NOT Second Lead

NOT Second Lead
Ortu Alexander yang sudah tau



Dewan dan Alexander sama menatap ke dalam ruangan.


Afif Suhendrata menghela nafas panjang saat melihat putranya yang tertidur bersama Rihana sambil mendekap erat gadis itu.


"Apa Aurora ngga akan terpukul dengan keputusan kita nanti?" tanya Afif-papa Alexander sambil menatap sahabatnya.


Dia juga memikirkan perasaan istrinya yang sangat menyayangi Aurora.


Dewan juga menghela nafas panjang. Teringat lagi dengan putri kesayangannya. Dia belum sempat mengatakannya pada Aurora. Sekarang yang dia butuhkan adalah lebih banyak waktu untuk menenangkan guncangan di hatinya.


Rasa bersalah masih mencengkram kuat hatinya. Dia sudah menyakiti putrinya dan Dilara tanpa dia sengaja. Dan itu pasti akan menimbulkan trauma bagi putrinya, Rihana.


Dewan menghela nafas kasar. Melihat perhatian Alexander pada Rihana membuatnya ingin laki laki itu dapat membantunya agar Rihana lebih mudah menerimanya.


"Nanti aku akan carikan Aurora laki laki lain," katanya datar. Sekarang prioritasnya adalah Rihana. Putrinya harus disembuhkan secara fisik dan mental.


Dia sudah membuat hati putrinya sangat terluka. Dewan berjanji akan memberikan apa pun asal Rihana bisa memaafkan dan menerimanya sebagai papa.


*


*


*


Mama Alexander yang sedang menunggu suaminya pulang, terkejut mendengar kenyataan yang ada.


"Jadi maksud kamu... mereka berdua bersaudara?" Mama Alexander sampai harus menutup mulutnya saking ngga percayanya.


Tubuhnya pun sampai terduduk dan menyandar dengan berbagai pikiran yang sangat jelas menolak fakta di depannya.


Afif-suaminya, sudah membayangkan reaksi shock istrinya. Beliau pun duduk di samping istrinya.


Kenyataan ini sangat berat dan ngga terduga. Bisa bisanya Dewan melakukan kecerobohan sampai separah ini. Bahkan mama Rihana pun sudah meninggal karenanya.


Untuk beberapa menit mereka terdiam seakan sibuk dengan pikiran mereka masing masing.


Mama Alexander mulai menebak benang kusut hubungan Dewan dan istrinya. Keduanya terlihat cukup dingin sebagai pasangan. Bahkan Mama Aurora lebih suka jalan jalan ke luar negeri sambil mengurus bisnisnya seakan ngga peduli dengan Aurora san suaminya.


Karenanya Mama Alexander sangat memperhatikan Aurora. Beliau kasian dengan gadis itu. Aurora pun cukup manja dengannya.


Mama Alexander menghela nafas panjang.


Jika Aurora tau semua ini dan melihat keberpihakkan mereka pada Rihana, yang beliau takutkan Aurora merasa terkhianati dan sakit hati.


Apalagi pastinya Dewan akan lebih memberikan perhatiannya pada Rihana demi menebus kesalahan fatalnya selama bertahun tahun.


*


*


*


Alexander terbangun saat jam menunjukkan pukul tiga pagi.


"Mau pergi?" tanya Nidya yang juga tertidur di sana. Gadis cantik ini bangun mendengarkan suara halus pergerakan tubuhnya.


Alexander menyimpan keterkejutannya melihat wajah bantal Nidya. Ngga hanya ada Nidya dan Kalandra. Istri Om Cakra juga nampak masih pulas tertidur.


Tanpa menjawab pertanyaan Nidya, gadis yang selalu berusaha menarik perhatiannya, Alexander membetulkan letak tidur Zira dengan sangat lembut. Bahkan dia mengecup sekilas kening Zira sampai.membuat hati Nidya terbakar.


"Aku titip Zira," kata Alexander sambil melangkah pergi.


"Ya, jangan khawatir."


Nidya menarik nafas jengkel ketika kalimatnya ngga disahuti. Bahkan laki laki dingin dan kaku itu nampak ngga membutuhkan jawabannya.


Kini perhatiaannya teralih pada wajah sepupunya yang tampak nyenyak tertidur.


Tanpa sadar Nidya mendengus kesal. Susah sekali membuang rasa cinta yang sudah dia pupuk lebih dari dua tahun ini.


Entah bagaimana caranya sepupunya menaklukkan si datar ini. Dia dan Aurora sudah keok. Dalam kemalangannya Rihana sangat beruntung bisa mendapatkan cinta dan perhatian Alexander.


Lagi lagi dia menghembuskan nafas dengan tatapan iri pada Rihana.


"Mau pergi?" sapa Om Dewan yang sedang mengobrol dengan Om Cakra. Keduanya sedang menikmati kopi mereka yang mungkin sudah belasan gelas karton.


"Iya, Om. Nanti aku balik lagi."


"Oke, hati hati," ucap Cakra. Dia tau putrinya pasti patah hati karena laki laki pujaannya sudah menilih Rihana.


Alexander ngga mengatakan apa apa lagi. Dia harus buru buru. Herdin sudah menunggunya.


Mereka berdua akan menangkap basah Aurora. Ini penting buat dirinya. Jika Aurora sudah punya kekasih, kenapa gadis itu tetap memaksanya untuk menikahinya.


*


*


*


Aurora dan Aiden melakukan pergul@tan panasnya tanpa henti.


Aiden yang sangat mengagumi gadis cantik itu terus membuainya.


G@ir@*h Aurora sampai melayang tinggi. Dia berusaha tetap sadar sampai akhirnya kesadarannya hilang dan Aiden berhasil melepaskan mahkotamya.


Awalnya Aurora kaget dan mau marah, tapi Aiden yang sudah sangat pengalaman memanjakan wanitanya di atas r@nj@%ng membuat Aurora ngga bisa menolaknya


Dia.menerima hentakan kasar Aiden sampai tubuhnya lemas ngga berdaya. Aiden ngga peduli, dia terus melakukannya karena lampu hijau Aurora. Hingga Aiden mencapai puncak.


Dari dulu dia sangat mendamba gadis yang kelewat cantik dan se*ksi ini. Sekarang sudah dia dapatkan, dan ngga akan dia lepaskan.


PLAK!


Tamparan lemah Aurora di pipi Aiden hanya membuatnya menyeringai.


Bagai singa lapar, Aiden mengangkat tubuh Aurora yang sudah ngga berdaya dan membawanya ke kamar mandi.


Aiden melanjutkan kegiatan panasnya tanpa henti membuat des@*h@/n Aurora.terus terdengar tanpa henti.


Akhirnya Aiden menuntaskan kekalapannya sampai Aurora ngga sadarkan diri.


Dia tersenyum puas.


"Aku ngga akan melepaskanmu," katanya dengan sorot mata kejam sambil mengangkat tubuh polos Aurora ke atas tempat tidut.


Setelahnya dia pun memfoto tubuh se*/ksi itu dari berbagai arah dengan berbagai posisi. Senyum kemenangan terpatri di bibirnya.


"Kamu ngga akan bisa lari lagi dariku, cantik," bisiknya dengan seringai mesu/mnya.


Kemudian dia pun tertidur sambil memeluk tubuh Aurora karena kelelahan yang amat sangat.


Tepat jam lima pagi keduanya keluar dari kamar hotel. Aurora masih sempat menampar pipi Aiden sebanyak dua kali karena sudah mengingkari perjanjiannya.


Aiden hanya tertawa kecil, seakan tamparan itu ngga ada artinya buatnya.


Ingin kembali memaksa Aurora, tapi telpon Om Dewan menghalangi niatnya.


"Iya, Pa. Aku segera ke sana," kata Aurora sambil melirik tajam pada Aiden sambil memberikan isyarat agar menutup mulutnya.


Dia pun segera merapikan dandanannya. Aurora menghela nafas melihat wajahnya yang tampak kelelahan.


Sialan. Kenapa aku sampai terlena. Gimana kalo Kak Alex tau aku sudah ngga perawan, batinnya kesal campur kalut.


Aiden hanya menyeringai menatap Aurora yang tampak gelisah.


"Kamu mau kemana?" tanyanya perhatian.


Aurora melirik sinis membuat senyum miring Aiden terkembang lagi.


"Antarkan aku ke rumah sakit," perintahnya angkuh sambil menyebutkan nama rumah sakitnya.


Selain mengkhawatirkan keadaan dirinya, dia juga mengkhawatirkan keadaan papanya.


Tapi tadi suara papanya terdengar baik baik saja, batinnya tetap ngga bisa menghilangkan perasaan aneh yang hadir dalam hatinya.


"Om Dewan sakit?" Nada suara Aiden terdengar kaget. Dia pun segera merapikan pakaiannya.


"Hemm...." dengus Aurora ngga acuh.


Aiden ngga mempedulikan reaksi datar Aurora.


Seingatnya kemarin papa Aurora baik baik saja, batinnya juga dilanda kekhawatiran.


Aiden sangat menghormati Om Dewan yang merupakan sahabat papanya. Papa Aurora selama ini selalu memperlakukannya dengan baik. Tapi ngga tau nanti kalo skandalnya dengan Aurora terbongkar.