
Langkah Alexander terasa ringan saat melangkahkan kakinya memasuki lobi kantor.
"Kak Alex," panggil Aurora membuat langkahnya terhenti.
Alexander tersenyum tipis.
"Ya..."
Gadis yang sangat cantik itu mendekat dengan senyum merekah di bibirnya. Hatinya bersorak karena Alexander menghentikan langkahnya.
Dia tau pasti Alexander akan menemui gadis yang katanya sudah menjadi kekasihnya.
Dalam hati Aurora bertekat akan meruntuhkan cinta Alexander pada pegawai papanya. Alexander boleh saja berpacaran dengan gadis itu, tapi kalo menikah harus tetap dengannya.
"Kak, mobilku lagi di bengkel. Kakak bisa antarkan aku ke dokter? Perbannya sepertinya sudah harus dibuka," katanya sambil menunjukkan lengannya yang diperban
Alex terdiam. Dia menatap bingung pada sepasang mata yang menatapnya penuh harap.
"Hem... Kak Alex mau ngajak pacar kakak makan siang. Udah janjian," tolaknya sambil melihat ke arah suara pintu lift yang berbunyi.
Rihana dan teman temannya keluar dari sana.
Tadi Alex memang sudah mengabarinya akan menunggu gadis itu di lobi.
"Oooh," sahut Aurora pelan dengan tetap menampakkan tatapan kecewanya agar Alexander merasa bersalah dan membatalkan niatmya untuk pergi dengan kekasihnya.
"Kak Alex telpon Kak Herdin, ya. Biar dia yang ngantarin kamu."
Alex mengeluarkan ponselnya bermaksud akan menelpon Herdin.
"Eh, ngga usah, kak. Nanti aku aja yang telpon," tolaknya dengan raut tambah kecewa yang tampak jelas. Dalam hati merutuk betapa ngga pekanya seorang Alexander.
Tapi Alexander yang sudah terlalu senang melihat kemunculan Rihana ngga memperhatikan reaksi Aurora.
"Oke. Kakak rasa udah sembuh lukanya," kata Alexander sambil tersenyum pada Rihana, tanpa melihat ke arah Aurora.
Aurora agak merasa terhina dengan sikap Alexander. Apa lagi beberapa pegawai memperhatikan keberadaan mereka. Yang sangat jelas kalo dirinya dicuekin Alexander.
Aurora benci melihat senyum.pegawai baru itu pada Alexander, juga candaan teman temannya.
Mereka seakan mentertawakannya. Kak Alexander ngga berinisiatif apa pun untuk memperlihatkan kalo dia memilki nilai lebih dari pada gadis itu.
"Emm... aku pergi dulu, ya, kak. Mau nelpon Kak Herdin," pamit Aurora pahit dan dalam hati menahan perasaan malu.
Dia Aurora, putri pemilik perusahaan yang sangat dipuja puja, kalah telak dengan pegawai kontrak papanya.
"Oke," senyum Alexander melepas kepergian Aurora.
Alexander pun melangkah menghampiri Rihana yang sudah berjarak ngga jauh lagi.
"Ayo," ajaknya sambil meraih lengan Rihana.
Teman teman Rihana kecuali Puspa terlihat shock. Bahkan Winta masih ngga bisa percaya sampai saat ini.
Di depan mata mereka terkejut melihat Alexander lebih memilih bersama Rihana dari pada si bidadari Aurora.
Sebenarnya kalo dari segi kecantikan Rihana ngga kalah dari Aurora. Tapi penampilan Rihana hanya kalah berkelas menurut Winta.
Apa mata Alexander sudah rabun? batin Winta dan mungkin juga sama seperti para pegawai lainnya yang memperhatikan mereka.
Tapi Winta merasa bangga sekaligus iri, dalam keserhanaan Rihana, ternyata Alexander bisa melihat padanya.
Dengan rikuh Rihana mengikuti saja tarikan Alexander pada lengannya.
Laki laki itu tampak tersenyum bahagia.
Rihana merasa tersanjung karena di depan matanya dan teman temannya, Alexander mengabaikan anak papanya.
Dia agak tersipu jadinya karena hatinya terlalu mengembang saking bahagianya.
Tanpa mereka sadari, Dewan melihat semuanya.
Dia menghela nafas kasar. Sangat sulit bersikap bijak jika melihat wajah sedih putrinya
Dia akan melakukan sesuatu untuk mengembalikan senyum Aurora
*
*
*.
"Alexander, kita terlalu terang terangan," kata Rihana memberi ingat.
Hatinya tetap saja merasa ngga enak. Karena yang dia sakiti anak sah dari papanya.
Walaupun Rihana suka dengan yang dilakukan Alexander, tapi tetap saja dia merasa was was.
Walau ngga sebesar dulu. Karena dia sudah ngga takut lagi jika dipecat. Ada keluarga mamanya yang sudah bisa menerimanya.
"Aku sengaja," senyumnya terukir manis.
"Sengaja?"
"Biar kamu cepat dipecat, kemudian jadi aspriku," senyumnya semakin lebar.
Rihana memanyunkan bibirnya mendengar jawaban sesuka hati laki laki di depannya ini. Tapi jantungnya berdebar keras melihat wajah Alexander yang semakin tampan.
Tapi kemudian dia kembali bingung.
"Alex......" panggilnya ragu.
"Ya?" tanya Alexander kini memfokuskan tatapannya pada wajah kekasihnya.
"Aku sudah menemukan keluarga mama."
Alexander terdiam. Dia bingung mau berekspresi seperti apa. Takut salah.
"Aku senang mendengarnya. Tapi gimana ceritanya?" tanya Alexander setelah terdiam cukup lama.
"Yah.... waktu itu --." Perkataan Rihana terpotong karena pegawai resto mengantarkannya makanan yang sudah dipesan Alexander.
"Kita makan dulu," putus Alexander.
Rihana hanya menganggukkan kepalanya.
Keduanya pun menikmati makanan mereka dalam diam.
Sebenarnya banyak yang Alexander ingin tanyakan.
Apakah kamu bahagia bertemu mereka?
Mereka menerima kamu dengan baik?
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang paling krusial, yang selalu mengganggu pikiran Alexander
Kalo papa kamu, gimana? Sudah ada titik jelasnya?
Tanpa sadar Alexander menghela nafas.
Dia hanya takut pertanyaan pertanyaan yang akan dia ucapkan malah akan membuat Zira-nya minder dan kecewa.
"Kenapa kamu suka banget sama ramen?"
Saat ini pun mereka lagi lagi di resto jepang. Zira-nya pun hanya memesan ramen.
"Enak," jawabnya singkat.
*Memang enak, sih.
Apa ngga bosan tiap hari makan ramen*? batin Alexamder bertanya, teringat akan kebiasaan harian Zira dulu saat ke kantin.
Hanya ramen yang selalu dipesannya.
Rihana sendiri ngga berniat menjelaskannya. Hanya ada air mata yang nantinya akan menetes.
Dia mau tampak kuat di depan Alexander walau sebenarnya rapuh.
"Tambah ini lebih enak," kata Alexander sambil.memberikan dimsum ke mangkok ramen Zira dengan sumpit.
Rihana hanya menganggukan kepalanya.
Dulu mamanya juga selalu melakukannya. Memberikan jatah dimssum dan irisan bakso padanya.
Kembali Rihana merasa matanya memanas
Untung kuah ramennya cukup pedas hingga Alexander ngga peka saat melihatnya hampir menangis.
"Minum dulu," kata Alexander lagi sambil mengulurkan segelas minuman lemon untuknya.
"Ya."
"Kalo boleh, aku ingin ketemu keluarga mamamu."
"Untuk apa?" tanya Rihana heran campur bingung. Padahal dia belum mengatakan siapa keluarga mamanya. Mungkin Alexander mengenalnya.
"Melamar kamu."
"Uhuk uhuk uhuk...." Rihana terbatuk. Dia tersedak kuah ramen. Rasanya perih sekali kerongkongannya. Air matanya pun akhirnya menetes juga.
"Minum dulu." Kembali Alexander mengulurkan gelas minuman miliknya tadi yang sudah separuh diminumnya.
Tanpa sungkan Rihana pun menghabiskannya. Bahkan dia masih merasa kurang.
Kali ini Alexamder cukup peka, dia pun memberikan minumannya yang baru diminumnya sedikit pada Rihana.
"Ngga apa, minum aja," kata Alexander paham.
Pasti masih perih, kan? batinnya ngga tega.
Rihana menatap penuh terimakasih sebelum meneguk minuman Alexander hingga separuhnya.
Baru lega rasanya dan sakitnya sudah sangat berkurang.
"Udah ngga sakit lagi?" tanya Alexander masih agak cemas.
"Udah mendingan."
"Kamu, sih. Baru bilang melamar aja udah batuk," canda Alexander dengan bibir penuh senyum.
"Masa baru ketemu langsung melamar," ceplos Rihana sambil manyun.
"Loh, bagus, kan. Artinya aku serius sama kamu," jelas Alexander membuat Rihana termangu.
Tapi hatinya ragu, apa mama dan papa Alexander juga akan setuju?
Pada pertemuan awalnya saja sudah terlihat kalo Aurora lebih penting darimya.