
Opa Airlangga kagum juga dengan prinsip Alexamder. Tapi beliau pun tau makna dalam yang terkandung dalam ucapannya.
Tapi dia perlu memastikannya.
"Maksud kamu, kamu saat itu sedang menyiapkan diri buat bisa nikahin Rihana?" tanya Opa Airlangga terus terang
Dia ingin segalanya jelas di hadapan keluarganya yang sedang berkumpul.
Alexander tersenyum dan mengangguk.
Rihana terpana mendengarnya.
Benarkah? Banyak sekali kupu kupu yang beterbangan di perutnya hingga dia merasa mulas, tapi ngga menyakitkan. Malah sangat menyenangkan.
"Tapi setelah aku selesai kuliah, panti asuhan Rihana sudah pindah, Opa," jeda Alexander sambil menatap Rihana yang sedang menatapnya dengan binar di matanya.
Keadaan pun hening. Ngga ada yang menginterupsi. Mereka sama terpaku dan ngga sabar menunggu lanjutan cerita Alexander.
"Mereka benar benar menghilang," ucap Alexander sambil menghembuskan nafasnya perlahan.
"Kami lost contact selama enam bulan. Sampai akhirnya saya melihatnya di perusahaan Om Dewan." Tangannya masih saja mengusap lembut puncak kepala Rihana.
Dada Rihana menghangat. Rihana sekarang baru mengerti kenapa Alexander terkesan menjauhinya. Rupanya Alexander sedang membangun masa depan untuk mereka berdua.
Karena Rihana anak panti asuhan, Alexander mungkin tau kalo Rihana ngga bisa melepas tanggungjawabnya dari ikut membantu meringankan biaya kelangsungan hidup adik adiknya yang masih ada di sana. Walaupun saat itu Alexander tau kalo usaha Bu Laras sudah bisa menopang hidup mereka di panti.
Dulu Rihana masih bisa berlapang dada melepas Alexander karena perbedaan sosial ekonomi mereka. Tapi setelah dia tau kalo ternyata papanya juga setara dengan keluarga Alexander, ada sedikit keinginannya untuk mempertahankan laki laki yang sudah dicintainya sejak SMA hingga sekarang.
Apalagi adik tirinya bersikap merendahkannya membuat Rihana ngga ingin mengalah dengan mudah.
Opa Airlangga berdehem pelan, memecah keheningan.
Ditatapnya Alexanser yang baru saja membuat hatinya berdecak. Beliau mengerti, mungkin Alexander takut kalo papa dan mamanya ngga akan merestui hubungan mereka jika dia buru buru memberitau siapa gadis yang dia suka.
Karenanya dia serius kuliah dan bekerja agar orang tuanya nantinya ngga bisa mengotak atik calon istrinya. Yang dia tau saat itu kalo Rihana sangat jauh beda jenjang strata ekonomi. Apalagi sebagai anak panti. Kejelasan orang tua Rihana pasti dipertanyakan.
Pikiran Alexander sejalan dengan Dewan yang ingin menggapai cita cita dulu buat masa depan. Setelahnya baru memikirkan kekasih.
Tapi sayangnya Dewan ceroboh, dia ngga nyari tau tentang identitas putrinya, Dilara. Begitu juga dengan Dilara. Mereka masih terlalu muda dan langsung saja mengambil keputusan sediri tanpa berpikir panjang akibatnya di masa mendatang.
Opa Airlangga juga ngga bisa menyalahkannya karena Dewan juga ngga lari dari tanggung jawab. Takdir berkata lain. Dia kecelakaan saat akan menemui Dilara yang sedang menunggunya.
Opa Airlangga bahkan ikut mengantarkannya ke bandara bersama kedua orang tuanya setelah cukup lama ngga sadar. Dewan koma.
Setelah cucunya sembuh, mereka akan berangkat ke Bandung untuk takziah ke makam putrinya. Kemudian akan ke Jogja bertemu Bu Saras.
Opa Airlangga sudah ngga sabar mendengar cerita dari Bu Laras tentang bagaimana beliau bisa menemukan putrinya.
Hati Opa Airlangga terasa pilu jika mengingat putrinya yang ngga mau menghubungi keluarga mereka. Padahal jarak mereka juga ngga jauh.
Oma Mien pun menurunkan tatapan horornya pada Alexander. Kini tangannya menggenggam lembut lengan Rihana.
Matanya berkaca kaca. Beliau terharu dengan penjelasan Alexander.
Bisa dia rasakan cinta Alexander yang tulus buat cucunya. Alexander bisa saja melupakan Rihana dan memilih bersama Aurora atau gadis kaya yang lainnya. Tapi dia tetap mencari Rihana.
"Cintai dia selalu, ya, Lex. Rihana sudah terlalu lama menderita," kata Oma Mien pelan sambil menahan tangisnya yang akan pecah. Beliau kembali mengingat putrinya.
"Ya, Oma," tegas Alexander penuh keyakinan.
Kenapa nak? Kenapa kamu malah menyusahkan hidupmu dengan putrimu, sesalnya dalam hati.
Opa Airlangga menyandarkan kepala istrinya di tubuhnya. tau kalo istrinya akan menangis karena mengingat kembali putri mereka yang sudah tiada.
Puspa dan Kirania saling tatap.
"Semoga aku bisa dapat pacar seperti dia," bisik Kirania lirih, takut mamanya mendengar. Mendengar cerita Alexamder membuatnya merinding.
"Iya," balas Puspa ngga kalah lirihnya.
Keduanya dapat merasakan betapa besar cinta Alexander untuk Rihana. Sepupunya beruntung.
Melihat Rihana masih menatapnya dalam membuat Alexander tersenyum lembut
"Baru sadar kalo aku cinta banget sama kamu?"
Senyum Rihana merekah.
Tangan Alexander pun mengusap pelan kepala Rihana.
Cakra pun tersenyum melihat itu. Begitu juga yang lain.
Dalam hati Cakra akan meminta putrinya berhenti berharap pada Alexander. Karena sudah sangat jelas kalo laki laki itu sangat mencintai sepupunya.
"Kalo si Afif sampai menentang hubungan Rihana dengan Alex, kita batalkan semua kontrak kerjanya," kata Wingky dengan nada suara mengancam.
Akbar dan Cakra sama tersenyum geli, mengingat mereka pun sudah melakukan hal yang sama pada Dewan.
Opa Iskandardinata yang ngga berpindah dari tempatnya sejak tadi, menhela nafas berat.
Dua dua cucunya menyukai Alexander. Tapi pemuda itu sudah menetapkan hati pada Rihana, bukan Aurora. Bahkan sejak mereka masih SMA.
Opa Iskandardinata akan mulau menyeleksi.cucu cucu sahabatnya untuk di perkenalkan pada Aurora, agar bisa move on dari Alexander.
*
*
*
"Kenapa bisa, Pa?" tanya Aurora sambil mengusap air matanya. Saat ini dia sedang dikelilingi oleh oma, opa, juga orang tua Alexander. Papanya juga berada di dekatnya. Hanya Opanya yang masih terlhat ragu mendekatinya.
Dalam hatinya Aurora bersorak karena orang orang itu meninggalkan Rihana demi dirinya. Dia masih berada satu tingkat lebih tinggi dalam memperoleh kasih sayang mereka.
Aurora hanya perlu bermain cantik agar mereka menganggapnya sebagai pihak yang paling terluka, sehingga lebih memperhatikannya dibandingkan Rihana.
Apalagi sangat jelas Alexander juga memilih Rihana yang pastinya membuat mereka tambah merasa bersalah padanya. Karena dialah yang paling tersakiti dibalik kebahagiaan pegawai kontrak itu.
"Rihana sejak dulu harusnya sudah bersama Papa," kata Dewan pelan.
Dia agak kesulitan menjabarkan bagaimana mengurai benang kusut ini.
"Maksud, Papa?"
Dewan menghela nafas panjang.
"Papa kecelakaaan dan koma. Jadi tanpa sengaja papa menelantarkan mereka."
"Mereka?" Aurora merasa sakit hati mendengarnya.
Jadi kalo papanya ngga kecelakaan dan koma, dia ngga mungkin ada? Apa maksudnya begitu? Hati Aurora mengeras karena menahan marah.
Afif Suhendrata dan istrinya menatap penuh larangan pada Dewan agar ngga melanjutkan ucapannya.
"Rihana dan mamanya."
Mama Alexander menatap Dewan geram karena ngga menggubris isyarat mata mereka.
Tubuh Aurora menggigil dalam pelukan Oma Mora.
Baru dia sadar kenapa mamanya selalu meninggalkan dirinya dan papanya. Walau sidah curiga kalo hubungan mereka sudah ngga baik baik saja. Tapi Aurora hanya mengira itu hanya perselisihan biasa. Ternyata masalah orang tuanya sangat besar dan rumit.