NOT Second Lead

NOT Second Lead
Berita Duka



"Kita harus segera kembali," kata Dewan setelah menerima telpon dengan panik.


"Kenapa?" tanya Afif bingung. Saat ini mereka baru selesai makan malam dan sedang bercengkerama dengan anak anak panti bersama yang lainnya. Suasana sudah cukup membaik sekarang


"Aiden meninggal dunia."


Hening.


Berita ini sangat mengejutkan.


Oma Mora yang berpikir kalo Aiden akan menggantikan Alexander untuk Aurora, hampir jatuh karena kakinya mendadak lemas. Untung suaminya segera menahan tubuhnya.


"Kenapa? Bukannya dia baik baik saja? Kita ngga mendengar kabarnya sakit," cecar Opa Iskandardinata ngga percaya.


"Ada seseorang yang memukul kepalanya berkali kali. Itu yang membuatnya meninggal," jelas Dewan juga agak shock.


Hening.


"Dia dirampok?" tanya Akbar setelah hilang rasa terkejutnya.


"Pelaku langsung pergi setelah Aiden terkapar tanpa membawa apa pun. Tapi ponsel Aiden hancur ngga bisa diperbaiki. Jadi ngga bisa ditracking siapa saja yang berhubungan dengannya. Sepertinya motifnya dendam," asumsi Dewan dengan penjelasannya yang panjang lebar.


Karena tadi dengan terbata bata sahabatnya mengabarkannya. Pertolongan sudah dilakukan cepat dan maksimal, karena Aiden sempat menelpon sekertarisnya yang langsung menyusulnya ke parkiran basemen. Tapi luka di kepalanya sangat parah, dan sudah terlalu banyak kehilangan darah. Aiden meninggal ketika operasi baru akan dilakukan.


Alexander terdiam. Dia berusaha berpikir keras.


Siapa yang sudah membunuh Aiden?


"Jika kamu ingin tinggal lebih lama di sini, aku akan menemaninu," kata Alexander lirih pada Rihana. Tapi gadis itu dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku juga akan pulang."


"Rihana, besok saja kita berangkat. Kamu juga belum boleh terlalu capek. Kamu baru keluar daru rumah sakit," cegah Oma Mien. Dadanya mendadak sakit seolah merasakan ada firasat aneh.


"Baiklah. Kita dulu saja yang pulang malam ini," putus Cakra.


"Oma dan Opa juga ikut pulang," kata Oma Mora membuat mereka mengalihkan tatapan ke arah Oma Mora.


"Rihana, oma ingin menghibur Aurora.Mungkin sekarang dia lagi bersedih," jelas Oma Mora sambil menatap Rihana yang mengulaskan senyum lembut.


"Ya, oma," sahut Rihana mengerti.


"Alexander, sebaiknya kamu besok saja pulangnya. Bareng Rihana, Oma Mien dan Opa Airlangga," titah Afif.


Tunangan Aurora meninggal secara ngga wajar, dibunuh orang yang pasti memiliki dendam. Afif jadi parno, takut Rihana atau Alexander mengalami hal yang sama.


Posisi Aurora yang ditinggal meninggal tunangannya, bisa bisa dimanfaatkan istrinya untuk mendekatkan Alexander dengan Aurora lagi. Ditambah sifat mgga tegaan Alexander yang bisa bisa tanpa disadarinya akan kembali menyakiti hati Rihana.


"Ya, Pa," ucap Alexander langsung setuju.


Dewan menghampiri Rihana yang berada di samping Alexander.


"Papa pulang dulu. Jangan salah paham. Papa Aiden juga sahabat papa," ucapnya sambil mengusap puncak kepala putrinya.


"Iya, Pa." Rihana dapat merasakan kasih sayang Dewan dari sentuhan tangannya. Ini yang selalu dia harapkan dulu."


Dewan tersenyum lembut kemudian beralih menatap Alexander yang sedang menatap interaksinya dengan putrinya.


"Alex, tolong jaga Rihana baik baik, ya. Juga Oma Mien dan Opa Airlangga."


"Siap, Om."


"Aku dan istriku akan pulang besok," sela Winky yang diangguki yang lain.


Malam itu sebagian besar rombongan pun pulang dengan pesawat pribadi milik Afif.


*


*


*


Malam itu pun setelah pesawat landing, mereka langsung menuju rumah keluarga Aiden.


Suara tangis terutama dari mama Aiden terdengar menyayat hati.


Padahal beliau sudah menyusun semua persiapan untuk pernikahan Aiden dengan Aurora.


Saat ini Aurora bersama mamanya dan mama Alexander, menemani calon besannya yang sekarang sudah pingsan lagi


"Papa," panggil Aurora melihat kedatangan papanya bersama beberapa yang lain. Matanya mencari sosok yang sangat ia rindukan. Alexander. Tapi sampai matamya lelah, tetap saja dia ngga melihatnya.


"Aiden, Pa....," katanya bersandiwara. Wajahnya terlihat putus asa.


"Ya, papa tau." Dewab jadi merasa bersalah karena sudah mengabaikan Aurora beberapa hari ini.


"Alex ngga ikut?" tanya Mama Alexander saat melihat suami dan anak sulungnya.


"Besok," jawab Papanya singkat.


"Padahal Aurora sangat membutuhkan Alex di saat saat begini," sesal istrinya agak ketus.


Rihana yang menahan Alex? Egois sekali, batin Mama Alexander dongkol.


"Aku yang menyuruh Alex sama Rihana pulangnya besok saja," kata Afif berusaha menjelaskan pada istrinya agar ngga salah paham.


"Tapi Aurora, dia--."


"Aurora masih ada mamanya, papa, dan kamu. Alex sudah milik Rihana. Jangan mulai lagi, Ma," potomg Afif penuh tekanan membuat istrinya terdiam. Terkejut mendengar nadanya yang agak keras


"Apa kata polisi, Ma?" tanya Fathan mengalihkan topik pembicaraan ketika melihat kedua orang tuanya sedang bersitegang.


"Hanya ada satu kamera CCTV yang merekam aksinya. Sepertinya pelaku sudah tau keadaan basemen dengan baik," jelas Mama Alexander berusaha menurunkan egonya.


"Pelaku sudah ditangkap?" tanya Fathan penasaran. Kejahahatan ini cukup brutal. Fathan mendapatkan foto kepala Aiden yang penuh darah dari grup sesama rekan bisnisnya.


"Belum. Sedang dicari. Pelaku memakai jaket, masker dan kaca mata," jelas mamanya lagi tanpa mau melihat ke arah suaminya karena perasaannya masih kesal mendengar bentakan suaminya padanya.


"Semoga cepat ditangkap," harap Fathan.


"Ya," jawab papa dan mamanya bersamaan.


"Sebentar, sayang," kata Dewan sambil mengurai pelukannya pada Aurora. Matanya menangkap kehadiran Papanya Aiden.


Bersama Afif, Cakra dan Akbar, mereka mendekati sosok yang berusaha tampak tegar itu.


Papa Aiden langsung memeluk Papa Dewan, bergantian dengan Afif, Cakra dan Akbar.


"Kita hampir berbesanan," kata Papa Aiden getir. Matanya nampak memerah karena habis menangis. Tapi dia berusaha kuat di hadapan teman temannya dan relasi bisnisnya.


Kepergian Aiden yang mendadak sangat mengagetkan. Karena itu banyak sekali teman maupun rekan bisnis yang datang mengungkapkan bela sungkawa. Kerabatnya pun sudah berdatangan sejak tadi.


"Kapan dimakamkan?" tanya Dewan sambil merangkul bahu sahabatnya.


"Nunggu Xavi datang. Dia mau melihat saudaranya untuk yang terakhir. Sedang dalam perjalanan," jelas Papa Aiden lagi.


"Yang di Amerika, ya," tukas Dewan.


"Iya."


"Istrimu ngga apa apa?" tanya Dewan lagi.


Papa Aiden mengusap air matanya yang mengalir.


"Dia masih pingsan." Istrinya beberapa kali sadar, menangis, kemudian pingsan lagi. Berulang kali.


Dewan hanya mengangguk. Ngga bertanya lagi. Afif, Cakra dan Akbar pun sedari tadi hanya mengatupkan bibir mereka.


Sememtara itu Herdin sedang menatap Aurora yang terlihat shock akan kepergian Aiden.


"Hei," sapa Daniel sambil menepuk pundaknya.


Herdin tersenyum mendengar sapaan kakak Alexander.


"Besok Alex baru ke sini," jelas Daniel tanpa harus ditanya Herdin.


"Ooo."


"Masih ada kesempatan dengan Aurora, tuh," goda Daniel bercanda. Sedari tadi dia memperhatikan Herdin yang selalu menatap ke arah Aurora.


"Sudah ngga minat," jawab Herdin datar membuat satu alis Daniel terangkat. Ekspresi Daniel terlihat bingung. Tapi memamg sih, dia perhatikan tadi mata Herdin yang menatap Aurora terlihat sinis(?)


"Sudah ada yang lain?" kejar Daniel kepo.


"Iya," jawab Herdin dengan senyum tipisnya. Di kepalanya langsung terbayang wajah Puspa, gadis cantik yang baik hati itu.


"Oooh, udah move on. Syukurlah," senyum Daniel sambil menepuk lembut bahu Herdin.


"Memang ebih baik bersama dengan orang yang mencintai kita," kara Daniel seolah sedang memberikan nasihat.


"Ya, kak," senyum Herdin terkembang agak lebar mendengarnya