NOT Second Lead

NOT Second Lead
Ngga Peduli



"Ehem...."


"Hemmmm...."


"Ehem ehem..."


Rihana menjauhkan tubuhnya dari Alexander begitu mendengar suara batuk tiga sepupunya. Puspa, Ansel dan Kirania.


Mengganggu sekali, omel Alexander kesal..


"Kalo mau ciuman tutup pintu dulu yang rapat. Terus dikunci," sindir Ansel terkekeh. Penuh ejekan.


Puspa dan Kirania juga tertawa. Awalnya mereka terkejut melihat dua sejoli ini berciuman saat membuka pintu yang ngga tertutup rapat.


"Mereka mesra sekali," bisik Kirania.


"Agaknya gosip yang baru ini ngga mengganggu," sambung Puspa juga ikut berbisik mengutarakan pendapatnya.


Karena melihat ciuman yang belum juga berhenti membuat mereka jengah menontonnya dan timbullah niat menggoda keduamya.


"Syukurlah kalian baik baik saja," kata Ansel setelah reda tawanya.


"Kamu sudah tau kalo Aurora hamil, kan?" tanya Puspa memastikan.


"Kirain kalian bertengkar. Ternyata malah kis kisan," ledek Kirania lagi.


Kini ketiganya tergelak lagi.


Rihana menatap Alexander kesal. Saat ini dia sudah malu sekali.


Bukannya kamu duluan yang menciumku, Alexander mengirimkan kalimat protesnya pada Rihana melalui matanya yang menyorot tajam, karena ngga terima disalahkan.


Rihana yang paham maksud Alexander hanya bisa memanyunkan bibirnya. Dia lupa, laki laki di depannya ini sangat panas. Ngga bisa dikasih sedikit sentuhan, langsung bisa membuat dirinya terbuai.


Padahal ciuman yang dia berikan tadi dimaksudkan agar Alexander tetap tenang, karena dia percaya padanya. Tapi Alexander salah menanggapinya. Rihana mengomel dalam hati.


"Jadi pernikahan kalian ngga akan mundur, ya. Aku sudah membatalkan segala rapat di hari itu," tukas Ansel lega. Dalan hati bersyukur karena gosip di luaran ngga berarti apa apa bagi pasangan ini.


Padahal dia dan sepupu sepupunya yang lain sudah khawatir, karena isu yang berkembang semakin menyimpang. Kembali masuk trending topic.


Kekasihmu ini sangat merepotkan, batin Ansel meremehkan.


"Ya sudah, kami pulang dulu," tukas Puspa sambil menyeret kedua kakak beradik ini sebelum Rihana tambah malu. Sedangkan Alexander terlihat cuek saja.


"Kita pulang juga," tukas Alexander setelah ketiga mahluk pengganggu itu menjauh.


Dia.pun meraih tas Rihana, dan mencantelnya di bahunya.


"Alex, biar aku saja," senyum Rihana. Kekesalannya sudah memudar. Melihat Alexander dengan tasnya selalu menggelitik hatinya.


"Ngga apa. Ayo." Tangannya langsung menggandeng Zira dengan hati senang, karena calon istrinya sudah bisa tersenyum lagi.


Apa pun akan dilakukannya untuk mendapatkan senyum yang manis itu.


*


*


*


"Aurora hami?" suara Hendy terdengar datar.


Dewan menatap ke arah ruangan ICU. Dia beruntung, saat datang, sahabatnya baru saja keluar dari sana.


Sekarang ada mertuanya yang menggantinya menemani istrinya.


Keduanya berjalan menuju kantin rumah sakit.


"Apa anak Aiden?" tanya Hendy masih datar. Masih ada rasa ngga nyaman saat bersama Dewan sekarang.


"Hanya Aurora dan Aiden yang tau," jawab Dewan tenang. Dalam hati kasian melihat tubuh Hendy yang tampak kurus.


"Apa yang kamu inginkan? Aku mengakuinya sebagai kakeknya?" tanya Hendy dingin. Dia sudah muak berurusan dengan keluarga sahabatnya. Setelah istrinya sadar, mereka akan langsung meninggalkan negara yang memberikan rasa pedih yang amat sangat luar biasa.


Dewan terdiam. Dia tau sahabatnya masih terluka sangat parah.


"Aku hanya memberitau. Tenanglah, aku ngga akan memaksamu untuk mengakuinya," sahut Dewan dengan nada sarkas.


Walaupun dia kecewa terhadap Aurora, dia tetap akan melindungi putri dan cucunya. Menyayanginya. Terutama janin tanpa dosa itu.


Saat ini dia ngga ingin dikaitkan apa pun lagi dengan keluarga pembunuh putranya. Walaupun Dewan sahabatnya, tapi tetap saja sakit ini tetap terasa bagai pisau yang mengiris hatinya dengan sangat dalam.


Saat ini istrinya pun belum sadar. Pikirannya masih ngga tenang. Dia ngga mau kehilangan istrinya seperti dia kehilangan Aiden.


Dia pasti akan gila nantinya kalo itu terjadi.


"Maafkan aku," ucqp Dewan akhirnya karena melihat Hendy yang masih diam ngga menanggapi ucapannya.


Saat ini mereka sama terlukanya. Gagal mendidik anak anak mereka hingga menemui akhir yang menyedihkan.


"Kedatanganku hanya ingin memastikan kesehatanmu," sahut Dewan pelan.


"Terimakasih."


"Kamu masih punya Xavi."


"Ya."


Kini keduanya melangkah dalam diam menuju kantin rumah sakit.


*


*


*


"Dia hamil juga? Apa itu anak Aiden?" gumam Zerina pelan sambil mengusap pelan perutnya yang masih datar. Perasaannya jadi kesal.


Matanya masih nyalang menatap siaran TV di depannya.


"Hai," sapa Daiva saat membuka pintu ruangannya.


Zerina reflek menurunkan tangannya dari perutnya.


"Kamu sakit?" tanya Daiva yang melihat wajah Zerina agak pucat akhir akhir ini.


"Sedikit. Ada apa?" tanyanya kembali melihat ke arah TV.


Daiva juga melihatnya. Dia jadi kesal karena sepupunya selalu saja membuat skandal.


Apa urat malunya sudah hilang?


"Aku temani kamu ke dokter?" tanya Daiva penuh perhatian.


"Ngga perlu," senyumnya. Dia tau Daiva tulus padanya. Juga dengan pegawai pegawai yang lain. Daiva yang merupakan keponakan Pak Dewan-bos mereka, ngga pernah menunjukkan perbedaan kelasnya. Dia humble, sedikit berbeda dengan Aurora yang selalu menegakkan dagunya. Minta dihormati.


Aarggh... Tanpa sadar Zerina menbuang nafas kesal. Dia yang dulu menghormati dan mengagumi Aurora kini sangat membencinya. Apalagi gadis itu juga hamil, sama sepertinya


Kenapa dia juga harus hamil anak Aiden, gusarnya membatin.


"Kamu kenapa?" tanya Daiva heran melihat Zerina yang tiba tiba melamun dengan wajah mengeras.


"Eh, ngga apa apa," kaget Zerina.


"Kenapa kamu mengundurkan diri dari perusahaan?" tanya Daiva pada inti masalah. Dia menemukan surat pengunduran diri Zerina di meja Omnya. Sepertinya Omnya belum membacanya karena seharian berada di luar perusahaan. Daiva langsung menyimpannya dan menemui Zerina.


"Aku ingin mencari suasana baru," dusta Zerina tetap tenang. Kandungannya sudah melewati trimester pertama. Sebentar lagi akan ketahuan oleh para staf kantor. Terutama bagian yang dia naungi. Mereka pasti akan langsung tau kalo dia hamil anak Aiden. Juga akan tau kalo dia sudah dicampakkan demi Aurora. Bahkan Aiden pun sudah meninggal di tangan Aurora.


Orang tuanya juga sudah bercerai dan menikah lagi. Karenanya dia sangat menggantungkan harapannya pada Aiden. Tapi Aiden sudah membuangnya. Hatinya hancur. Bahkan dia pun hamil anak dari laki laki yang sudah tiada itu. Saatnya dia pergi untuk mengubur semua kenangan pahitnya.


"Bagaimana kalo cuti saja?" usul Daiva.


Zerina tertawa getir. Dia harus menyembunyikan kehamilannya selama enam bulan lagi. Mana ada perusahaan yang memberikan jatah cuti selama itu.


"Kenapa?" Alis Daiva bertaut heran. Dia merasa yakin ada yang disembunyikan Zerina.


"Emamg ada perusahaan yang akan ngasih cuti setahun?' ceplosnya dengan pikiran kosong.


"Setahun? Selama itu?" tanya Daiva semakin curiga kalo Zerina menyembunyikan sesuatu.


"Ya. Sudahlah. Ayo kita pulang," pungkas Zerina yang ngga mau berdebat lagi. Dia takut rahasianya terbongkar. Mungkin besok hari terakhirnya di perusahaan ini. Dia harus cepat berkemas. Pemilik apartemen barunya akan datang. Zerina sudah menjualnya, apartemen pemberian Aiden.


Daiva ngga menyahut, hanya membarengi langkah Zerina dalam diam.Tapi dia akan segera mencari tau, apa penyebab temannya mengundurkan diri, padahal posisinya setara dengannya.


Daiva seangkatan dengan Zerina. Walaupun keponakan Omnya, dia berjuang dari bawah hingga bisa memperoleh posisi ini dan diakui oleh para pegawainya. Dia mendapatkan pengakuan berdasarkan otak dan kerja kerasnya. Sama seperti Zerina.