NOT Second Lead

NOT Second Lead
Fokus Emra



"Kamu suka apartemennya?" tanya Shiza sambil menoleh pada Kiara. Mereka sedang memasuki apartemen yang merupakan hadiah kemenangan untuk Kiara dari dirinya dan Mela yang kalah dalam taruhan.


Ini sudah molor beberapa hari dari waktu perjanjian. Lebih dari seminggu


Mela ngga ikut, mau menemani maminya belanja katanya.


"Terima kasih," ucap Kiara sambil melihat lihat isi apartemen yang sudah cukup komplit.


"Kalian mengisinya juga?" senyumnya agak melebar.


"Bawaan dari apartemen," jawab Shiza dengan senyum lebarnya juga. Keduanya ngga terganggu dengan ketidakhadiran Mela.


Karena keduanya sudah akrab sejak SMA. Mela baru dua tahun ini mereka mengenalnya.


Awal mulanya bertemu saat dirinya bersama Kiara sedang liburan ke pulau Lombok. Kemudian bertemu lagi di Lagoi, Binta. Setelah itu mereka pun terlibat kerja sama. Dan selanjutnya mereka mulai akrab dan selalu bersama. Baik pergi mengunjungi tempat tempat wisata, belanja sampai keluar negeri, pesta pesta, dan tentunya dalam kerja sama perusahaan.


"Kamu suka?" tanya Shiza lagi sambil membuka kulkas yang isinya sudah dia penuhkan. Shiza mengambil anggur dan mulai memakannya.


"Suka banget. Terimakasih," senyum Kiara saat menerima beberapa buah anggur yang diberikan Shiza.


Keduanya sama sama menyandar di meja bar.


"Jangan terlalu pikirkan Mela. Kita udah tau dia gimana orangnya," tukas Shiza setelah menelannya beberapa buah anggur.


"Ya, santai aja."


"Kelihatannya Emra menyukai kamu," pancing Shiza.dengan wajah penuh senyum.


Kiara tergelak.


"Kamu percaya. Dia player, you know."


Shiza pun ikut tertawa mendengarnya. Mereka sudah sering mendengar laki laki itu mengganti perempuan seperti di berganti pakaian.


Ngga tau apa ditiduri semua. Tapi yang jelas, Emra selalu mengganti perempuan tiap.dia pergi ke berbagai acara. Sangat jarang seorang perempuan bosa lebih dua kali dia gandeng.


"Kamu masih punya satu kali kesempatan terakhir berdua dengannya," sela Shiza lagi masih dalam gelaknya.


Kiara pun terkekeh. Dalam hati dia akui kebenaran ucapan Shiza.


Bisa digandeng dua kali dengan Emra akan membuat nilainya lebih tinggo di hati pemuja Emra. Apalagi bisa lebih dari itu.


Mungkin sekarang sudah ketahuan kalo dia dan Kalandra ngga ada hubungan apa apa. Ngga ada alasan lagi laki laki itu untuk penasaran padanya.


Biasanya model laki laki seperti Emra akan lebih tertarik pada milik orang lain. Contoh yang jelas di depan mata, Kalandra yang pantang menyerah untuk mendapatkan Adriana-sekretarisnya yang sudah punya pacar. Darah mereka berdua sama.


"Tapi kamu buat aku salut. Dihampiri Emra di depan mata pemujanya," lanjut Shiza lagi dalam deraian tawanya.


Teringat bagaimana kepanasannya Mela. Padahal katanya sudah menolah, cemooh Shiza dalam hati.


Ternyata ucapan Mela hanya untuk menutupi perasaan ngebetnya saja. Aslinya malah ngga rela dan marah saat laki laki itu lebih memilih temannya sendiri.


Harusnya dia mendukung, kan, cela Shiza kesal membatin.


"Mela bakal jilat ludahnya sendiri ntar," semakin tergelak Shiza mengetawai temannya itu


Dari kemarahannya saja Kiara tau kalo Mela ngga rela kalo Emra berdekatan dengannya.


"Kamu tau, Kia, Mela akan menerima tawaran tidur dari Emra," ucapnya beberapa saat kemudian setelah tawanya reda.


"Kita bisa apa? Itu, kan, usahanya."


"Ya, anak itu ngga bisa dinasehati lagi. Kalo seorang pria benar benar suka sama kita, ngga mungkin dia menawarkan kencan semalam di hotel," sambung Shiza prihatin.


"Dia pura menolak ngga mau. Tapi Emra ngga mengindahkannya lagi. Dari situ harusnya Mela sudah tau kalo laki laki itu hanya ingin senang senang saja. Mela menolak, masih banyak yang lain antri," lanjut Shiza gemas.


Kiara memakan kembali anggurnya.


Semoga saja temannya itu beruntung, harapnya dalam hati.


*


*


*


Tadi mereka juga sudah makan siang via online di apartemen Kiara yang baru.


"Hai."


Kiara yang baru keluar dari mobilnya terpaku pada pria tampan dengan stelan jasnya yang berdiri menyandar di depan mobilnya. Tepat di seberang mobil Kiara.


Emra, bisiknya membatin.


Ngapain dia sini?


Kiara masih berada di dekat mobilnya dan belum bergerak.


"Tadi aku mencarimu, tapi katanya kamu sedang pergi makan siang dengan teman kamu," jelas Emra juga masih ngga merubah posisi berdirinya. Terlihat santai dan nampak sangat memikat di mata Kiara.


Besok besok Kiara akan pergi memeriksa kesehatan matanya yang selalu error jika bertemu Emra.


Sekarang pun Kiara agak salah tingkah karena sorot elang itu menatapnya seolah dia mangsa terlezatnya.


Emra mengukir senyum tipis melihat keterdiaman Kiara, kemudian dia memperbaiki posisi berdirinya.


"Aku sudah tau kalo kalian bersandiwara. Yang aku sayang, kan, kenapa kamu ngga secara jujur mengatakan padaku."


"Apa itu penting?" tanya Kiara setelah berhasil menenangkan jantungnya. Dia harus tetap tampak tenang selagi ada di dekat laki laki player itu.


"Sangat penting."


Jantung Kiara berdetak keras lagi sangat mendengarnya. Dia merasa tersanjung.


Maksudnya? batinnya ngga berani mengambil kesimpulan terlalu jauh.


"Aku harus pergi. Sebenarnya banyak yang ingin ku katakan," katanya dengan senyum misterius do bibirnya.


Tanpa menunggu jawaban Kiara, Emra berjalan ke arah mobilnya.


"Jawabanku masih sama," ucap Kiara dengan suara bergetar tanpa mempedulikan keriuhan pikirannya yang menentang ucapannya.


"Aku tau. Selagi aku masih jadi player, kanu akan selalu menolakku," kekeh Emra sambil membuka pintu mobil. Menjedanya sebentar.


"Sulit membuat para perempuan menjauh dariku. Aku ngga pernah memaksa mereka. Tapi mulai hari ini aku akan berkonsentrasi hanya padamu," ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.


Jantung Kiara semakin keras berdetak. Kata kata Emra membuat dadanya kembali bergemuruh.


Dia menembakku? batin Kiara ngga yakin sambil terus menatap Emra.


Setelah tersenyum penuh daya pikatnya, laki laki ini pun masuk ke dalam mobilnya, kemudian melajukannya pergi sambil melambaikan tangannya pada Kiara yang tubuhnya masih bergeming. Tawanya pun masih terdengar.


Setelah mobil Emra menjauh, tubuh Kiara terasa lemas secara tiba tiba. Dia pun menyandarkan posisi berdirinya di bagian samping mobilnya.


Laki laki aneh, celanya dengan bibir mengembangkan senyum.


Memang sulit menepis laki laki itu yang selalu melemparkan jerat jerat memabukkannya.


Kiara teringat Mela.


Apa dia sudah berhasil mengajak Emra tidur dengannya?


Tanpa sadar Kiara menggelengkan kepalanya.


Ngga yakin kalo Mela akan bersedia menerima tawaran yang sempat ditolaknya.


Bagaimana kalo Mela tau, ternyata Emra sedang mencoba berkonsentrasi padanya?


Kiara menghela nafas panjang.


Mela berhak memperjuangkan cintanya. Kiara ngga akan melarangnya.


Walaupun hatinya penuh bunga, tapi Kiara tetap.saja ngga bisa percaya kalo player itu hanya fokus padanya saja.


Godaan laki laki itu terlalu banyak. Deretan perempuan yang menunggu gilirannya belum dia tuntaskan semua. Termasuk Mela.