
Emir tergelak melihat apa yang sudah diperbuat Emra.
Dia terlalu terang terangan, batinnya geli.
Apa akan ada konfrontasi keluarga?
Sudah pasti Nidya, adiknya Puspa dan dirinya sendiri akan berpihak pada Emra.
Nidya ngga mungkin memilih kakaknya, karena dia ngga akan pernah terima kalo Kalandra menikah duluan sebelum dirinya.
Ansel dan Kirania belum tau memihak siapa. Bisa saja ke Emra karena mereka satu frekuensi.
Tiba tiba ponselnya bergetar. Sepupunya Nidya menelponnya. Kebetulan sekali. Dia juga ingin menceritakan apa yamg baru saja terjadi di sini. Bisa geger kalo sepupunya sampai tau kenyataan yang sebenarnya.
"Emiiiirrr...! Aku lagi kesal."
Emir menjauhkan ponselnya mendengar teriakan kencang Nidya. Penuh kemarahan dan rasa jengkel yang amat sangat.
Kasian nasib telinganya.
"Ada apa?" tanya Emir berusaha sabar setelah menenangkan gendang telinganya yang sempat berdenging hebat.
"Kita kena prank, tau," masih dengan nada kesal yang amat sangat Nidya berucap.
"Prank?" Kening Emir mengernyit. Niatnya mau bercerita tentang kelakuan Emra terpaksa dia tunda dulu. Karena sepertinya yang akan dikatakan sepupunya sangat serius.
"Iya. Opa, Oma, mama, dan papa. Termasuk Kalandra dan Kiara. Gimana aku ngga kesal, udah dibohongin abis abisan," cerocos Nidya dengan perasaan marah yang masih bergumpal gumpal di dalam rongga dadanya.
Prank? Otak Emir berfikir keras sambil melihat ke arah Emra dan Kiara yang nampak masih khusyuk berdansa.
"Iya. Rupanya Kalandra sama Kiara hanya pura pura pacaran."
DEG
"Kamu serius?" Mata Emir makin tajam menyorot pada kembarannya dan Kiara. Pantasan saja dia ngga melihat penolakan dari Kiara ketika diajak berdansa oleh Emra.
"Aneh, kan. Apa maksudnya coba. Kenapa mereka harus pura pura pacaran," cerocos Nidya masih kesal.
"Tapi kenapa mereka sangat dekat?" selidik Emir berusaha menggabungkan puzzle.
"Mereka terlibat kerja sama bisnis."
"Tapi undangan yang dikasihkan Kiara pada Kalandra maksudnya apa?"
"Undangan apa?" Nidya balik bertanya dengan heran.
"Nidya ngasih undangan warna gold sama Kalandra. Itu bukan undangan pernikahan mereks berdua?" tanya Emir ngga sabar. Emra sampai stres gara gara undangan sialan itu.
Bahkan termasuk dirinya sampai ngga ngerti udah buat salah apa sampai ngga dikasih tau detil acaranya sama Kalandra. Hingga mendapat kabar pernikahan yang dadakan ini. Seakan akan mereka bukan anggota keluarga yang penting untuk dikasih tau sejak awal.
Mereka berdua malah sempat berpikir kalo Kiara sudah hamil karena pernikahan ini terlalu cepat.
Tapi langsung ditepis mengingat Kalandra bukan laki laki seperti itu. Kalo Emra atau Daniel-kakak laki laki Alexander, mungkin saja begitu.
"Undangan gold?" sambar Nidya kemudian hening.
"Nid?" panggil Emir ngga sabar.
"Ya ampuuun. Itu undangan nikah sepupunya Kiara, Emiiiirr," seru Nidya lagi.
"Sungguhan?" tanya Emir ngga percaya. Sedetik ada rasa bahagianya untuk Emra.
Masa? Terus selama ini mereka berakting untuk apa dan siapa? batin Emir penuh tanya.
"Ya iyalah. Orang tua kamu pasti juga dapat undangan itu," jelas Nidya yakin sekali.
"Hahaha......" Emir sudah ngga bisa lagi menahan tawanya. Padahal Emra sudah kalang kabut. Emir ngga bisa menahan tawanya lagi. Kali ini sangat berderai derai. Dia ngga peduli sudah menjadi pusat perhatian. Para tamu perempuan terpesona melihatnya.
Si datar itu bisa tertawa juga, batin mereka.
Emir akan menyelidiki tujuan Kalandra melakukan ini. Ngga mungkin Kalandra melakukan hal yang ngga punya maksud dan tujuan tertentu. Pasti dia sedang mengincar seseorang.
Siapa?
Apa Adriana?
Dia naksir Adriana?
Kenapa ngga langsung to the point aja.
Kenapa harus pake cara murahan begini...? Dasar bodoh!
Emir makin tergelak dengan pikiran pikiran yang berseliweran dalam otaknya.
"Emir...," panggil Nidya. Tapi ngga dihiraukan Emir. Dia sibuk dengan hipotesa hipotesanya.
"Emir! Jangan ketawa terus....!" seru Nidya mangkel merasa dicuekin.
Apa Kalandra sedang mengetes hati Adriana?
Kalandra cemburu dengan laki laki berambut cepak yang beberapa hari ini menjemput Adriana?
Gotcha!
Emir udah menemukan jawabannya. Dia kembali tergelak.
"Nyebelin....!" ketus Nidya membentak.
Dengan kesal Nidya menutup telponnya.
Emir masih saja tertawa walau tau sambungan telpon sudah diputuskan sepupunya dengan perasaan sangat jengkel setengah mati.
Kamu kalo lihat foto ini akan tambah kaget lagi, Nidya, batin Emir kemudian mengarahkan kamera ponselnya pada dua sejoli yang sedang berdansa dengan penuh perasaan itu.
Setelah mendapat angel yang tepat, Emir menjepretnya.
Setelah cukup puas melihat hasil jepretannya, Emir pun mengirimkannya pada sepupunya Nidya.
Sekarang dia akan menunggu drama ini berakhir.
Beralih pada Shiza dan Mela.
"Sudah lebih tiga puluh menit," kata Shiza sambil mengecek jam di pergelangan tangannya.
"Huuh," sungut Mela kesal. Ngga disangkanya Emra sangat betah berdansa dengan Kiara.
Ngga masalah buatnya membelikan Kiara apartemen sesuai yang dipertaruhkan oleh mereka. Tapi sebelummnya dia akan meminta kejujuran Kiara.
Apa selama ini keduanya sudah punya hubungan dan sengaja menutupinya?
Mela menghela nafas kasar. Saat ini dia benar benar penasaran.
Sementara itu Emra dan Kiara masih saling tatap dan bergoyang lembut mengikuti alunan musik slow.
"Kamu ngga hamil, kan?" Emra membuka percakapan dan lansung saja bertanya tentang apa yang sempat dia dan Emir pikirkan.
"Hamil? Siapa" tanya Kiara dengan mimik wajah bingung.
Siapa yang menyebar isu kalo dirinya hamil? batin Kiara kesal.
"Ya kamu. Ngapain nikah dadakan kalo bukan karena hamil.
Kiara menginjak sepatu Emra penuh dendam, tapi laki laki itu seperti tau ada bahaya, sehingga reflek menghindar.
"Mulutmu ngga pernah sekolah?" desis Kiars sinis.
"Semua orang akan berpikir begitu," jawab Emra enteng.
"Huh....!" kesal Kiara sambil melepaskan rangkulannya dan hendak menghempaskan tangan Emra yang ada di atas perutnya. Ingin segera pergi menjauh dari laki laki playernya.
Tapi laki laki tampan itu menahannya.
"Maaf," ucap Emra merasa bersalah sudah menuduh tanpa bukti. Hanya berdasarkan pada perasaan marahnya saja.
Kiara menatap ngga percaya.
Laki laki aneh. Tadi nuduh macam macam, tapi sekarang malah minta maaf, batin Kiara masih ngga terima.
"Jangan menikah dengan Kalandra," pinta Emra serius. Tangan Emra kembali mengalungkan tangan Kiara di lehernya.
"Trus aku nikah sama siapa?" jawab Kiara asal karena hatinya masih jengkel.
"Sama aku aja."
Mata Kiara membola saking kagetnya. Jantungnya yang ngga punya harga diri itu kian keras berdetak.
Tapi beberapa detik kemudian Kiara mencibir.
"Aku ngga suka laki laki yang ngga setia," sahutnya sambil menantang mata Emra.
"Jadi kalo.aku setia, kamu mau nikah denganku," goda Emra dengan senyum nakalnya yang membuat aura badboynya semakin kentara.
"Sayangnya aku akan menikah dengan Kalandra," tolak Kiara membuat wajah di depannya mengelam marah.
Kiara ngga tau bagaimana harus mengakhiri drama ini. Juga bagaimana reaksi Emra nantinya pada dirinya setelah tau dia sudah berbohong.
*
*
*
Nidya yang sempat membanting ponselnya di atas tempat tidur, sempat mengacuhkan ponselnya itu.
Hari ini dia sangat marah. Keluarganya sendiri sudah membohonginya, ditambah Emir yang mencuekinnya setelah mendapat kabar tergres darinya.
"Sialan! Sialaaaannn!" makinya keras. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk.
Nidya sekarang hanya pengen tidur dan melupakan hal hal yang menjengkelkannya saja.
Semoga nanti setelah dia bangun dari tidurnya, ada kabar baik menantinya.
■
■
Masih beberapa part lagi yaa..... Sebelum masuk kisah bayi bayi Aiden.
Terimakasih sudah selalu mampir dan membaca cerita receh ini ♡♡♡
Sehat sehat selalu😊😊