NOT Second Lead

NOT Second Lead
Terbongkar



"Wow, cantik banget pacar Kaj Emir. Kok, ngga pernah ketemu ya...... Padahal udah tiga hari loh aku di sini," ucap Kirania antusias.


"Tiga hari? Memang kamu sakit apa?" tanya Emir panik.


Kenapa ngga ada yang mengabarinya.


Lagian dia bolak balik menjemput Kamila, mengapa ngga pernah ketemu Kirania?


Sebentar sebentar... Kirania pasien atau bukan?


Emir mengamati keadaan adik sepupunya yang tampak baik baik saja. Apalagi Ansel juga ngga bilang apa apa tentang adiknya. Kalo Kirania sakit, pasti dia sudah panik banget. Emir sibuk menganalisa dalam hatiya.


"Bukan aku, kak. Si Hazka," jelas Kirania membantah.


"Hazka?" kaget Emir bukan kepalang. Pantasan udah beberapa hari ini ngga pernah ketemu.


"Apa Kak Kamila ngga pernah dengar pasien yang takut jarum suntuk? Kayaknya heboh loh kak beberapa hari ini," celoteh Kirania mengalihkan topik.


"Oh iya," senyum Kamila melebar mengingat kembali cerita Ifa yang membuatnya teringat pada opa tersayangnya.


Selina yang tau apa apa karena kesibukannya mencari cara mendekati Emir, semakin merasa ngga ada di situ. Dia seakan menjadi bayang bayang yang ngga terlihat.


"Kamu tau?" tanya Emir dengan lengkung tipis di bibirnya.


"Ada teman yang cerita baru baru ini. Ngga nyangka kalo kamu kenal," jelas Kamila masih dengan senyum di bibirnya. Hampir tertawa, tapi dia tahan.


"Ooo... Jadi kamu pacarnya yang suka melotot itu saat pasien mau dipasang jarum infus?"


"Aku bukan pacarnya, Kak. Tapi memang benar aku suka melotot sama dia. Kesal, sih," gelak Kirania berderai derai.


Kamila pun ngga bisa lagi menahan tawanya


Emir pun ikut tertawa mendengar bantahan adik sepupunya. Matanya mengerling pada Kamila dengan jantung berdebar keras.


Saat tertawa.dia cantik sekali, batinnya bergetar.


Bahkan dua pengawal yang membawa paper bag itu juga mengulum senyum mendengar tuan mudanya jadi bahan tertawaan.


"Antarkan Kak Emir melihatnya. Oh ya, kenapa kamu malah pulang. Bawa belanjaan mahal mahal lagi," komentar Emir sambil melihat banyaknya paper bag yang dibawakan dua pengawal yang Emir yakin, bukan bekerja di keluarga mereka.


"Ini oleh oleh dari mami Hazka, kak. Limited edition semua. Rejeki anak solehah," gelaknya lagi.


Emir pun mengacak acak gemas rambut adik sepupunya.


"Aku udah ijin mau ngasih Puspa. Dia pasti senang banget. Juga yang lainnya. Kak Kamila mau yang mana? Pilih aja. Pokoknya selain dua paper bag itu, bebas," tawarnya antusias.


Mata Selina sampai terbelalak melihat sekilas merk dan barang barang yang ada di dalamnya.


Dulu Kamila juga pernah memberikannya salah satu satu dari paper bag yang ada di situ


"Tidak usah, terima kasih," tolak Kamila. Masa baru kenal dia sudah ditawarkan hadiah hadiah yang


sangat mahal mahal dan super branded itu.


"Jangan sungkan, love. Pilih aja. Kiran ngga terlalu hedon," ucap Emir lembut.


Wajah Kamila merona mendengar panggilan dari Emir.


"Cieee.... Love. Ngga pernah dengar, nih, Kak Emir manggil love sama yayangnya. Kalo Kak Emra udah biasa, sampe eneg," cerocos Kirania lagi dengan heboh. Dia sangat senang akhirnya kakak sepupunya sudah menemukan jodohnya.


Selina yang ngga dipedulikan terus menyimak.


"Hazka kenapa? Antarkan kakak melihatnya. Kalo tau dia di sini, kakak bisa sering lihat sekalian ngunjungi pacar kakak," ajak Emir sambil melangkah. Dua tangannya menggamit dua perempuan cantik itu. Yang satu adik sepupunya dan yang satu lagi calon istrinya.


"Dia kecelakaan, kak. Aku, kan, ngga tau kalo pacar Kak Emir dokter di sini," kilah Kirania lagi sambil mengajak mereka mengikuti langkahnya.


"Ikut, ya," ajak Emir pada Kamila.


Kamila menganggukkan kepalanya.


"Ya."


Saat Selina juga ingin ikut, salah satu pengawal yang membawa paper bag itu menghalangi.


"Anda ngga boleh mengikuti nona dan tuan muda kami," kata pengawal itu memberi peringatan sebelum pergi.


Selina tertegun. Ketiganya sudah pergi meninggalkannya. Bahkan Kamila ngga mengajaknya. Dia dibiarkan begitu saja.


Emir tuan muda?


Maksudnya tuan muda Emir?


Selina hanya bisa melihat ketiganya pergi dengan tatapan bingung, marah, bercampur jadi satu. Apa lagi suara ketawa mereka masih terdengar membuat liang telinganya tambah sakit.


Dengan kesal dia pun memutar tubuhnya cepat dan hampir terjatuh, kalo saja lengan kokoh seorang laki laki ngga menahan tangannya.


"Nadim....! Makasih, ya.....," ucapnya masih dengan perasaan terkejutnya yang masih menyelimuti dirinya. Ternyata Nadim yang hampir ditabraknya.


"Ngga apa apa. Hati hati,' sahut Nadim dengan senyum tipisnya.


"Ya."


Ketika Nadim akan melangkah pergi meninggalkannya, Selena teringat pembicaraan ketiganya tadi tentang pasien yang takut jarum infus.


Kalo Kamila tau, Nadim sudah pasti juga tau.


"Nadim," tahannya membuat laki laki itu berpaling melihatnya.


"Ada apa?"


Tumben, ngga biasanya Selina mau mengajaknya bicara kalo ngga ada hal yang penting.


"Kamu tau soal pasien yang takut jarum suntik?" tanya Selina penuh harap. Dia sangat butuh info ini.


"Ooh..... Pasien anak sultan itu, ya," jawab Nadim setengah bertanya.


Dia tentu tau, Ifa dan Nur sering membahasnya dengan penuh tawa. Laki laki yang manja tapi sangat penurut dengan pacarnya yang cantik dan galak.


"Anak sultan?" Selina tersentak. Kenapa dia ngga tau ada anak orang kaya dirawat di sini?


Sial, dia terlalu memfokuskan pada Emir yang hanyalah orang biasa, umpatnya dalam hati.


"Iya. Namanya Hazka Kamil Jabari. Yang punya beberapa stasiun tv swasta. Nama pacarnya Kirania Jeselin Airlangga. Juga anak sultan. Kenapa?" tanya Nadim heran. Seingatnya Selina ngga gitu minat dengan pasien itu karena fokus pada pacar Kamila.


Beberapa hari ini sudah tersebar desas desus kalo Selina sedang menggoda pacar Kamila. Tapi sepertinya gagal.


Hubungan Kamila dan Selina pun merenggamg karenanya. Wajar saja, siapa yang suka kalo.pacarnya akan direbut secara terang terangan.


Jabari?


Airlangga?


Tentu saja Selina sangat tau nama nama grup kaya raya itu.


Bodohnya. Kenapa dia baru tau, umpatnya lagi dalam hati.


Kalo gadis itu Airlangga, kenapa dia mengenal Emir. Dan panggilan kakak itu sangat mengganggu pikirannya.


Melihat keterbengongan Selina, Nadim merasa dia wajib memberitau Selina informasi yang diberikan Nino padamya sewaktu mereka melihat Selina menghampiri laki laki yang mirip pacar Kamila di root top.


"Yang kamu hampiri malam itu di root top, kembaran pacarnya Kamila."


Selina hampir jatuh karena kedua tungkai kakinya terasa lemas. Tubuhnya seperti habis ditabrak truk. Untung di belakangnya ada dinding rumah sakit. Jadi bisa digunakannya untuk bersandar.


"Ka kamu tau dari mana?" tanya Selina terbata sekaligus terkejut


"Dari Nino. Rupanya mereka si kembar dari grup Airlangga yang cukup terkenal. Aku sempat gogling. Coba aja kamu nyari di internet kalo kamu ngga percaya. Sudah ya, aku mau operasi dulu," pamitnya sambil melangkah pergi meninggalkan Selina yang tampak pucat dan lunglai.


Selina shock.


Yakin Nadim kalo gadis itu baru tau kenyataan yang sebenarnya.


Setelah Nadim meninggalkanya, Selina langsung mengetikkan di kotak pencarian. Kembar Airlangga, tulisnya.


Banyak sekali artikel yang muncul. Dan mereka memang si kembar dari grup airlangga yang kekayaannya ngga akan habis tujuh bahkan sepuluh turunan.


Tapi mengapa Emir ngga berkata terus terang. Mengapa laki laki itu selalu berpura pura menjadi seperti dirinya. Orang biasa yang selalu memanfaatkan teman temannya yang kaya raya.


Tidak! Ini salah! Dia malah pemiliknya. Rubicon, ducaty dan helikopter...


Dia bodoh! Harusnya dia punya mata tajam seperti Kamila.


Selina ngga henti hentinya merutuki kebodohan terbesar dalam hidupnya.