan.
"Oke, hati hati. Puspa katanya mau pulang bareng Herdin. Syukurlah ada Alexander yang akan mengantar kamu pulang. Tadi Kak Emra akan ngajak kamu kalo kamu pulang sendiri," jelas Emra panjang lebar dengan wajah penuh senyum
Rihana yang bengong mendengarnya. Ngga disangkanya kalo progres perkembangan hubungan Puspa dengan sahabat Alexander sangat signifikan nanjaknya.
"Kelihatannya sahabat kamu pedekate dengan Puspa," sindir Emir yang barusan keluar dari ruangannya. Tapi di wajahnya ngga menunjukkan penolakan.
"Tentu. Kelayakannya lebih dari cukup untuk jadi mantu di klan Airlangga," kekeh Emra menyahuti. Emir tersenyum tipis.
Alexander hanya nyengir. Rihana menatap kedua kembaran itu dengan kesal. Kalo Puspa mendengarnya, pasti si kembar akan disemprot dengan lidah tajamnya.
"Oke, kita pulang duluan," pamit Alexander.
"Aku duluan, kak," Rihana juga pamit
"Oke, hati hati," Emir dan Emra kompak menyahuti.
Saat keduanya sudah menjauh, bibir Emir berkedut.
"Kenapa?" tanya Emra heran. Kembarannya jarang mengumbar senyumnya.
"Kamu ngga ngerasa aneh dengan Alex?"
Emra memperhatikan sejenak. Ngga lama kemudian dia tertawa kecil.
"Tas Rihana?" kekehnya.
Emir hanya mengangguk. Selain dia, staf staf lain juga memperhatikannya dan menyembunyikan senyum mereka karena masih ada dua bos mereka di situ.
"Aku yakin, para pegawai saat ini mati matian sedang menahan tawa," senyum Emir lagi.
Ada ada saja ulah Alexander, batinnya tergelak.
"Ayo kita pergi sekarang, agar mereka bebas tertawa," ucap Emra sambil menarik kembarannya segera pergj. Tawanya masih terdengar.
Emir ngga menyahut, hanya mengikuti langkah lebar kembarannya saja.
*
*
*
Sepanjang perjalanan Rihana hanya diam sambil menatap ke arah luar jendela mobil. Dia gugup hanya berdua saja dengan Alexander. Status mereka kini membuatnya agak tertekan. Apalagi mereka akan menikah. Rihana cukup stres memikirkan hal hal yang akan dia lakukan saat berdua saja dengan Alexander. Apalagi sekarang Alexander mulai agresif.
Jangan lupakan penyakit yang baru baru ini diidapnya. Penyakit susah bernafas dan henti jantung saat berdua saja dengan Alexander.
Alexander seakan ngga ingin mengganggu keterdiamannya. Kadang kala dia mengutuk dirinya yang sulit menahan hasratnya yang membuat Rihana terlihat agak takut dengannya.
Walaupun dia suka karena Rihana sangat menggemaskan, tapi dia tau gadis itu seperti kurang nyaman akibat perubahan karakternya.
"Alex, kita akan kemana?" tanya Rihana agak panik karena baru menajamkan matanya saat melihat jalan pulang yang berbeda.
"Ke rumahku. Mama dan papa mengundangmu makan malam," sahut Alexander tenang.
"Ta tapi..." gugup Rihana. Dia ingin menolak, karena dia masih berpakaian kantor dan rencana Alexamder saat mendadak.
Rihana selalu gugup jika bertemu dengan Mama Alexander, apalagi keadaannya kucel begini. Mama Alexander pasti akan membandingkan penampilannya dengan Aurora yang selalu perfect. Rihana agak insecure dengan adik tirimya itu.
Walaupun sejak malam itu sikap Mama Alexander sudah berubah manis padanya, tetap saja rasa insecure itu sukar untuk hilang.
"Kenapa gugup ketemu calon mertua," canda Alexander dengan senyum memikatnya.
Rihana terpana sesaat.
"Tapi aku masih pake baju kantor."
"Ngga apa apa. Kamu masih wangi banget," kilah Alexander dengan tatapan nakalnya.
Wajah Rihana merona apalagi tau dimana arah tatapan mata yang hendak dia colok itu.
"Kamu kenapa jadi mesum gini," kesal Rihana sambil merapatkan blazernya. Matanya menatap penuh peringatan pada Alexander.
Alexander jadi tertawa melihat sikap protektif Rihana atas aset bagian atasnya. Dia pun kesal juga karena ngga bisa mengontrol kedua matanya yang berani kurang ajar.
Tapi hanya pada Rihana saja matamya berlaku jahil dan ngga tau sopan santun.
Masih dengan tawanya Alexander memasuki gerbang mansionnya.
Rihana semakin gugup.
"Tenanglah. Mama benar benar ingin kamu mencicipi makanan kesukaannya," kata Alexander sambil melepaskan seatbeltnya.
Rihana menghela nafas. Tapi dia semakin gugup jadinya.
Benarkah mama Alex sudah menerimanya? batinnya deg degan.
Tapi senyum lembut Alexander membuat hati Rihana mulai tenang dan nyaman.